
"Kiban, Cek?" tanya Ghifar yang baru sampai di kediaman pak Samsul.
Terlihat pak Samsul tengah menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri di emperan rumahnya, ditemani dengan sebotol air mineral di sampingnya.
"Ya Allah, Bang Ghifar. Pangling betul sama kau." ia ternganga dengan mulut terisi penuh.
Ghifar tersenyum canggung, ia malu ditatap dengan tatapan heran seperti itu.
Ghifar menundukkan punggungnya, kemudian mencium tangan pak Samsul yang terulur. Ia menghormati orang yang lebih tua, meski dia hanya pekerja ayahnya.
"Papah bilang, suruh ke Cek. Katanya persiapan panen ladang long?" ungkapnya dengan duduk di sebelah pak Samsul.
"Ohh... Iya, iya. Nanti ya, long makan dulu." pak Samsul mengikuti ucapan Ghifar, yang menyebut dirinya long.
Ghifar terkekeh geli, dengan memukul pelan lengan pak Samsul.
Setelah dari kediaman orang tua Zuhdi dan mendapat kesepakatan dari Zuhdi. Ghifar langsung bertolak ke kediaman pak Samsul, sesuai petunjuk yang ayahnya berikan. Ghifar tak menyangka, ladang yang lama ia tinggalkan tersebut. Masih dianggap miliknya dan hasil kerjanya. Meski Ghifar hanya menggarap ladang bagiannya setahun pertama saja.
"Panen besar pertama kali ya ini, Bang?" pak Samsul menghormati keturunan juragannya, dengan memanggil mereka semua dengan sebutan yang pantas dan sopan.
Bahkan, sampai ke Gibran kecil pun. Mereka menyebutnya dengan tambahan abang. Berbeda dengan Giska, mereka selalu menambahkan imbuhan dek di depan nama Giska. Cara sederhana mereka, untuk menghormati keluarga sang juragan tempat mereka mencari nafkah.
"Iya kah? Aku tak tau kalau baru panen besar." Ghifar melupakan berapa lama ia pergi.
"Ya, lah. Tiga tahun Bang Ghifar merantau kan? Nah, terus awal tahun pertama kan digarap sendiri. Kurang lebih setahun lebih kan?" Ghifar mengangguk, mendapat penjelasan dari pak Samsul.
"Aku disuruh bawa Ikram juga." tandas Ghifar kemudian.
"Oh, iya-iya. Ladang dek Giska yang dipegang Ikram juga panen besar. Mungkin sekalian keknya." tutur pak Samsul, Ghifar hanya mengangguk. Berharap pak Samsul segera menyelesaikan acara makannya. Ia tidak enak, jika yang tengah diajak mengobrol malah sedang makan.
~
~
Tiga hari dari diskusi di rumah Zuhdi. Kini Zuhdi yang sudah sehat, bertandang ke rumah Giska.
Sore hari itu, terlihat para penghuni rumah tengah berkumpul di teras. Menyaksikan Mikheyla yang berlarian tak tentu arah. Minus Icut dan anaknya yang tak berada di situ, Icut seolah sibuk sendiri. Namun, kesibukan Icut selalu dipantau oleh saudara-saudaranya. Pasalnya, Ghifar pernah melaporkan akan Icut yang menemui suami orang di pertigaan jalan.
Meski Icut mengatakan ia hanya menyapa, tapi tetap saja Ghifar menaruh curiga. Karena istri dari suami orang tersebut, tengah bekerja di luar negeri. Tak menutup kemungkinan, suami orang itu malah menjalin hubungan dengan Icut. Kadang, sekotor itu prasangka Ghifar sekarang.
__ADS_1
Banyak hal yang ia alami sendiri, membentuk pola pikir Ghifar menaruh curiga buruk lebih besar dengan seseorang. Apa lagi, orang tersebut memiliki latar belakang buruk sebelumnya. Tak menaruh kemungkinan, bahwa orang tersebut bertingkah buruk kembali.
"Yayi....." teriak Mikheyla, saat orang asing tersebut berjalan masuk ke halaman rumah itu.
"Yayi-yayi, ada pedofil." tambah Givan, dengan menagrup putri cantik itu.
Zuhdi mendelik tajam ke arah Givan, ia tak terima atas pekikan Givan padanya.
"Awas aja kau!" ujarnya dengan mengacungkan jarinya ke pada Givan, yang duduk di bangku panjang di bawah pohon mangga.
Mikheyla yang berada di dekapannya, langsung bersembunyi di dada bidangnya saat Zuhdi duduk di samping Givan.
"Tengok tuh! Giska kaku tengok kau ke sini." Givan menunjuk adiknya yang duduk di sebelah istrinya. Mereka sedang bercengkrama di teras rumah, dengan cemilan yang Kinasya dan Ahya bawakan.
Zuhdi membuang pandangannya ke arah lain, saat menyadari Ahya berada di sini. Ia seperti tertangkap basah, telah berselingkuh dengan wanita lain.
"Ini, Far." Kinasya muncul dari dalam, dengan pakaian yang cukup minim.
Rok span panjangnya, ia tarik hingga sebatas lutut. Kemudian atasannya, ia mengenakan tank top berwarna kuning muda dengan seutas tali di bahunya.
Givan dan semua orang langsung menoleh ke arah pintu, Kinasya masih berdiri tegak dengan menunjukkan sebuah sabun di tangannya.
"MASUK KIN!" seru Givan, ia seperti itu karena di sini ada Zuhdi. Yang jelas-jelas, orang lain untuknya.
Kinasya masih berdiri di ambang pintu, tetapi Ghifar langsung bangkit dan menyeret Kinasya untuk masuk.
Sorot mata sayu Ghifar langsung membuas, ia seperti melihat hidangan enak untuk dinikmati.
"Mana? Sabun apa? Pakek ini!" Ghifar melemparkan kaos yang berada di bahunya pada Kinasya.
"Pakek cepet!" paksa Ghifar, dengan memasukkan lubang kaosnya ke kepala Kinasya.
"Ihhh... Iya." cetus Kinasya, dengan langsung memasukkan satu persatu lengannya ke lubang tangan kaos tersebut.
Ghifar langsung menarik rok span Kinasya, yang terlipat di bagian paha. Ia menurunkan rok tersebut, sebagai mana mestinya.
"Heh... Kau kenapa Far?" Kinasya menarik dagu Ghifar. Saat menyadari sesuatu keluar dari lubang hidung Ghifar.
"Apa?" Ghifar tak merasakan gejala sesuatu.
__ADS_1
"Kau mimisan? Alergi dingin kah?" Kinasya menyentuh darah tersebut.
Jika adzan ashar telah berkumandang, hawa dingin memang menyerang daerah itu. Bagi mereka penduduk asli, mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Namun, untuk mereka pendatang baru. Pasti mengalami flu ringan, saat tubuh mereka beradaptasi dengan udara sekitar.
Ghifar menyentuh tempat yang Kinasya sentuh, lalu ia melihat jarinya. Benar saja, darah menempel di jarinya. Menunjukkan, bahwa tempat yang barusan ia sentuh memang tengah berdarah.
Tarikan cepat Ghifar dapatkan di pergelangan tangannya, "Sini dibersihkan dulu." ajak Kinasya membawa Ghifar ke dalam kamar tamu yang biasa ia tempati jika tengah berkunjung di rumah itu.
"Tiduran!" pinta Kinasya, karena ia segera mengambil sesuatu dari tas yang tergantung di belakang pintu. Karena tindakannya, menyebabkan pintu kamar tersebut tertutup. Menjebak mereka berdua dalam satu ruangan penuh rahasia.
Ghifar masih terdiam, ia tidak bisa seperti ini. Memperhatikan aktivitas Kinasya, hanya membuat perang di otaknya semakin brutal terjadi.
"Lah..." Kinasya berbalik ke arah Ghifar, dengan barang di tangannya.
Ia menarik Ghifar ke arah ranjang, kemudian mendorong dada pemuda tersebut. Membuatnya jatuh tepat di atas tempat tidur.
"Mau apa?" Ghifar teringat akan kejadian di mana dirinya mengetahui, bahwa sesuatu dalam dirinya tidak merespon wanita.
Ia teringat saat Fira membutuhkan hal itu, kemudian memaksanya.
"Fir!!! Kau lagi hamil, Bodoh! Lagi pulak, kau yakin betul aku mau sama kau." Ghifar menutup wajah wanita yang berada di atasnya tersebut.
"Memang Abang masih bujang?" Fira menjeda aktivitasnya, yang gencar mencumbui leher mantan kekasihnya itu.
"Kalau belum nikah, ya namanya bujang." Ghifar mencoba bangkit, saat ada kesempatan untuk menghindar dari Fira.
Namun, Fira kembali mendorong dadanya yang sudah setengah tegak.
"Perjaka, maksud aku." jelas Fira, ia mengincar telinga Ghifar. Ia mengetahui bahwa kelemahan mantan kekasihnya, berada di area telinganya.
"Ekmmmmmm....." Ghifar merasa dirinya akan kalah.
Lidah Fira begitu aktif bermain di rongga telinganya. Bulu kuduknya meremang, matanya terpejam menikmati rasa geli yang menyengat tersebut.
Ghifar teringat akan isakan Canda, saat dirinya berhasil memasuki rumah subsidi milik ibunya di kota C. Wajah Canda bermandikan darah, dengan pakaian terkoyak terlihat jelas di matanya. Sebegitu brutalnya laki-laki, merasa Ghifar takut menyakiti seorang wanita yang ingin ia geluti.
Fira telah sampai tepat di depan resleting celananya. Ghifar sadar, Fira sudah berada di sana. Ia membiarkan hal itu, ia meyakini dirinya tak akan menyakiti wanita yang ingin bergelut dengannya. Karena Fira membutuhkan hal itu sendiri, bukan karena paksaan.
"Jadi ini yang sering aku pegang-pegang dulu?" Ghifar mengajak bicara, benda yang Ghifar jaga dan rawat seorang diri.
__ADS_1
Ghifar memejamkan matanya, sapuan kecil......
......................