Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS48. Ingin jalan-jalan


__ADS_3

"Nyari cincin katanya, Bang. Mau dikhitbah dulu, ba tanda kek gitulah." jawab Adinda kemudian.


Adi menghela nafasnya, pikirannya kembali berkelana pada ibu dari Haikal. Bayangan bahagianya akan senyum Shasha, saat ia melingkarkan cincin pada jari manisnya. Kini berputar kembali, saat sang istri mengucapkan tentang khitbah suatu hubungan.


"Abang takut, Dek. Abang takut…. Malah putus di tengah jalan, kalau mereka tunangan. Saat laki-laki, atau perempuan gagal menikah setelah tunangan. Mereka pasti dicap bermasalah, entah itu kesalahan laki-lakinya atau perempuannya. Belum lagi malu yang ditanggung masing-masing pihak keluarga." ungkap Adi kemudian.


"Trauma ya? Aku pun pernah gagal menjalani rumah tangga, tapi tak takut buat nikah lagi." sahut Adinda dengan menyombongkan dirinya.


Adi mencomot bibir istrinya, "Gaya kau! Macam yang iya! Tak takut buat nikah lagi, giliran diajak nikah malah kabur. Pacaran tak mau, malah bilang percuma kalau tak ada tujuan akhirnya. Untung laki-lakinya Abang, Dek. Coba kalau Jefri, udah kau ditinggalinya. Coba lagi kalau Haris, udah kau dipaksanya. Nanti gaya se*snya BDSM, yang dipukul-pukul kek gitu. Bersyukur kau, Dek. Dapat Abang yang lemah lembut memperlakukan wanita macam ini. Genjot kenceng dikit, udah berderai air mata, berisik Abang kasar. Tak peka sama kodenya, udah disindir siang malam, macam serumah sama ipar panasan. Siapa coba laki-lakinya yang sabar sejauh ini? Mahendra aja sampek kabur, tak taunya perempuannya begini aslinya. Pepetin Abang, macam yang iya. Giliran udah serumah, drama terus tiap hari Ya Allah." ungkap Adi yang membuat Adinda terbahak-bahak. Ia tengah dikomentari oleh suaminya, tapi malah menyuarakan gelak tawanya begitu puas.


"Abang kenapa sih bertahan sama aku? Aku jadi heran kan kalau udah macam ini." sahut Adinda, dengan memeluk tubuh suaminya.


"Pa… ma bang ya?" ucap Gibran, dengan menunjuk ke arah ruangan lain.


Sebelum menjawab ucapan istrinya, Adi terlebih dahulu menjawab ucapan anaknya.


"Ya, gih sama bang Ghifar. Jangan gangguin bang Ghava sama bang Ghavi, biarin lagi dikurung di kamar berdua." jawab Adi yang mendapat anggukan dari anak bungsunya.


"Abang mau di sini aja, Pah." ujar Gavin, yang masih memainkan ponsel milik ayahnya.


"Ya udah." sahut Adi ringkas, dengan melongok ke arah tontonan anaknya.


"Jawab dong, Bang." suara Adinda, dengan mencubiti perut rata suaminya.


"Ya kepriben maning, anak e wis akeh." jawab Adi, dengan helaan nafas berat.


Adinda langsung memberikan tatapan mematikan, dengan layangan telapak tangan kecilnya. Yang mendarat tepat di atas paha suaminya.


Plak….


Kurang lebih seperti itu suara yang dihasilkannya.


Adi reflek mengusap-usap pahanya, dengan tawa renyahnya yang menggema di ruangan tamu tersebut.


"Ditanya lagi. Kan Abang ini cinta keu Adek. Sesabar-sabarnya Abang loh Dek, ngadepin Adek selama ini. Kalau perempuannya bukan Adek, udah nada tinggi terus hari-hari Abang." jelas Adi kemudian.

__ADS_1


"Memang kenapa kalau perempuannya aku?" tanya Adinda dengan suara keras.


"Ya… kasian. Nanti nanges." sahut Adi dengan wajah mengejek.


"ABANG!!!" seru Adinda, dengan memberikan pukulan acak ke arah suaminya.


Adi tertawa puas, dengan mencoba mencekal kedua tangan istrinya.


"Gurau, Sayang. Yaaa… karena perjuangan kita tak mudah. Tapi tepatnya perjuangan Abang, dapetin bidadari surga Abang. Adek anak orang, yang tiba-tiba harus mengabdi pada Abang sebagai suaminya. Terus Abang tak perlakukan Adek sebaik mungkin gitu? Ya nanti, malah Adek pulang ke rumah orang tuanya. Ninggalin Abang, yang udah terlanjur bergantung sama Adek. Bisa mati nanti Abang, Dek. Apa lagi, banyak perubahan yang Abang lakukan demi Adek. Macam berhenti merokok, Abang lakuin biar Adek bisa stop merokok juga." ungkap Adi, dengan menyandarkan kepala istrinya pada dada lebarnya. Kemudian ia memainkan jari jemari istrinya, yang memiliki luka sayatan pisau. Karena sering kali, Adinda terluka kecil saat membuatkan masakan untuk keluarganya.


"Tanpa Adek sadari pun, Adek bergantung sama Abang. Abang terbiasa ngajak Adek sholat. Nanti kalau Abang tergantikan, Adek pasti ngerasa kehilangan seseorang yang selalu ngajak Adek sholat ini. Macam itu loh, Dek Dinda bidadari surgaku." lanjut Adi dengan memberikan senyum terbaiknya, saat istrinya mendongak untuk melihat wajahnya.


"Kenapa sih Abang ngomongnya lembut betul? Kan aku jadi baper, pengen nangis." sahut Adinda dengan masih mendongakan kepalanya.


"Ya berarti lagi tak marah. Kalau lagi marah kan, Abang tak mungkin kek gini." balas Adi dengan menarik pipi istrinya.


Terdengar suara kekehan kecil, dari Adi dan Adinda. Karena pembahasannya kali ini, menyangkut perasaan keduanya.


"Ekhmmmm…." dekheman seseorang yang menyaksikan romansa mereka.


Adinda dan Adi langsung menggeser posisi duduknya, kemudian menyunggingkan senyum canggung pada Givan dan Ai.


"Udah dapat cincinnya?" tanya Adinda, saat Givan dan Ai berjalan ke arahnya.


"Udah, Mah." jawab Givan, kemudian mencium tangan ibunya bergantian dengan Ai juga.


"Nitip anak-anak, Papah sama Mamah mau keluar. Jagain Gibran, ada Ghifar di dalam. Ghifar sama Giska suka ngeledekin Gibran, baru datang udah dibuat nangis aja." ungkap Adi, setelah anak sulungnya duduk di dekatnya.


Givan mengangguk, "Mau ke mana memang?" tanyanya kemudian.


"Mamah mau warnain rambut, dipendekin juga biar keliatan fresh. Mau jalan-jalan nge-Mall juga." jawab Adinda dengan merapihkan hijab panjangnya.


"GISKA…. mamah mau warnain rambut tuh. Kau ikut tak?" seru Givan yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari ibunya.


"Bek lah bilang-bilang Giska. Mamah mau sama Papah aja keluar berdua." sewot Adinda.

__ADS_1


"Risih, nanti drama terus Giska kalau ditinggal tuh. Belum lagi Icut lagi sensitif, udah mereka jadi baku hantam nanti." balas Givan, yang merasa keberatan untuk mengurus adik perempuan yang paling mudanya tersebut.


"YA, Bang…." Giska muncul dengan senyum lebarnya. Dengan ia langsung duduk di atas pangkuan ayahnya.


"Papah… aku diajak ya? Aku mau rambutnya diwarnai warna stabilo, terus biru neon, yellow terang juga." ucap Giska dengan mengalungkan tangannya di leher ayahnya.


"Biar apa warna warni kek gitu? Nanti disangka rambut nenek sama Gibran." balas Adi, dengan membenarkan rambut pirang anaknya yang keluar dari hijabnya.


"Biar beda, biar fresh. Boleh ya, Mah?" ujar Giska, dengan mencolek dagu ibunya.


Adinda langsung bersedekap tangan, sembari melirik tajam pada Giska.


"Tak! Mamah mau keluar berdua sama Papah." putus Adinda yang membuat Giska turun dari pangkuan ayahnya. Kemudian berlalu pergi dengan rengekan bayinya, juga kaki yang dihentak-hentakkan ke lantai.


"Bayinya Abang itu!" ucap Adinda kemudian.


"He'em, manja betul. Mesti aja diturutin, lebih-lebihin Gibran." sahut Adi dengan memindahkan Gavin ke pangkuannya.


"Jagain adek Gibrannya, main bola bareng-bareng. Sini HP-nya, Papah mau ada perlu sama Mamah." ungkap Adi lembut, pada anak yang pernah mengalami patah tulang tersebut.


"Ikut, Pah." sahut Gavin kemudian.


"Nanti ya, sama Bang Givan. Nanti diajak ke pasar malam." balas Adi yang membuat Givan menghela nafas beratnya.


Gavin mengangguk, kemudian berlari ke pangkuan Givan.


"Bang, nanti jalan-jalan juga ya." ujar Gavin yang mendapat gumaman saja.


"Mak… tak nongol-nongol? Aku tak disiapin makanannya? Cuma nyuruh kita duduk pandang-pandangan aja ini?" seru seseorang yang muncul dengan wajah nelangsanya.


......................


*Keu : ke


*Khitbah itu semacam tunangan gitu loh

__ADS_1


*Bek : Jangan


__ADS_2