
Ghifar tertawa, untuk mencairkan suasana.
"Kan malah mau nikah." ujarnya dengan mendongak menatap Zuhdi.
"Ya, ya, ya." Zuhdi melangkah memutar, untuk duduk di sisi lain di tempat Ghifar.
"Malam jum'at kok ngapel sih, Bang?" tanya Ghifar, ia mengesampingkan gitarnya.
"Ngapel juga percuma. Giska tak mau keluar kamar, lagi sakit haid." jawab Zuhdi, setelah mendapat drama kecil yang Giska ciptakan di chat mereka.
Ia mengusahakan untuk main ke rumah Giska, karena dirinya tengah cekcok dengan Giska. Namun, setelah dirinya berada di sini. Giska malah tak mau menemuinya, dengan alasan sakit datang bulan.
"Tapi kok kau malah gangguin kita pacaran sih, Bang?" celetuk Kinasya, membuat Ghifar menoleh dengan tatapan bodohnya.
Kembali, Kinasya menertawai ekspresi Ghifar yang tidak berguna itu.
Zuhdi memahami, bahwa sang dokter hanya bercanda.
"Lagian punya istri, masa mau pacaran lagi?"
Ghifar mengerti, bahwa sampai saat ini masyarakat luas masih belum tahu tentang kebenarannya. Rupanya Giska mampu menjaga rahasia keluarganya, meski pada calon suaminya sekalipun.
"Iya, tunggu kalau udah tak punya istri. Baru pacaran lagi." sahut Ghifar yang membuat Kinasya bingung.
Ahya muncul, kemudian dirinya menepuk pundak kakaknya.
"Kak, ayo. Katanya mau nginep di umi." ajak Ahya.
"Tak. Kak Kin diminta nginep di sini sama mamah, disuruh bantuin milih kain." Kinasya langsung menoleh pada Ghifar.
Adinda tak pernah memintanya untuk menginap dan meminta bantuan untuk memilih kain.
Kinasya memahami, sepertinya Ghifar menginginkannya lagi. Oleh karena itu, Ghifar berdalih bahwa ibunya memintanya untuk menginap.
"Tak kok, Far. Tadi udah ngomong sama mamah, katanya mau dipilihkan sama Aira aja besok. Aira pedagang, dia lebih ngerti barang." Kinasya tak kalah cerdas dari Ghifar.
Kinasya segera bangkit, kemudian memutar tubuhnya untuk melangkah pergi.
"Heh... Tapi, Kak." Ghifar menarik tangan Kinasya, yang bisa ia gapai.
Kinasya menoleh pada Ghifar, ia mendapati wajah penuh harap yang Ghifar pasang. Mau bagaimana pun, ia tak mau jika mereka terlalu jauh. Karena, seperti ini saja. Malah membuat jarak di antara mereka. Apa lagi, jika Ghifar benar-benar sudah memasukinya. Pasti ada perasaan dan penyesalan Kinasya yang tertinggal di sana.
Hal yang bisa ia pahami dari semua waktunya dengan Ghifar. Sedikitpun, Ghifar tak pernah menginginkan surga halal untuknya.
"Aku ada janji sama umi. Aku harus cek kesehatan masyik juga." yang Kinasya maksud adalah ibu Handa. Memang sekarang, kondisi ibu Handa tengah sakit.
Ghifar melepaskan cekalan tangannya pada Kinasya. Ia tak mungkin membujuk perempuan itu, karena perempuan yang membuat sesak celananya lebih berat dengan tugasnya.
Selepas kepergian Kinasya dan Ahya. Ghifar melanjutkan obrolannya dengan Zuhdi. Ghifar tetap menjanjikan seperangkat perhiasan, seekor sapi dan sepasang kambing, untuk pernikahan Zuhdi dan Giska.
Ia harus pandai mengatur keuangannya sekarang. Karena esok pun, dirinya akan membiayai sejumlah emas yang akan menjadi mahar calon istri adiknya. Ghifar sudah membahas itu bersama ayahnya dan juga Ghava.
__ADS_1
Sedangkan ayahnya, ia harus mengusahakan uang hangus sebesar dua puluh lima juta untuk pernikahan siri Ghava. Selebihnya, Winda hanya menuntut sovenir yang wajar saja. Tanpa isi kamar, tidak pun isi rumah.
~
Tiba di malam pelepasan sematan bujang untuk Ghava. Ia terlihat cemas, ia khawatir gugup saat mengucapkannya.
"Pakek bahasa sini kah, Pak Kyai?" ucap Ghava, dirinya kini sudah berhadapan dengan seseorang yang dipercaya untuk menikahkan mereka.
Guru ngaji merangkap sebagai imam masjid tersebut mengangguk.
"Syedara Teuku Ghava...."
Ingatan Ghifar berputar saat dirinya menjadi kameraman. Ia memperhatikan telapak tangannya yang gemetaran. Ia bingung dengan reaksi tubuhnya.
"Kau tak apa?" Icut menyadari kekeliruan pada diri Ghifar.
Ghifar menggeleng, ia takut ambruk meski dalam posisi duduk.
Ia akui, dirinya teringat akan luka lamanya. Kakak iparnya menangis sesenggukan, saat akad nikah berlangsung. Ia masih merekam jelas di pikirannya, tentang Givan yang tertunduk malu saat mempelai wanita masuk kembali setelah akad.
Ghifar sudah ikhlas.
Tapi, bayangan itu kian membuat dingin tubuhnya. Traumanya kembali menyerangnya, saat dirinya sendiri pun tak tahu bahwa dirinya trauma melihat akad nikah.
Icut berkomunikasi dengan ibunya, yang berada di sampingnya.
"Far..." Ghifar merasa namanya di panggil, dengan tarikan di kemejanya.
"Ke mana sih Ghavi?" jawab Ghifar, ia sudah bermandikan keringat dingin.
"Tuh!" Adinda menunjuk ke arah paling kanan. Di sana terlihat Ghavi tengah menjaga kedua adik-adiknya.
"Ya udah deh. Aku pulang dulu." Ghifar meluruskan kakinya yang masih bersila.
"Atau ke Ahya aja dulu, Far. Di rumah tak ada orang, takut kak Kin lagi diperlukan di sini." ujar Icut dengan membantu Ghifar untuk bangkit dari duduknya.
Beberapa dari anggota keluarga pak Akbar memang tak datang, di karena ibu Handa tengah sakit dan tidak bisa ditinggal.
Ghifar tergopoh-gopoh, untuk mencapai ke tempat Kinasya. Gadis itu tengah mengobrol, dengan beberapa keluarga dari Winda. Kinasya bisa bersosialisasi dengan baik.
"Kak... Anter pulang." Ghifar terlihat begitu butuh pertolongan.
Kinasya mengangguk, ia segera menghampiri Ghifar.
"Sakit kah?" tanya Kinasya, dengan menahan lengan Ghifar. Karena laki-laki muda itu seperti dalam posisi ruku', ia seperti tidak kuat menopang tubuhnya.
"Ya." jawab Ghifar cepat.
Kinasya membawa Ghifar ke motor milik Adinda, yang ia gunakan untuk datang ke kediaman Winda. Mobil keluarga cukup penuh, membuatnya memilih untuk menaiki motor saja.
Ghifar sanggup untuk naik ke jok motor tersebut, lalu ia berpegangan pada pundak Kinasya.
__ADS_1
"Kata mamah suruh pulang dulu aja." ucap Ghifar saat motor itu mulai berjalan.
"Kau sakit apa memangnya? Ke kontrakan aku aja dulu, ada beberapa obat di sana. Alat aku juga di sana, biar bisa dicek dulu." sahut Kinasya dengan menyeimbangkan motornya, karena jalanan penuh lubang.
"Lemes, berdebar, gemetaran, mata pun kunang-kunangan." Ghifar mengatakan tentang yang ia rasakan.
"Terus ngaceng juga?" tandas Kinasya.
Ghifar mengernyitkan dahinya, lalu tangannya meraba tengah-tengah tubuhnya.
Benar.
Intinya menegang juga. Ia segera memundurkan posisi duduknya.
Kepala Kinasya menggeleng berulang, ia tidak mengerti dengan Ghifar.
Ghifar mengeluh sakit, dari wajahnya pun ia terlihat tidak baik-baik saja. Namun, intinya menegang. Kinasya merasakan, karena jalanan yang berlubang membuat Ghifar duduk terlalu berdempetan dengan tubuhnya.
"Dah sana turun!" tak terasa, mereka sudah sampai di depan pagar rumah pak Akbar.
"Kenapa di sini?" Ghifar terheran-heran.
"Minta Ahya obatin! Kau perlu Ahya keknya, bukan aku. Kau salah minta pertolongan ke orang." dari suaranya, Kinasya seperti tidak bersahabat.
"Mamah minta kau obati aku, Kak."
Kinasya kini berpikiran buruk tentang Ghifar. Ghifar selalu menarik nama ibunya, sebagai alasan agar dirinya tetap tinggal.
Ghifar masih belum turun, ia bertahan untuk duduk di jok motor tersebut.
Kinasya menoleh ke arah kiri, matanya melirik lepas ke arah Ghifar.
"Lama-lama kau nyebelin ya, Far! Dikasih hati, minta jantung! Sana turun! Minta Ahya obatin! Kan kau ngajak jalan-jalan Ahya tuh, padahal dia tak masakin kau, tak mikirin kesehatan kau juga. Udah aja sana Ahya sekalian, yang kau mintain segala-galanya!"
Ghifar tak mengerti, kenapa kakaknya tersebut malah marah-marah tak jelas?
"Apa-apa, kau bilang mamah minta, mamah suruh. Alasan!" tambah Kinasya begitu ketus.
"Memang mamah suruh, Kak." Ghifar benar-benar tidak berbohong.
"Waktu hari itu. Kau tahan aku di rumah, dengan alasan mamah minta aku pilihin kain. Sekarang... Gara-gara kau sakit. Mamah minta aku lagi buat urus kau."
Ingatan Ghifar mengingat kembali, saat Kinasya tengah berada di rumahnya hari itu.
"Ohhh...." Ghifar ingin menjelaskan sesuatu.
"Waktu itu memang mamah suruh. Kan...
......................
Kinasya kenapa nih?
__ADS_1