
Pukul lima sore.
Pesta itu telah selesai, sofa pun sudah ditempatkan pada tempatnya kembali.
Semua tenda dan barang-barang milik weeding organizer sudah diambil kembali. Karena Adi ingin segera pihak WO itu membereskan pekarangan rumahnya.
Ia tengah duduk di samping istrinya yang tengah makan. Adinda baru bisa makan siang pukul lima sore ini, karena kesibukan untuk mengurus segala hal.
Mereka semua duduk di sofa ruang keluarganya. Pengantin baru pun berbaur di ruangan itu, untuk menyantap makan siang mereka yang terlewat.
"Makan, Bang." Adinda sedikit menyerongkan tubuhnya, untuk bisa menyuapi suaminya sesendok makanan.
Adi tengah duduk dan menghadap padanya. Sejak tadi, Adi hanya memainkan anak rambut istrinya yang keluar dari hijab panjangnya.
Orang mengira Adi begitu romantis pada istrinya. Padahal, kenyataannya dirinya tengah meredam kekecewaannya sendiri.
Adi menggeleng, menolak suapan istrinya.
Adinda melihat wajah suaminya yang amat kacau. Namun, Adinda hanya mengumpulkan bahwa suaminya kelelahan. Karena begitu mirip wajah kelelahan suaminya, dengan ekspresi wajah yang suaminya pasang sekarang.
"Belum makan juga kan Abang? Tadi siang disuruh makan, Abang malah keluar lagi."
Bukannya jawaban. Adi malah menempatkan tangannya di perut istrinya, sedangkan kepalanya bersandar pada sandaran sofa.
Apa yang menyebabkan Adi sampai seperti ini? Adinda tengah memikirkan kemungkinan yang terjadi pada suaminya.
"Kin... Coba tensi Papah." Adinda langsung menyerukan nama dokter keluarga tersebut, karena Jefri begitu sulit untuk dihubungi jika ada masalah kesehatan pada suaminya. Jefri kewalahan dengan pekerjaannya sendiri.
Kinasya bergegas memenuhi panggilan ibu angkatnya. Ia meraih alat tensi darah miliknya, yang ia tinggalkan di rumah itu.
Adi diam saja, saat Kinasya sibuk dengan lengan atasnya. Adi tetap fokus mengagumi wajah istrinya, yang tengah mengisi perutnya tersebut.
"Dek... Adek udah tua ya sekarang." tangan Adi merambat, untuk melihat leher istrinya. Mudah baginya, untuk sedikit menurunkan hijab tanpa pentul, yang istrinya kenakan tersebut.
Adinda anti mengkonsumsi suplemen untuk kulitnya. Ia hanya melakukan perawatan secara fisik dan olah raga saja. Wajar memang, jika kulit leher Adinda nampak kendur.
"Iya, aku udah tua Bang. Abang masih muda aja sih." Adinda menoleh pada suaminya dengan mengembangkan senyum manisnya.
Mereka semua terkekeh geli. Adi dan Adinda memang terlewat mesra. Bahkan sampai tidak tahu tempat. Banyak yang menyimpulkan hal itu, bagi mereka yang menyaksikan kemesraan Adi pada istrinya.
"Umi sih malu. Bener-bener malu-maluin punya anak kek kau, terus dapat mantunya kek Dinda." Adinda memahami, ucapan ibu mertuanya mengandung gurauan.
"Normal kok, Mah." Kinasya membereskan kembali alatnya.
"Papah kenapa, Pah? Apa yang dirasa?" Kinasya mencoba menyembunyikan kecemasannya sendiri.
Adi melirik malas pada Kinasya. Lalu dirinya fokus pada istrinya membuat.
Adi tak menyahuti pertanyaan putri angkatnya.
Ghifar memangku Hamerra, untuk duduk di sebelah Icut yang berada di seberang sofa.
__ADS_1
Adi kembali hanya melirik Ghifar, fokusnya hanya pada kunyahan istrinya saja.
"Lapar kali kah, Dek? Kita berdua makan di luar yuk." Adi mengusap keringat di pelipis istrinya.
Adinda menghela nafasnya, ia sebenernya kesal jika tengah makan tetapi terus-terusan diganggu seperti ini.
Namun, ia menyadari jika suasana hati suaminya tengah kacau.
"Aku udah habis makan, malah ngajakin makan di luar." Adinda melirik suaminya sinis.
Adi terkekeh renyah, lalu mendaratkan ciuman di pipi istrinya. Ia tengah menghibur dirinya sendiri.
"Adek beli es aja, Abang yang makan." ujar Adi yang membuat Adinda pun terkekeh geli.
"Sebetulnya sih aku mampu buat makan lagi. Tapi keburu tak enak, Abang udah ngomong kek gitu." mereka bersenda gurau saja, tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Mertua kau itu." Ibu Meutia menunjuk Adi dan Adinda dengan dagunya.
Ibu Meutia memperhatikan Zuhdi yang tengah makan dalam satu piring, bersama Giska tersebut.
"Makanya... Omah sih biarpun sakit juga. Males manggil Dinda sama Adi buat ngurus. Mana orangnya heboh, mesum tak tau tempat lagi." lanjut ibu Meutia, dalam rangka menyindir Adi dan Adinda.
"Yuk, Dek." Adi menggandeng tangan istrinya, membawa istrinya ke luar rumah untuk merilekskan pikirannya.
"Papah kenapa sih, Bang?" Icut merasa heran dengan gelagat ayahnya.
Givan masih memperhatikan punggung ayah sambungnya yang menjauh, diikuti dengan ibunya yang mengekori ayahnya.
"Tak tau. Mamah sampek asal naruh piring aja itu. Biasanya kan langsung dicuci." Givan menunjukkan piring kotor ibunya, yang tergeletak di atas meja.
Givan manggut-manggut, ia pun merasa demikian.
Sebetulnya Ghifar dan Kinasya merasa amat bersalah. Namun, rasa bersalahnya terkalahkan dengan rasa takutnya sendiri.
Mereka hanya terdiam, tak menimpali bahasan tentang ayahnya tersebut.
"Permisi...."
"Assalamualaikum..."
Mereka semua menoleh ke arah gerombolan orang yang masuk ke dalam rumah.
"Ya, wa'alaikum salam." Givan bergegas menemui orang-orang tersebut.
"Ada Cut Giskanya, Pak?" tanya laki-laki gagah berjaket kulit tersebut.
"Ada. Dengan siapa?" Givan berjabat tangan dengan lima laki-laki tersebut.
"Kami dari kepolisian."
Deg...
__ADS_1
Semua saudara satu kandung tersebut, saling melempar pandangan ke arah Giska yang tengah minum air dalam gelas.
"Boleh kami periksa fisik Cut Giska dan rumah ini?"
Givan mengangguk, mempersilahkan orang-orang tersebut untuk menggeledah rumahnya.
Giska menatap nanar, kado pernikahannya yang dibuka paksa oleh mereka.
Giska sudah membayangkan untuk membuka kado-kado tersebut bersama suaminya malam nanti.
"Cut Giska kami bawa untuk pemeriksaan juga keterangan lebih lanjut ya, Pak."
Giska menggeleng. Ia pernah mendapat nasehat, tentang pantang meninggalkan ranjang di malam setelah pernikahan.
Giska memeluk lengan suaminya. Ia tak ingin mengikuti prosedur yang ia takutkan tersebut.
"Apa tidak bisa esok pagi saja, Pak?"
Mereka semua menoleh ke arah Winda. Mereka tak mengira, bahwa Winda mampu bercakap dengan intonasi dan kalimat formal.
"Begini, Bu......" salah satu orang dari pihak tersebut, menjelaskan secara rinci tentang alasannya untuk membawa Giska.
"Baik." Winda manggut-manggut, menyetujui perintah pihak berwenang tersebut.
Ia menyimak kembali penjelasan dari pihak tersebut. Kepalanya sesekali mengangguk, merespon ucapan mereka.
"Kalau begitu, biar saya dan suami saya saja Pak." putus Winda, saat mendapat persetujuan bahwa pihak dari keluarga Giska boleh ikut.
"Silahkan, Bu."
Giska digandeng oleh Winda, untuk masuk ke dalam salah satu mobil mereka. Sedangkan Ghava, ia segera mengikuti mobil tersebut dengan kendaraan milik keluarganya.
Zuhdi seperti hilang akal. Pandangan matanya kosong, menatap kepergian istrinya yang dibawa pihak berwajib.
Givan menepuk pundak adik iparnya, "Sabar. Tak ditemukan bukti, Giska cuma diperiksa sama dimintai keterangan aja." Givan mencoba menenangkan Zuhdi.
"Ya, hallo."
Terlihat Ghifar berjalan ke halaman depan rumah tersebut, ia menempelkan ponselnya ke telinganya.
Tubuh Zuhdi kaku. Ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa, saat pihak berwajib meringkus istrinya yang pagi tadi ia nikahi.
"Bang... Ada uang cash tak?" saudara-Giska begitu kelabakan, untuk bisa membawa Giska kembali.
Sayangnya, Zuhdi masih terdiam mematung menatap jalanan yang dilalui mobil tersebut.
"Udah telpon papah sama ayah. Uang cash tak sampek puluhan juta. Nanti Abang usahakan." Ghifar hanya melewati Zuhdi begitu saja.
Lebih tepatnya, ia tengah panik sendiri. Ghifar tak memikirkan sekelilingnya.
Brughhhhh....
__ADS_1
"Siapa itu?" semua orang langsung panik
......................