Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS115. Keputusan jak ba tanda


__ADS_3

"Bukan tak setuju. Buktinya Papah ramah sama kau, tak minta kau ninggalin Giska. Masih mikirin perasaan kau sama Giska, peduli sama kau di rumah sakit kemarin. Kenapa kau malah bilang, Papah tak setuju Giska sama kau?" ucap Adi, dengan fokus pada perubahan wajah Zuhdi. Yang terlihat tengah menahan tangis, juga amarahnya.


"Papah tau penghasilan aku, Papah tau kerjaan aku. Tapi kenapa Papah matok begitu tingginya? Sengaja biar tak mampu aku jangkau kah?" tanya Zuhdi yang sudah tidak ramah lagi.


Givan melongok, mendengar suara Zuhdi yang sedikit berseru itu.


"Jadi kau mundur?" sahut Adi lebih tegas.


"Kau mundur, sebelum usahain dulu? Diminta mahar sama uang segitu kau mundur? Berarti tak sungguh-sungguh kau mau minang anak Papah?" Adi menghela nafasnya sejenak, menunggu Zuhdi yang tak kunjung bersuara.


"Itu cuma jumlah kecil, dari bayangan kau menuhin kebutuhan Giska dan anak-anak kalian kelak. Cuma 57 mayam, dengan uang 111 juta kau tak sanggupin? Apa lagi nanti kau hidupin anak Papah, juga cucu-cucu Papah kelak. Udah mending tak usah dilan....." Adi tak menyelesaikan ucapannya, karena sahutan Zuhdi yang membuat Adi tersenyum lebar.


"Aku sanggup, Pah. Aku usahain jumlah yang diminta." putus Zuhdi, yang membuat orang tuanya mengusap dadanya sendiri.


"Tapi aku minta Giska, aku tunangin. Jak ba tanda dulu, Pah. Jangan sampek dia dibawa pergi sama laki-laki yang bukan saudaranya, atau jalan sama laki-laki lain." lanjut Zuhdi, mendapat anggukan mantap dari Adi.


"Aku pergi ngaji dulu. Gavin mana?" ucap Giska, yang membuat obrolan mereka terhenti sejenak.


"Gavin udah duluan keknya. Tadi pergi udah bawa sarung sama iqro-nya." sahut Adi, membuat Giska berlalu pergi begitu saja.


"Kenapa itu anak?" tanya Adinda, dengan memperhatikan Giska yang terburu-buru tersebut.


"Marah, tak ada yang mau jemput dia di depan tadi. Jadi dia jalan kaki dari jalan raya, sampek ke sini." jawab Adi kemudian.


"Memang tiap hari ngaji dia, Teungku?" ujar pak Zuhri, yang mengalihkan pandangan Adi dan Adinda. Yang masih memperhatikan Giska, yang tengah berjalan menuju ke gerbang rumah mereka.


"Ngaji tiap hari, kalau ada di rumah. Tiga hari sekali juga setor hafalan sama kita. Udah nyampe jus kelima dia hafal-hafalan." tutur Adi yang merasa bangga pada anak-anaknya yang mampu menghafal Al-Qur'an, tidak seperti dirinya dan istrinya.


Adinda hanya menghafal juz amma, juga surat pendek lainnya. Sedangkan dirinya, yang hanya memahami tanda baca, juga tajwidnya saja. Membaca pun ia ahlinya, tapi dirinya tak mampu menghafal.


"Kata Giska, tak hafal-hafalan, tak dapat uang jajan." timpal Zuhdi, yang membuat suasana mencair kembali.


"Pengen anak-anak kita, bisa lebih baik dari kita gitu Pak." jelas Adi yang membuat mereka tersenyum lebar.

__ADS_1


"Jadi, tunangan dulu macam itu?" ucap Adinda memperhatikan wajah Zuhdi tersebut.


"Ya, Bu. Aku tak tenang, kalau orang-orang belum tau. Kalau Giska, udah aku tandain." sahut Zuhdi penuh harap.


Adinda menoleh ke arah suaminya, "Kek mana ini, Bang?" tanya Adinda lirih.


Adi menghela nafasnya, kemudian memperhatikan wajah Zuhdi yang tengah terdiam memandangi dirinya dan istrinya.


"Tunangin, bukan berarti ngehakin. Jangan berani-berani nyentuh Giska, apa lagi nidurin dia. Meski terikat dalam status bertunangan. Tunangan, bukan menikah. Tunangan, uang bersama, tapi tidak diperbolehkan untuk hubungan badan. Kau paham garis besarnya?" ucap Adi terdengar begitu tegas.


Zuhdi mengangguk, "Aku paham, Pah. Sejauh ini, aku pun tak berani nyentuh Giska. Papah tenang aja untuk masalah itu." sahut Zuhdi tanpa rasa ragu.


"Ya udah, tunangan keluarga aja. Tak perlu gelar pesta, atau semacamnya." balas Adi, yang tidak tepat dengan niat Zuhdi.


"Bukan kek gitu, Pah. Tunangan, ngadain syukuran. Orang ngaji, biar orang pada tau. Kalau cuma keluarga aja, yang ada Giska tetep dideketin laki-laki lain karena tak ada yang tau." ujar Zuhdi, mengungkapkan tentang yang ada di benaknya.


"Berapa lama kau janjikan menikah?" tutur Adinda, yang kembali melontarkan pertanyaan pada Zuhdi.


"Giska sekarang baru semester dua. Mungkin kalau pendidikannya rampung aja, Bu. Sekitar tiga tahun lagi. Sekalian aku ngumpulin nilai yang diminta." tukas Zuhdi, yang mendapat anggukan dari orang tuanya.


"Terserah Teungku haji aja. Keluarga kami, ngikut dengan waktu yang kalian pilihkan aja." sahut ayah Zuhdi, yang sedari tadi menyimak pembahasan ini.


"Berapa banyak kira-kira, biaya buat syukuran ngadain orang ngaji sama cincinnya Pah?" tanya Zuhdi, yang membuat Adi dan Adinda saling bertukar pandang.


"Cincin dari dia, biaya ngaji dari kita aja Dek. Gimana menurut Adek?" bisik Adi, yang membuat Adinda terdiam.


"Kasian, dia ngedadak nyari. Waktu itu sih ada bilang, katanya mau nyiapin satu mayam buat cincin Giska." lanjut Adi membisikkan pada telinga istrinya kembali.


Adinda mengangguk samar, "Abang atur aja." sahutnya lirih.


Adi mengangguk mantap pada istrinya, lalu kembali menoleh pada tamu-tamunya.


"Hari minggu depan aja? Macam mana? Biar nanti Papah sama Mamah ngobrol dulu sama keluarga besar. Biaya syukuran, biar kami yang atur. Kau bawa cincin aja, sama bawa buah-buah tradisional buat adat aja." ujar Adi memutuskan hari yang menurutnya paling tepat.

__ADS_1


"Ya, Pah. Nanti entah besok atau lusa, aku minta izin bawa Giska. Buat beli cincinnya, Pah. Giska aja yang pakek cincin, karena laki-laki setau aku tak boleh pakek cincin emas." tutur Zuhdi, dengan tersenyum senang.


"Iya. Besok-besok marahin aja, kalau dia datang ke rumah kau lagi. Kau kangen, temuin Giska di rumah Papah. Jangan berani ajak ketemuan di jalan. Kalau kau ajak pergi, kau harus bisa jamin keselamatan dan keamanannya. Jagain betul-betul, pastiin dia masuk rumah kalau kau anter dia balik." tukas Adi yang diangguki oleh Zuhdi, dengan senyum penuh percaya dirinya.


"Makasih Teungku, insyaa Allah Zuhdi bisa jadi laki-laki yang baik." ucap pak Zuhri kemudian.


"Satu lagi. Aku tak mau dipanggil Teungku, lepas ini kita jadi keluarga. Hormatin aku sewajarnya, jangan terlalu merendah." tegas Adi yang membuat mereka mengangguk, dengan tertawa kecil.


Lalu mereka melanjutkan obrolan bersama, membahas tentang acara syukuran pertunangan anak-anak mereka.


~


"Gak mau, Mas. Aku takut." tolak Canda, dengan menyingkirkan tangan suaminya yang meraba perutnya.


Givan menghela nafasnya, "Udah libur seminggu. Masa mau lanjut libur lagi?" ucap Givan dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Mas ngelakuin bukan karena cinta, jadinya rasanya sakit." celetuk Canda, membuat Givan melirik istrinya seketika.


"Memang Adek cinta sama Mas? Tak juga kan?" sahut Givan, dengan meraup wajah Canda.


"Ngomongin cinta, macam punya cinta aja." lanjutnya, dengan mengempit leher Canda dalam ketiaknya.


Canda menepuk-nepuk tangan suaminya, "Bau ketek! Lepasin!" ujarnya yang membuat Givan tertawa puas.


"Coba bangun! Ganti pakaiannya. Pengen tau hasil dari rutin olahraga dan bersenam." pinta Givan, setelah melepaskan tangannya dari leher istrinya.


"Buka bajunya di sini aja, salin di sini. Mas mau liat live show-nya. Yang seksi tuh, Dek. Sambil gigit bibir bawah, terus mata liat ke atas." lanjut Givan, yang mendapat delikan tajam dari istrinya.


Givan tersenyum mesum, sambil mencolek dada istrinya.


......................


*Saran

__ADS_1


Besok baca ulang, yang bagian akhir episodenya. Biar dapat scene-nya, biar inget adegannya 🤭


__ADS_2