Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS118. Rasa penasaran Ahya


__ADS_3

"Pamit dulu aku, Mah. Udah sore, belum asharan." ucap Zuhdi, dengan bangkit dari duduknya.


"Oh, iya. Nanti dikabarin lagi jam berapanya, belum dapat waktu pasnya soalnya." sahut Adinda, saat Zuhdi tengah mencium tangannya.


Jantung Ahya berdegup kencang, saat bau khas dari Zuhdi tercium sampai ke lubang hidungnya.


"Ya, Mah. Nanti kabarin aja. Assalamu'alaikum..." balas Zuhdi dengan berjalan ke arah motornya.


"Heh, Bang. Kembaliannya mana?" seru Giska, membuat Zuhdi menghela nafasnya.


Zuhdi berjalan kembali ke arah Giska, lalu mengambil sesuatu dari dalam kantongnya.


"Nih! Kembalian bakso aja diminta, heran! Padahal duit-duit gue." ujar Zuhdi, yang membuat Giska terkekeh malu dengan mencubit gemas perut seksi laki-lakinya.


"Abang kemarin sakit, tak kerja, tak kasih aku jajan. Diminta kembaliannya aja pelit betul!" tutur Giska dengan menerima uang pecahan dari Zuhdi.


"Bukan pelit. Malu Abang, Dek. Uangnya remuk, tetap Adek minta." tukas Zuhdi kemudian.


"Udah ya, Abang balik dulu." lanjut Zuhdi, hendak berlalu pergi.


Giska mengangguk, sembari meluruskan uang sepuluh ribuan dua lembar dengan pecahan lima ribuan satu lembar.


"Nanti aku chat." sahut Giska kemudian.


"Ya." balas Zuhdi ringkas, lalu dirinya berlalu pergi. Setelah tersenyum ramah pada Adinda.


"Malu-maluin kau, Giska!" maki Adinda, dengan delikan tajamnya.


Giska cengengesan, sembari menoleh pada ibunya.


"Aku udah tak malu." sahut Giska enteng, lalu membawa masuk gelas yang dipakai dirinya bersama pujaannya barusan.


"Coba hubungi lagi, Ya." ujar Adinda, yang membuyarkan lamunan Ahya.


"Ehh, iya Mah." sahut Ahya, yang fokus kembali pada ponselnya.


Panggilan terhubung, tetapi video dalam panggilan tersebut tidak terlihat jelas.


"Lagi di mana, Bang?" tanya Ahya langsung, setelah melihat wajah kakaknya tersebut.

__ADS_1


"Ya, Dek. Bentar. Lagi parkir mobil dulu, baru sampek kontrakan." jawab Kenandra, terlihat dirinya tengah sibuk memutar stir mobilnya.


"Bang... Ajak aku kerja, aku bosen di rumah." rengek Ahya, pada kakaknya tersebut.


Terlihat Kenandra tersenyum manis, "Kok Abang curiga kau kangen Ghifar, bukan betulan mau kerja." sahut Kenandra, yang masih fokus mengatur posisi mobilnya.


"Memang Ghifar lagi apa, Bang?" balas Ahya, yang membuat Kenandra geleng-geleng kepala.


Kenandra berpikir, bahwa adiknya salah satu wanita yang tergila-gila pada Ghifar. Seperti halnya Canda kemarin.


"Ghifar kerja, Dek." ujar Kenandra singkat. Ia tak ingin memberitahu, tentang Ghifar sekarang. Meski Ahya adalah adik seibunya, tapi dia adalah kerabat dekat keluarga Ghifar.


"Belum balik ya, Bang?" tutur Ahya, yang mendapat dekheman saja dari Kenandra. Karena terlihat dirinya tengah berjalan, setelah keluar dari dalam mobilnya.


"Udah dulu ya, Dek. Abang buru-buru, belum asharan." tukas Kenandra, kemudian langsung mematikan sambungan panggilan video tersebut.


Ahya menghela nafasnya, kemudian menoleh ke arah Adinda.


"Susah, Mah. Bang Ken keknya nutup-nutupin Ghifar." ucap Ahya kemudian.


"Mah, mau ikut sama bang Givan ya?" Gavin meminta izin pada ibunya, saat diajak jalan-jalan oleh kakaknya dan kakak iparnya.


"Ya, ayo. Pakek sendalnya." sahut Givan, dengan menggandeng tangan adiknya tersebut.


Adinda memperhatikan Canda yang mengekori Givan, "Mau ke mana?" tanya Adinda dengan beralih menatap Givan.


"Cari jajanan. Ngidam kali ya Canda, pengennya ngunyah terus." jawab Givan dengan tersenyum samar. Ia sudah amat menginginkan keturunan, dari pernikahan mereka yang masih hitungan minggu saja tersebut.


"Jangan percaya, Mah. Orang aku belum telat haid, belum apa." timpal Canda, yang menaikkan anak bungsu Adinda di belakang tubuh suaminya yang mengendarai motor. Sedangkan Gavin berada di depan Givan, yang sudah berpegangan kuat pada gagang spion motor matic rebutan para wanita di rumah itu.


"Ya udah, ati-ati Van. Mana tau betul lagi isi." ujar Adinda yang diiyakan oleh anaknya. Lalu motor yang berisi empat penumpang tersebut, melaju perlahan keluar dari halaman rumah megah itu.


"Lah... Udah pergi aja. Mau nitip jajanan." ucap Giska, yang baru keluar dari rumah dengan terburu-buru.


"Di chat aja." sahut Adinda, dengan mendongakan kepalanya untuk melihat keberadaan anaknya.


"Sini dulu coba, Dek. Akak mau nanya." pinta Ahya, dengan melambaikan tangannya pada adik sepupunya.


Giska mengalihkan pandangannya pada Ahya, "Nanya apa, Kak?" tanya Giska dengan mengenakan hijabnya yang tersampir di bahunya.

__ADS_1


Giska duduk di tengah-tengah antara ibunya dan Ahya, posisinya seperti sudut segi tiga.


"Kau kenal pacar kau di mana?" tanya Ahya, yang sedari kemarin mengurungkan niatnya untuk mempertanyakan hal itu pada Giska.


Adinda tersenyum miring. Ia menebak, bahwa Ahya cukup penasaran tentang kisah mantan kekasihnya dan adik sepupunya itu.


Namun, Adinda tak mengatakan apa pun. Ia pun merasa penasaran, dengan cerita anak gadisnya tersebut.


Giska menerawang jauh, seperti mengingat-ingat sesuatu yang sudah lama terlewati.


"Awalnya... Aku berangkat sekolah. Aku masih SMA kelas 12, pas lagi ujian semester satu. Tapi mobil yang dipakek cek Lhem ngantar aku, boncos ban di pertengahan jalan sana. Mana kan, di sana tak ada ojek, tak ada becak motor. Terus kata cek Lhem, di antar ponakan cek Lhem aja ya. Dari pada ujiannya telat, kek gitu katanya." ungkap Giska kemudian.


"Terus langsung kenalan sama bang Adi?" ucap Ahya, setelah menyimak cerita singkat tersebut.


Giska menggeleng, "Tak, Kak. Terus.......


"Ayo, Dek. Katanya buru-buru." ucap Zuhdi, saat dirinya sampai di tempat yang pamannya sampaikan dalam telepon.


Giska seperti enggan, saat melihat penampilan pemuda tersebut. Terlihat Zuhdi mengenakan topi salah satu perguruan tinggi, yang ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari terik matahari. Dengan celana jeans pendek, yang begitu lusuh dengan bekas adukan semen. Juga kaos berwarna biru panjang, juga memiliki noda cat yang tidak bisa hilang.


Giska menoleh ke arah cek Lhem, yang tengah berusaha mengganti ban belakang mobil tersebut. Dengan ban serep yang tersedia.


"Aku tungguin Cek aja deh." ujar Giska kemudian.


"Lama, Dek. Nanti telat, kan lagi ujian." tutur pak Salim, dengan fokus pada peralatan yang ia gunakan.


"Telpon papah aja deh." tukas Giska, yang merogoh ponselnya dalam saku rok abu-abunya.


Giska menghela nafas beratnya, saat mendapati ponselnya yang tidak bisa dioperasikan. Ia melupakan, bahwa ponselnya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik.


"Gimana, Dek? Abang mesti kerja, jangan lama-lama mikirnya. Nanti lagi mikirin gengsinya, dari pada telat ujian." celetuk Zuhdi, yang memahami bahwa anak juragan tersebut pasti merasa malu diantar olehnya.


Giska mengangguk, kemudian berjalan ragu ke arah Zuhdi. Perlahan ia naik ke jok belakang motor Zuhdi, yang terlihat tak terurus tersebut.


"Siap, Dek?" tanya Zuhdi, yang hendak menarik gasnya.


"Ya, Bang." jawab Giska, dengan memegangi besi yang berada di ujung jok tersebut.


"Aduh...." reflek Giska, yang langsung memegangi pinggang Zuhdi. Saat motor tersebut seperti melompat, ketika baru mulai melaju.

__ADS_1


......................


__ADS_2