Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS109. Pelet


__ADS_3

"peletnya, puasin lah. Perempuan belum pernah ngerasain kl*maks, dia bakal susah dikendalikan." celetuk Adi, membuat Adinda melemparkan bantal sofa lagi ke suaminya.


Adi mengamankan bantal sofa, yang mengenai tubuh anak bungsunya. Gibran tengah menikmati cemilan, sembari duduk di pangkuan ayahnya.


"Abang pengalaman sendiri, Dek. Coba Adek ingat-ingat, masa kita jadi pengantin baru dulu. Harga diri Abang Adek injek-injek, gara-gara malam setelah Adek pulang dari rumah sakit itu. Dari situ Abang belajar, perempuan memang nyepelehin laki-laki. Kalau belum pernah dibuat mohon-mohon, di bawah laki-lakinya." jelas Adi, dengan menoleh ke arah istrinya.


"Ya tak usah dibilangin ke anak mantunya, biarin mereka belajar sendiri." sahut Adinda, dengan melirik malas suaminya.


"Givan susah belajar, harus dikasih pancingan aja. Mesti aja diamuk dulu sama Mamahnya, baru mau paham. Abang tau, cara belajar Givan dari dulu. Mesti aja emaknya turun tangan." balas Adi yang membuat anaknya memeluk lengannya, karena malu yang melandanya.


"Nanti jangan kek lagi awal! Perempuan itu sakit kalau dipaksa, Van. Beli lubricant, biar tak lecet. Stimulasi yang betul, foreplay yang cukup. Laki-laki mesti lembut ke perempuan, jangan main paksa-paksa aja." ungkap Adi dengan melirik tajam anaknya, yang masih bergelayut manja pada lengannya.


"Mau cerai katanya, Bang." ucap Adinda, yang membuat mereka semua mengarahkan pandangannya padanya.


"Betul?" tanya Adi, dengan beralih menatap tajam anaknya.


Givan menggeleng, "Aku paham, Pah. Nikah bukan mainan, meski pernikahan kemarin terpaksa juga. Aku coba berubah, biar menghasilkan keturunan yang baik. Candanya aja memang, lancang betul segala minta cerai." jawab Givan, dengan menunjuk Canda dengan dagunya.


Perhatian Adi dan Adinda beralih pada Canda, "Kau kenapa minta cerai? Kau kan yang kemarin minta dinikahin? Papah sama Mamah bakal ikut campur dalam rumah tangga kalian, kalau kau sama Givan masih gini aja. Papah tak bakal malu, orang-orang tau kalau Papah ikut campur hubungan kau sama Givan. Karena begini nih, mentah betul kalian jalanin rumah tangga." tegas Adi, yang membuat Adinda merasa takut. Padahal bukan dirinya yang tengah diberi pengertian oleh suaminya.


"Sana siap-siap keluar! Cari apa atau apa, refreshing kalian berdua." lanjut Adi yang diangguki samar oleh Canda.


"Jangan harap kau, Van! Bisa bawa Canda buat tinggal misah dari kita. Kau pun sama! Jagalah sikap, sifat kau. Buat wanita kau betah hidup sama kau, biar dia tak pulang ke orang tuanya. Logikanya tak mungkin perempuan minta cerai, kalau tak ada permasalahan yang mendasar." ujar Adi, saat Givan bangkit dari duduknya.


Givan mengangguk, "Ya, Pah." sahutnya kemudian.


Lalu ia berlalu masuk ke kamarnya, dengan membawa ranselnya dalam gendongannya.


"Sana urusin! Siapin pakaiannya, handuk, peralatan mandinya. Kalau tak ada, ambil peralatan mandi di ruang penyimpanan sana." pinta Adi pada menantunya.


Canda mengangguk, lalu berlalu pergi menuju ke ruang penyimpanan.

__ADS_1


"Kesel Abang, kalau belum apa-apa udah ribut cerai." ucap Adi dengan merebahkan tubuhnya di sofa tersebut.


Gibran mengikuti ayahnya, ia langsung merebahkan tubuhnya di samping ayahnya.


"Jatoh loh, Dek. Sini sama Mamah." ujar Adinda, yang digelengi langsung oleh anaknya.


Canda terlihat membawa beberapa peralatan mandi dari ruang penyimpanan. Lalu ia berjalan melewati mertuanya, untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Bikin teh, Dek. Di halaman belakang yuk, Adek main gitar, Abang nyanyi, Gibran yang joget sambil mintain uang." ungkap Adi dengan menarik pelan pipi anaknya.


Adinda terkekeh geli, mendengar ajakan dari suaminya.


"Yuk. Gih Abang ke belakang dulu, aku buat teh sama ambil gitarnya." sahut Adinda dengan bangkit dari duduknya, lalu segera menuju dapur.


Adi mengajak anaknya untuk ke halaman belakang rumah mereka, yang memiliki beberapa kandang burung kicau. Berternak burung kicau merupakan aktivitas Adi satu tahun belakangan, untuk mencari uang tambahan selain dari ladang. Karena ia sadar, jika dirinya sudah tua dan lemah. Ia sudah tak bisa lagi untuk bolak-balik dari rumah ke ladang. Akhirnya ia meminta persetujuan istrinya, untuk berternak burung kicau. Untuk aktivitasnya di hari tua nanti.


Di dalam kamar Givan, Canda menghela nafasnya berulang kali. Saat menyaksikan suaminya tengah menikmati rokok, sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Udah biasa kek gini." sahutnya dengan menghembuskan asap rokoknya.


"Ya jangan dibiasain, katanya mau berubah." balas Canda, dengan berjalan ke arah kamar mandi. Untuk menaruh peralatan mandi Givan.


Givan melirik ke arah istrinya. Ia ingin beranjak, untuk mengajak Canda mandi bersama. Tapi melihat tubuh Canda yang tertutup pakaian longgar, membuatnya tak berselera untuk melakukannya dengan istrinya.


"Jalan-jalan aja keknya. Beli pakaian yang modis buat dia, yang bikin adem di mata."


"Tapi perasaan... Kemarin kalau nyamperin Ghifar di rumah, style Canda modis terus. Pakek pashmina, pakek kemeja kekinian. Celananya juga modis-modis, roknya tak ketinggalan jaman juga. Pashmina berbagai warna, berbagai model. Kok di rumah sini, Canda kek asal makek baju aja? Kerudungnya macam Giska, Ahya. Tali belakang, wajah nampak semua kek bunga matahari."


Givan bermonolog sendiri, dengan memperhatikan langit-langit kamarnya.


"Udahlah, belikan aja. Mana tau pada ketinggalan di kos kota C, atau dia cuma bawa bajunya sedikit. Pengen yang sekiranya kek mamah, di rumah tetep nyetel bajunya. Dasternya juga bagus-bagus, model lurus tapi pantes di mata." lanjutnya dengan bangkit dari posisinya.

__ADS_1


"Lagi ngapain, Dek? Mas mau mandi." ucap Givan dengan berjalan ke arah pintu kamar mandi.


Tanpa menyahuti Givan, Canda keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang basah.


"Mau nderes dulu." ucapnya dengan mengusap wajahnya dengan handuk kecil.


"Nderes?" tanya Givan menggantung, dengan memperhatikan arah langkah kaki Canda.


"Iya, ngulangin bacaan. Ngaji, Mas." jelasnya yang hanya diangguki saja oleh Givan. Lalu Givan masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.


Tak lama kemudian, Givan sudah bersiap dengan penampilannya yang pantas.


"Bawa PB, HP Mas udah limit baterainya." pinta Givan, dengan mencari-cari jaketnya.


Canda mengangguk, kemudian memasukkan power bank miliknya dalam tas yang ia beli di online shop beberapa hari silam.


"Jangan pakek kerudung instan, kita mau ke butik." ujar Givan, saat melihat Canda mengenakan kerudung bergo berwarna hitam.


Canda mengangguk, kemudian mencari kerudung yang pas dengan pakaiannya.


"Pashmina crinkle rawis warna hitam tuh, pantas." Canda menoleh ke belakang tubuh. Saat mendengar Givan memberikan saran untuk hijabnya. Bahkan, Givan sampai mengetahui model hijab tersebut.


"Kok tau hijab ini, namanya itu?" tanya Canda, dengan menarik hijab yang Givan sebutkan.


"Mamah dulu suruh Mas buang kerudung itu, banyak kali lebih dari 20 biji. Soalnya katanya cepet rusak, jadi inget terus namanya." jawab Givan enteng, kemudian mengambil kunci mobil miliknya di laci nakas.


"Mas tunggu di depan ya? Sekalian mau manasin mobil dulu." ujar Givan yang diangguki Canda.


Kemudian Canda dengan cepat mengganti hijabnya, lalu dirinya segera menyusul suaminya. Yang telah menunggunya di depan rumah.


......................

__ADS_1


__ADS_2