
"Bolehlah. Ngecat aku bisa, di rumah itu yang ngecat anak-anaknya juragan aja. Makanya tambah kaya itu juragan, tak pernah bayar orang." ujar Givan, dengan menunjuk dengan dagunya. Ayah sambungnya yang lewat dengan kedua anak balitanya, berjalan menuju toko yang menjual jajanan anak-anak.
Zuhdi terkekeh kecil, kemudian mengusap wajahnya.
"Ya bapak aku di rumah juga gitu. Beresin rumah, ganti asbes, ganti kayu. Anaknya aja, tak pernah bayar orang." timpal Zuhdi kemudian.
"He'em, kau pun bakal kek gitu nanti. Di... Tolong betulkan itu, tolong pasang ini, tolong tambal itu tembok. Mana kan, nanti kau menantu laki-laki satu-satunya." ujar Givan yang membuat Zuhdi membayangkan dirinya berada di rumah juragan tersebut, dengan menyandang status sebagai menantu.
"Anak gadis satu-satunya, mana manja lagi. Kau pikirkan caranya unboxing Giska, biar tak nangis nanti. Bayangkan aja dulu, kek mana malunya kau nanti. Pas Giska teriak papah-papahan terus, pas kau malam pertamaan." lanjut Givan, dengan kekehan gelinya.
"Aku bawa balik dulu, pas mau unboxing. Malu aku bisa diminimalisir kalau di rumah orang tua sendiri. Kalau di rumah papah Adi, beuhhh pasti aku diminta jujur ngapain Giska sampek nangis kek gitu." tutur Zuhdi yang membuat tawa Givan terdengar begitu puas.
"Ya kau jangan buat nangis lah, yang lembut gitu" tukas Givan yang masih belum berhenti tertawa.
"Tak yakin aku, masalahnya Giska ini cengeng betul. Aku pernah motongin kukunya terlalu dalam aja, nangis dia macam aku apakan aja." ucap Zuhdi yang membuat Givan semakin lepas tertawa.
"Aku aja kemarin nidurin istri, mungkin terlalu menggebu-gebu. Lecet kan dia, mana aku panik lagi. Lapor aku ke ma, bapak yang ketok-ketok kasih pelumas botolan. Malu sampek ke tulang-tulang, sampek aku tak berani ajak ngobrol mereka." ungkap Givan, membuat Zuhdi berbalik mentertawakan calon kakak iparnya tersebut.
"Nanti... Jangan-jangan, pas aku mau masuk ke kamar Giska setelah sah. Aku diajak ngobrol dulu lagi, dikasih tau step by stepnya." sahut Zuhdi, yang membuat dua laki-laki sebaya tersebut terbahak-bahak.
"Di... Kau mesti foreplay dulu nih. Macam ini caranya... Terus lubangnya yang di depan ya, jangan yang di belakang. Kau pelan-pelan, pas udah..." Givan menirukan suara ayah sambungnya, kemudian mereka terpingkal-pingkal tak tertahankan.
"Mana kan, aku tak berpengalaman lagi. Otodidak langsung, belajar lewat video." tambah Zuhdi, yang membuat mereka semua terhanyut dalam gurauan jenaka.
"Ya, ampun. Sekolah tinggi-tinggi, ngecat-ngecat juga kerjaan kau." ucap ibu Meutia kemudian.
"Tak apalah, Omah. Yang penting aku bisa ngehindar sejenak, dari orang ini nih." sahut Givan, dengan mengarahkan lensa kamera depan ke arah istrinya.
Canda menutup wajahnya malu, lalu menepuk pelan paha Givan.
__ADS_1
"Tambah bulet aja muka kau, Canda. Tapi ngomong-ngomong, kau betah ya tinggal sama mertua yang berisik aja gitu." celetuk ibu Meutia, membuat Adinda melebarkan matanya.
"Apa Umi bilang????" seru Adinda, yang membuat mereka semua tertawa puas.
Lalu sore itu, Adinda, Givan dan juga Canda. Bertukar cerita dengan ibu Meutia dan juga Arif, terselip gurauan kecil dan juga nasehat penting untuk pasangan pengantin baru tersebut.
~
~
~
Ini adalah minggu keempat, Givan bekerja sebagai buruh cat ruko. Ia dibayar seminggu sekali, dengan upah 480 ribu di akhir pekan.
"Telaten ya kau? 480, 480 tiap sabtu sore." ucap Adi, saat melihat Givan menyerahkan hasil jerih payahnya pada istrinya.
"Coba mak kau. Ini Dek, 180 juta dulu. 20 jutanya nanti, nyangkut dilimit. Besok Abang ke bank lagi, buat ambil sisanya." Adi menjeda ucapannya sejenak.
Semua orang tertawa geli, berbeda dengan Adinda yang melirik tajam pada suaminya.
"Beda lah, Pah. Aku belum ada anak, gak punya tanggungan banyak." sahut Canda, dengan nada bicara yang terbawa arus dan logat keluarga besar Givan.
"Bukannya macam itu, Menantu. Masalahnya, katanya kalian mau bangun rumah di belakang. Itu kapan, kalau seminggu cuma 480 ribu?" ungkap Adi mulai serius.
Givan dan Canda beradu pandang, "Bisa aja aku bangun, tapi masalah tambang aku dijual istri Papah." ujar Givan yang beralih menatap ibunya.
"Biarin! Biar kau miskin, biar tak sombong. Biar tak semena-mena sama perempuan. Kau kaya, nanti doyan nikah kek laki-laki itu." tutur Adinda, kemudian menunjuk suaminya dengan dagunya.
Semua orang mengalihkan perhatiannya, pada Adi yang tengah memainkan ponselnya di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
"Doyan-doyannya Abang sama Adek ini. Sama Adek nikah dua kali, sama yang lain kan cuma nikah sekali aja." tukas Adi membela dirinya.
"Masa, Pah? Aku cuma dapat 14 persen, saham di tambang yang sekarang atas nama papah Hendra. Kata papah Hendra, aku ini 14 persen, dua adik aku di sana, punya saham lima persen aja. Papah Hendra punya 25 persen. Sisanya itu punya siapa, Pah? Kata papah Hendra, suruh tanya ke Mamah. Tapi Mamah tak tau bilangnya, Pah." ungkap Givan, membuat Adi dan Adinda terkekeh geli.
Adi mencomot kue yang tersaji di meja, kemudian menikmati kue tersebut perlahan.
"Papah sebetulnya tau, saham itu dicuri. Terus dipindah hak milik, jadinya ada seseorang di sini yang kaya raya betul." celetuk Adi menyindir istrinya.
"56 persen itu punya siapa sebetulnya?" tanya Givan ulang, dengan melirik ibunya kembali.
"Punya Mamah lah. Kemarin uang Mamah habis ratusan juta, denda 1 M juga buat beresin kau kemarin. Itung-itung kau bayar utang ke Mamah lah." jawab Adinda yang di akhiri dengan tawa puas.
"Kasus begitu aja, sampek 1 M Mah?" ujar Canda cepat.
Adinda mengangguk, "1 M, karena pemakaian narkotika itu. Kena denda sebesar itu, belinya padahal Givan tak mungkin habis 1 M." tutur Adinda yang diangguki Canda dan Givan.
"Padahal tambang aku triliunan. Bayar utang 1 M, udah langsung hilang jabatan aku demi bayar hutang." tukas Givan membatin, membuat Adinda terkekeh geli dengan memegangi perutnya.
Adi mengulurkan tangannya, menepuk pelan pundak anaknya.
"Yang ikhlas, rejeki ada di depan. Papah aja, kemarin beli berapa hektare. Diancam Papah begini... Awas aja, kalah bukan atas nama aku. Abang berarti udah tak sayang aku, yang udah ngasih Abang keturunan yang berlimpah." ucap Adi, dengan menurunkan suara istrinya kembali.
"Kan Abang bilang aku aset Abang yang paling Abang sayangi." sahut Adinda yang membuat Adi menoleh ke arahnya.
Adi mengangguk kemudian, "Ya memang aset mahal yang paling Abang sayangi. Soalnya tanah-tanah hektaran itu, atas nama kau semua rata-rata. Mobil baru, atas nama kau juga. Alesan mobil Abang udah butut, minta kau beli baru. Ehh, atas nama kau juga ternyata." celetuk Adi membuat ibu dari anak-anaknya, menjadi bahan tertawaan manusia yang berkumpul di ruangan itu.
Adinda ikut menyuarakan tawanya, "Itu kan kunci, biar Abang tak bisa nikah lagi. Abang berani macem-macem, ya aku tendang dari rumah ini. Biar suruh berjuang dari nol sama istri barunya." ungkap Adinda, membuat Canda tertarik untuk mengikuti jejak ibu mertuanya tersebut.
......................
__ADS_1
Pintar ya kuncinya ternyata di atas nama aset 😏