
"Nih, coba gambarin!" pinta Adi, dengan memberikan ranting pohon tersebut.
"Duh....." Adinda seperti keberatan, dengan permintaan suaminya.
"Udah sana, tawar tanahnya aja dulu. Kesel aku sama Abang, tak paham-paham kalau diskusi." gerutu Adinda dengan bibir mengerucut.
Givan dan Adi terkekeh tertahan, saat melihat Adinda cemberut sembari berlalu pergi.
"Otak bos tuh macam itu. Cuma pandai memerintah aja, tak pandai action di lapangan." ucap Adi kemudian.
"Yuk, Pah. Aku temenin nawar tanahnya." ajak Givan, dengan bangkit dari duduknya.
"Ehh, kau sukses kah berhenti ngerokoknya?" tanya Adi tiba-tiba, saat tak melihat kebiasaan Givan yang selalu mengantongi kembali bungkus rokoknya.
"Alhamdulillah, udah lepas ngerokok. Satu tahun perjuangan lepas ngerokok." jawab Givan sembari mengambil gelas kotor dari meja teras belakang rumahnya tersebut.
"Biar Papah sama ayah yang tawar tanah, coba kau urus Giska. Papah tak bisa nahan emosi Papah, setiap kali Giska nyolot terus kalau dikasih paham." ungkap Adi tiba-tiba, membuat Givan mengurungkan niatnya untuk menaruh gelas tersebut di tempat piring kotor.
"Mamah nangis tadi gara-gara itu?" satu pertanyaan yang mendapat anggukan kecil dari Adi.
"Mamah sama Papah tuh, pengen anak-anak yang nurut macam kita harapkan. Kau tau sendiri lah anak-anak Papah sama mamah kek mana. Frustasi Papah. Ditambah lagi, Giska yang Papah sayang-sayang, Papah rela umpet-umpetin dari mamah tentang dia main domino sama pacaran, malah nantang Papah terus. Sekarang malah pengen berhenti kuliah itu anak, tinggal dua semester lagi dia selesai." jelas Adi dengan pandangan menerawang.
"Giska udah terkenal di mata kawan-kawan aku. Chip yang dia jual juga, lumayan itu Pah." tambah Givan, membuat Adi geleng-geleng kepala.
"Kau bisa bantuin Papah lepasin Giska dari judi itu?" ucap Adi lirih, dari suaranya ia menyelipkan satu harapan pada anak sulungnya yang sudah kembali ke jalan yang benar tersebut.
__ADS_1
Givan mengangguk mantap, "Aku dari kemarin udah minta dia buat berhenti. Tapi... Papah tau sendiri lah. Yang namanya judi, zina, mabuk. Susah lepasnya, kalau udah masuk ke lingkaran itu. Aku aja, bener-bener stop karena Canda. Tak punya istri, tak mungkin aku bisa berhenti dari hal itu. Apa lagi, istrinya berisik macam Canda. Awal-awal macam yang iya tak butuh, tak peduli sama suaminya. Selang satu minggu, lengan udah digandulin aja." sahut Givan kemudian.
Adi terkekeh samar, "Papah tuh udah kepikiran Ghifar aja. Keknya dia bisa bantu itu Giska. Papah ngerasa... Ghifar terlatih di Bali. Apa lagi abangnya si Ken, Ken tak beda jauh sama kau." balas Adi membuat Givan dongkol dalam hatinya.
"Aku keknya pindah ke ruko aja, kalau udah jadi. Kalau Ghifar balik nanti. Sebenernya... Aku tak masalah sama Ghifar. Tapi, takutnya Canda inget lagi. Pernah aku dapatin Canda ngelindur, yang dipanggilnya si Ghifar. Aku yang di sampingnya, ngerasa kek apa gitu Pah." Givan menghela nafasnya kemudian.
Lalu ia melanjutkan kalimatnya, "Pas awal nikah. Aku akui, aku masih sering nyariin Ai. Tapi ternyata.....
"Ai mau nikah, A. Jangan gangguin Ai lagi. Ai dijodohkan sama supirnya aa Ai, dia nerima keadaan Ai yang udah begini." ungkap Ai, dalam panggilan telepon yang pertama kali Givan sambungkan, selepas dirinya menerima ponselnya kembali.
Bukan orang tua, bukan juga istrinya. Kebodohan dan egonya, masih memikirkan mantan kekasihnya itu. Ia malah menyambung telepon untuk pertama kali, saat dirinya direhabilitasi adalah Ai Diah.
"Memang Ai tak hamil?" satu pertanyaan, yang Givan semogakan.
"Di sosmed beberapa bulan lalu upload foto nikahan. Udah jadi duda sekarang?" lanjut Ai membuyarkan lamunan Givan.
"Tak! Cuma mau mastiin kau tak hamil, biar tak ganggu rumah tangga aku." ketus Givan, menaikkan gengsinya saat mengetahui Ai akan menikah.
"Gak, A. Apa tenang aja, aku gak bakalan ganggu rumah tangga Aa sama istrinya." ujar Ai dengan tenang.
"Baguslah!" kemudian Givan langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Lepas itu, aku udah tak pernah hubungi Ai lagi. Aku coba nerima keadaan, nerima Canda yang nampak takut sama aku. Aku ingat janji aku, waktu di halaman belakang rumah abi. Pernikahan bukan gurauan, apa lagi Canda sampek nangis kaku waktu aku nikahin." lanjut Givan setelah bercerita.
"Kenapa Ai bisa mutusin kau? Kenapa kau bisa nyobain sabu? Memang ganja susah didapat kah di kota C?" pertanyaan Adi begitu santai, malah terdengar seperti melucu. Membuat Givan terkekeh geli, dengan menepuk-nepuk pahanya sendiri.
__ADS_1
"Dulu tuh, Pah. Aku rutin sama Ai, makanya aku bisa kurang subur. Sehari, aku bisa ngulangin tiga sampek empat kali. Mana itu, berulang setiap hari. Haid pun kadang aku pernah maksa, pakek k*ndom. Kadang dijepit di dada, di paha. Terus... Hari itu, aku ada rapat koordinasi sama pihak ketiga. Aku maksa Ai, padahal dia udah siap mau ikut rapat. Di situlah kita berantem, pas lagi nyatu. Aku akui, aku egois, aku kasar. Tapi aku pengen dia nurut, aku pengen dia tunduk sama aku, dia segan sama aku. Ternyata salah, bukan kek gitu caranya ngendaliin Ai. Dia minta putus, tapi aku mikirnya dia cuma gertak aku aja. Aku tinggal dia buat bersih-bersih, tau-tau dia udah tak ada di ruangan lagi. Sampek beberapa hari aku sibuk sama kerjaan aku, aku baru ingat Ai lagi. Pas aku balik ke ruangan aku setelah beberapa hari, ternyata di meja aku ada surat pengunduran diri dari Ai. Aku kalap di situ, aku ambil penerbangan. Tapi, pas aku sampek di rumah keluarga Ai di kampung. Ai malah......
Ai berlari, saat ia mengenali wajah Givan yang baru keluar dari mobil. Ai tergesa-gesa menuju ke pintu utama rumah reot tersebut, kemudian ia langsung mengunci pintu tersebut setelah dirinya berhasil masuk ke dalamnya.
Givan bergegas menuju ke rumah Ai, sesekali ia memperhatikan rumah reot yang terawat dengan bunga-bunga yang bermekaran di halaman rumah tersebut.
Tok, tok, tok...
"Ai, ini Aa. Buka pintunya, Ai." pinta Givan, dengan mengetuk pintu rumah tersebut.
"Aku gak mau buka! Lebih baik Aja pergi dari sini, aku terganggu dengan kehadiran Aa." sahut Ai, yang berada di belakang pintu tersebut.
"Kita harus ngomong, Ai. Kau udah begini, ayo kita nikah. Aa begini, karena kasian sama kau. Mau siapa yang nikahin kau kelak, tak ada yang mau sama gadis yang udah tak perawan." balas Givan, menarik beberapa tetangga yang berdekatan dengan rumah reot tersebut.
Ai mengusap air matanya, ia tersakiti setiap kali mendengar Givan mengatakan hal itu.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar di telinga Ai, meski samar terdengar. Karena ia berada di dalam rumah.
"Pergi gak? Atau aku teriakin Aa." ancam Ai, yang membuat Givan tersenyum miring.
"Mau teriak kek mana? Tetangga kau udah di luar semua, mereka udah ambil kesimpulan dari drama kau kali ini. Mau seberapa jauh lagi kau mempermalukan diri kau?!" tandas Givan begitu tegas dan sombong.
Tiba-tiba......
......................
__ADS_1