
"Papah lagi lemah. Dia mudah syok, gampang pingsan. Biar aku nanti obrolin lagi sama bang Givan, mana tau dia punya jalan keluarnya. Karena... Hukuman pasti Giska dapatin, kalau dia lagi kena sialnya. Nasehat apapun, nampaknya percuma buat dia. Giska udah terlanjur nyemplung, harus ada seseorang yang rela masuk ke kubangan itu buat nolong Giska." Zuhdi merasa dirinya harus berkorban demi wanita pujaannya, saat baru saja dirinya mendengar ucapan dari kakak Giska tersebut.
"Givan udah tau, pagi tadi aku ke tokonya. Dia kek ngelamun, tak nyahutin apa-apa." tandas Zuhdi kemudian.
"Pastilah. Masalahnya dia pun tau, bukan cuma Giska aja yang berulah." sahut Ghifar dengan merogoh ponselnya yang bergetar.
Ia membaca pesan chat dari Kinasya, kakak angkatnya membutuhkan makan siang yang diantar ke tempatnya bekerja.
"Simpan aja nomor aku, Bang. Biar gampang kita ngobrol laginya. Aku mesti pergi dulu, ada urusan di luar." Ghifar merogoh kocek lebih, untuk membayar bakso yang Zuhdi makan.
Ia merasa tidak enak, jika hanya membayar mangkok mie ayamnya saja.
Ghifar bergegas pergi, setelah mendapat kembalikan dari pedagang tersebut.
Ia memutar motornya ke arah balai desa. Karena letak puskesmas tempat Kinasya bekerja, berada persis di sebelah balai desa setempat.
"Abang datang, Cantik." Ghifar memasang senyum yang mirip dengan senyum ayahnya.
Kinasya memonyongkan bibirnya, "Mamah masak apa?" tanyanya yang tengah duduk di emperan puskesmas.
"Mamah tak masak. Ayo mau makan apa? Abang anterin nih." Ghifar mengedikan sebelah matanya dengan menggoda.
Kinasya terkekeh geli, kemudian dirinya bangun untuk naik di jok belakang motor Ghifar.
"Abang masak apa? Adek tak ada uang nih, Bang. Makanya bingung mau makan apa. Yang ada cuma kuota data, sayangnya itu tak bisa mengenyangkan perutku." Kinasya meladeni candaan Ghifar, yang menyebutkan adek dan menyebut Ghifar sebagai abang.
Ghifar baru memahami, ternyata kakak angkatnya tengah tak memiliki uang. Pantas saja, ia diminta datang ke tempat kerjanya.
"Naikin Abang, Dek. Jangankan free lunch, restorannya pun Abang gratiskan." mereka berdua terbahak-bahak di atas jok motor Ghifar.
"Cepetlah, Far. Aku lapar nih." rengek Kinasya dengan bersandar pada punggung adik angkatnya.
Ghifar merasa part kembar tersebut, menempel sempurna di punggungnya. Ini adalah kesekian kalinya, ia merasa seperti dipaksa untuk berbuat sesuatu.
Pangkal hidungnya mulai nyeri, ia memijat pelan sumber rasa tidak nyamannya.
"Ini A*eh loh, Kak. Masuk berita nanti, kalau nemplok-nemplok macam itu." Ghifar merasa lega, saat Kinasya langsung menegakan punggungnya.
"Ayo jalan." pinta Kinasya cepat.
Namun, Ghifar merasa sesuatu mengalir pelan dari dalam hidungnya. Ia melirik kaca spionnya, noda merah kental ke luar dari dalam hidungnya.
__ADS_1
Cepat-cepat Ghifar menyeka darah mimisannya. Ia sering seperti ini, jika berhadapan dengan bentuk sempurna seperti Kinasya.
"Ingusan kau?" Kinasya tidak bisa melihat jelas. Ia hanya mengetahui, bahwa Ghifar tengah membersihkan cairan dari hidungnya.
"Ya, Kak. Bentar ya, mau dikeluarin dulu." Ghifar menarik standar samping motor tersebut, kemudian dirinya berjalan ke sudut yang sepi.
Semak-semak yang tak terjangkau oleh pandangan mata, menjadi tempatnya untuk membersihkan darah mimisannya.
Setelah Ghifar yakin, darah sudah tidak mengucur dari hidungnya lagi. Ghifar kembali ke motornya, dengan Kinasya masih setia duduk di jok belakang motor tersebut.
"Ayo sih, Far!" rengek manja Kinasya, yang merasa sudah amat lapar.
"Ayo, ayo." cepat-cepat Ghifar menarik gasnya, dengan kaki reflek menaikkan standar sampingnya.
"Mau bakso kah? Tadi aku baru aja selesai makan mie ayam." tanya Ghifar, memberikan opsi untuk Kinasya.
"Tak, Far. Aku mau nasi porsi penuh, ada sayur, ada daging." Kinasya langsung berpegangan erat pada pinggang Ghifar, karena pemuda itu langsung berbalik arah.
"Ke mana kita?" tanya Kinasya kemudian.
"Ke rumah makan padang lah. Nasi penuh, sayur, daging. Makan tuh royal betul." jawab Ghifar yang mengingat jalan menuju rumah makan padang.
"Kalau mau badan yang sempurna, memang harus banyak makan lah." ujar Kinasya tanpa malu.
"Ya, lah." Kinasya tak tahu harus berkata apa.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah makan, dengan bentuk atap mengerucut ke tengah.
"Kau aja yang masuk, Kak. Nih uangnya, aku tunggu di luar." Ghifar memberikan dua lembar uang berwarna biru pada Kinasya, kemudian ia memasukkan lagi dompetnya dalam saku belakang celana jeans-nya.
Kinasya menerima uang tersebut, kemudian langsung masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Ghifar memperhatikan lalu lintas di depannya, sesekali ia menikmati rokoknya yang ia bakar kembali.
Kembali ia melihat Ghava yang tengah membonceng seorang wanita, melintas di depannya dengan sangat cepat.
"Sialan itu bocah!" maki Ghifar, yang menyadari bahwa adiknya yang satu itu tengah mabuk seorang wanita.
"Baiknya aku aduin aja ke bang Givan." ucapnya dengan menoleh kembali ke pintu rumah makan tersebut.
"Lama betul sih!" gerutunya dengan mengusap keringat di pelipisnya.
__ADS_1
Ghifar berinisiatif untuk memainkan ponselnya saja. Namun, pesan chat dalam notifikasinya langsung terbaca olehnya.
[Belanja yuk, Bli. Diapers Key habis, tadi dia baru BAB.] tulis Tika dalam teksnya.
Kembali Ghifar hanya membaca pesan tersebut, tanpa membalasnya. Ia akan mengatur waktu, agar bisa mengajak Yoka dan Tika berjalan-jalan.
Tepukan di pundaknya cukup mengangetkan Ghifar.
"Yuk." ajak Kinasya yang langsung duduk di jok belakang.
Ghifar terburu-buru menyeimbangkan motornya, "Yuk, yuk, yuk. Motor belum nyala, udah nangkring aja." ucapnya kemudian.
Kinasya terkekeh kecil, tetapi langsung mengeratkan pegangannya pada pinggang Ghifar.
Ghifar menghela nafasnya, kemudian menolehkan kepalanya ke kiri.
"Berapa kali harus aku bilang. Ini A*eh! Kalau kita suami istri sih tak masalah." tegas Ghifar.
"Yuk jadi suami istri." Ghifar tertawa renyah, mendengar gurauan kakak angkatnya.
"Udah siap kah? Mau jalan nih." Ghifar menarik standar sampingnya, kemudian menstater motornya.
"Udah." Kinasya membenahi rok span panjangnya kembali.
Namun, Ghifar malah mendayu kakinya untuk maju. Kontan saja, tindakannya mendapat toyoran di kepalanya.
"Kita jalan kaki aja kalau macam itu. Naik motor, tapi kau malah dayung-dayung pakek kaki." sewot Kinasya yang membuat Ghifar tertawa kembali.
"Malu kali jalan sama kau!" tambah Kinasya, membuat Ghifar menoleh ke kiri dan kanannya.
"Malu! Malu! Tak ada orang yang merhatiin pun." tandasnya santai.
"Ya udah cepet tarik gasnya." pinta Kinasya dengan bentakan.
"Ok, siap Komandan." cepat-cepat Ghifar menarik gas motornya, membuat Kinasya tersentak ke belakang. Untung saja, wanita berbadan montok sempurna itu tak jatuh dari motor Ghifar.
Toyoran di kepalanya, ia dapatkan kembali. Ghifar menganggap amarah Kinasya itu wajar, karena gurauannya yang sedikit berlebihan.
Ghifar sudah mengantar Kinasya kembali ke tempat kerjanya. Sebelum melanjutkan perjalanannya, ia melirik jam tangannya kembali.
"Keknya bang Givan udah di toko. Aku ke sana aja baiknya." ucap Ghifar dengan mengarahkan motornya ke toko material milik kakaknya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Ghifar menyusun rencana yang ingin ia diskusikan bersama kakaknya. Ghifar ingin semua adik-adiknya sesuai kendali, agar tak membuat orang tuanya melarikan diri seperti ini.
Lagi-lagi, ia mengenali pengendara motor yang berjalan di depannya. Ghifar memelankan laju kendaraannya, menjaga jarak untuk mengikuti si pengendara di depannya.