Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS172. Pertolongan untuk Adi


__ADS_3

"Bang.... Bang Adi...." Adinda terisak-isak, dengan menggoyangkan tubuh suaminya yang tergeletak.


"Aduh, bocor kepalanya." tangan Adinda langsung dikerubungi hawa dingin. Tangannya tiba-tiba gemetaran, saat Kenandra berhasil menyangga kepala suaminya.


Noda darah yang berada di paving blok halaman depan tersebut, tepat berada di bawah kepala Adi yang terhantam barusan.


"Awas-awas!" Kinasya langsung mengambil posisi di depan dada ayah angkatnya. Ini adalah profesi kebanggaannya, kelihaiannya memberikan pertolongan pertama.


"Aman, Kin?" tanya Kenandra, saat Kinasya tengah menghitung denyut nadi Adi dengan jam tangannya.


"Aman, kalau tensinya lagi tak tinggi. Ayo, Bang. Pindahin ke dalam." jawab Kinasya kemudian.


Ia berdiri dan merangkul ibu angkatnya, membiarkan lima pemuda tersebut memindahkan tubuh Adi.


"Mamah tak pingsan juga kah?" tanya Kinasya, dengan membawa Adinda masuk ke dalam rumah.


Namun, cubitan kuat ia dapatkan di pinggangnya. Kinasya terkekeh, dengan memeluk ibunya yang setinggi ketiaknya saja.


"Tak bisa pingsan Mamah." jawab Adinda, dengan isakan yang mulai mereda.


"Tengkuk Papah lagi tak kaku kan, Mah?" sahut Kinasya, saat mereka berdua telah sampai di kamar Adi dan Adinda.


"Tak keknya." Adinda tak tahu pasti, karena sejauh ini suaminya tak mengeluhkan hal itu.


"Agak dimiringkan!" pinta Kenandra, yang ternyata dirinya baru kembali dari kamar mandi yang berada di kamar tersebut.


"Coba senterin." lanjutnya, dengan menunjuk rembesan dari kepala Adi.


"Tenang, Mah." ujar Kinasya, kemudian dirinya sedikit melongok untuk melihat luka di kepala ayah angkatnya.


"Tak dalam, tapi perlu dijahit itu Bang." lanjut Kinasya, saat Kenandra tengah membersihkan darah tersebut dari pinggiran lukanya.


"Kau ada benang?" tanya Kenandra dengan menoleh ke arah adiknya.


"Ada, monofilamen sintesis. Tapi dikontrakkan aku, Bang." jawab Kinasya dengan kembali mengusap lengan ibunya.


"Ya udah cepet ambil. Salep neosporin atau bacitracin juga kalau ada." ujar Kenandra, yang masih membersihkan luka tersebut.

__ADS_1


"Tak punya!!! Aku bukan apotek! Aku cuma punya cefixime 200mg, itu pun sisa aku." Kinasya terlihat kesal dari nada suaranya.


"Ya udah ambil, Kin! Kau tak mau dimarahin, tapi mesti nunggu perintah dulu keknya." sang kakak memberikan lirikan tajamnya, pada adik yang dari dulu selalu membuat kebas di hatinya tersebut.


"Baru juga sampek aku!" gerutu Kinasya dengan berbalik arah dan pergi dari kamar pribadi orang tua angkatnya tersebut.


Adinda mendekati suaminya, memperhatikan mata suaminya yang terpejam rapat.


"Abang lemah betul sih, Bang!" maki Adinda yang tak bisa menahan rasa khawatirnya.


Ghava yang tiga hari sudah ikut berkumpul dengan keluarganya tersebut, memberi tempat untuk ibunya duduk di tepian ranjang.


"Di kotak p3k ada kasa steril tak, Mah?" tanya Kenandra, yang sedikit terusik akan Adinda yang duduk di dekatnya.


"Ada, cari aja." jawab Adinda, matanya masih begitu fokus memandangi wajah suaminya.


"Ayo berantem!!!" seru Gavin begitu semangat, saat melihat kakaknya yang selalu berperang dengannya.


Gavin memulai lebih dulu, ia menendang tulang kering Ghifar.


"Ayo serang....." pekik Gibran memperkeruh suasana.


Ghifar menggiring adik-adiknya untuk keluar dari kamar itu. Ia tak menyangka, kejutannya membuat ayahnya ambruk. Belum juga Ghifar mencium tangan dan menyapa orang tuanya, ia seperti momok yang memberi kenangan mengerikan pada orang tuanya. Ghifar malah tersinggung akan hal itu, spekulasi buruk menyerangnya. Menganggap dirinya sendiri, tak diharapkan kehadirannya di rumah itu.


Kinasya sudah kembali, dengan tempat khusus yang dimiliki seorang dokter.


"Cuci tangan dulu sana!" pinta Kenandra pada adiknya.


"Okehhhh!" ketus Kinasya dengan menyemburkan nafasnya di depan wajah kakaknya.


"Abang fillet juga masa otot kau!" ancam Kenandra, saat Kinasya pergi ke arah kamar mandi.


"Van. Coba senterin lebih ke sini!" pinta Kenandra dengan mengisyaratkan letak yang benar.


"Mamah ke depan aja gih! Takut trauma, tengok kepala papah dijahit." ucap Kenandra, dengan memperhatikan wajah Adinda yang begitu tegang.


"Kira-kira berapa jahitan?" sahut Adinda dengan melongok luka kecil yang sedikit menganga tersebut.

__ADS_1


"Kena krikil keknya ini tuh. Tiga keknya, Mah." balas Kenandra, yang memperhatikan Kinasya naik ke atas tempat tidur. Untuk berada di sisi lain, supaya bisa membantu kakaknya tersebut.


"Mamah mau di sini aja sama papah." putus Adinda, yang mendapat anggukan lemah dari Kenandra.


Beberapa saat kemudian, Adi meringis dengan mata yang masih terpejam. Suara kecil keluar dari bibirnya, dengan gerakan reflek di kepalanya.


"Mentang-mentang lagi pingsan, langsung tusuk aja." tandas Kinasya, mengomentari dokter yang akan memulai pendidikan spesialis tersebut.


"Ya masa, mesti petting dulu?" lontaran Kenandra seolah menyindir Kinasya.


"Tapi ngomong-ngomong, kau konsumsi cefixime buat apa?" lanjut Kenandra, dengan melipat kasa steril untuk menutup luka tersebut.


"10 hari yang lalu jari aku sobek, kena rancong. Nih tengok! Lima jahitan, mana ayah pulak yang jahit. Kalau aku bisa jahit pakek satu tangan, rasanya aku mau jahit sendiri aja. Abang tau kan, seberapa amatirannya ayah?" mereka cekikikan berdua, dengan tangan beraktivitas di kepala Adi.


"Ambil tensi, Kin!" pinta Kenandra yang membuat Kinasya merengut.


"Ambil di tas aku itu! Ada stetoskop, ada tensi, ada termometer dan lain sebagainya." ujar Kinasya kemudian.


"Geser, Mah." ucap Kenandra, dengan dirinya bangkit untuk membenahi posisi Adi.


Raut wajah Kenandra dan Kinasya terlihat serius, saat tensi darah dan stetoskop berada di lengan dalam Adi. Beberapa kali, Kenandra mengulangi kembali aktivitasnya untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Umur Papah berapa sih, Mah?" tanya Kenandra, dengan menggantungkan stetoskop pada lehernya.


"50an keknya, mau 51 tahun depan." jawab Adinda yang masih setia menemani suaminya.


"140/90 Kin, kek mana itu?" pandangan mata Kenandra tak biasa.


Dengan Kinasya menutup mulutnya karena tawanya, "Normal, Bodoh! Lansia memang segitu lah! 130/80 sampek 140/90, kalau udah memasuki kepala lima." jelas Kinasya, Kenandra merasa malu sendiri karena dirinya melupakan hal itu.


Kinasya memberikan pijatan nyaman, di beberapa bagian tubuh Adi. Adinda pun, ikut mengusap-usap kaki suaminya, agar lekas terbangun.


"Aku ke depan dulu ya, Mah." pamit Kenandra, Adinda hanya mengangguk samar karena suasana hatinya begitu kacau.


Ia amat penasaran, untuk mendengar cerita dan penjelasan Ghifar. Tetapi semuanya seolah sudah dijelaskan, kala Ghifar menyebut Fira dengan imbuhan mamah. Apa lagi, saat anak di dekapan Fira memanggil Ghifar dengan sebutan papah.


"Kin... Kau tau tentang dua perempuan asing yang Ghifar bawa itu? Kenapa Fira ikut Ghifar juga? Terus anak siapa yang Fira gendong?" tanya Adinda, sembari menanti suaminya terbangun.

__ADS_1


"Yang kerudung putih, rambutnya pirang cokelat itu, namanya I Gede Yoka siapa tuh. Yang lupa pakek celana, perutnya buncit, terus pas keluar malah lupa pakek kerudung, namanya Nyoman Tara Swastika." jawab Kinasya. Alis Adinda naik sebelah, ia merasa pernah mendengar salah satu nama yang Kinasya sebutkan.


......................


__ADS_2