
"Canda... Ini tolong gendong Hamerra dulu." pinta Adi dengan berseru memanggil menantunya.
Adi tak ingin, anak bayi itu merekam perkataan jelek yang terlontar di ruangan ini.
"Tak usah, Pah. Biar dia tau. Ini loh aku, anak hasil hamil di luar nikah. Terus ini..." Icut menunjuk pada buah hatinya.
"Ini cucunya yang lahir tanpa ayah." lanjut Icut dengan menatap ibunya berapi-api.
"Aku bodoh, seperti anda. Termakan bujuk rayu laki-laki, ini benihnya, yang dimintanya buat digugurin. Dia tak mau tanggung jawab, dia tak mau ngakuin bahwa ini anaknya, dia ngelak dari berbuat dosa. Alhamdulillah, hari ini aku masih baik-baik aja. Aku masih waras, aku masih sehat, otak aku masih berjalan normal, aku terbebas dari hujatan, aku aman dari makian orang. Berkat perempuan yang Ibu bilang minim akhlak." Icut mengambil oksigen lebih banyak.
"Tapi sayangnya... Aku tak selicik Anda. Aku tak bisa nuntut uang sepeserpun, yang malah aku pertahankan anak dari laki-laki bajingan itu sejauh ini. Aku kasihi dia sembilan bulan, aku lahirin dia ke dunia, dibantu bimbingan dari perempuan yang Anda anggap minim akhlak. Aku mengASIhi cucu Anda siang dan malam. Juga... Aku minta biaya hidup aku dan cucu Anda, dari perempuan yang disebut minim akhlak tadi." Icut begitu tidak terima, saat panutannya disebut dengan minim akhlak. Membuat kata-kata yang terlontar, begitu menikam hati Maya.
Tangan Maya terulur, seolah ingin menyentuh darah dagingnya. Air matanya tak tertahankan lagi, saat anaknya sendiri tega mencetuskan kata-kata yang kurang baik didengar.
"Kamu cuma tau itu, Nay. Pasti ayah kamu gak pernah ngasih tau kamu, tentang dia yang gak pernah ada di samping Mommy waktu ngandung kau. Pasti dia juga gak cerita, tentang nafkah yang dia kasih. Pasti dia juga gak cerita, tentang dirinya yang selalu kasar ke Mommy. Mulai dari kursi, pot, dilemparkannya ke arah Mommy, tiap kali dia numpahin amarahnya. Pasti dia ngerahasiain itu dari kamu kan? Jelas lah, ayah kamu itu gak mungkin mau terlihat buruk dibanding Mommy." pandangan mereka teralihkan ke arah Adi.
Adi hanya bisa menghela nafasnya, saat semua kesalahan dilempar ke arahnya.
"Kau tak mau nambahin juga tentang jeleknya Abang juga, Dek?" tanya Adi dengan menggenggam tangan istrinya.
"Ayo, Memei. Main sama cek Gibran yuk, kita main balok susun." Canda baru muncul, dengan merentangkan tangannya pada Hamerra.
"Abang! Cek, cek, cek. Satu, dua, tiga!" seru Gibran, yang mendengar namanya diberi imbuhan oleh kakak iparnya.
__ADS_1
Hamerra sudah berpindah tangan pada Canda. Kemudian Canda membawa keponakannya masuk, untuk bermain bersama adik iparnya.
"Adek kan dipanggilnya pak cek, ini kan aneuk keumeun Adek." sayup-sayup terdengar suara Canda yang membuat Gibran meneriaki kakak iparnya dengan sebutan bebek.
"Aku kesel! Sama Kakak ipar Duck, Kak Canda bebek!" Gibran berteriak kencang, dengan melangkah menuju ke orang tuanya.
"Paaaa.... Itu Adek aku, aku abangnya. Aku Abang, kon pak cek." rengek Gibran, saat dirinya sampai di pangkuan ayahnya.
"Iya, iya. Nanti punya adek lagi, adek perempuan." ucap Adi, mencoba menenangkan anak bungsunya.
Canda muncul kembali, dengan Hamerra yang ia dekap dengan kain jarik.
"Memei dibawa ke sana, Adek malah ke sini. Ayo main lagi, Memei nyariin kawan main ini." ajak Canda dengan mengulurkan satu tangannya, pada adik ipar yang selalu dibawanya ke pasar malam tersebut.
"Bilang dulu aku Abang, kon pak cek." Gibran begitu menggemaskan, dengan wajah kesalnya.
Lalu Gibran mengangguk dan menyambut uluran tangan kakak iparnya. Canda membawa pergi keponakannya dan adik iparnya, untuk masuk ke dalam ruang bermain kembali.
Maya melongo saja, melihat anak laki-laki usia tiga tahun tersebut. Begitu tampan dengan rupa yang sempurna. Belum lagi sorot matanya yang tajam, seperti laki-laki yang ia percaya untuk membesarkan anaknya.
Bisa dibilang, Gibran adalah satu-satunya anak dengan rupa terbaik di antara koleksi anak-anak Adi. Berbeda dengan Givan, yang memiliki hidung dan rahang persis seperti ayah kandungnya. Gibran memiliki hidung, rambut hitam lebat, mata, bibir, rahang aset dari Adi. Dengan kulit kuning langsat dan bersih, persis seperti ibunya.
"Jadi... Papah ini betul macam Ibu kau bilang. Papah tak pernah ada di sampingnya, karena Papah punya istri dan istri Papah lagi hamil Ghifar." ungkap Adi menarik perhatian mereka semua. Apa lagi, tangan Adi yang merangkul mesra pundak istrinya.
__ADS_1
"Sejahat itu memang Papah, seegois itu memang Papah. Tapi Ibu kau juga tau, kalau Papah memang punya perempuan lain. Bahkan dia tau dari sebelum Papah nikahin dia, kalau memang Papah punya perempuan lain. Tapi Ibu kau maksa nikah sama Papah." lanjut Adi, yang memulai cerita tentang masa lalunya dulu.
"Tapi... Sejahatnya Papah masa itu. Papah cuma punya istri, Papah tak punya pacar. Papah juga tak pacaran lagi, lepas punya dua istri itu. Papah cuma pulang ke Mamah Dinda. Kalau lagi ngunjungin Ibu kau pun, Papah tidur di kamarnya, pulang ke dia, jalan sama dia juga, bukan jalan sama pacar Papah. Papah juga nafkahi, Papah rutin kirim uang, Papah rutin ngasih perhatian sama Ibu kau juga." sindir Adi halus, yang membuat Maya tertunduk malu.
"Poligami tak semudah yang dibayangkan, apa lagi kalau istri-istri lagi sama-sama hamil. Papah akui, Papah salah waktu itu, Papah ceroboh di masa muda dulu."
"Mungkin... Saatnya kau tau juga hari ini. Jangan menyimpan dendam, jangan marah sama keadaan ini." hanya Adi, yang sedari tadi mendominasi suara di ruangan ini.
Adi berlalu pergi dari ruang tamu tersebut, mengambil sesuatu di dalam brangkas kamarnya. Kemudian ia kembali, dengan beberapa berkas yang cukup mencurigakan.
"Heh... Udah aja lah, Bang. Buat apa juga?" cegah Adinda, yang mengambil alih berkas tersebut.
"Bukan buat Icut, Dek. Buat Ibunya, yang memang tau sebenarnya, tapi malah ngebalikin keadaan. Icut tetap anak kita, tiap Ibunya perlu tau ini." ujar Adi, yang terlihat sudah tidak bisa ditawar lagi.
"Maksud kau apa kek gini, May?" tanya Adi, dengan menunjukkan hasil tes golongan darah dan satu print out tabel tentang golongan darah berdasarkan keturunan.
Maya mengambil kertas tersebut, kemudian membacanya dengan seksama. Adi pun memberikan kumpulan kertas lain, yang disimpan di dalam satu map tersebut.
Maya terdiam kaku, ia teringat akan masa itu. Akan masa Adi menelponnya, lalu mengatakan bahwa anaknya tengah sakit dan membutuhkan donor darah. Namun, golongan darah Maya berbeda dengan golongan darah Adi dan Icut.
Maya menatap tidak percaya, dengan hasil rontgen dan juga mendapat hasil yang tidak valid dengan milik Adi.
Maya menegakkan kepalanya, kemudian menatap Icut dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
"Ya, ya, ya. Ya aku tau, aku bukan.....
......................