Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS73. Membujuk


__ADS_3

"Tak terpaksa, tapi hamil duluan. Apa bedanya? Dipaksakan juga kan namanya? Udah hamil duluan, diceraikan juga. Mana anak bonyok-bonyok kek gitu lagi. Logikanya, masa cinta tapi anaknya sendiri dibikin bonyok? Kau ya yang harusnya hati-hati berucap! Hati-hati bertingkah laku di dunia! Udah kek gitu, tapi kau masih berani berulah? Aku pastikan aku tak akan pernah balas kau langsung, tapi hukum karma pasti akan tetap berlaku." balas Adinda, yang membuat Rohmah terdiam.


"Itu tuh, Bu? Anak yang Ibu belain terus? Lebih percaya ucapan anaknya? Lebih percaya aduan anaknya? Aku dimaki malas? Sampek air dingin, tinggal kalian tenggak. Makan tinggal makan, rumah udah bersih. Tetap dimaki aku malas? Terus apa tuh yang sampek diusir mertua, gara-gara pakaian habis satu lemari belum dicuci? Suami udah berangkat kerja, anak keluyuran sendiri, dia masih tidur aja? Kalau malasnya kek aku? Terus sebutan apa untuk anak kebanggaan Ibu? Tak beriman? Atau memang lagi sakit parah? Semalas-malasnya aku, aku tau kalau kebersihan sebagian dari iman. Yang sering aja, Bu. Maki-maki anak orang ya, maki-maki menantunya ya? Nih, yang Ibu maki-maki dasar bodoh ini. Alhamdulillah, aku punya karya membanggakan keluarga. Terima kasih ya, Bu. Untuk makian pedasnya dulu. Ingat ya… aku masih sakit hati." ungkap Adinda, lalu dirinya beranjak pergi. Dengan keluarga Mahendra yang saling melempar pandangan, karena rasa bersalahnya.


"Aku baru tau, kalau ternyata Dinda memang tak dapat perlakuan baik dari keluarga aku. Nyesel pun percuma, karena Dinda tak mau balik sama aku dulu Bang." ucap Mahendra pada Haris. Haris beberapa kali mengangguk, untuk merespon cerita versi Mahendra.


"Berarti dulunya ditindas ya, Bang? Terus jadinya sekarang suka nindas orang." sahut Haris, yang membuat mereka terkekeh kecil.


"Memang nindas siapa, Bi? Perasaan orang-orang ngenal mamah tuh, karena dermawannya Bi. Juragan dermawan, orang sana mandeng keluarga papah Adi sama mamah." tanya Givan dengan menoleh ke arah Haris.


"Nindas papah Adi kau. Tanya aja dulu, kek mana dulu papah Adi ditindas habis-habisan. Gara-gara dia ketahuan nikah lagi itu." jawab Haris kemudian.


"Tak ada yang mau buka mulut, kalau ditanya tentang bundanya Icut." sahut Ghava, seseorang yang kini tinggal satu atap dengan Icut dan ibu Meutia.


"Pastinya, mereka jaga perasaannya Icut." balas Haris, dengan mengalihkan pandangannya ke televisi kembali.


"Tapi kalah betul si Adi ini, sama Dinda." timpal Mahendra, yang membuat anak-anak Adi terkekeh kecil.


Ternyata, sudah bukan rahasia lagi. Tentang Adi, yang amat begitu mencintai istrinya.


"Memang Papah dulu tak macam papah Adi?" tanya Givan yang digelengi oleh Mahendra.


"Wajar aja, tak berlebihan kek gitu. Keputusan apapun, tetap Papah yang mutusin. Mamah kau itu, patuh ya bener patuh." jawab Mahendra kemudian.


"Bang Adi ke mana, Bang?" suara yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Haris, membuat Haris terhenyak kaget karena suara perempuan tersebut.


Haris mengusap-usap dadanya, lalu menoleh ke arah Adinda.


"Ke kamar anak gadisnya. Tenang aja napa, Din! Tak bakal keluar rumah dia." jawab Haris kemudian.


Adinda berlalu pergi dengan menyahuti ucapan Haris, "Tak bisa tidur aku, kalau tak ditemani." sahutnya dengan suara yang semakin menjauh.


Mereka semua mengalihkan pembicaraan mereka, tentang film yang tengah mereka saksikan. Ia tak mungkin melanjutkan pembahasan mereka, dengan Adinda yang baru saja melewati mereka seperti itu.

__ADS_1


"Bang…" panggil Adinda, saat dirinya membuka pintu kamar para gadis tersebut.


Veni yang bergabung dengan mereka, menoleh ke arah pintu yang terbuka.


"Pak wa udah tidur dari tadi, Mak wa." sahut Veni, yang masih memainkan ponselnya tersebut. Sedangkan Giska, Icut dan Kinasya sudah terlelap dalam alam mimpinya.


Adinda masuk ke dalam kamar tersebut, menuju ke tempat suaminya tertidur. Tepatnya di sisi paling kiri ranjang, tepat di sebelah Giska.


"Abang…" panggil Adinda manja, dengan menggoyangkan tubuh suaminya.


Gumaman Adi terdengar, lalu Adi menggeliatkan tubuhnya.


"Apa?" tanyanya dengan suara mengantuk.


"Bobo sama aku. Kenapa Abang pindah ke sini?" rengek Adinda, dengan meraba rahang suaminya.


Adi yang mengantuk berat, tak meladeni celotehan istrinya. Lalu ia memutar posisi tubuhnya, untuk membelakangi istrinya yang duduk di tepian ranjang tersebut.


Adi melanjutkan tidurnya, tanpa memperdulikan Adinda yang tengah kesulitan memejamkan matanya tersebut.


"Haduh… apa sih?" sewot Adi yang merasa terusik sedari tadi.


"Tidur sama aku! Kenapa di sini terus???" balas Adinda dengan sudut bibir tertarik ke bawah.


"Ya udah sini tidur, Abang ngantuk." pinta Adi, dengan menggeser posisinya. Lalu ia berbalik ke arah Adinda, dengan menarik lengan Adinda untuk merebahkan tubuhnya di sampingnya.


Adinda terpaksa merebahkan tubuhnya, dengan kepala berbantal lengan suaminya.


"Abang katanya pengen." bisik Adinda, dengan memperhatikan mata suaminya yang terpejam rapat.


Tiba-tiba, mata Adi langsung terbuka lebar. Lalu melirik istrinya, dengan menyunggingkan senyum manisnya.


"Ayok. Ngadep sana. Abang pengen langsung aja, tapi nanti diulangi lagi lepas subuh nanti." ungkap Adi yang membuat Adinda mencomot bibir suaminya.

__ADS_1


"Di sini kamar para gadis, Abang mau ngajarin mereka?" sahut Adinda yang membuat Adi menepuk jidatnya sendiri.


"Yuk, pindah." ajaknya dengan bangkit dari posisinya, diikuti Adinda yang langsung mengekori langkah suaminya.


"Udah tua, masih aja… Abang…. Abang…" gerutu Veni sembari menirukan suara manja Adinda memanggil suaminya, setelah pintu kamar tersebut tertutup kembali.


Ia merasa heran, dengan keharmonisan pasangan kakak dari ayahnya tersebut. Pasalnya, ayahnya dan ibunya tentu tidak seperti mereka berdua.


~


Pagi hari ini, Alvi merasa heran dengan Adinda yang kembali ke kamar. Setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Apa lagi, Adi yang juga sudah terbangun. Mengunci kembali pintu kamarnya.


"Berapa banyak aku harus masak nasi?" tanya Alvi seorang diri, dengan membuka karung beras.


"Masak apa, Vi?" tanya ibu Meutia, dengan berjalan perlahan ke arah Alvi.


"Mau masak nasi dulu, Mi. Tak tau mau masak apa, aku bingung. Biasanya Dinda yang atur menu makanan. Tapi dia masuk lagi ke kamar, biasanya udah mulai repot sama kompor." jawab Alvi, setelah mengambil beras seperlunya. Lalu mencuci bersih beras tersebut.


"Abis subuh, biasanya Adi minta jatah. Kita masak aja dulu. Nungguin Dinda, nanti anak-anak keburu bangun kelaparan." sahut ibu Meutia, yang sudah hafal akan kebiasaan anak dan menantunya.


Alvi mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan 'jatah' yang dimaksud.


"Jatah apa, Mi?" balas Alvi, dengan tangan yang masih berputar di dalam wadah berisi beras.


"Hubungan badan. Taunya Umi pun, kalau mereka nginap di rumah. Abis subuhan, pada ngamar lagi. Dipanggil-panggil, diketok-ketok. Jawabnya, nanti nanggung. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata lagi ritual." jelas ibu Meutia, yang membuat Alvi terkekeh kecil.


"Ada-ada aja Umi ini. Jadi, kita masak apa nih?" tanya Alvi, dengan berjalan menuju tempat penanak nasi. Lalu ia mengoperasikan alat penanak nasi tersebut.


"Ya adanya apa?" jawab ibu Meutia, dengan meraih wadah berisikan bawang dan cabai.


"Ada banyak, kemarin Giska ke pasar sama Kin. Liat aja di kulkas, Mi." sahut Alvi, dengan mencuci beberapa piring kotor.


"Goreng ayam sama ikan aja nih, sama bikin sayur bayam." usul ibu Meutia, yang langsung disetujui oleh Alvi. Lalu mereka melanjutkan aktivitasnya, untuk membuatkan sarapan anak-anak Adinda yang bisa membentuk satu RT tersebut.

__ADS_1


......................


Rileks sejenak ☺️


__ADS_2