Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS126. Bayi tabung atau suntik hormon


__ADS_3

Lima bulan kemudian


Canda menghela nafasnya gusar. Rasa kecewanya kian menjadi, saat strip satu yang ia dapatkan kembali.


Luka hatinya sudah sembuh, tapi kian merumit karena sang suami menuntut keturunan darinya.


"Apa ikut program hamil aja kah? Coba ah tanya mamah, minta solusi dulu." ujar Canda, dengan membuang bekas tespek tersebut.


Lalu dirinya merapihkan penampilannya dan melangkah ke luar dari kamar. Terdengar alat-alat dapur berdentingan, saat langit masih menampilkan warna gelap piasnya.


"Masak apa, Mah?" tanya Canda dengan tersenyum ramah pada ibu mertuanya.


"Papah minta capcay kembang tahu, sama paling goreng ayam aja." jawab Adinda melirik sekilas pada menantunya.


"Sholat dulu, apa sana olahraga dulu. Ada papah sama suami kau di sana." lanjut Adinda, dengan menunjuk ruang khusus olahraga yang berada di bagian bawah tangga.


"Udah sholat. Mah... Tadi tuh aku coba tespek lagi. Kan bangun tidur, langsung aku tes tuh. Hasilnya strip satu. Terus aku tinggal salin, tinggal sholat, terus tengok balik. Tetep aja strip satu. Mas Givan udah kepengen betul aku hamil. Rasanya aku udah bosen nabung asam folat, minum susu esensis itu, tapi tak berhasil-berhasil." ungkap Canda, dengan menyiapkan beberapa bumbu.


"Mau masak apa?" tanya Adinda, sebelum menimpali curhatan menantunya.


"Toge, Mas Givan minta toge lagi. Biar cepet jadi katanya." jawab Canda, dengan menyiapkan beberapa sayuran yang tersimpan di lemari pendingin khusus sayuran.


"Satu lebaran Ghifar tak balik. Ehh, dua. Idul Fitri sama idul Adha, mana tak telpon lagi dia. Jadi kasian sama daging kambing sampek ngebatu, karena dia yang paling excited sama daging kambing kurban." ungkap Adinda tiba-tiba.


Canda tersenyum tipis, kemudian mengambil daging kambing tersebut.

__ADS_1


"Aku masak aja, bikin tengkleng tuh Mah." ujar Canda kemudian.


"Ya sok bikin. Mamah masakan daerah sini yang pakek daging kambing aja, Mamah ganti daging sapi. Mamah paling tak bisa, kalau makan daging kambing. Papah juga, soalnya punya darah tinggi. Giska mual sama baunya, Ghavi doyannya kalau disate aja." tutur Adinda, Canda hanya manggut-manggut mengerti.


"Tengkleng khas daerah kau ya, Canda?" lanjut Adinda, dengan menoleh ke arah Canda.


Canda mengangguk, "Khas, tapi aku tanya google dulu masaknya. Aku tak bisa masak aslinya, Mah." ucap Canda malu-malu.


Adinda tertawa geli, "Udah tau dari awal-awal, kalau kau tak bisa masak. Tiap hari tumis-tumisan terus, udah feeling bahwa memang kau tak tau bumbu lain selain tumis-menumis." sahut Adinda yang membuat mereka tertawa bersama.


"Jadi... Jamu apa lagi, Mah? Biar aku bisa hamil. Ini padahal aku telat haid dua hari, aku cek, negatif lagi." balas Canda, mengalihkan pembicaraan mereka.


"Sabar, Canda! Baru juga berapa bulan. Mamah dulu hamil Givan, butuh waktu sekitar setengah tahun." jelas Adinda, membuat rasa kecewa Canda semakin menjadi-jadi.


Adinda menghela nafasnya, kemudian mengecilkan nyala api kompornya. Ia berjalan mengambil sesuatu, kemudian duduk di meja makan. Persis di sebelah menantunya tengah duduk, sembari memetik ujung toge.


"Givan kemarin nyabu, dia juga dapat obat dari pihak lembaga negara. Itu mempengaruhi kesuburannya, Canda. Tubuhnya lagi memperbaiki dirinya sendiri, itu butuh waktu yang tak bisa ditebak. Karena tubuh masing-masing orang, tak sama kinerja metabolismenya. Papah dulu juga bermasalah, tapi bukan ke s*ermanya. Awal-awalan, dia parah betul. Butuh waktu beberapa minggu, diselingi jamu-jamuan juga herbal lain, olahraga juga mesti rutin, baru bisa normal lagi." ungkap Adinda, setelah dirinya mengingat kembali saat dirinya baru menyandang sebagai istri seorang Adi.


"Mas Givan tak percaya, kalau aku kasih tau macam itu. Aku kan baca-baca artikel, mana tau ada jalan keluarnya biar cepat hamil. Tapi dia kata, tubuhnya cuma butuh waktu tiga minggu untuk bersihin zat-zat sisa itu. Di balikin masalahnya sama aku, dia bahas tentang kesuburan aku." sahut Canda lirih, karena ia khawatir suaminya mendengar percakapan mereka.


"Kalau masalah hamil begini, memang dua-duanya mesti cek up. Coba cek kesuburan kalian dulu aja. Kau cek rahim, Givan cek kualitas s*ermanya." saran Adinda, membuat Canda amat tertarik dengan ide tersebut.


"Tapi kek mana aku mesti ngomongnya? Nanti mas Givan tersinggung, Mah." tutur Canda, dengan logat bicara yang sudah menyatu dengan keluarga suaminya.


"Bingung kalau udah macam ini. Coba gaya hidup sehat aja dulu. Givan juga tak boleh terlalu capek, tak boleh begadang, kalau memang pengen kau cepat hamil. Kau tak boleh stress, tak boleh banyak aktivitas." tukas Adinda, yang ikut merasa pusing dengan masalah menantunya.

__ADS_1


"Mamah tiga bulan kemarin udah nyaranin itu." ucap Canda kemudian.


Adinda menghela nafasnya, lalu menyentuh punggung tangan menantunya.


"Kau sama Givan, sana ke spesialis kandungan dulu. Coba USG dulu, biar Givan bisa tengok jelas isi rahim kau. Susah kalau Givan, malah nyalahin kau terus. Jalan satu-satunya, ya harus kau dulu yang ngalah. Kau jangan tersinggungan, biar Givan ngerti." ungkap Adinda yang menarik perhatian Canda.


Canda mengangguk, "Selama ini, aku tak ada masalah sama haid aku. Tapi... Aku juga penasaran sih." sahut Canda kemudian.


"Ya udah cepet masak, sarapan, terus siap-siap berangkat. Ke dokter kandungan yang di lampu merah sana aja, agak mahal memang, tapi tak terlalu ngantri macam rumah sakit." balas Adinda yang diangguki Canda.


Lalu Canda dan Adinda segera menyelesaikan memasak untuk sarapan pagi tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, Canda dan Givan kini tengah konsultasi dengan dokter yang Adinda maksud.


"Seseorang baru dapat dikatakan memiliki masalah infertilitas primer, atau gangguan kesuburan. Apabila telah memenuhi kriteria, belum memiliki keturunan setelah 1 tahun berhubungan seksual teratur, 2-3 kali perminggu tanpa menggunakan kontrasepsi. Jadi, kita tak bisa langsung putusin nih Ibunya atau Bapaknya yang bermasalah." jawab dokter wanita tersebut, saat Canda menanyakan kondisi kesuburan rahimnya.


"Saya sarankan untuk melakukan hubungan seksual di sekitar masa subur Ibu. Masa subur adalah masa dimana telah terjadi ovulasi, pelepasan sel telur matang dari indung telur. Untuk mengetahui kapan masa subur, Ibu harus mengetahui berapa rata-rata siklus haid dari 3-6 siklus haid terakhir. Jika siklus menstruasi Ibu berlangsung teratur selama 27-28 hari. Maka waktu terjadinya ovulasi Ibu, adalah perkiraan hari pertama haid berikutnya dikurangi 14 hari. Hubungan seksual terutama pada 3 hari sebelum waktu ovulasi hingga 3 hari setelah terjadinya ovulasi. Kemungkinan terjadinya pembuahan akan lebih tinggi, jika Ibu dan Bapak melakukan hubungan seksual pada masa-masa itu. Kemudian Ibu dan Bapak juga, perlu melakukan hubungan seksual yang teratur 2-3 perminggu." jelasnya melanjutkan.


Canda seolah merasa bosan, dengan penjelasan dokter tersebut. Karena ia sudah dijelaskan beberapa kali oleh ibu mertuanya di rumah. Cara itu pun, sudah Canda lakukan. Namun, tetap tak bisa membuatnya hamil juga.


"Saya pengen langsung tindakan aja, Dok. Saya udah pernah cobain kalender kesuburan, gaya hidup sehat, juga makanan yang disarankan biar cepat hamil. Bayi tabung, atau suntik hormon gitu." ungkap Canda, yang mendapat remasan di tangannya.


Givan merasa tidak setuju, dengan sikap Canda barusan.


......................


Dikiranya gak mahal 😌

__ADS_1


__ADS_2