Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS88. Giska berulah


__ADS_3

"Hana en, Pa. Long…" jawab Gibran malu-malu, membuat Adi terkekeh geli.


"Long, long, long! Macam betul long aja kau!" sahut Adi yang membuat anak itu bertingkah lucu.


Ia memberi ayahnya kecupan ringan. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti boneka an*ing yang berada di dasbor mobil.


"Ho neu jak? Tanyoe keudeh mantong." ucap Gibran lirih, dengan menunjuk jalan yang biasa ia lewati dengan ayahnya.


"Nanti, kita ikuti motor itu dulu." sahut Adi yang membuat anak penurut itu manggut-manggut.


"Meutabak jih mangat, yasa keju." ujar Gibran, dengan menunjuk gerobak martabak yang baru saja ia lewati.


"Karena kau doyan keju, mamah belikan yang rasa keju. Dia juga jual rasa coklat, pakek ketan pun ada, cuma tak dibeli mamah." sahut Adi yang membuat anaknya mengangguk kembali.


"Lo." balas Gibran kemudian.


"Blo, kon lo." jelas Adi yang diangguki anaknya saja.


Motor yang Adi ikuti tersebut, ternyata mengarah ke rumahnya. Tak lama kemudian, Giska turun di depan rumahnya.


Lalu Giska mencium tangan laki-laki tersebut, kemudian berdada ria pada laki-laki tersebut. Namun, senyum manisnya hilang seketika. Saat mendapati ayahnya berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat ayahnya tengah mengamati dirinya dan laki-laki tersebut.


Motor laki-laki tersebut melaju pergi, dengan mengambil jalan lurus agar tak memutar kembali. Membuat laki-laki tersebut tak melihat keberadaan sang juragan, yang mendapatinya tengah mengantarkan anaknya pulang tersebut.


Giska menggaruk kepalanya, ia merasa campur aduk melihat ayahnya masih memperhatikannya tersebut. Namun, Adi malah memutar kembali motornya.


"Ho neu jak, Paaaa?" tanya Gibran kembali, ia merasa bingung kenapa ayahnya tak membawanya pulang ke rumah.


"Ke ladang, katanya Adek ikut Papah?" jawab Adi yang kembali diangguki anaknya.


Lalu Adi segera menuntaskan tujuannya, untuk berbincang dengan seseorang yang mengolah ladang bagian anak sulungnya tersebut.


Hingga menjelang maghrib, Adi baru sampai di kediamannya kembali. Kemudian langsung membersihkan diri dengan anaknya.


Giska masih merasa takut akan amarah ayahnya. Apa lagi kini mereka semua tengah berkumpul di depan televisi yang menyala, dengan ayahnya yang asik bergurau dengan para balitanya.

__ADS_1


"Adek ngomongnya long-long terus loh, Mah." ucap Adi dengan mencolek dagu istrinya.


Adinda menepis colekan suaminya, karena ia tengah fokus pada tontonanya tersebut.


"Mamahnya tak bisa diganggu, Nak. Seumayang aja dicancel, demi Andin." ujar Adi dengan kembali menciumi anak bungsunya.


"Demi Papah, nih seumayang." sahut Adinda, dengan membingkai wajah suaminya. Lalu menghujami suaminya ciuman mautnya di wajah suaminya tanpa malu, meski mereka tengah diperhatikan oleh anak dan menantunya.


"Ya iya seumayang, Andinnya iklan." balas Giska, yang membuat Adinda terkekeh sembari melangkah menuju kamarnya.


"Jangan ganggu mamah, nanti yang ganggu mamah sholat jadi setan loh." ucap Adi, saat anaknya hendak berlarian ke arah kamar pribadi mereka.


"Aaaaaahhhhhkkkkk… Atut….." teriak Gibran, dengan kembali berlari ke arah ayahnya.


Adi tertawa puas, lalu mengangkat tubuh anaknya tersebut.


"Vi… sini dulu." ajak Adi, dengan menoleh ke arah anaknya yang tengah memainkan ponsel sembari merebahkan tubuhnya tersebut.


"Ya, Pah." sahut Ghavi dengan segera bangkit dari posisinya.


"Ya ngintil." balas Ghavi, Gavin segera berlari mendahului Ghavi dan ayahnya.


"Nyungsep kau! Lari-larian terus." ujar Adi, saat melihat anaknya berlari begitu cepat.


Adi menurunkan anak bungsunya, saat mereka sudah berada di teras rumahnya.


"Jangan lari-larian, Nak. Jangan jauh-jauh." ucap Adi kemudian.


"Ya, Pa. Yeh uyun?" nada suara Gibran, menunjukkan dirinya tengah bertanya.


"Boleh, pakek sendal." sahut Adi yang diangguki oleh anak tersebut. Sedangkan Gavin, tanpa meminta izin dari ayahnya. Dirinya sudah berkeliaran di halaman rumah tersebut.


"Ada apa, Pah?" tanya Ghavi, setelah membakar ujung rokoknya.


"Kau ke mana sore tadi? Giska balik sama siapa?" ungkap Adi, yang membuat Ghavi mengingat kembali kegiatannya sore tadi.

__ADS_1


"Aku masih ada jam sampek maghrib, Pah. Terus maghrib istirahat sholat, lanjut lagi soalnya dosennya besoknya punya acara. Giska sama cek Lhem kan? Aku bilang ke dia, balik telpon aja cek Lhem. Tunggu cek Lhem sebentar, sambil dia tunggu di kantin aja." jawab Ghavi setelah mengingat aktivitasnya di tempatnya menimba ilmu tersebut.


"Giska diantar laki-laki baliknya. Anak RT sebelah keknya. Papah tuh pernah liat dia, ikut panen di ladang Papah. Motor dia m*o automatic putih, keluaran pertama kalau tak salah. Kau tau tak siapa namanya laki-laki itu? Berani betul dia bawa-bawa anak Papah." ujar Adi yang membuat Ghavi ikut tegang. Karena jelas, ia akan disalahkan di sini. Karena tak becus untuk menjaga adiknya. Apa lagi Ghavi merasa sedikit khawatir, sejak keputusan Adinda untuk Icut kemarin. Pasti sekarang orang tuanya, begitu ketat menjaga anak-anak gadisnya.


"Ciri-cirinya, Pah? Soalnya aku pun ada kawan di RT sebelah juga." balas Ghavi, setelah dirinya menghembuskan asap rokoknya.


Adi memperhatikan kedua anak balitanya yang kembali berlarian, "Jangan laju-laju." seru Adi yang dihiraukan oleh balita-balitanya.


"Hitam juga, hitam-hitam manis gitu lah. Papah cuma mastiin Giska sampek di rumah, tak Papah ikuti itu laki-laki." tutur Adi kemudian.


"Giska masih kecil, pengennya Papah janganlah dulu dia berani pacaran. Apa lagi, keknya itu laki-laki lebih dewasa dari dia. Takutnya dibohongi, terus Giska percaya aja." lanjut Adi, saat Ghavi tengah mengingat-ingat rupa teman-temannya.


"Maunya Papah memang kek mana buat Giska ini? Anak perempuan terlalu dikekang, tak baik juga buat dirinya. Takut-takut tak bisa sosialisasi, lebih-lebih dia malah suka sesama jenis lagi." celetuk Ghavi, yang membuat ayahnya memberinya tatapan tajam.


Ghavi menyadari dirinya salah berucap. Ia dengan cepat menekan ujung rokoknya yang masih menyala, lalu menoleh ke arah ayahnya dengan tersenyum lebar.


"Maksud aku… jangan terlalu ngekang Giska." ucap Ghavi dengan masih memamerkan gigi rapihnya.


"Bukan ngekang. Maksud Papah, fokuslah dulu kuliah. Masalah laki-laki, pasti mereka datang sendiri ke sini buat nanyain maharnya. Tak mungkin tak ada yang mau sama Giska atau tak ada yang kenal sama dia, sekalipun dia jarang keluar rumah kek gini." jelas Adi tentang keinginannya untuk anak perempuannya.


"Kalau mamah yang tau, mungkin Giska udah ditanya habis-habisan. Papah diem aja, karena takut dia malah takut ngomong ke Papah. Kalau-kalau dia ada masalah apa-apa. Kalau ditanya kesel, jelas kesel. Kek mana ya itu rasanya, kek tak terima Papah sama sikap Giska yang mau dibonceng laki-laki itu." lanjut Adi, menjelaskan tentang sikapnya sore tadi.


"Tak terima karena diboncengin pakek M*o automatic? Kalau dibonceng N*ax apa C*R mungkin terima?" tanya Ghavi, yang membuat ayahnya terpancing emosi.


Adi menoleh ke arah Ghavi, dengan mengarahkan telunjuknya ke wajah Ghavi.


Sontak Ghavi memundurkan kepalanya, dengan menahan nafasnya.


......................


*Hana R maksud Gibran, tapi dia gak bisa ngomong R.


*Ho neu jak? Tanyoe keudeh mantong : Mau ke mana? Kita ke sana aja.


*Blo : Beli

__ADS_1


__ADS_2