
Ghifar pura-pura tidak melihat Canda yang tengah digendong suaminya. Ghifar merasa malu, melihat pemandangan itu.
"Kebiasaan! Tidur gletak aja. Tak sadar dada kau ke mana-mana kah? Mengundang betul! Apa sengaja niat kasih umpan?" Givan terdengar tengah menggerutu, sembari menahan berat badan istrinya.
Ini bukan kali pertama Canda tertidur di ruang keluarga. Itu bukan masalah, kalau Ghifar tidak berada di sini. Itu yang dipermasalahkan Givan sekarang.
Ghifar memaklumi Givan yang tak sengaja menyenggol kepalanya, mungkin karena Givan tak melihat jalanan karena tengah menggendong istrinya.
'Materi menentukan laki-laki yang kau pilih ya, Canda? Hebat! Sampek bisa ngembangin badan kau macam itu. Kau tak salah pilih. Untungnya kau tak milih aku dulu. Ngurus badan sendiri pun aku tak bisa, apa lagi ngurus kau.' batin Ghifar menuliskan pesan untuk mantan kekasihnya. Meski pesan tersebut tak akan pernah sampai pada yang bersangkutan.
Ghifar duduk, saat pintu kamar kakaknya telah tertutup. Kemudian ia mengangkat tubuh putri Fira dengan sangat hati-hati, ia ingin tidur di kamarnya dengan putri cantik tersebut.
~
Ghifar melupakan pesan kakak angkatnya semalam. Selepas subuh, ia tidak melanjutkan tidurnya. Ia langsung berjalan ke luar rumah, untuk mengecek keadaan mobil Kenandra.
Ia mengambil sesuatu yang sangat menumpuk, di bagian bawah jok mobil tersebut. Botol-botol mahal, yang menjadi relaksasinya dengan Kenandra.
Adi sampai memutar kepalanya, saat melihat anaknya membawa botol terbungkus kertas karton berwarna hitam mengkilap tersebut.
"Mau kau apakan?" Adi mengikuti langkah Ghifar, ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Giska.
"Simpan aja." jawab Ghifar, ia dengan santainya memasukkan botol minuman keras tersebut ke lemari pendingin.
Canda dan Adinda yang tengah berkutat di dapur, tertarik untuk melihat aktivitas Ghifar.
"Jangan dibuangin, Mah. Satu botol dua juta, uang ini isinya." ucap Ghifar, ia menyadari ibunya tengah memperhatikannya.
"Bang Ken mau balik pagi ini." lanjut Ghifar berbalik untuk keluar dari area dapur.
Adi menghalangi jalan anaknya, ia berdiri tepat di akses keluar masuk dapur tersebut.
"Buat apa beli sebanyak itu?" tanya Adi cepat.
"Barangkali Papah mau, enak kasih es batu." begitu entengnya Ghifar berbicara seperti itu pada ayahnya.
Beban pikiran Adi jelas bertambah, ia mengambil kesimpulan bahwa anaknya kecanduan alkohol.
__ADS_1
"Kau ngikutin jejak Ken? Coba Papah tanya satu hal. Jawab jujur!" Adi terlihat begitu serius.
Ghifar mengangguk, kemudian ia menarik satu kursi makan untuk ia duduki.
Ia menghadapkan tubuhnya ke arah ayahnya, ia tidak menyadari kakak iparnya mencuri pandang ke arah dada bidangnya yang tak mengenakan baju.
"Apa pandangan kau tenang pernikahan?" Adi melangkah, kemudian duduk di kursi makan yang paling dekat dengan Ghifar.
Ghifar terlihat tengah berpikir, kemudian ia menggaruk kepalanya.
"Normal." ringkasnya yang tepat.
"Jadi kapan kau nikah?" Adi memunculkan pertanyaan baru, karena tidak puas dengan jawaban anaknya.
"Aku belum pengen nikah." Adi berpikir bahwa Kenandra meracuni pikiran Ghifar.
Karena jawaban Ghifar barusan, merujuk ke jawaban Kenandra. Satu hal terungkap dengan jelas, Adi baru mengetahui fakta bahwa anaknya belum menikah.
"Tinggalin Fira, Yoka sama Tika. Atau pilih satu di antara mereka." Ghifar baru memahami, dirinya tengah diinterogasi pagi ini.
"Key. Mikheyla." itu bukan pilihan yang Adi berikan.
"Datangin keluarga Fira! Kau laki-laki, Ghifar. Sebebas itu kau di sana???" suara Adinda meninggi.
"Fira aja ninggalin anaknya sama aku, dia malu dengan kehadiran Key. Key itu aib buat dia, orang tuanya tak tau tentang Key. Terus... Aku datang untuk apa? Mempermalukan Fira di depan orang tuanya? Biarin Fira lakuin yang dia mau, anaknya biar aku yang urus. Dari awal Key mau coba digugurin sama Fira, dari awal Key tak pernah disusui sama Fira. Dia mau Key tak hidup lama, Key cuma beban buat dia." Adinda memejamkan matanya, ingatannya mengulang kembali tentang perlakuan yang Mikheyla dapat dari Fira.
"Kau yang punya adab, Ghifar! Muliakan wanita yang kau pilih, terus baru kau hamilin dia. Dia tak sudi besarin Key, karena dia malu ngelahirin anak tanpa pernikahan." laki-laki yang selalu memuliakan wanitanya angkat bicara, Adi amat tidak suka dengan tingkah Ghifar. Ia amat malu memiliki anak seperti Ghifar.
Ghifar hanya terdiam, ia memikirkan ulang untuk mengatakan segalanya.
"Mah... Aku belanja ikan lele, tolong masakin. Aku mau cari sarapan, udah mulai berangkat kerja." Kinasya muncul dengan santainya.
Ia menaruh belanjaan yang ia bawa. Jas putihnya sudah bertengger di bahunya, rok span panjang menutupi kaki mulusnya.
Ghifar membuang pandangannya matanya, ia merasa kacau melihat pemandangan tubuh Kinasya.
"USG yang nampak muka di mana, Kak?" Ghifar melontarkan pertanyaan, tetapi wajahnya masih berpaling memperhatikan panci-panci yang tersusun rapih.
__ADS_1
"Mau buat Tika kah?" Ghifar mengangguk cepat. Ia ingin bergurau, tetapi nyeri di pangkal hidungnya mulai mengganggunya.
"Di puskesmas aja sih, tak nampak muka memang, tapi lumayan jelas lah. Aku kerja di puskesmas, nanti aku daftarin biar tak lama ngantrinya." Kinasya berkutat dengan air panas, untuk menyeduh teh paginya.
"Bagus tak dokternya, Kak? Tika ngerokok soalnya, udah diminta berhenti pun susah. Jadi sama dokternya tuh, kadang diresepin vitamin lain, biar janinnya aman aja." fakta yang hampir membuat Adi pingsan. Untungnya Adi duduk di kursi, lututnya yang sudah lemas pun, tak membuatnya ambruk.
"Ya udah di dokter aja. Tau hamil, malah masih ngerokok." ujar Kinasya, dengan menarik kursi makan untuk ia duduki.
Ia mengaduk-aduk gelas tehnya, asap pun mengepul dari gelas tersebut.
"Ya kau pun nanti sama. Punya suami, hamil, masih jalan aja rokok elektrik kau." sindir Adinda, ia duduk di kursi makan juga untuk berkumpul bersama mereka.
Namun, ia duduk pun sembari memotong sayuran yang akan ia buat sop pagi ini.
"Aku tak mungkin hamil, aku tak berniat menikah." Adi menginginkan hidup berdua dengan istrinya saja, sungguh ia tidak kuat jika harus mendidik anak-anak yang sudah rusak pikirannya tersebut.
"Kenapa tak nikah?" cetus Adi, Kinasya menoleh ke arah Adi. Ia menyadari, ayah angkatnya tengah menahan emosi.
"Aku malu. Saya nikahkan anda, dengan Kinasya binti Shalwa. Udah tuh orang-orang pada tau, kalau aku anak hasil zina." Ghifar mengerutkan keningnya, ia pernah diajari tentang nashab seseorang.
"Kan anaknya abi. Hasil zina gimana? Kau kan anak kedua, Kak." timpal Ghifar yang tak mengetahui kejadian bulan kemarin.
"Aku bukan anak abi, nanti deh aku ceritanya kalau libur tugas aja. Sekalian pengen mencetin jerawat kau, risih liat wajah kau nampak kotor betul." ungkap Kinasya kemudian.
Ghifar tersenyum malu, ia merasa memang wajahnya penuh dengan jerawat.
"Bli... Kak Yoka kambuh." Tika muncul dengan wajah khas bangun tidur.
"Alatnya dipakek. Aku udah sedia banyak, yang di mobil dipindahin belum?" Ghifar berlalu pergi dengan terburu-buru, suaranya pun terdengar mengambang.
"Yang longgar pakaiannya, Kin. Kau udah macam fake dokter." Adi terganggu dengan pakaian Kinasya.
"Professional aku, Pah." ucap Kinasya dengan mengerutkan bibirnya.
Terdengar tapak kaki cepat, "Ya, ya bentar. Aku......
......................
__ADS_1
Bisa aja Adi mancing pembicaraan Ghifar.