
"Ya ampun." Fira begitu panik, saat mendapati darah mengucur dari hidung laki-laki yang berada di atasnya.
Darah mimisannya pun, sampai jatuh mengenai tubuh Fira.
Fira sedikit mendorong tubuh Ghifar, untuk menyingkir dari atasnya. Kemudian, ia segera membenahi pakaiannya yang sudah tersingkap.
"Sini, Bang." Fira menepuk bantal, yang digunakannya tadi.
Ghifar menurut, matanya terpejam menikmati rasa sakit di pangkal hidungnya.
Fira menarik beberapa helai tisu, yang tersedia untuk bayinya. Kemudian, ia perlahan membersihkan darah yang terus merembes itu.
"Coba miring, Bang. Takut masuk ke saluran pernapasan, kalau Abang telentang begini." pinta Fira, yang masih mencoba mengobati Ghifar.
Ghifar menurut, ia memejamkan matanya untuk menenangkan b*r*hinya yang memuncak. Ia gila, karena tak bisa mengeluarkan cairan b*r*hinya. Ia tak tahu caranya, karena pusaka masih tertidur pulas.
Fira masih mencoba mengusap-usap darah itu. Ia panik melihat tisu bekas yang basah karena darah pekat itu.
"Aku mau cuci muka dulu, Fir. Biarin aku sendiri dulu, tolong jangan gangguin aku dulu." ujar Ghifar, dengan bangkit dari posisinya.
Fira mengangguk, memperhatikan punggung Ghifar yang menjauh keluar dari kamar.
Ghifar langsung membasuh wajahnya, kemudian mengguyur kepalanya dengan satu gayung air. Ia merasa kepalanya seperti akan meledak, terasa senut-senut dan menyakitkan.
Beberapa belas menit kemudian, pendarahan pada hidungnya berhenti. Karena birahinya yang sudah turun kembali. Ia sudah bisa tenang, meski rasa tidak nyaman di kepalanya semakin menjadi.
"Kau terlahir normal, Far. Dari kecil Papah ngurus kau. Kau tak masalah sama inti tubuh kau. K*jantan*an kau pun bisa berdiri, dari kau masih kecil. Itu wajar, itu normal. Kau tak mungkin, kau tak bisa bereaksi sama perempuan." Adi begitu terpukul, mengetahui fakta yang diakui oleh anaknya.
"Apa... Apa kau sama laki-laki ada reaksi?" pertanyaan ragu-ragu, yang keluar dari mulut ibunya.
Ghifar menggeleng cepat, "Aku normal. Maksudnya... Aku ngerasa b*r*hi sama perempuan, bentuk perempuan. Tapi... K*jantan*an aku tak bisa bangun, dia tak pernah bangun lagi. Biasanya, subuh tiba. Wajarnya dia bangun, tapi aku tak pernah rasain itu lagi Mah." di akhir kalimat, Ghifar menunduk lesu. Ia harus bagaimana, agar orang tuanya mempercayainya.
"Serumah aku sama Yoka, sama Tika. B*r*hi aku rasain, tapi aku tak bisa e*eksi. N*fsu tinggi juga, aku tak bisa ngapa-ngapain mereka." tambah Ghifar kemudian.
Adi berbalik mendekap putra pertamanya, ia tak menyangka anaknya memiliki kelainan seperti itu.
"Terus gimana caranya aku hamili Canda? Aku bukan lagi ngarang, ini menyangkut harga diri aku. Malu aku rasain, tak punya harga diri keknya aku setelah ini." ungkap Ghifar, saat ayahnya menepuk-nepuk punggungnya.
__ADS_1
Adi melepaskan pelukannya pada anaknya, memperhatikan wajah Ghifar yang memang tidak sedang berdusta. Ia memahami putranya memang jujur mengatakannya.
"Terus kenapa bisa ada Key, saat keadaan kau kek gini?" Givan berdiri kembali, ia memperhatikan Ghifar yang masih tertunduk.
Adi menggeser posisinya, ia memberi ruang untuk kedua anaknya berbicara.
Ghifar terdiam, hanya senyap yang mereka rasakan.
"Makanya dari awal aku bilang. Aku tak pulang-pulang, karena aku mau kau sama Canda baik-baik aja. Tanpa permasalahan dari pihak ketiga, biar masalah itu aku yang tanggung. Canda udah kau miliki, dia sekarang kakak ipar aku. Ya tolong, bahagiain dia. Anak kau sama orang lain, biar jadi tanggung jawab aku."
Givan seakan terlempar ke masa lalu. Atau memang cinta adiknya pada istrinya, membuat Ghifar mengalah untuk segalanya.
"Tapi... Saat Canda hamil karena kau. Kau ngelempar lagi ke aku. Kalau memang begitu cara main kau. Sekalian aja kau jandakan istri kau. Insya Allah, aku mampu besarin anak-anak kau." tambah Ghifar, yang sudah tak mampu dicerna Givan.
Blughhh.....
Tubuhnya terbanting ke lantai. Givan amat syok mendengar penuturan adiknya. Kebenaran menghantamnya begitu lepas. Ia terluka, atas ulahnya sendiri.
"Mas...."
Mereka semua langsung mengerubungi Givan, memindahkan tubuhnya ke kasur yang empuk.
Adinda bergegas membuatkan teh manis. Ia ingin tenaga anaknya terkumpul, untuk mendengar semua kenyataan yang Ghifar sembunyikan selama tiga tahun belakangan ini.
Tidak ada lagi pembahasan. Mereka bahu membahu, membantu Givan untuk segera mendapat kesadarannya kembali.
Canda sudah tak mempedulikan dirinya lagi. Ia amat khawatir pada keadaan laki-laki yang ia kasihi setiap hari itu. Ia panik, melihat Givan yang tidak pernah ambruk itu.
~
Pukul sembilan pagi, ruang tamu mereka dipenuhi oleh pelaku yang ingin membahas permasalahan yang belum terselesaikan.
"Nih... Adek, Abang, anteng ya main HP. Mamah mau ke depan dulu, ngobrol." Adinda memberikan ponselnya dan milik suaminya, pada anak mereka mereka yang bersunat. Ia ingin bergabung untuk membicarakan hal itu.
Mikheyla terlihat anteng di pangkuan ibu kandungnya. Ponsel yang menjadi mainannya, cukup memberi efek samping penghemat energi untuk diri Mikheyla sendiri.
"Ada apa, Bang? Katanya Key sakit juga? Adem kok suhu tubuhnya." Fira merasa bingung, dengan keluarga Ghifar yang menyambutnya di ruang tamu ini.
__ADS_1
"Papah mau nanya sama kau, Fir. Tolong jawab jujur." Fira mengangguk cepat, saat kepala keluarga di rumah itu memberinya atensi penuh.
"Betul? Ghifar ada masalah sama k*jantan*nya?" tanya Adi langsung.
Fira menggulirkan pandangannya pada Ghifar, yang duduk di sebelahnya. Ia menoleh, meminta arahan pada Ghifar. Ia takut salah berbicara.
Fira mengambil oksigen lebih banyak. Ghifar hanya terdiam dan menunduk. Ghifar tak memberinya isyarat apapun.
"Ya, Ghifar punya tak bisa bangun." jawab Fira terdengar ragu-ragu. Itu adalah privasi dari seseorang yang menganggapnya adalah ayah dari anaknya.
"Terus... Kau hamil anak siapa? Katanya Ghifar ada masalah itu." ia merasa terjebak dengan pertanyaan itu. Ia berpikir, harusnya ia berbohong tadi. Harusnya ia tak mengatakan yang sebenarnya, itu jebakan untuknya.
Fira masih terdiam, hanya nafasnya saja yang teratur.
"Anak siapa Key, Fir?" Adinda mengulangi pertanyaan suaminya.
Fira menoleh pada Ghifar, ia menyentuh punggung tangan laki-laki yang terdiam menunduk tersebut.
Ghifar menoleh pada Fira, mata merahnya mengatakan bahwa sang empu tengah bersedih hati karena tumpahan air matanya.
Ghifar memberikan anggukan samar pada Fira.
Fira merasa nafasnya tercekat di tenggorokannya. Ia menatap orang-orang di ruangan itu satu persatu, mencoba membaca keadaan saat ini. Ada masalah apa sebenarnya? Apa segalanya telah terbongkar? Pertanyaan yang ingin ia luncurkan pada Ghifar.
"Bukan anak Bang Ghifar." jawaban Fira terlalu berbelit-belit keluar dari mulutnya.
Tidak.
Namun, lebih tepatnya. Fira takut untuk mengatakan hal yang ia sembunyikan. Ia takut mendapat penghakiman berlebih. Ia takut, dirinya dituduh berbohong. Lebih baik ia menyimpan rahasia itu baik-baik, apa lagi seorang Ghifar telah mengambil alih tanggung jawab sebagai ayah Mikheyla.
Sayangnya ia semakin tersudut, pandangan mata orang tua tersebut begitu memaksa.
"Ya, anak siapa? Darah daging siapa?" Givan dan Canda bersiap-siap, untuk mendengar kenyataan itu.
"Anak.... Key anak......
......................
__ADS_1