Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS244. Ungkapan Ghifar


__ADS_3

"Coba raba hati dan perasaan kau sendiri, Far. Jangan ngungkapin cinta, kalau kau sendiri tak tau tujuan kau mencintai itu apa?" Kinasya memandang lepas mata berwarna coklat tua tersebut.


"Kalau kau cuma butuh se*s, jangan bilang cinta. Se*s itu bisa dilakukan tanpa cinta, kau tak perlu bujuk sesusah itu." lanjut Kinasya kemudian.


"Kau pernah ngerasain cinta kan, Kak? Jangan khawatir tentang keadaan kau, aku terima kau meski kau udah tak perawan."


Susah payah dirinya menjaga selaput darahnya. Namun, laki-laki kurang pengalaman malah menuduhnya tidak perawan. Padahal dirinya sudah melihat sendiri, bagaimana rapatnya intinya.


"Jangan sampek lubang telinga kau yang aku perawanin. Penetrasi aku di di situ, pas dicabut kebawa juga otak kau." rasa kesalnya pada Ghifar, sudah tidak bisa ditoleransi lagi.


"Tapi, Kak. Kau tak mungkin masih perawan, saat kau nginep dikosan pacar kau. Sedikit banyaknya, aku denger cerita tentang kau dari bang Ken." entah apa yang ada di pikiran Ghifar, ia tak mempercayai bahwa Kinasya bisa menjaga itu selama ini.


"Aku akui, aku tak sesuci yang kau kira. O*al aku pandai, v*g*na aku pun bukan pertama kalinya dij*lat. Tapi aku memang bener-bener tak pernah masukin apapun ke inti aku, pacar-pacar aku dulu pun tak pernah maksa kehendaknya. Dia mau, aku mau, kita sama-sama dapat org*sme. Tapi syaratnya itu, aku tak mau penetrasi. Bukan karena aku takut hamil, karena penetrasi itu. Tapi... Aku masih punya akal." bahasa Kinasya, terdengar sopan dan berpendidikan. Meski membicarakan hal yang berbau mesum.


"Jangan bilang kau minta bukti." tambah Kinasya, dengan memencet hidung Ghifar.


Ghifar masih terdiam, pergulatan batin tengah dirinya rasakan.


"Dari sekian banyak laki-laki yang berhasil bikin aku telan*ang. Cuma kau yang hampir nerobos masuk. Cuma kau yang maksa betul, padahal udah sepakat dari awal buat tak ngorek-ngorek punya aku." Ghifar merasa tidak enak kala Kinasya berbicara seperti itu, berarti dirinya satu dua dengan kakaknya. Yang memaksa seorang wanita, untuk ia renggut kesuciannya.


Ghifar menyampirkan anak rambut Kinasya, ke belakang telinga Kinasya.


"Kenapa tak bilang kalau aku hampir merk*sa kau?" tanyanya kemudian.


"Bukan memerk*sa, kalau dari awal aku memang mau ditelan*angin. Cuma masalah ada sama kau, omongan kau tak bisa dipegang." jelas Kinasya, ia membiarkan tangan Ghifar masih bertengger di pelipisnya.


"Untungnya meleset, kurang pelicin jadi tak masuk." lanjutnya seperti menggerutu.


Ghifar mengadu dahinya dengan dahi Kinasya, "Maafin aku, Kak. Aku tak tau, kalau kemarin hari hampir nyakitin kau." Ghifar benar-benar merasa bersalah.


"Tak usah dibahas, tak usah ingat-ingat. Yang penting kemarin tak kejadian, terus sekarang kau udah sembuh." senyum Kinasya meneduhkan hati Ghifar yang gaduh.

__ADS_1


"Tapi kek mana masa depan aku, Kak? Aku tak bisa sembuh kalau sama orang lain. Ini..." Ghifar mengusap intinya.


Pandangan Kinasya pun mengikuti arah pandang Ghifar ke arah tengah-tengah tubuh Ghifar.


"Inipun udah turn on dari tadi. Tapi aku alihin pikiran aku terus, Kak." lanjut Ghifar kemudian.


"Aku tak mau terlalu jauh sama kau, Far. Resiko telan*ang berdua itu besar. Apa lagi... Kau orangnya pemaksa." ucapan Kinasya, seolah menolak Ghifar tentang perasaan yang Ghifar utarakan tadi.


"Kau tak mau nikah sama aku, Kak? Aku terlalu kotor kah buat kau? Aku udah jujur perihal liburan, apa kau masih marah aja sama aku?" Ghifar membingkai wajah Kinasya, yang cantiknya mengalahkan para wanita penghuni rumah megah itu.


Kinasya memahami kejujuran lebih menyakitkan. Ia pun memahami akan pilihan pertama Ghifar, karena alasan ibunya yang tak menghendaki pernikahan di antara anak angkatnya. Namun, Kinasya masih ragu akan perasaan Ghifar maupun perasaannya sendiri.


"Far... masa nikahan Canda. Aku pernah denger papah yang mau jodohin aku sama bang Givan, tapi tak jadi."


Ternyata masa itu, Kinasya tengah terbangun dari tidurnya. Lalu mendengar percakapan para pria dewasa, yang duduk di teras rumah.


"Berarti ada harapan tuh, kalau kau bilang papah. Papah kan orangnya suka jodoh-jodohan, tapi tak didukung mamah." ada secercah harapan dari penuturan Kinasya.


Tangan Kinasya terulur, lalu ia mencengkram leher Ghifar.


"Mati aja kau!" Kinasya mendorong tubuh Ghifar, membuat laki-laki tersebut berada dalam posisi telentang.


Ghifar terkekeh renyah, "Main tindih-tindih aja kau! Padahal cinta aku belum diterima." seketika itu, Kinasya langsung kembali ke posisinya.


"Kalau kau sungguh-sungguh, sana kau bilang ke mamah papah!" Kinasya memberi syarat, tetapi dirinya tak memberi keputusan.


"Nunggu keadaan stabil, nanti aku usahain ngobrol sama papah. Kasian papah, kalau aku ngomong sekarang. Dia lagi repot, pusing juga pengeluaran kenceng betul akhir-akhir ini. Nikahan Giska aja, keluar itu dua ratus jutaan." sekilas ia menoleh ke arah Kinasya, lalu ia menatap kosong plafon kamarnya.


"Untuk sekarang...." Ghifar memiringkan tubuhnya menghadap Kinasya, tangannya bertengger di pinggang Kinasya.


"Kita harus kenal lebih dekat. Kita gladi resik jadi suami istri dulu." yang muncul di benak Kinasya, adalah Ghifar yang menginginkan se*s dengannya.

__ADS_1


"Ck..." Kinasya membuang pandangannya ke arah lain.


Lalu ia kembali menatap wajah Ghifar, "Kau butuh se*s? Sampek kau bilang kek gitu?" tuduhnya pada Ghifar.


"Tak, Kak. Kita pacaran dulu, tapi backstreet. Orang-orang pun masih taunya, aku sama Tika suami istri. Tunggu Tika lahiran mungkin, terus dia balik ke Bali. Biar kesannya aku udah cerai sama Tika." ini terlalu beresiko menurut Kinasya.


"Ya udah! Jangan lagi-lagi bilang cinta, tunggu Tika lahiran aja." Kinasya mengerucutkan bibirnya, lalu dirinya kini memunggungi Ghifar.


"Jangan kek gitu lah, Kak." tangan Ghifar bertengger di perut Kinasya, ia memeluk wanita itu dari belakang.


"Kita pacaran dulu. Aku tak mau kau ladenin orang, karena kau ngerasanya single. Tunggu aku siap ngomong ke papah, Ok?" hembusan nafas Ghifar, Kinasya rasakan begitu dekat dengan tengkuknya. Itu adalah salah satu titik sensitif Kinasya, yang membuatnya langsung memejamkan matanya untuk meredam rasa yang bangkit dari dirinya.


"Ya udah. Aku keluar dulu."


Ghifar tak ingin jawaban itu. Ia ingin, Kinasya juga mengutarakan perasaan yang sama sepertinya.


Kinasya sudah dalam posisi duduk. Ia meraih hijab panjangnya yang terjatuh di atas tempat tidur itu.


Ghifar meraih tangan Kinasya, ia membawa Kinasya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya kembali.


Kinasya membuang nafas gusar, "Apa lagi sih?" ia tak ingin berlama-lama di dalam kamar Ghifar. Ia khawatir kalah akan bujuk rayu pemuda amatiran tersebut.


"Kau tak cinta kah sama aku? Apa cara datangnya perasaan aku ini salah?" Ghifar menuntut perasaan dari Kinasya.


"Wajar, karena kita udah dewasa. Waktu yang kita lewati bersama, sentuhan yang kita berikan, wajar bikin perasaan muncul di antara kita." tetap bukan ini jawaban yang Ghifar tunggu.


"Kak...." Ghifar langsung menindihi tubuh sintal tersebut.


"I love you." ungkapnya tepat di depan wajah Kinasya.


Kinasya terdiam, ia menebak-nebak apa yang akan terjadi setelah Ghifar mendapat jawaban darinya nanti.

__ADS_1


......................


__ADS_2