Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS20. Buaya akan jinak di tangan yang tepat


__ADS_3

"Iya, katanya reproduksi normal lagi kisaran enam bulan sampek setahun. Tapi waktu Akak, Akak lepas implan tuh, udah tak pernah haid lagi. Tak ada pikiran hamil ya, soalnya Akak berpikirnya rahimnya masih ada pengaruh KB. Pusing, mual, muntah tiap hari, tak ada kepikiran hamil. Nyangkanya asam lambung kumat aja. Eh tak taunya, sampek perut berasa ada gerakannya. Pas diperiksain, katanya jalan lima bulan. Sampek langsung cepet-cepet ngadain empat bulanan, waktu pulang dari priksa itu." jelas Adinda, yang disimak baik-baik oleh Icut. Entah mengapa, obrolan seputar kehamilan. Begitu menarik perhatian wanita hamil itu.


"Itu hamil Gibran ya, Mah?" tanya Icut yang langsung mendapat anggukan dari ibunya.


"He'em, terus pas hamil besar malah segala dadakan punya darah tinggi. Protein berlebih, sampek kaki bengkak macam itu. Air ketuban keruh, sampek kelilit tali puser juga. Ternyata betul juga, hamil lebih dari 36 tahun resikonya besar tuh. Soalnya Mamah ngebuktiin sendiri, ngerasain sendiri." jawab Adinda kemudian.


"Tapi Akak bisa normal, Gibran kelilit tali pusar? Waktu Veni, aku sampek operasi sesar." sahut Bena, dengan sesekali menoleh ke arah anak keduanya yang bernama Veni Alfiah tersebut.


"He'em, alhamdulilahnya normal. Malah tak keburu dibawa ke rumah sakit, karena Gibran udah keluar sendiri." balas Adinda dengan memotong buah, untuk pencuci mulut tersebut.


"Nah, itu. Yang bikin aku trauma betul sama darah. Mamah pucat pasi, tak berdaya di depan ruang TV. Karpet putih berubah jadi merah, karena darah lahirannya Mamah. Gibran keluar tuh, udah bawa beban hidup yang berat Te. Wajahnya sampek sedikit membiru, karena dilehernya ada tali yang nyambung ke puser sama ke ari-arinya itu. Pas Gibran keluar itu, dia sekalian jepit ari-arinya di pahanya tuh Te. Ngeri betul pokoknya, sampek tak makan-makan seminggu aku." ungkap Ghifar menimpali.


"Kau lahiran, yang dukunin tukang ladang semua Din?" tanya ibu Meutia, yang membuat suasana sedikit mencair.


"He'em, sama Ghifar sama bang Adi aja. Terus tak lama bidan datang, terus langsung urus Gibran, langsung ngerujuk aku ke rumah sakit juga. Soalnya riwayat darah tinggi, malah lahiran di rumah. Kan bahaya betul itu, Umi." jawab Adinda, setelah menelan buah di mulutnya.


"Setiap kau lahiran, memang banyak betul dramanya. Waktu Ghifar, katanya abis hubungan, terus langsung pecah ketuban? Waktu kembar, katanya abis pulang dari hajatannya Safar? Waktu Giska, kau ngeflek abis kau nikah itu ya Din?" ujar ibu Meutia, yang diiyakan oleh Adinda.


"Hah, mamak nikah pas baru punya aku? Jadi… aku ini anak hamil di luar nikah?" tanya Giska dengan ekspresi tak percaya.

__ADS_1


"Kalau kau anak hamil di luar nikah, Abang kau ini anak apa Dek? Anak kumpul kebo?" timpal Ghifar, yang membuat Giska menoleh padanya.


"Itu… tadi Omah bilang macam itu." sahut Giska yang melemparkan pandangan pada neneknya.


"Mamah sama papah kau kan nikahnya dua kali. Yang pertama, katanya nikah siri. Tapi entah juga, soalnya nikahnya ngumpet-ngumpet. Papah kau sengaja tak bagi tau Omah sama Opah, karena takut yang sekarang jadi mamah kau ini dimaki-maki Omah." jelas ibu Meutia pada cucunya.


"Alasan klasik, Umi. Padahal sih bang Adi tuh pengen beristri dua." timpal Adinda dengan wajah mengejek.


Ibu Meutia menepuk bahu menantunya, dengan tawa renyahnya yang menggema.


"Istri mudanya pun kabur, karena tau Adi minta uang jatahnya sama kau." tutur ibu Meutia, yang membuat Adinda pun terkekeh.


"Pungo… ilmu selang*angan ya, Din?" ujar ibu Meutia, yang membuat Adinda tertawa geli.


"Aku kasih anak yang mirip-mirip betul sama dia, aku masakin empat sehat lima sempurna tiap hari untuk dia, surga dunia terbuka lebar untuknya. Segala perintahnya aku turutin, larangannya aku jauhi. Suruh do*gy, mis*onaris, w*men on t*p, aku oke aja. Jadi… mana bisa dia berkutik, Mi." ucap Adinda yang membuat ibu Meutia tertawa puas hari ini.


"Kalau ada kau di sini aja, Din. Umi bisa ngerasa sehat lagi. Kau tinggal di sini aja, Din. Lagi pulak, anak kau udah besar-besar. Gavin mau diurus abangnya, Gibran kau bawa aja buat tinggal di sini." pinta ibu Meutia, yang membuat Adinda merasa sedih.


Ia khawatir, dirinya tak bisa menemani ibu mertuanya di ujung hayatnya. Masih untung, ia bisa mengurus kedua orang tuanya. Saat mereka tengah sakit tua, hingga akhir hayat orang tuanya. Karena ternyata Adi mengerti, bahwa Adinda memiliki kewajiban untuk tetap berbakti kepada orang tuanya.

__ADS_1


"Tergantung bang Adinya aja, Mi. Ini aja dia sampek ngintil. Suruh di sana aja sama anak-anak, bang Adi tak mau." balas Adinda yang membuat ibu Meutia mengingat tentang sifat anaknya.


"Nanti Umi yang bilang deh. Kau juga mau punya cucu, siapa lagi yang bantu urus kalau bukan neneknya sendiri. Umi udah tak mungkin, karena bawa badan sendiri aja udah bungkuk macam ini." ujar ibu Meutia yang dimengerti Adinda.


"Nanti diomongin lagi, Mi. Bang Adi soalnya udah balik ke puber keduanya, udah macam anak muda lagi kelakuannya." ungkap Adinda yang membuat ibu Meutia mengerutkan keningnya.


"Duh… jangan sampek dia minta nikah lagi, Din. Dijagain betul-betul itu, takut dia kegoda biduan dangdut macam Edi." sahut ibu Meutia kemudian.


"Biduan dangdut sih tak mungkin, Umi. Soalnya di sana buat dangdutan, ijinnya susah. Cuma kan di ladang yang dekat rumah itu, jadi tempat wisata. Orang-orang dari mana aja, pada ke situ, buat foto-foto sama ngopi-ngopi. Nah, di situlah resenya bang Adi. Ngelirik dia sampek perigaan jalan depan itu, kalau ada yang menarik perhatiannya. Kan aku yang jadi istrinya, jadi malu sendiri Mi." Adinda mengadu pada ibu dari suaminya tersebut.


Ibu Meutia terkekeh sejenak, "Memang dulunya tak macam itu kah? Bukannya Adi, dari muda memang udah nampak sifat buayanya?" tutur ibu Meutia yang digelengi Adinda.


"Bang Adi waktu kenal sama aku, udah macam tak bergairah sama perempuan. Pernah juga dia ke club di bawa Jefri sama bang Haris, dia ke perempuan di sana cuma liat sekilas aja. Fokus main kartu, sama nikmati tuangan aja. Bisa jadi sampek nikah kan, karena awalnya aku dulu yang bikin bang Adi mabok aku Mi." tukas Adinda yang memang seperti itulah kebenarannya.


"Berarti benar ya pribahasa, buaya akan jinak di tangan yang tepat." ungkap ibu Meutia yang langsung mendapat komplen dari Adinda.


"Umi kira aku pawang buaya." gerutu Adinda, yang membuat semua orang tertawa puas.


......................

__ADS_1


*Pungo : Gila


__ADS_2