Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS08. Givan memulai


__ADS_3

"Ini rumah siapa, Bang?" tanya Fira setelah dirinya berada di dalam rumah tersebut.


"Rumah aku, cuma memang lama tak ditempati. Soalnya orang tua kasih, sedangkan menurut aku cukup jauh dari pusat kota. Jarak dari sini ke kampus juga lumayan jauh kan? Kau merhatiin jalan tak tadi?" jawab Givan dengan mengedarkan pandangannya pada ruang tamu yang memiliki sarang laba-laba tersebut.


Fira mengangguk-anggukan kepalanya, dengan memperhatikan furniture yang dipenuhi dengan debu.


"Hah…" Fira terhenyak kaget, saat tiba-tiba tubuhnya melayang begitu saja. Dengan cepat ia mengalungkan tangannya pada leher si pelaku, dengan Givan yang tersenyum manis sembari melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Aman… tak ada WH di sini." bisik Givan yang membuat suasana sedikit mencair.


Fira menarik sudut bibirnya ke atas, sembari memandang rahang yang terlihat begitu sempurna di matanya tersebut.


"Abang ganteng kali, pasti mak sama ayah juga produk pilihan." celetuk Fira yang membuat Givan terkekeh geli.


"Mak aja yang memang cantik kali, bahkan sampek sekarang juga cantik karena papah modalinnya kuat. Kalau ayah… biasa aja, tapi memang tinggi tegap." sahut Givan dengan menurunkan Fira dari gendongannya, sembari dirinya mengikis jarak di antara mereka.


"Stop! Stop! Tunggu dulu." ucap Fira dengan menahan dada bidang Givan.


"Pue lom? Jangan minta baca do'a dulu, kita mau berzina ini." balas Givan dengan menegakkan punggungnya kembali.


Fira terkekeh dengan bangkit dari posisinya, lalu ia bersandar pada kepala ranjang.


"Abang humoris juga ya? Aduh… ada-ada aja sih." ujar Fira dengan menarik pentul dalam hijabnya.


"Ada apa coba?" tanya Givan ketus.


"Abang udah beli softcase belum?" tutur Fira yang membuat alis Givan bertaut.


"Heh, kau kira aku punya ini casing HP. Segala dipakekan softcase!" tukas Givan dengan wajah kesalnya.


Fira menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara tawanya, "Maksud aku karet itu loh, karet pelindung." jelas Fira kemudian.


"Ko*dom?" ucap Givan singkat, yang langsung diangguki oleh Fira.


"Aku mana pernah pakek ko*dom. Mengurangi kenikmatan aja!" sahut Givan dengan melepaskan jaket model terbarunya. Lalu ia memposisikan dirinya tepat di sebelah Fira, dengan bersandar pada kepala ranjang.

__ADS_1


"Terus macam mana kalau hamil?" balas Fira dengan mata yang terbuka lebar.


"Ya… itu urusan kau! Kau l*nte, kau harus tau caranya biar kau tak hamil. Aku beli kau, aku tau beres." ujar Givan yang begitu menghantam batin Fira.


Fira menundukkan kepalanya, ia mencoba menahan air matanya karena ucapan dari calon pembeli tubuhnya tersebut.


"Aku… aku berani macam ini cuma sama kau, Bang. Aku cuma mau jual keper*wanan aku cuma sama aku, meski dalam keadaan kepeped macam ini." ungkap Fira lirih.


Givan menyadari suara yang menurun tersebut, ia memahami keadaan lawan mainnya sekarang.


"Maafin aku, yang selalu ngagumi Abang dari jauh. Kalau keadaannya tak macam ini, jujur aku pengen lebih dekat sama Abang. Tapi dari segala yang Abang ucapin tadi, aku paham bahwa kita tak mungkin bisa dekat."


Givan hanya bisa mengusap lembut lengan Fira, saat gadis itu tengah terisak tepat di sebelahnya.


"Aku tak bisa tengok perempuan terisak-isak macam itu. Aku jadi teringat mamah aku gampong, dia suka kali mewek kalau ada masalah kecil aja. Mamah aku, sama kedua adik perempuan aku, mereka drama kali kalau di rumah, heboh betul isi rumah kalau adik-adik perempuan aku lagi di marahin mamah. Pada minta pelukan perlindungan ke abang-abangnya, udah macam serial drama anak tiri." ucap Givan sembari mendekap tubuh wanita yang baru saja akrab dengannya tersebut.


Fira menoleh pada wajah laki-laki yang menarik perhatian setiap waktu tersebut, lalu ia langsung memeluk erat tubuh Givan.


"Aku ngacengan orangnya. Kau masih mau nangis, atau udah bisa aku hantam? Kalau masih mau nangis, kau peluk guling aja sana! Aku tak bisa nih macam ini, si Sobri aku bergejolak." ujar Givan dengan mencoba melepaskan pelukan gadis tersebut.


Givan menunjukkan tengah-tengah tubuhnya yang mulai menggelembung, "Nih kenalin si Sobri, suka berdiri sendiri." jawab Givan yang membuat tawa Fira pecah seketika.


"Abang ada-ada aja sih, segala si Otong dikasih nama." sahut Fira dengan menepuk paha Givan.


"Punya papah sambung aku namanya Adi's bird. Grup keluarga, malah dikasih nama keluarga Adi's bird." balas Givan yang membuat mood baik Fira meningkat.


"Ada juga jenis burung namanya love bird, macam itu kan?" ujar Fira dengan wajah yang memerah karena dirinya terbahak terus menerus.


Givan mengangguk, "Mungkin biar tak terlalu fulgar, kalau diucapin ke pasangan." tutur Givan dengan menarik hijab panjang Fira, yang pentulnya sudah dilepaskan sendiri oleh Fira.


"Jadi mamah Abang nikah lagi?" tanya Fira, saat Givan menarik cepolan rambutnya. Sudah hal lumrah di daerah sana, untuk perempuan yang memiliki scrunchie rambut dengan ukuran besar. Untuk menunjang hijabnya, agar terlihat bervolume.


"Yaa… mamah aku nikah lagi, soalnya jadi janda diusia muda. Kan masih pengen kelonan, tak mungkin tak kawin lagi." tukas Givan dengan mata yang sudah terlihat begitu buas, meski hanya melihat rambut Fira yang tergerai sempurna tersebut.


"Terus… Abang sayang ke papah sambungnya?" pertanyaan yang terdengar konyol di telinga Givan.

__ADS_1


"Ya, lah. Dia yang selalu nyelametin aku, dari amukan mamah yang meletup-letup itu." sahut Givan, dengan langsung mendorong tubuh Fira.


"Mood kau udah baikan, jangan bikin drama lagi! Capek kali aku ngeladenin kau ngobrol. Kalau tak ingat ini yang pertama buat kau, udah kuslebor kau dari tadi." ucap Givan dengan mengunci netra Fira.


"Tapi… aku takut hamil, Bang." aku Fira jujur.


"Kau tenang aja. Aku biasa buang luar." sahut Givan dengan mulai melepaskan kancing kemeja Fira.


"Memang kalau buang luar, nanti tak hamil kah?" balas Fira yang mendapat helaan nafas panjang dari Givan.


"Bukan tak hamil, tapi kemungkinan kehamilan kecil. Tergantung kecepatan laki-laki cabut, sebelum sampek ke kl*maksnya. Yang bikin hamil itu air laki-lakinya, bukan kegiatan keluar masuknya. Kau paham sekarang? Apa ada lagi yang mau ditanyakan?" jelas Givan dengan wajah kesalnya.


Fira tersenyum lebar, saat menyadari wajah kesal laki-laki yang berada di atas tubuhnya.


"Aku mulai ya?" tanya Givan memastikan. Fira mengangguk mantap, dengan tangan yang ia kalungkan di leher Givan.


Givan membawa kedua tangan Fira, untuk ia satukan di atas kepala Fira. Lalu ia sedikit mencondongkan punggungnya, agar tangannya yang lain bisa meraba tubuh wanita di bawahnya tanpa gangguan dari sipemilik tubuh.


Dengan begitu lambat, Givan menikmati rasa yang membuatnya candu. Kegiatan ini selalu membuatnya gila, disaat teman-temannya gila akan narkotika. Pilihan ini secara tidak langsung tertanam di pikiran bawah sadarnya, saat Adi memarahinya karena dirinya tertangkap tengah menikmati mariyuana di tempat tongkrongannya.


"Kau bodoh apa macam mana? Tak pernah dengar kah, Papah pernah masuk penjara gara-gara ini? Bodohnya kau, malah kau ikutin!! Mending nakal betina, dari pada nakal narkotika macam ini! Kau macam orang bodoh, yang diperbudak rasa candu! Sekali lagi Papah tau, kusered kau sampek ke BNN." maki Adi, setelah anaknya ia tarik dari tempat tongkrongan anak muda tersebut.


Adi pun tak menyadari, bahwa ucapannya saat itu malah dilaksanakan oleh anaknya.


......................


*Mariyuana itu ganja ya, Mak. Bukan nama betina random yang viral itu 😂


*Pue lom : Apa lagi


*Gampong : Kampung


Sayang sekali episode ditolak, gara-gara ngejabarin bagian itu. Makanya sengaja dipangkas, terus akhirnya lolos deh. Jadi bayangkan sajalah, sesuai imajinasi kalian. Kita skip aja scene wajar, tapi mengganggu pertumbuhan ekonomi ini. Bikin jumlah anak bertambah, sedangkan masih pandemi.


Isinya sama kok memasukkan dan mengeluarkan secara berkala, tergantung kekuatan hentakan laki-lakinya aja. Macam kalian dijebol pertama kali sama misua. Kek gitulah kira-kira, mirip-mirip.

__ADS_1


🙏🙏🙏😅


__ADS_2