
Adi merasa heran, karena sudah tiga hari ini Kinasya jarang ke rumahnya. Perubahan Kinasya, menimbulkan kecurigaan Adi.
"Kin sakit keknya, Dek." Adi yang baru sampai dari menjemput Ghava di bandara, langsung mengutarakan kejanggalannya mengenai Kinasya.
"Punya uang soalnya, Pah. Malam minggu dia minta uang pegangan sama aku." Ghifar tak curiga sama sekali, mengenai Kinasya yang lama tak berkunjung ke rumahnya.
"Coba kau tengok, Dek!" pinta Adi, dengan mengikuti istrinya yang masuk ke dalam kamar.
"Eh, cie. Yang mau lepas lajang." sindir Ghifar, dengan menyenggol lengan adiknya yang duduk di sebelahnya.
"Belum jelas, Bang. Besok pagi aku baru mau ke rumah Winda sama papah." Ghava terlihat murung.
"Pasti terwujud, tenang aja." Ghifar memberi semangat pada adiknya.
"Aku tak enak sama Abang. Abang udah dilangkahi Giska, eh malah dilangkahi aku juga." ungkap Ghava, dengan melepaskan kemeja yang melekat di tubuhnya.
Anak-anak Adi, terbiasa bertelan*ang dada.
"Nanti Abang mulai cari pacar deh." Ghifar berkata dengan terkekeh kecil.
Ghava begitu tertarik mendengar hal itu dari kakaknya, "Mau aku kenalin sama kawan aku, Bang?" tanya Ghava cepat.
Ghifar menoleh ke arah Ghava, "Tak perlu. Abang mau godain Ahya dulu." Ghifar meluruskan pandangannya kembali ke arah televisi.
"Ck... Ahya! Macam tak ada betina lain." Ghava sedikit tidak suka pada Ahya. Setelah mengetahui bahwa Ahya begitu menggilai calon adik iparnya.
"Papah lebih pro sama Ahya. Ahya macam anak sendiri. Beberapa kali juga, papah pernah gurauin Abang suruh sama Ahya aja." Ghava manggut-manggut. Ia mengetahui kenyataan Ghifar yang sering dipojokkan dengan Ahya.
Ghava dan Ghifar menoleh ke arah pintu kamar orang tuanya, ayahnya muncul dengan sarung dan kaosnya. Diikuti dengan ibunya yang mengekori ayahnya.
"Om Wahyu udah chat Papah, besok jangan lupa jam tujuh macam biasa. Awasin Givan sama Gibran, Papah sama Mamah mau nengokin Kin dulu." ungkap Adi yang menjadi pusat perhatian mereka.
"Hmm... Aku tak mau berobat lagi, Pah." Adi mengerutkan keningnya. Kenapa Ghifar tiba-tiba tidak mau berobat? Padahal terapi untuknya baru saja akan dimulai untuk pengobatannya.
"Kenapa?" Adi dan Adinda terheran-heran, mereka pun sampai melemparkan pertanyaannya secara bersamaan.
"Aku... Aku udah lagi bisa sedikit-sedikit. Serangan fajar juga... Bisa setengah tiang." Ghifar malu-malu saat mengatakan hal itu.
Otak Adi kembali terkoneksi dengan prasangkanya. Namun, ia merasa lega karena kondisi anaknya kian membaik. Padahal, melalui pengobatan secara medis pun. Disfungsi *r*ksi butuh waktu cukup lama untuk sembuh.
__ADS_1
"Alhamdulillah... Kalau kau udah ada kemajuan. Terserah kau aja, Mamah paham terapi kek gitu pasti nyiksa kau." Adinda belajar dari pengalaman anak sulungnya, meski Ghifar dan Givan beda kasus.
"Ya udah, Papah sama Mamah keluar dulu." Adi menggandeng tangan istrinya, untuk mengikuti langkah kakinya.
"Bang... Nitip Gavin sama Gibran, aku ngantuk berat." Ghava menguap lebar beberapa kali.
"Ok." sahut Ghifar enteng.
Rengekan Mikheyla yang sudah dikurung di dalam kamar bersama ibu sambungnya, cukup menarik perhatian Ghifar.
Ghifar tak bersuara, agar Mikheyla tak meminta untuk bersamanya. Ia tetap menganggap anak gadis kecil itu, tapi ia merasa tak memiliki hak lebih dari Givan yang memiliki predikat sebagai ayah kandung Mikheyla.
"Anun, I yung. Cucu Ke, cucu Ke." Ghifar menyimpulkan bahwa Mikheyla tengah meminta susu formula kembali. Namun, Canda sudah tertidur.
Saat Mikheyla pindah kamar bersama orang tuanya. Mikheyla dibiasakan tertidur teratur selepas isya, Mikheyla pun terbangun pagi pukul enam. Bukan hal aneh, jika Givan adalah orang yang disiplin. Kakaknya itu, tak pernah tertidur kembali selepas subuh. Tidak seperti dirinya.
"Sini Key, Papah buatkan." seru Ghifar, ia tak tega mendengar tangis Mikheyla.
"Papa Biiiii.... Pa biiiii...." rupanya pintu kamar itu sulit dibuka oleh Mikheyla.
Ghifar mengingat keberadaan kakaknya. Seingatnya, Givan masih berada di warung kopi. Ia mengetahui hal itu, karena ia baru saja pulang dari kediaman Jefri.
"I yung, buta entu. Anun.... Ke Papa biiiii....." rengekan Mikheyla terdengar kembali, tetapi Canda tidak menyahuti Mikheyla sama sekali.
Ghifar merasa miris, saat seseorang yang ia anggap anaknya diacuhkan oleh perempuan yang menyanggupi sebagai ibu sambung Mikheyla.
Ghifar berjalan menuju ke pintu kamar kakaknya.
Tok, tok, tok....
"Kakak ipar..... Buka pintunya! Bangun! Key butuh susu. Kalau kau keberatan buat bangun, biar aku yang buatkan susunya." Ghifar mencoba menghormati Canda dengan menyisipkan panggilan seperti adik-adiknya yang lain, yaitu kakak ipar.
Kembali Ghifar mengetuk pintu tersebut, tetapi hanya suara Mikheyla yang semakin heboh.
Terpaksa Ghifar menarik gagang pintu tersebut, lalu mendorong pintunya. Ternyata tidak dikunci sama sekali.
Terlihat Mikheyla sudah banjir air mata. Penampilannya amat kacau, karena ia terlalu lama menangis.
"Sini, Nak!" Ghifar langsung menggendong Mikheyla.
__ADS_1
Ia menajamkan lirikannya pada Canda yang masih lelap di atas kasur.
"HEH!" suara berat Ghifar membuat Canda tersentak.
"Anak kau minta susu. Molor terus!!" Ghifar begitu murka, melihat Canda yang baru terbangun sekarang.
"Tadi udah dibikinin." Canda gelagapan, ia mencari kerudungnya dan asal mengenakannya saja.
"Tapi anak kau masih butuh susu!"
"Udah mana susunya, biar aku buatkan. Sana kau lanjutin molornya!"
Ghifar tak bisa toleransi, dengan Canda yang tengah hamil muda tersebut.
"Tapi... Susunya habis." jawab Canda lirih.
Ghifar mengerutkan keningnya, ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia membawa Mikheyla pergi, membiarkan pintu kamar tersebut setengah terbuka.
"Jadi biarkan kau nangis itu, karena tak ada susu lagi Key? Hmm... Dia kira hidup di rumah ini sendirian kah? Rela bikin anak nangis, lebih sudi anak rewel, dari pada terus terang minta susu ke Papah atau ke nenek. Kau tinggal bilang, Key. Pah... Susu Key habis, Pah diapers Key habis." Ghifar mengajak ngobrol gadis kecil yang ia gendong tersebut.
Ghifar segera menuju ke motornya, ia ingin membelikan susu untuk Mikheyla. Ia memahami, ekonomi kakaknya tengah buruk. Setidaknya, Ghifar mengharap Givan terbuka dan berterus terang. Maka ia tak akan segan untuk membantu perekonomiannya, apa lagi hanya untuk membelikan Mikheyla susu formula.
"Jalan-jalan kita, Key." tangan kiri Ghifar menyangga perut Mikheyla, sedangkan tangan kanannya mengemudikan kendaraannya dengan perlahan.
Anak itu suka jalan-jalan mengendarai motor. Senyumnya terpatri indah, dengan kepala yang menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Yayah...." sapa anak itu, kala dirinya melihat Givan tengah mengobrol dengan temannya di warung kopi yang Ghifar lewati.
"Hei..." Givan menyahuti. Ia mengenal suara itu, lalu dirinya mencari sumber suara.
"Key?" Givan mengeluarkan suaranya, menyebut nama panggilan anaknya.
Ghifar baru saja melewati dirinya. Givan teraneh-aneh, karena Mikheyla masih berjalan-jalan bersama Ghifar di jam tidur anak itu.
"Balik dulu aku." Givan berpamitan pada temannya. Ia segera kembali ke rumah, untuk menanyakan langsung pada istrinya. Tentang Mikheyla yang belum tertidur, malah anaknya masih berjalan-jalan bersama pamannya tersebut.
......................
Perang, perang 😝
__ADS_1