
"Bi, aku minjem mobil. Nanti malam aku balikin." ucap Ghifar, saat dirinya berada di dalam mobil Haris.
Seperti biasa, ketika berangkat kerja Haris sengaja menjemput Ghifar. Karena arah rumah sakit tersebut searah, dengan arah rumah yang Ghifar tempati. Saat jam pulang pun, Haris selalu pulang bersama dengan Ghifar. Ia selalu bisa memberi tumpangan, kecuali saat dirinya masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Mau ke mana? Jadi ini pulang ke rumah kau apa kek mana?" tanya Haris dengan menoleh ke anak muda tersebut.
"Mau ke Canda. Kemarin belanja bareng dia, tak sengaja ketemu di swalayan. Terus… semalam dia nginep di rumah, Bi." jelas Ghifar yang membuat Haris menatap heran pada Ghifar.
"Abis jinah kau?" sahutnya kemudian.
"Tak, Bi. Aku tidur di depan TV, Canda di kamar. Aku mau mastiin alasannya semalam, betul tak itu kos-kosannya punya jam malam." balas Ghifar dengan memperhatikan jalanan di depannya.
"Sekali masih tahan jinah, keseringan nginep pasti kau makan juga." ujar Haris dengan fokus pada setirnya.
"Ya itu, Bi. Aku udah bilangin dia juga, biar dia paham." tutur Ghifar yang hanya diangguki Haris juga.
Kemudian mereka sampai di depan rumah Haris. Haris langsung turun dari mobil, kemudian meminta Ghifar langsung bergegas berangkat. Agar ia bisa segera membersihkan diri, juga segera menuju ke tempat Canda. Agar tak terlalu malam, saat ia pulang nanti.
Haris menatap mobil miliknya, yang melaju perlahan. Ghifar keluar dari kompleks perumahan elit tersebut, dengan mengemudi mobil sejuta umat milik ayah angkatnya.
"Ck, kloningan Adi sama Dinda. Untungnya jujur, bisa dibilangin juga itu anak." ucap Haris sebelum memasuki rumahnya.
~
Ghifar memicingkan matanya, saat melihat kakaknya ternyata sudah berada di teras rumah tersebut.
Ghifar segera keluar dari mobil, lalu menghampiri kakaknya.
"Dari tadi kah, Bang?" tanya Ghifar dengan membukakan pintu rumah tersebut.
"Baru. Kau pakek mobil abi? Mau Abang belikan motor?" sahut Givan yang langsung digelengi oleh Ghifar.
"Aku mau keluar, Bang." balas Ghifar, dengan mempersilahkan kakaknya untuk masuk.
"Ada makanan tuh, Bang. Aku mau mandi dulu, terus siap-siap berangkat." lanjut Ghifar dengan berjalan ke arah kamar mandi.
Givan duduk di kursi ruang tamu, dengan melepaskan kaos yang ia kenakan.
"Sejak kapan Ghifar pakek casan warna pink?" tanyanya seorang diri. Saat tak sengaja, matanya menangkap kabel yang terhubung dengan stop kontak. Kabel USB tersebut, berwana pink menyala yang cukup kontras di ruangan tersebut.
Tangannya merasakan ada sesuatu, yang bukan bagian dari sofa milik ibunya. Benar saja, saat pandangannya terarah ke tempat tersebut. Ia mendapatkan jarum pentul, yang menancap pada bagian pegangan sofa.
__ADS_1
Givan menarik jarum tersebut, lalu mengamatinya.
"Udah berani bawa perempuan keknya dia." ujar Givan dengan menancapkan kembali jarum pentul tersebut, pada pegangan sofa.
Ponsel Ghifar berbunyi berulang kali, tak lama notifikasi chat masuk terdengar bersahutan beberapa kali.
Givan berjalan menghampiri sumber suara. Ia mengerutkan keningnya, saat mendapati nama Canda Pagi Kunanti yang tertera di layar ponsel milik Ghifar. Givan mengingat kembali nama Canda, saat pertama kali dirinya dikenalkan dengan Canda saat di rumah ibu Meutia.
"Perasaan, namanya Canda Pagi Dinanti." tuturnya dengan mulai fokus pada layar ponsel Ghifar.
[Mas, lagi ngapain?]
[Aku udah nungguin.]
[Nanti kita keluar yuk, sekalian malam mingguan.]
Isi pesan chat dari Canda, yang berada dalam aplikasi chat milik Ghifar.
"Bahagia rupanya kau sama Canda, Far?" tanyanya seorang diri, dengan menaruh kembali ponsel milik Ghifar. Yang berada di meja rias minimalis milik ibunya.
Givan langsung berbalik arah, kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur tersebut. Hidungnya mendapati bau lain, yang asing di hidungnya. Ia memastikan, itu bukan bau khas dari adiknya.
Ia tersenyum, saat mendapatkan rontokkan rambut berwarna hitam dengan ukuran cukup panjang.
Ghifar membuka pintu kamar tersebut. Ia mendapati kakaknya, tengah tertidur dengan posisi miring. Ghifar langsung mengenakan pakaiannya, dengan handuk yang masih melingkar di pinggangnya.
Setelah ia percaya diri dengan penampilannya, ia bergegas ke luar dari kamar dengan mengantongi ponsel dan dompetnya. Kemudian ia mengangkut satu persatu belanjaan milik Canda, yang masih tergeletak begitu saja di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, Ghifar sudah berada di depan gerbang pintu masuk kos-kosan Canda. Ia mengirimkan foto gerbang kos Canda, pada Canda.
Tak butuh waktu lama, Canda sudah keluar dari dalam gerbang yang tertutup tersebut. Dengan senyum manisnya, yang begitu membuat Ghifar merasa amat ditunggu.
Ghifar segera keluar dari dalam mobil milik Haris, "Lama kali, Dek." ucap Ghifar berbasa-basi.
Canda menghampiri Ghifar, lalu mencium tangan Ghifar.
"Lebay!" sahut Canda dengan lirikan genitnya.
"Awas, aku mau ngeluarin belanjaan kau." balas Ghifar dengan beralih ke pintu bagasi mobil tersebut.
Lalu ia mengeluarkan beberapa plastik berukuran besar, yang berisikan belanjaan milik Canda.
__ADS_1
"Aku bawa yang mana, Mas?" tanya Canda, setelah dirinya membuka sedikit lebar pintu gerbang tersebut.
"Tak usah. Tunjukin aja mana kamar kau." jawab Ghifar dengan menutup kembali, pintu bagasi mobil tersebut.
"Ayo, Mas." ajak Canda, dengan berjalan mendahului Ghifar.
Ghifar beberapa kali tersenyum ramah, pada perempuan muda yang kebanyakan memakai kerudung tersebut.
"Masuk aja, Mas." ujar Canda, dengan membukakan pintu kamarnya.
Terlihat barang-barang dan perabotan berwarna pink menyala. Sprai dan sarung bantal yang memiliki motif Hello Kitty, juga gorden dan barang lainnya.
Ghifar menaruh plastik belanjaan milik Canda, lalu dirinya memutar pandangannya untuk memperhatikan isi kamar Canda tersebut.
"Risih betul, pink semua." ucap Ghifar yang membuat Canda terkekeh.
"Aku bikin teh manis dulu ya." sahut Canda dengan mengambil plastik belanjaan tersebut, untuk ia taruh di dapur yang disekat dengan tembok.
Ghifar hanya mengangguk, kemudian ia duduk di tepian tempat tidur milik Canda. Ia merasa risih, dengan warna favorit Canda tersebut.
'Kalau jadeh sama aku, aku buang semua itu pink-pinknya. Jadi ingat warna kulit b*bi, pink-pink yang ramai di toktok.' gumam Ghifar dalam hatinya.
"Ehh, pacarnya nok Canda ya? Pacaran di luar aja ya, Mas." ucap seorang wanita paruh baya, yang berdiri di ambang pintu kamar Canda.
Ghifar menoleh ke sumber suara, "Iya Bu. Lagi nungguin teh manis dulu." sahut Ghifar yang membuat wanita paruh baya tersebut tertawa kecil.
"Ehh, Ibu. Kenapa, Bu?" tanya Canda, dengan secangkir teh manis dengan asap yang mengepul.
"Di luar aja, Nok. Ajak Aanya duduk di luar aja." jawab wanita paruh baya, yang merupakan pemilik kos khusus putri tersebut.
"Iya, Bu. Tadi Masnya abis mindahin belanjaan aku." balas Canda yang mendapat anggukan juga senyuman kecil dari ibu kos tersebut.
"Ya udah, Nok. Ibu ke depan dulu." pamit wanita paruh baya tersebut, dengan berlalu pergi.
"Ini, Mas. Melongo aja." ucap Canda yang membuyarkan lamunan Ghifar.
Ghifar tertawa geli, kemudian menyambut secangkir teh yang mengepul tersebut.
"Yuk keluar, bawain kripik kentang punya kau itu Dek. Aku mau ngomong." sahut Ghifar dengan melangkah keluar dari kamar Canda.
......................
__ADS_1
Kalau Ghifar manggil Canda dengan sebutan dek. Kok aku ikut baper sendiri 🤭