
"Sini, Yang." pinta Ghifar, dengan menepuk tempat di sebelahnya.
"Siapa Bli? Pagi-pagi begini? Adik kamu, Bli?" tanya wanita yang terlihat wajahnya saja tersebut.
Kinasya segera mengayunkan langkah kakinya, lalu duduk di sebelah Ghifar.
"Ini." Ghifar merangkul pundak Kinasya, layar ponselnya mengarah ke arah Kinasya.
"Ini calon mamahnya anak-anak aku." lanjut Ghifar, membuat amarah Kinasya luntur seketika.
"Wah... Hai, Kak." sapa wanita berwajah ayu dengan senyum yang terlihat begitu ramah.
"Hai." nada suara Kinasya masih belum bersahabat.
"Pacar lima langkah, Bli? Pagi-pagi begini bisa ngunjungin." tanya wanita tersebut mengarah pada Ghifar.
"Ada seratus meter jaraknya sih. Tapi memang sering mintain cium kalau pagi-pagi gini. Nagih, waktu subuh udah datang aja." ungkap Ghifar dengan tersenyum usil.
"Heh!" Kinasya malah menampol mulut Ghifar.
Ghifar tertawa renyah, kemudian mencuri satu kecupan dari pipi Kinasya.
"Doain secepatnya, Wi. Udah sama-sama gatal, zinanya takut kebablasan." ujar Ghifar pada layar ponselnya.
"Sip-sip. Secepatnya nikah ya, Kak? Terus bulan madu ke sini. Kampung halaman aku tiada duanya, Kak. Kakak harus kunjungi nih." ucap wanita di seberang telepon.
Kinasya menoleh ke arah Ghifar. Ia ingin menanyakan hubungan yang sok akrab dengan kekasihnya tersebut.
"Siapa, Yang?" tanya Kinasya lirih.
"Dwi, kawan dari Bali." jawab Ghifar lirih.
"Udah dulu ya, Wi. Mau diajak keluar sama My Queen." ucap Ghifar pada Dwi.
"Ohh, iya-iya." Kinasya menangkap sinyal mencurigakan dari Dwi tersebut.
Panggilan pun terputus. Ghifar kembali memasang senyum sembari menoleh ke arah Kinasya.
"Pantesan tak dibalas, tak taunya lagi pacaran." sindiran tajam yang Kinasya berikan.
Ghifar kembali mengecup pipi Kinasya. Ia tidak terlihat cuek, jika keadaan tengah sepi dari orang-orang. Pribadi Ghifar berbanding terbalik, saat dirinya berada di keramaian.
"Nih, aku bales." Ghifar langsung mengetik balasan untuk Kinasya.
__ADS_1
Kinasya menoyor kepala Ghifar, "Udah tak perlu!" ketusnya dengan bangkit dari sofa tersebut. Ia berniat meninggalkan Ghifar di kamar itu.
Namun, pergelangan tangan Kinasya dicekal oleh Ghifar.
"Tengokin dulu lah!" wajah Ghifar begitu memohon. Ia sekilas melirik tengah-tengah tubuhnya, untuk menjadi isyarat keinginannya.
"Nengokin apa, Far?" suara tegas berasal dari arah pintu kamarnya.
Kinasya dan Ghifar langsung menoleh ke arah pintu. Senyum canggung mereka mengembang, kala mengetahui pelaku peneguran kegiatan mereka.
"Hmmm, tak ada Pah." Ghifar langsung melepaskan pergelangan tangan Kinasya.
Pandangan Adi bergulir ke arah Kinasya, "Kau dipanggil mamah, Kin!" perintah Adi sebenarnya adalah sebuah alasan saja.
"Ya, Pah." sahut Kinasya, sembari terburu-buru berjalan meninggalkan kamar Ghifar.
Adi masih memperhatikan wajah anaknya. Tidak ada senyum menenangkan. Pandangannya penuh intimidasi.
"Kau ini!"
Ghifar hanya bisa memasang senyum manisnya, pada ayahnya yang seperti akan menelannya.
"Alim bohong kau!" lanjut Adi dengan berlalu pergi dari kamar Ghifar.
"Hampir-hampir." ia bangkit dengan geleng-geleng kepala.
Ghifar berjalan menuju lemari pakaiannya, ia ingin mengganti pakaiannya untuk olahraga sejenak. Ghifar sudah menjanjikan Kinasya, untuk menemani gadis itu berlari kecil mengelilingi kampung.
Jika saja telat sedikit saja, sepertinya Ghifar sudah memperlancar aksinya untuk memperdaya kekasihnya. Makian yang Adi berikan pada anaknya, memang pantas menggambarkan diri Ghifar. Ia terlihat alim tanpa pergerakan, jika tengah berada pada keramaian. Jika berada di dalam kesepian, mangsanya sudah habis tak tersisa.
"Yuk." Ghifar mengajak Kinasya yang tengah bergulat dengan peralatan dapur.
"Mau ke mana lagi?" rupanya kepala keluarga di rumah itu, tengah memandori istrinya masak.
"Lari keluar, sebentar." jelas Ghifar, dengan menuangkan air ke dalam gelas.
"Jangan masuk ke kebun pisang." ujar Adi membuat Ghifar dan Kinasya terkekeh.
"Aku tunggu rumah sepi orang aja, dari pada mesti di kebun pisang." gurauan Ghifar memang tiada duanya.
"Atau ke rumah panggung?" tambah kekasih yang cara berguraunya satu frekuensi dengan Ghifar itu.
Adi dan Adinda memberi pelototan tajam pada dua insan manusia tersebut. Berbeda dengan Ghifar dan Kinasya yang malah puas terbahak-bahak.
__ADS_1
"Cepetan lah!" Ghifar sudah tidak sabar, menunggu aktivitas memasak wanita itu.
"Ok, ok, ok." Kinasya segera mencuci tangannya.
"Jangan macem-macem, Far." entah kenapa, Adi begitu tidak yakin pada anaknya.
"Iya, Pah. Tenang aja." Ghifar berlalu meninggalkan dapur.
"Aku keluar dulu ya, Mah." Kinasya meminta izin pada calon ibu mertuanya itu.
"Ya." Adinda hanya menyahuti seperlunya saja.
Adi melirik memperhatikan Kinasya yang melangkah mengikuti Ghifar. Entah apa penyebabnya, Adi selalu berpikir bahwa Kinasya adalah jelmaan Adinda dulu.
"Kin tuh macam kau dulu, Dek. Dia pasti nyerahin diri, misal ia sadar bahwa Ghifar hanya ngincar tubuhnya." Canda pura-pura tak mendengar ucapan ayah mertuanya. Ia tidak ingin menambah dosanya, karena mendengarkan ayah dan ibu mertuanya yang tengah berghibah.
"Ya buat apa dipertahankan, kalau memang laki-lakinya cuma penasaran. Kalau memang laki-lakinya cuma mau itu, aku bakal kasih biar dia lepasin aku. Aku tak mau terikat, kalau laki-lakinya hanya penasaran aja." Adinda kembali mengingat permasalahannya dulu dengan suaminya.
Jika Adi meminta tepat pada waktu Adinda sehat dan tidak memaksa, apa lagi berniat menghamili dirinya. Sudah pasti Adinda menyerahkan dirinya, agar rasa penasaran Adi akan dirinya tertuntaskan.
Mungkin, kejadian penggrebekan mereka tidak akan terjadi saat itu.
"Tapi Ghifar ini lain porsinya. Dia cuma reaksi sama Kin. Kalau memang ada pilihan lain pun, dia tak mungkin ambil karena percuma juga. Istrinya kalau bukan Kin, tak bisa dia punya keturunan. Yang ada Ghifar terus-terusan tersiksa setiap hari." lanjut Adinda kemudian.
Adi terdiam, sesekali ia menyeruput tehnya.
"Abang kan udah bilang buat kita nikah. Adek tak mau, umi tak kasih restu. Ya kan, lebih baik dihamili dulu. Biar Adek mau Abang nikahin, biar anaknya ada bapaknya. Biar umi juga kasih restu, biar anaknya mau bertanggung jawab dari perbuatannya." jelas Adi, ia teringat akan kasusnya dulu.
"Tapi itu licik, Bang. Dosa kau berlipat ganda. Untungnya belum hamil duluan." tandas Adinda kemudian.
"Hana masalah. Yang penting tujuan hidup Abang ada di genggaman, Adek bisa Abang miliki lahir batinnya." Adi selalu membela perbuatannya meski salah.
"Hmmm..." Adinda tak bisa berkata-kata lagi.
Setelah Kinasya dan Ghifar menyelesaikan peregangan otot, mereka segera berlari kecil menyusuri jalan daerah tersebut. Masih begitu sepi, dengan diselimuti kabut pagi. Hanya ada segerombolan orang yang baru pulang dari mushola setempat, mereka menyapa Ghifar sewajarnya.
"Kapan kita nikah?" Kinasya menarik hoddi yang Ghifar kenakan, agar langkah mereka tidak saling mendahului.
"Hmm... Kalau kawin dulu aja kek mana?" keusilan Ghifar bangkit kembali.
"Ihh, serius lah. Aku udah kepengen sayang-sayangan sama kau." Kinasya teramat jujur tentang keinginannya.
"Secepatnya. Pernah ada obrolan sama papah, katanya....
__ADS_1
......................