Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS105. Ketegangan


__ADS_3

"Abang tak bisa bedain mana tea jus, mana racun serangga kah?" suara sewot Giska. Kala melihat laki-lakinya tengah terbaring lemah, dengan mata yang tertuju ke arahnya.


Mereka semua terkekeh geli, tak luput dengan pasien yang satu kamar dengan Zuhdi.


Zuhdi melambaikan tangannya pada Giska. Kemudian Giska mengangguk dan langsung melangkah mendekat pada Zuhdi, yang masih menggunakan alat bantu nafas tersebut.


"Maaf..." ucap Zuhdi lirih, dengan menyentuh pipi mulus Giska.


Giska menoyor pelan kepala kekasihnya. Membuat mereka semua yang berada di situ, melebarkan matanya tak percaya.


"Mending mati sekalian! Nyiksa badan aja kau! Kesel betul aku sama Abang!!" ungkap Giska dengan memukul acak tubuh Zuhdi.


Zuhdi mencekal kedua tangan Giska, "Nanti mati betulan Abang nyoe, Dek." sahut Zuhdi yang membuat mereka semua terkekeh.


"Ini resep yang mesti ditebus, Pak." ucap seseorang, yang mengalihkan perhatian mereka.


Adi menerima kertas tersebut, "Ya, Kak. Terima kasih." sahut Adi kemudian.


Perawat wanita itu mengangguk sembari tersenyum ramah, "Tempat penebusan obatnya di lantai dasar ya, Pak." jelasnya yang mendapat senyum penuh pesona dari Adi.


Perawat tersebut permisi pergi, dengan mereka semua mengucapkan terima kasih.


"Kau kira masih nampak manis aja, Di? Istri kau liat, daun telinga kau dibuat persis daun rondo bolong." ucap Jefri, yang melihat Adi memamerkan senyum mautnya.


"Kalau dia tau, berarti gara-gara kau. Kan kau yang tukang lapor! Macam tak sama laki-lakinya aja kau!" sahut Adi yang selalu terdengar lucu di telinga keluarga Zuhdi.


Mereka pun baru mengetahui, tentang sang juragan yang ternyata begitu takut dengan istrinya. Sampai masalah asmara anak-anak mereka pun, sang juragan tutup-tutupi dari istrinya.


"Aslinya Papah kau ini pengen nikah lagi, Giska. Cuma takut sama mamah kau." celetuk Jefri mengarah pada anak perempuan Adi.


"Tak, Cuy! Udah pernah, udah tau rasanya madu dua." sahut Adi dengan menepuk pundak sahabatnya, lalu dirinya berjalan keluar dari ruangan itu.


"Enak tapi, Di?" tanya Jefri yang mengekori bosnya.


Percakapan mereka tak terdengar lagi, karena sepertinya mereka sudah berada di luar ruangan.


"Apa yang dirasa, Bang?" tanya Giska, dengan memperhatikan wajah kekasihnya.


"Sesek, mual." jawab Zuhdi, dengan sedikit mengangkat alat bantu nafasnya.


"Nih aku bilangin. Kalau sehat nanti Abang ke rumah, bilang aja iya, sanggup, mampu gitu ya." ungkap Giska tiba-tiba, membuat ibu Robiah dan pak Zuhri geleng-geleng kepala.


Zuhdi menurunkan alat bantu nafasnya ke dagunya, "Apa? 50 mayam? Tak mampu Abang, Dek. Orang tua Abang pun tak bisa bantu." sahut Zuhdi kemudian.


"Aku maksa, Bang. Masa Abang tak bisa menuhin?" balas Giska dengan memasangkan kembali alat bantu nafas Zuhdi.


"Pokoknya harus sehat! Kalau Abang tak bisa menuhin, awas aja nanti! Papah bakal bener-bener nganggap Abang pecundang. Sekarat sebelum berjuang!" ujar Giska dengan menatap kesal pujaannya.


Zuhdi tersenyum lebar dalam alat tersebut, ia merasa gemas dengan anak juragan yang berkulit sawo matang tersebut.


"Doain Abang cepet pulih." tutur Zuhdi, dengan menggenggam tangan halus Giska.


Giska mengangguk mantap, lalu mendaratkan kecupan ringan di pucuk kepala Zuhdi. Sontak sikap Giska barusan, membuat orang tua Zuhdi geleng-geleng kepala. Mereka baru menyaksikan sendiri, bagaimana sikap Giska pada anaknya.


"Com Abang lagi. Udah dibilangin juga, rese betul kau!" tukas Zuhdi lirih, yang membuat Giska terkekeh geli.

__ADS_1


"Cepet sembuh, aku tunggu Abang di rumah." bisik Giska, yang membuat Zuhdi mengangguk samar.


Giska menoleh ke arah orang tua Zuhdi, yang tengah mengalihkan pandangannya pada televisi yang menempel di tembok.


"Aku carikan makanan dulu ya Ma, Bu." pamit Giska, yang diangguki mereka berdua.


Ayah Zuhdi beralih menatap anaknya, "Giska udah macam itu, kau macam ini. Kau tak bisa sanggupi nanti, yang ada kau dituntut keluarga mereka. Disangka Giska kau apa-apakan. Teungku haji minta kita semua ke rumah, lepas kau sembuh nanti." ungkap pak Zuhri kemudian.


Zuhdi hanya mengangguk, karena ia merasa masih sulit bernafas lega.


~


Adi menatap kesal menantunya, yang masih duduk bersama mereka di ruang keluarga ini. Tangan Adi sudah gatal, beberapa kali ia memberikan istrinya sensasi merinding dengan sentuhan nakalnya.


"Tidur gih, Canda. Udah malam." pinta Adinda, yang memahami kode dari suaminya.


"Ya, Mah." sahut Canda, dengan memainkan ponselnya sembari berjalan menuju kamarnya.


Adi langsung manarik pelipis kanan istrinya, ia dengan gemas menciumi ceruk leher kiri Adinda. Dengan tangan yang merangkul pundak istrinya, membuat Adinda tak bisa berkutik dari sergapan suaminya.


"Di kamar aja. Tak enak sama anak-anak, barangkali ada yang keluar dari kamar." pinta Adinda yang membuat Adi melepaskan ciuman gemasnya.


Adi meremas pelan dada istrinya. Netra mereka bertemu, Adi begitu memancarkan birahinya yang memuncak.


Ceklek... Blugh....


Pintu kamar yang terbuka buru-buru, kemudian tertutup dengan bantingan. Dengan cepat Adi melepaskan tangannya, dari tubuh istrinya.


"Mah... Mas Givan hubungi aku. Dia bilang katanya besok minta dijemput. Dia bilang, udah sembuh." ucap Canda terburu-buru.


Adi memalingkan wajahnya, ia merasa amat terganggu.


"Kan dia pakai barang haram itu belum lama. Sebulan juga gak ada, Mah. Dia jawab kaya gitu, pas aku tanya kok cepet banget. Jadi kaya formalitas aja, Mah." jawab Canda yang diangguki oleh Adinda.


Adi menghela nafasnya, kemudian ia berjalan menuju kamarnya.


"Ya udah, kau tidur. Masuk kamar!" ujar Adinda yang mengikuti langkah suaminya.


"Mah... Mas Givan nanti pulangnya ke sini?" tutur Canda, membuat Adinda memutar tubuhnya kembali.


"Ya. Udah bilang ke papah kandungnya, buat ambil alih kerjaan Givan. Namanya hasil usaha orang banyak, adik-adiknya Givan pun berebut kursinya Givan. Nanti biar suami kau diajari berladang sama papah, biar tak usah rebutan tambangnya itu." jelas Adinda yang tiba-tiba membuat lutut Canda lemas.


"Dinda.... Dek Dinda... Masuk!" panggil Adi, yang membuat Adinda melangkah terburu-buru menuju kamarnya.


Canda masih terdiam di tempatnya, rasa traumanya kembali menyerangnya.


Drttttttt.......


Drttttt.......


"Mas Givan?"


"Panggilan video?"


Canda masih memandang nanar, nama yang tertera di layar ponselnya.

__ADS_1


"Abang.... Aduh..." rengekan ibu mertuanya, yang membuat Canda membulatkan matanya.


"Kenapa sama mamah?" tanya Canda seorang diri, yang membuat perasannya campur aduk.


Terdengar gumaman suara yang keluar dari jakun seseorang, yang berasal dari kamar mertuanya.


"Abang... Abang... Bek lah, Bang." suara lirih Adinda, yang mampu menembus gendang telinga Canda.


"Sttttt....." desisan suara laki-laki, yang meminta Adinda untuk terdiam.


Drtt........


Drtttttt.......


Canda terhenyak kaget, saat ponsel di tangannya bergetar kembali.


"Abang....." suara ibu mertua canda kembali. Yang terdengar seperti memohon.


"Ngapain sih mereka? Bikin aku tambah tegang aja." gerutu Canda dengan hendak berbalik badan, untuk menuju ke kamarnya kembali.


"Ugghhh....." suara yang membuat Canda berlari cepat ke arah kamarnya.


Ia menutup pintunya dengan terburu-buru. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


Drtt....


Satu pesan muncul di bar notifikasinya, [Tak rindu kah? Tak sudi angkat telepon suami sendiri kah?] Pesan chat yang masuk dalam ponsel Canda.


Canda berjalan ke arah tempat tidurnya, lalu merebahkan tubuhnya di sana.


[Tadi abis ngobrol sama mamah Dinda, Mas.] Balas Canda kemudian.


Drttttttt........


Drttttttt......


Drttttt......


Canda menyentuh ikon terima dengan ragu-ragu. Lalu terlihatlah wajah Givan, yang tersenyum manis.


"Lagi ngapain?" tanya Givan kemudian.


"Lagi di kamar aja, Mas. Mas sehat? Kok baru ngabarin?" ucap Canda dengan tersenyum canggung.


"Diambil sih HP-nya. Sehat, tak apa-apa. Cuma nanti pemeriksaan berkala aja, Dek." sahut Givan dengan memperhatikan wajah Canda begitu lekat.


"Nempatin kamar siapa, Dek?" lanjut Givan, karena Canda masih saja terdiam.


"Kamarnya Mas kayanya. Di samping kiri kanan ruang keluarga kan, ada 4 kamar tuh. Kamar mamah Dinda sama Giska, di samping kanan ruang keluarga. Kamar aku, sama ruang bermain adik-adik yang nyatu sama kamar mereka itu kan di samping kiri ruang keluarga." jelas Canda yang diangguki oleh Givan.


"Kirain nempatin kamar tamu, atau sisa kamar yang di atas. Terus ngapain aja Dek, selama di situ?" tutur Givan yang masih memperhatikan wajah arabian istrinya.


"Gak, Bang. Suruh nempatin kamar itu. Aku di sini bantu-bantu mamah masak aja, sama kadang-kadang jagain Gavin sama Gibran, sama diminta olahraga rutin. Sewaktu-waktu diajak belanja, sama akhir-akhir ini suruh ngaji di meunasah sama Giska sama Ghavi." tukas Canda, menceritakan singkat tentang kesehariannya.


"Ada kabar apa tentang Ghifar, Dek?" tanya Givan tiba-tiba, membuat suara Canda tercekik di lehernya.

__ADS_1


......................


*Com : Cium


__ADS_2