Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS220. Memarahi Canda


__ADS_3

Pagi harinya, seisi rumah diganggu oleh Mikheyla yang meminta makan di waktu subuh ini. Bahkan, kakek dan neneknya saja baru membuka matanya. Mereka masih menguap lebar, dengan mengumpulkan nyawa masing-masing.


"Tek... Nek... Yam nyam." Anak itu tengah memperhatikan Adi dan Adinda yang masih mengucek matanya.


"Yayah, sama yayah sana! Kakek masih ngantuk, belum adzan subuh juga, Kakek masih punya waktu buat lanjut tidur." Adi kembali membaringkan tubuhnya, kemudian menarik selimutnya.


"Nek.... Ke yam nyam. Yam nyam, Nek." Mikheyla menarik-narik tangan Adinda.


"Ya Allah... Gibran aja tak begini kalau bangunin." Adinda masih berat dengan matanya.


"Van....."


"Canda....."


Adinda berjalan ke luar kamarnya, yang pintunya dikunci ketika sedang ritual saja itu. Ia meneriaki nama kedua orang tua, yang diklaim sebagai orang tua sah dari Mikheyla itu.


"Lagian kau bisa keluar sih dari kamar yayah sama biyung kau, kek mana caranya kau keluar? Tak dikunci kah pintunya?" Adinda memperhatikan kamar milik Givan yang pintunya terbuka lebar.


"Pah.... Pa pa Biiiiiii...." suara nyaring itu, masih memanggil beberapa orang lainnya.


"Ke yam nyam. Ke yam nyam." anak itu terus berulang menyuarakan keinginannya untuk makan.


"Sini!" Adinda melambaikan tangannya pada Mikheyla yang hendak naik ke tralis besi sebagai penutup tangga.


Mikheyla berlari ke arah neneknya, mengikuti langkah neneknya menuju dapur.


"Ke yam nyam, Nek." anak itu terus meminta makan.


"Iya, iya yam nyam. Key anteng, Nenek bikin telor ceplok dulu." Adinda mulai menyalakan kompornya.


"Papa Biiiiii....." Mikheyla tak mau diam, mulutnya memanggil seseorang yang masih ia anggap sebagai ayahnya.


"Pah.... Mah.... Mama Pika..... Papa Biiiiii.... O Yok, te o Yok, te A tik....." anak itu masih belum puas dengan kesediaan Adinda untuk membuatkan makanan untuknya.


"Ke mana lagi itu bocah?" Adinda celingukan, saat suara Mikheyla semakin menjauh.


Adinda mengambil nasi yang tersisa di penanak nasi. Sebelum ia menyajikannya untuk Mikheyla, ia lebih dulu mengecek keadaan nasi itu. Karena nasi itu sudah ditinggal semalaman, ia khawatir nasinya sudah tidak enak.

__ADS_1


"Key makanannya ini." Adinda berjalan ke sana ke mari, untuk mencari cucu yang selalu heboh tersebut.


Tawa riang Mikheyla terdengar samar. Adinda mendongakan kepalanya menghadap tangga, untuk mencari keberadaan Mikheyla yang sering naik tralis besi penutup tangga.


"Ya Alla. Ya Robbi." Adinda geleng-geleng kepala, saat melihat Ghifar turun dengan menggendong Mikheyla.


"Kau naik-naik Key? Berapa kali Nenek harus kata? Kau jatuh, mati kau sia-sia. Belum jadi dokter, nanti udah ditanam duluan." Adinda memaki cucu yang sering membuat irama di jantungnya tersebut.


"Tralisnya harus dililit pager berduri keknya, Mah." Ghifar sampai di anak tangga terakhir. Mikheyla langsung turun dari gendongan Ghifar. Mulutnya terbuka, ia tak sabar menunggu suapan dari piring yang neneknya bawakan.


"Sore tadi kah tak makan kah, Key?" Adinda buru-buru menyuapi cucunya tersebut, ia merasa amat kasihan pada gadis kecil yang jarang digendong itu.


Mikheyla menggeleng, menanggapi ucapan neneknya. Benarkah demikian? Kenapa sampai bisa terjadi demikian?


Ghifar dan Adinda saling beradu pandang, mereka tak percaya Canda lalai menyuapi anak suaminya.


"Keterlaluan! Aku nih, Mah. Aku lagi nyupirin, bawa Key. Tak nasi, roti, kue, daging, pokonya makanan apa aja yang aku temui di jalan. Aku beli, aku nyuapin Key sambil nyetir. Tak bisa aku tengok dia tak makan, dia selalu makan tiga kali sehari. Cuaca hujan, panas, angin besar, tetep dia makan tiga kali sehari bahkan lebih. Lagi sakit, lagi rewel, pokoknya dia harus makan tiga kali sehari. Tak bisa aku tengok dia kelaparan kek gini. Percuma dia punya ibu baru. Tak jauh lebih sayang ibu barunya, ketimbang ibu kandungnya yang dulu mau gugurin dia." Ghifar marah, dengan suara yang membuat penghuni kamar keluar semua.


"Ada apa, Far?" wajah kaget Icut tak bisa disembunyikan.


"Key tak makan dari sore, kelaparan dia. Kau kalau suapin Memei, nampak di mata kau ada Key, kau suapin juga Key. Punya ma, tapi tak becus ngurusin Key." Icut memahami kemarahan Ghifar.


"Apa, Far?" Givan bangun, ia muncul dengan istrinya yang berada di sampingnya.


"Kau kek mana sih, Bang? Kelaparan anak kau!" Ghifar menunjuk pada kakaknya.


"Kau lagi! Kau tak sanggup nyuapin, karena keadaan kau. Kau minta tolong sama mertua kau! Adik ipar kau pun banyak, tak mungkin mereka nolak saat kau mintain pertolongan buat sekedar nyuapin Key." Ghifar menunjuk pada Canda. Ini adalah kali pertamanya Ghifar membuka suaranya pada Canda.


Canda merasa bersalah, ia lalai mengurus anak suaminya.


"Maaf." sahut Canda lirih. Apa yang bisa ia perbuat? Selain meminta maaf. Karena seperti itulah kebenarannya.


"Kenapa kau tak suapin?" tanya Givan dengan menyentuh lengan istrinya.


"Key tak mau makan, pas aku suapin. Terus abis isya aku ngantuk berat, tapi Key baru ngerengek minta makan. Mata aku udah tak tahan, jadi aku buatkan aja dia susu. Terus tidur bareng Key." aku Canda dengan menundukkan kepalanya.


Givan geleng-geleng kepala, mendengar penjelasan istrinya.

__ADS_1


"Tukang tidur!" maki Givan lirih, lalu dirinya mengambil alih piring yang berada di tangan ibunya.


"No... No, no Ya yah. Yam nyam Ke." Mikheyla mencoba mengambil alih piring yang Givan rebut dari ibunya.


"Iya, yam nyam Key. Ayah mau nyuapin Key. Kasian itu Nenek masih nguap aja, Nenek ngantuk Key." Mikheyla menyangka makanannya akan direbut oleh ayah kandungnya.


"Nek... Ke yam nyam Nek." Mikheyla merebut piring itu, kemudian mengembalikannya pada Adinda. Mikheyla meminta neneknya saja yang menyuapinya.


Givan menghela nafasnya, memandang Mikheyla duduk di samping neneknya. Tangan kecilnya tak mau diam. Ia menyobek telor ceplok buatan neneknya, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.


"Udah sana pada lanjut tidur!" perintah dari Adi, yang menyaksikan drama dalam diam tersebut.


"Setengah jam lagi bangun, sholat." lanjutnya tak terbantahkan.


Ghifar mengambil bantal sofa, lalu dirinya langsung menjatuhkan diri di karpet ruang keluarga tersebut.


"Nanti Papah carikan mamah baru yang tak lupa ngasih makan kau, Key." ungkapan Ghifar dengan mata terpejam itu, cukup membuat Canda ingin menangis. Ia menyangka, adik iparnya itu akan menjomblangkan suaminya dengan perempuan baru.


Namun, senyum Adi dan Adinda terukir. Ia tahu siapa yang disebut papah oleh Mikheyla. Ghifar juga mengatakan akan mencari mamah baru. Mereka menarik kesimpulan, bahwa Ghifar ingin mencari seorang istri untuknya dan ibu untuk Mikheyla. Karena Ghifar menganggap Mikheyla adalah anaknya sendiri.


"Yang montok, yang dadanya mangkal, yang big part belakang. Terus... Yang apa lagi ya." tambah Adi, dengan merebahkan tubuhnya di sebelah Ghifar.


"Yang pandai goyang. Yang punya emp*t ayam super, tapi bukan batuk ya." mereka bertiga tertawa geli, Ghifar seolah benar-benar khatam mengenai perempuan. Mereka mengira, bahwa lingkungan pergaulan Ghifar begitu luas dan bebas. Sampai Ghifar memahami hal yang berbau sensitif tersebut.


"Memang kau tau bedanya emp*t ayam sama batuk?" tandas Adinda, di sela aktivitasnya menyuapi cucunya.


"Org*sme sama lagi batuk itu, katanya sih sama. Apa lagi kalau lagi batuk berdahak, katanya udah macam emp*t ayam super." Adi terbahak-bahak, anaknya benar-benar jujur.


Adi menepuk pundak Ghifar, karena anaknya berbaring telungkup.


"Ilmu dari mana?" tanya Adi yang masih setia di samping anaknya.


"Ada deh. Namanya ilmu basic, biar tak dibohongi perempuan. Ngakunya iya aku udah kl*maks, eh taunya cuma ngejen sama nahan nafas aja." Adinda seperti tergelitik, Ghifar dewasa tetapi polos itu. Seperti tidak punya dosa, saat membeberkan ilmu pengetahuan ha*rat tersebut.


"Heh! Ngomongin apa sih?!" tegas seseorang, yang tidak suka dengan pembahasan mesum di pagi ini.


Adinda, Adi dan Ghifar menoleh serentak ke arah orang tersebut.

__ADS_1


......................


__ADS_2