Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS33. Sifat warisan Adi


__ADS_3

"Bangun makhluk hitam!!!" seru Kinasya, dengan menghampiri Ghifar yang masih merebahkan tubuhnya di sofa santai yang berada di dekat ruang keluarga.


"Udah bangun, Sayang." sahut Ghifar, yang membuat Kinasya menoleh dengan wajah marahnya.


Kinasya menghentakkan kakinya beberapa kali, lalu ia langsung mengulurkan kedua tangannya tepat ke arah leher Ghifar.


"Mati aja kamu! Biar aku tanam." pekik Kinasya, dengan mencekik leher Ghifar.


Bukannya marah, Ghifar marah terbahak-bahak dengan memegangi tangan Kinasya.


"Kau nyekik apa lagi meran*sang aku sih, Kak?" tanya Ghifar, yang ternyata bisa melepaskan lehernya dari cengkraman tangan Kinasya.


"Apa sih? Pagi-pagi udah drama aja." ucap Haris, dengan melewati mereka begitu saja.


Lalu ia duduk di meja makan, yang berada tak jauh dari sana.


"Ini, Bi. Ghifar bikin aku kesel aja. Disayang-sayangnya aku barusan, semalam aku diciumnya." lapor Kinasya, dengan meninggalkan Ghifar. Kemudian ia berjalan menghampiri ayahnya, dengan membantu mengambilkan sarapan untuk ayahnya.


Haris menoleh ke arah anak sahabatnya tersebut, "Jangan rese dong, Far. Awalnya iseng cium-cium pipi, besok-besok nanti malah cium-cium yang lain." Haris memberi peringatan pada Ghifar. Karena bagaimanapun keadaannya, mereka semua sudah dewasa. Sedangkan keluarganya dan keluarga Adinda, telah setuju untuk menganggap anak-anaknya seperti anak sendiri. Yang berartikan, mereka semua adalah saudara yang tidak boleh untuk menikah.


"Gemes, Bi. Cerewet betul macam mak, mana cantik lagi. Hmmmmm…. Pengen aku gigit-gigit rasanya." ucap Ghifar dengan berjalan ke arah meja makan. Dengan tatapan matanya yang ia buat buas, ke arah Kinasya.


Haris terkekeh geli, melihat drama anak-anak yang beranjak dewasa tersebut.


"Awas aja kamu, Far!!! Kalau sampai berani-berani nyolek aku, aku tumis kau!!" ancam Kinasya, dengan mengacungkan sendok ke arah Ghifar.

__ADS_1


Ghifar mengedikan bahunya, "Tumis lah aku, terus kau makanlah aku lahap-lahap." sahut Ghifar santai.


Kinasya menghembuskan nafasnya kasar, lalu ia berlalu dari meja makan dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Haris menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ibu kau yang macam itu ke bapak kau! Ini sih kebalikannya, macam mana ikam ini!"


"Tak serius aku, Bi. Gurau aja." balas Ghifar, dengan menuangkan air putih dalam gelasnya.


"Iya, paham. Ke perempuan lain jangan macam itu, nanti dia malah nyangka kau ngegilain dia." ujar Haris, yang hanya mendapat anggukan saja dari Ghifar. Karena ia sudah memulai menyantap makanannya.


Beberapa jam kemudian, Ghifar pamit untuk pulang ke rumah pakdenya. Haris pun sudah meminta Ghifar, untuk tinggal di rumah ibunya saja. Rumah milik Adinda, yang berada di perumahan yang tak jauh dari kedai kopi milik pak Dodi.


~


~


~


"Far… kirim telur ke pengepul. Kamu bisa kan bawa pick up? Mang Pendi lagi sakit soalnya." pinta Arif, saat melihat keponakannya tengah membantu budenya memasak.


Ghifar menoleh ke arah Arif, "Bau tak?" tanya Ghifar yang membuat dahi Arif berkerut.


"Kamu kerja nanyain bau gak terus! Belum aja kamu mandi bareng sama istri kamu yang lagi BAB. Cepet cuci tangan! Ikut pakde urus peternakan mamah kamu!" ketus Arif yang sudah amat kesal dengan keponakannya itu.


"Heran sama anak Adiyana ini. Kuat bau bawang, kuat bau ikan asin. Malah gak kuat bau ternak." gerutunya dengan memerhatikan Ghifar, yang tengah membasuh tangannya.

__ADS_1


"Nyupirin aja kan, Pakde?" tanya Ghifar dengan berjalan ke arahnya.


"Ya bantu angkat-angkat juga. Terus nanti kamu dapat bayaran dari situ." jawab Arif dengan berjalan mendahului, menuju ke motor matic miliknya.


"Pakde keberatan kah ngasih makan aku?" bukan anak Adi namanya, jika tak memiliki sifat mudah tersinggung seperti Adi. Ghifar mencetuskan kalimat tersebut, saat dirinya merasa diminta untuk membantu usaha ibunya.


Arif menghela nafas beratnya, "Bukan keberatan. Kalau ngasih makan kamu aja Pakde keberatan. Gimana mamah kamu yang ngasih makan Pakde dan keluarga Pakde selama ini?" ungkap Arif dengan berbalik badan, kemudian memperhatikan wajah keponakannya yang persis dengan adik iparnya tersebut.


"Kan Pakde ngelola usahanya mamah, wajar Pakde dapat bayaran dari mamah." sahut Ghifar dengan menundukkan kepalanya.


"Sebelum ngelola usaha mamah kamu kan, kamu gak tau kalau Pakde dulunya ngebebanin mamah kamu terus. Toko serba ada, serba 35 ribu itu… tokonya mamah kamu, yang dikasih cuma-cuma ke bude kamu. Pakde sih gak yakin, pas mamah kamu bilang gak bisa ngelolanya, gak bisa puter balik dagangan, gak bisa ngatur keuangan toko. Itu dalihnya aja, biar bude kamu nerima itu toko. Karena mamah kamu gak tega liat Pakde yang kelimpungan nyari duit, buat ngasih makan istri yang lagi ngandung. Dulu Pakde kerja serabutan, karena PT cuma butuh mereka yang punya umur produktif. Sedangkan Pakde cuma lulusan SMK, yang ternyata diputus kerja setelah umur 25an. Ngelamar kerja, lulusan SMK, kepentok umur juga, mau gak mau kerja serabutan, yang diupah 50 ribu sehari. Itu gak cukup, Far. Apa lagi punya istri yang lagi ngandung, lagi butuh biaya buat persalinan. Udah begitu, mamah kamu segala nyuruh nempatin rumahnya. Tau bude kamu males, agak berat tangan, sering jadi bahan pembicaraan mertua di tetangga, sering kena marah mertuanya, mamah kamu bilang suruh nempatin rumah ini. Rumah milik mamah kamu, uang dari nulis, uang dari hasil nyetak, hasil post foto yang dibayar itu. Nih, suruh nempatin cuma-cuma. Dalihnya lagi, dia sering pergi-pergian ke luar pulau, sayang rumah dikosongin terus. Terus bulan-bulan berikutnya, mamah kamu ambil perumahan di kota. Kalau ditanya kita tersinggung gak, punya malu gak? Jelas kita tersinggung, seolah dzolim sama adik sendiri. Ini hasil kerjanya, tapi malah dia yang pergi dari rumahnya sendiri, terus dia malah ngutang rumah subsidi. Malu jelas malu, karena cuma bebani adik sendiri yang jelas-jelas dia lebih kelimpungan cari duit. Demi hasilin uang yang nyata, dia paling tidur dua hari sekali. Pulang pergi kota orang, pulau orang sendirian. Biar balik bisa ada hasil, dari dia ninggalin abang kamu di sini. Biar abang kamu dititipin ke neneknya juga, mamah kamu seneng karena bisa nyukupin kebutuhan anaknya, kebutuhan keluarganya. Kamu yang paham, Far!!! Jangan gampang tersinggung! Terkadang, ada masuk baik seseorang yang nyuruh kamu buat begini begitu." ucap Arif dengan beberapa kali menjeda ucapannya.


"Maaf, Pakde." sahut Ghifar lirih.


"Hmm… ayo ikut Pakde." balas Arif dengan menaiki motor matic miliknya.


Ghifar pun naik ke jok belakang motor tersebut. Lalu motor tersebut melaju menuju peternakan milik Adinda, yang berada tak jauh dari rumah itu.


Ghifar terdiam, mencoba menyelami maksud dari ucapan pakdenya. Juga ia memutar kembali, sepenggal kalimat ibunya yang memintanya untuk menghasilkan uang.


Namun, tetap saja. Yang ia dapatkan dari semua pemikirannya, hanya soal uang yang harus ia dapatkan. Karena orang tuanya dan orang terdekatnya, cukup lelah dengan sikapnya yang selalu meminta uang pada mereka.


Anak laki-laki yang baru beranjak dewasa tersebut, belum menemukan titik terang dari arti kehidupan. Ia tak memahami, ia butuh pengalaman untuk mengendalikan sesuatu. Ia tak memahami, bahwa hidup butuh pengorbanan dan juga usaha. Ia tak memahami, jika ia ingin berhasil, maka harus selaras dengan niat dan usaha yang keras.


......................

__ADS_1


Jadi... lebih tersinggung siapa?


__ADS_2