Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS25. Usulan malam yang panjang


__ADS_3

"Memang tak pernah diajak ke club sama pakde, apa bude?" sahut Ghifar kemudian.


Anasya menggeleng, "Pakde sama bude kamu, bukan jenis manusia pro kaya om sama tante. Memang sih kelihatan kaya gak bagus, masa orang tua ngajarin minum. Apa lagi tante pernah cerita, waktu lebaran kemarin. Katanya om ngajarin anak-anaknya masalah se*s. Menurut Kakak sih bagus, biar anak-anak gak terlalu penasaran juga punya ilmu basic sendiri. Tapi di lingkungan kita, hal begitu terlihat kaya salah didik. Ayah aja bilangnya, masa Din anak-anak Adiyana ajari begitu. Anak-anak dewasa kelak, pasti bisa sendiri. Gitu kata ayah Kakak." ungkap Anasya dengan beberapa kali menjeda ucapannya.


"Di sana juga, cuma orang tua aku yang macam itu. Aku, bang Givan sama kembar dibolehin ngerokok, sejak masuk SMK. Tapi syaratnya tak boleh rokok ganja, tak boleh rokok elektrik, rokok tembakau aja. Terus tak boleh ngumpet-ngumpet, juga dijanji berhenti kelak udah beristri. Anak perempuan juga diijinin, cuma Icut sama Giska pada tak mau ambil ijin yang itu. Kata mereka, uang buat jatah rokok mereka biar diganti ov* aja. Buat belanja online, buat g*abfood, macam itu katanya." balas Ghifar yang membuat Anasya semakin ingin diadopsi oleh keluarga tantenya.


"Biar masa mudanya puas, apa lagi cuma untuk hal-hal sepele macam itu aja. Nongkrong sampek malem juga tak masalah, yang penting tetap subuhan tetap waktu. Cuma kita yang jadi anak dikasih kelonggaran segitu banyaknya, malah takut tak dianggap anak lagi. Kalau udah Giska yang pergi, pasti abang-abangnya diminta buat ikut. Tapi kalau udah masalah film dewasa, mereka pasti ngamuk besar-besaran. Karena kata mak, film dewasa itu malah ngerusak sel otak, ketimbang rokok dan alkohol. Soalnya rasa ingin tau dan nafsu kumpul jadi satu, mana terekam jelas di mata dan pikiran kita. Jadi malah bikin kita ini bodoh, karena nanti otaknya isinya Mia Khalifah, Lady Driver sama Marieke Fox semua." lanjut Ghifar, kemudian ia menyeruput susu jahe yang dipesannya.


"Siapa itu Mia Khalifah, Lady Driver sama Marieke Fox?" tutur Anasya yang memperhatikan kegiatan Ghifar.


"Bintang film dewasa." tukas Ghifar dengan tertawa renyah.


Anasya malah ikut membuat Ghifar semakin terbawa gembira, "Aku taunya kakek Sugiono aja, sama ikeh-ikeh." ucap Anasya yang membuat tawa keduanya semakin nyaring terdengar.


"Aku tak suka yang Jepang, soalnya kulitnya mirip mak. Nanti malah bayangin mak sama bapak aku sendiri lagi." sahut Ghifar yang reflek mendapat tepukan ringan di pahanya dari Anasya.


"Coba tonton yang barat. Yang laki-lakinya punya barang besar nan panjang. Perempuannya juga mana agresif betul lagi. Akak bisa belajar dari sana, buat nanti dipraktekkan sama suaminya." lanjut Ghifar yang langsung diserang cubitan maut Anasya.


"Katanya gak dikasih ijin sama tante. Sih kamu tetep aja liat, sampai hafal namanya." balas Anasya kemudian.


"Yaa… kan jangan sampek ketahuan mak sama bapak aku Kak." ujar Ghifar enteng.


"Asik bener sih kalian berdua. Katanya sepupuan, tapi udah kaya pasangan lama LDR-an." celetuk teman Anasya, yang membuat mereka teralihkan dengan obrolannya.


"Ya memang sepupu. Ayah aku, sama mamahnya dia ini adik kakak. Ayah aku, kakaknya mamah dia." jelas Anasya dengan beralih menatap teman-temannya yang berjumlah empat orang tersebut.


"Betul." timpal Ghifar kemudian.

__ADS_1


"Jadi ke mana setelah ini?" tanya teman Anasya, yang bernama Nia.


"Ke karaoke katanya." jawab Anasya. Lalu ia menoleh ke arah Ghifar, "Kamu ikut ya? Kan kamu pinter nyanyi." lanjutnya dengan menoleh ke adik sepupunya.


"Ke club aja, aku mau nyobain." usul Okta, yang membuat semua perhatian teman-temannya tertuju padanya.


"Gimana, Far?" tanya Anasya, kembali menoleh ke arah Ghifar.


"Aku tak ada uang." jawab Ghifar dengan wajah mirisnya.


Anasya cekikikan, mendapat jawaban adik sepupunya itu. Tentu ia merasa tak percaya, dengan pengakuan Ghifar barusan.


"Tenang Far, aku yang bayarin." jelas Nia, yang merupakan anak orang kaya dalam kumpulan sahabat seperjuangan tersebut.


Terlihat Ghifar tengah berpikir, terlintas di bayangannya. Bahwa ia akan dilecehkan oleh kelima gadis tersebut, saat dirinya tengah berada dalam pengaruh alkohol. Apa lagi sesuatu yang sangat ia jaga selama ini, akan terenggut keganasan gadis-gadis tersebut.


"Nanti aku kabarin abang aku dulu. Takutnya ada yang tepar nanti, malah nyusahin aku." dalih Ghifar dengan mengeluarkan ponselnya. Sejujurnya ia ingin menolak ajakan mereka, tetapi karena mereka perempuan Ghifar merasa tak enak hati untuk menolaknya.


"Siapa? Si Ken?" tebakan Anasya tepat sekali.


"Ya, Kak. Kak Kin juga bebas kok, pikiran orang tuanya sama macam mak sama bapak aku." sahut Ghifar yang mendapat anggukan kecil dari Anasya.


Haris yang sampai sekarang masih tinggal di kota tersebut, tentu menganggap keluarga Adinda seperti kerabatnya sendiri. Karena ia sadar, ia dan keluarga kecilnya seorang diri di rantau orang. Tentu, membuat anak-anak mereka menjadi mengenal satu sama lain.


"Katanya ketemu di tempat aja. Di Osm*sis, hotel A****. Biar kalau ada yang tepar, bisa pesen kamer aja. Biar tak susah-susah angkut-angkut orang. Mana kan, kalian motoran lagi. Nanti motornya simpan aja di rumah salah satu dari kalian, ke sananya naik taksi online." ucap Ghifar, dengan membaca pesan teks dari Kenandra.


"Tuh… gimana?" tanya Anasya, dengan kembali memperhatikan wajah teman-temannya.

__ADS_1


"Tapi aku tak bisa jamin, kalian tak dimakan bang Ken ya." tambah Ghifar, dengan menyimpan kembali ponselnya.


Tentu ia mengatakan hal demikian, karena sedikit banyaknya dia memahami aturan mainnya di club malam.


"Tenang aja Far. Kami udah gak ada yang virgin, kalau kamu mau juga tinggal comot aja." jawab Okta, yang membuat Ghifar langsung menoleh ke kakak sepupunya.


Anasya yang mengerti keterkejutan Ghifar, langsung memberikan Ghifar senyum manisnya.


"Apa lagi, Far? Mau bilang ke pakde kamu juga? Apa kamu mau minta jatah dari kakak kamu ini juga? Sama kaya tadi minta rokok." ucap Anasya begitu santai.


"Is, sorry ya. Aku tak level, kalau tak berselaput." balas Ghifar dengan sombongnya. Lalu ia langsung mendapat pukulan ringan di lengannya, dengan ia kembali menyuarakan tawanya karena mendengar tawa dari Anasya.


"Kamu bisa gagah begini sih? Padahal baru 20 tahunan kan?" tanya Okta, dengan lancang menyentuh biceps milik Ghifar.


"Heh.. Tek jitak pisan rah." seru Anasya, yang melihat sepupunya disentuh temannya.


"Tak gagah, nanti tak dianggap anak." ujar Ghifar dengan malah menunjukkan otot biceps miliknya.


"Coba pegang, mumpung tak bayar." lanjut Ghifar, yang mendapat celotehan dari Anasya.


"Kamu bilang tadi, gak level kalau gak berselaput. Tapi malah minta dipegang-pegang. Digang*ang nanti, baru tau rasa kamu!" tegur Anasya, dengan wajah judesnya. Membuat Ghifar langsung menelan ludahnya kasar. Tentu ia mengerti arti gang*ang tersebut.


"Heh, jangan lah. Aku masih perjaka." ungkap Ghifar, yang malah membuat semua teman-teman Anasya tertawa terbahak-bahak.


......................


*Tek jitak pisan rah : Tek (menyatakan dirinya sendiri sebagai subjek) jadi bisa diartikan, aku jitak kamu. karena, pisan bisa diartikan banget. Atau memang hanya kalimat sambung saja, untuk meyakinkan si objek yang diajak berbicara.

__ADS_1


ini bahasa kota Cirebon, ya. Bukan bahasanya Adi Riyana.


__ADS_2