
Brughhhhh.....
"Bangun!!! Minum terus kau! Tak ingat hari ini nikah kah?" Kinasya memandang kesal pada calon suaminya yang masih terlelap.
"Iya, Yang." Ghifar asal menyahuti, dirinya hanya menggeser posisi tidurnya saja.
"Jam setengah enam ini, Sayang!!! Kita akad jam tujuh. Sana mandi, terus di make up!" suara Kinasya tidak lagi santai.
"Udah bangun subuh tadi, cuma memang masih ngantuk Kinasya Salsabila." Ghifar segera bangkit dari posisinya.
"Cepet!!!" Kinasya amat tidak sabaran.
"Iya, iya, iya!" Ghifar segera berjalan ke arah kamar mandi kamarnya.
'Minum sedikit pun, heboh betul. Dikira masih ngfly kah? Gemes aku' gumamnya dengan menyalakan shower mandinya.
"Eh, tapi...." Ghifar malah teringat gadis yang membangunkan tadi.
"Kin ada di sini? Wah..." Ghifar menggosokkan kedua telapak tangannya.
"Rindu ini akhirnya usai sudah. Bakal kangen-kangenan di pelaminan." Ghifar sudah membayangkan hal yang indah-indah saja.
"Terus..." pikiran kotornya langsung menyelubunginya.
"Ok, siap. Disegerakan." Ghifar bermonolog seorang diri, dengan khayalan-khayalan nakal di benaknya.
Ia keluar dengan mengenakan sarung dan kaos saja. Sejauh mata memandang, ia melihat para wanita sudah tampil begitu cantiknya dengan make up sederhana.
"Sana ke kamar pengantin, ganti baju, make up." pinta Icut, ia sudah tampil cantik dan tengah menyuapi anaknya.
Ghifar melangkah, menuju ke kamar yang di pintunya berhias bunga-bunga dan pita berwarna merah.
"Wow, cantiknya." Ghifar melihat Kinasya yang tengah dipasangkan mahkota rumbai.
"Tak usah dikasih kek konde gitu boleh tak? Ininya aja." Kinasya menunjuk mahkota di atas dahinya.
"Tak boleh!" ketus Adinda, yang ternyata ada di ruangan itu juga.
Ghifar diberi pakaian, untuk segera ia kenakan. Dengan mudahnya, ia memakai celana di balik sarung yang ia kenakan. Lalu tanpa malu, ia melepaskan kaosnya. Mengganti dengan stelan celana tersebut.
"Adek...." Adi muncul memanggil istrinya.
"Makan dulu, Dek." ternyata di tangannya, terdapat sepiring makanan.
"Aku lagi dibeginikan, Bang." Adinda tengah diberi make up wajar.
"Ya udah Abang suapin." Adi segera mengambil kursi, untuk duduk di dekat istrinya.
__ADS_1
"Romantisnya...." komentar Haris, saat dirinya masuk ke kamar tersebut.
"Berat kali ini, Kak. Pakek adat Sunda aja deh, tak begitu besar keknya ini hiasan kepala." protes Kinasya dengan menyentuh hiasan yang begitu indah itu.
"Mana bisa! Dari awal pesennya sunting ini." ketus Adi kemudian.
"Papah tuh jadinya ketus terus. Macam aku punya salah aja." Kinasya ternyata menyadari itu.
"Papah lagi kumat darah tingginya, Kin. Memang pengennya meletup aja." Adinda membeberkan tekanan darah suaminya yang tengah tidak LP stabil.
"Makanya jangan berulah terus, kalau mau Papah kau panjang umur." Haris melirik Kinasya dan Ghifar bergantian.
Ghifar dan Kinasya saling melirik, mereka merasa tersindir akan hal itu.
"Di... Biarin istri kau makan sendiri. Ayo kau ikut aku." pinta Haris kemudian.
"Kau urus lah sendiri, aku lagi makan."
Mereka semua menoleh ke arah Adi. Benar saja, tidak hanya Adinda yang mengunyah. Adi pun tengah menghancurkan makanan dengan giginya.
"Yang sepiring berdua itu anak kau nanti, bukannya malah kau sama Dinda. Nyerobot aja kerjaan kau dari muda!" ada saja pertikaian kecil antara Adi dan Haris.
"Memang kau yang kalah saing kali!" sahut Adi tak mau kalah.
"Memang rebutin siapa dulu?" Adinda mengira ini adalah soal perempuan.
"Wah...." Adinda menoleh ke arah Haris.
"Tak Salma, Sukma pun dapat lah Bang." lanjut Adinda membuat mereka semua tertawa renyah.
Ghifar memicingkan matanya. Ibunya malah tertawa puas, bukannya malah kebalikannya. Ghifar membayangkan, jika yang di posisi ibunya adalah calon istrinya tersebut. Sudah pasti terjadi perang dan sindiran tajam dari Kinasya.
Ghifar malah memikirkan, bagaimana jika Kinasya mengetahui bahwa dirinya memiliki beberapa mantan kekasih di Bali. Meski hanya berpacaran untuk memberinya semangat bekerja, Ghifar tetap menjaga jarak dari mereka karena dirinya akan tersiksa seorang diri. Ide memiliki pacar pun, tercetus dari Kenandra yang kini tidak hadir dalam pernikahannya. Karena pendidikannya tidak mengizinkan kepergiannya hanya untuk pesta pernikahan.
Satu yang harus ia hindari, agar hidupnya tenang. Yaitu, jangan pernah membuat Kinasya cemburu. Karena ia merasakan sendiri, bagaimana kobaran api di dalam diri Kinasya, saat dirinya mengajak Ahya untuk berlibur.
Acara merias diri telah usai. Ghifar dan Kinasya sudah duduk di kursi, yang terdapat meja di depannya.
"Bahasa Indonesia kah?" tanya wali yang akan menikahkan mereka.
Kinasya sudah tertunduk malu. Di antara saudara dari Ghifar, tidak satu pun yang diizinkan untuk merekam akad mereka. Kinasya iri dengan pernikahan Givan dulu, di mana semua keluarga bersedia mengabadikan momen sakral tersebut. Kinasya tak mengetahui, jika di pestanya ada larangan untuk itu.
"Ya, Pak." jawab Ghifar kemudian.
Ghifar memilih untuk melangsungkan akad dengan bahasa Indonesia, karena ia khawatir Kinasya tidak mengerti artinya.
"Yang..." Kinasya menyenggol lengan Ghifar.
__ADS_1
"Hmm..." Ghifar masih fokus pada lafal yang tengah dihafalnya.
"Perasaan cuma ada keluarga papah Adi, umi Sukma sama om Safar. Terus orang-orang itu, siapa mereka? Para tetangga tak pada diundang kah?" tanya Kinasya lirih.
Ghifar mengikuti arah pandangan Kinasya, "Hmm, nanti juga tau." Ghifar takut Kinasya mengacaukan pestanya sendiri.
Apa lagi, yang Kinasya pertanyakan padanya adalah tentang keluarga orang tua kandungnya.
"Siap Bang Ghifar?" tanya wali pernikahan dari pihak KUA tersebut.
"Ka." Ghifar mengangguk.
Doa dibacakan, membuat suasana haru. Ghifar hanya bisa menunduk, ia berharap pernikahannya hanya sekali seumur hidup.
"Silahkan, Zis."
Kinasya merasa bingung, dengan datangnya laki-laki yang sepuluh tahun lebih muda dari usia Haris tersebut.
Aziz duduk di sebelah Ghifar, ia tengah diberi arahan oleh pihak KUA.
"Jadi, Dek Kin..." salah satu pihak KUA menjelaskan pada Kinasya. Bagaimana ceritanya, jika anak yang akan menikah adalah anak orang lain atau semacamnya. Maka akan dijelaskan di meja pernikahan mereka.
"Ini Ayah kandung Dek Kin. Ayahnya menikah siri dengan Ibu Shalwa, lalu setelah Dek Kin lahir. Dek Kin diserahkan pada Bapak Haris, selaku orang tua Dek Kin sekarang."
Pandangan mata tak biasa, saat pihak KUA menjelaskan itu pada Kinasya.
Kinasya langsung memberi Haris tatapan yang penuh pertanyaan. Haris menyadari kebingungan pada diri Kinasya. Ia segera mendekati Kinasya, lalu duduk di sampingnya.
"Abi...." suara menurun Kinasya dengan terisak.
"Ya, mari." Aziz dan orang yang akan menikahkan mereka berjabat tangan.
"Aku wakilkan kepada Anda untuk menikahkan Kinasya Salsabila binti Shalwa Khoirunisa dengan Teuku Ghifar bin Adi Riyana sebagai calon suami, dengan mahar uang senilai lima puluh juta kontan."
Ketukan kecil pada tangan mereka yang berjabat.
"Saya terima perwakilanmu untuk menikahkan Kinasya Salsabila binti Shalwa Khoirunisa dengan Teuku Ghifar bin Adi Riyana sebagai calon suami, dengan mahar yang telah disebutkan."
Mereka mengangguk, sekarang semua mata tertuju pada Ghifar.
Adi merangkul pundak istrinya, "Kek pernikahan kita ya? Dulu diwakilkan lewat telepon." ucap Adi lirih. Mereka duduk tak jauh dari meja akad.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Kinasya Salsabila binti Shalwa Khoirunisa, anak perempuan yang walinya diwakilkan kepadaku, dengan uang senilai lima puluh juta kontan."
Ketukan kecil pada tangan Ghifar, disertai air mata yang terus menetes dari mempelai wanita.
Kinasya begitu terpukul, di hari bahagianya bersama kekasihnya tersebut.
__ADS_1
......................