
"Ya, ya, ya. Aku tau, aku bukan darah daging Adi Riyana. Aku anak Yoseph, Josephine Ardwiatto." ungkap Icut, yang malah membuat Adi dan Adinda terkejut.
Mata besar Maya, hampir menggelinding dari tempatnya. Bagaimana bisa, Icut malah mengetahui nama orang tersebut?
"Yang betul siapa? Yoseph apa Josephine Ardwiatto?" tanya Adinda yang memang belum mengisi perutnya.
"MENANTU KESAYANGAN... TOLONG BUATKAN TELOR DADAR DULU." teriak Adi, yang mendapat cubitan dari istrinya.
"Bukan waktunya makan, Bang. Abang ini, bikin suasana jadi absurd aja. Ini kan lagi scene tegang." bisik Adinda, dengan suara ditekan.
"Ya... Tau Abang, Dek. Tapi kau kan dapat peran pintar, pandai ngomong, kau detektif di sini. Tapi malah jadi peran pelengkap aja, kan tak asik." ucap Adi, dengan tersenyum kaku.
"Namanya Josephine Ardwiatto, Mah. Kan kalau Cina-Cina yang banyak ong-nya, Joseph diganti Yoseph biar gampang manggilnya. Kalau di Islam kan, Yusuf gitu nah Mah." bisik Icut menjelaskan.
Adinda mengangguk beberapa kali, "Ok, ok sip." sahutnya cepat. Membuat Icut dan Adi terkekeh geli, tetapi mereka menahannya.
"Jadi kan gini, Mah. Aku kan dipindah pendidikan ke kota J kan, terus aku sekarang lagi nyusun skripsi. Nah.......
"Ohh, kamu mahasiswi yang pernah ambil cuti ya?" tanya dosen pembimbing skripsi Icut.
Icut mengangguk samar, "Ya, Pak. Ambil cuti 3 bulan. Tapi bisa ngejar materi, Alhamdulillah." jawab Icut dengan bangganya.
Dosennya mengangguk kemudian, lalu ia menyimak kembali data yang tengah ia baca.
"Oh pindahan dari A*eh. Eh apa? A*eh?" ia begitu terkejut, saat melihat tulisan yang membentuk sebuah nama daerah tersebut.
"Cut Naya Maulida?" tanyanya kemudian, dengan memperhatikan wajah bingung Icut.
Icut mengangguk, "Iya, Pak. Cut Naya Maulida. Saya ambil cuti karena melahirkan, Pak. Bukan karena kekurangan biaya, apa lagi kena kasus prostitusi kemarin. Apa ada masalah ya, Pak?" jawab Icut, dengan rasa was-was yang menyelubunginya.
__ADS_1
"Boleh minta copyan kartu keluarga kamu?" ucapnya yang membuat Icut garuk-garuk kepala.
"Kenapa sebetulnya, Pak? Buat apa kartu keluarga itu? Kartu keluarga baru, saya belum punya Pak. Saya masih ikut gabung di kartu keluarga orang tua saya." sahut Icut, yang membuat teman di sampingnya ikut kebingungan.
"Maaf, maaf sebelumnya. Ini masalah pribadi saya sebenernya. Saya punya anak perempuan, yang dilahirkan sekitar 22 tahun yang lalu. Tapi... Gimana ya?" dosen tersebut terlihat kebingungan, untuk mengucapkan kalimat-kalimatnya.
"Tapi dia di bawa suami dari ibunya anak saya. Karena hak asuh anak, jatuh ke tangannya gitu loh. Nama anak saya, Cut Naya Maulida. Suaminya orang A*eh, istri barunya orang kota C." ungkapnya, yang membuat Icut merasa begitu cocok dengan informasi ayah dan ibunya.
"Terus gimana, Pak? Udah ketemu belum anaknya?" tanya teman Icut, yang kebetulan dibimbing oleh dosen yang sama.
Ia menggeleng, "Saya udah pernah cek ke daerah istri barunya mantan suami ibunya anak saya. Tapi, kata orang-orang yang saya tanyakan. Ibu itu tak pernah pulang lagi, lepas nikah besar-besaran yang emasnya berkilo-kilo katanya. Itu katanya... Saya sih tak tau pasti." jawabnya kemudian.
Bukan hal aneh, jika para tetangga di daerah kampung. Yang memang apa saja akan menjadi bahan pembicaraan mereka, apa lagi tentang janda anak satu yang mendapatkan bujang kaya.
"Kalau ke A*ehnya, saya belum cek. A*eh luas, saya tidak tau anak saya di daerah mananya." lanjutnya kemudian.
Lalu mereka melanjutkan aktivitasnya, hingga adzan dzuhur berkumandang. Dosen pembimbing tersebut memutuskan untuk menyelesaikan sesi di lain waktu, karena ia masih begitu penasaran dengan mahasiswi yang pernah mengambil cuti tersebut.
"Mbak... Selesai ibadah nanti, bisa temui saya?" ucap dosen tersebut, saat Icut pamit keluar dari ruangannya.
Icut terlihat menimbang-nimbang, ia pun sebenarnya penasaran juga dengan teka-teki ini.
Icut memberi anggukan kecil, "Bisa, Pak. Nanti lepas sholat, saya kembali ke ruangan Bapak." sanggup Icut kemudian.
Lalu Icut bergegas menuju masjid, yang terdapat di dalam kampus tersebut. Ia segera menunaikan ibadahnya, kemudian memanjatkan doa agar dipermudah segala urusannya.
Icut dan dosen tersebut tengah beradu pandang, dosen tersebut merasa Icut memiliki kemiripan dengan wajahnya.
"Mbak kenal keluarga Adi Riyana tidak? Keluarga besarnya, yang punya coffe shop Keude itu." ucapnya, dengan menunjuk salah satu bangunan klasik yang berada di luar kampus, yang terlihat dari jendela ruangannya.
__ADS_1
"Ya, kenal. Memang ada apa dengan Adi Riyana?" Icut sebenarnya sengaja tak memberitahu bahwa Adi Riyana adalah ayahnya, karena ingin mengetahui informasi apa yang dosen itu dapat.
"Adi Riyana itu kan, nikah sama penulis novel ini kan?" sahutnya dengan menunjukkan salah satu novel karya ibu sambung Icut.
Icut terdiam, ia tak mengatakan apa pun. Sampai dosen pembimbingnya menunjukkan sesuatu, yang ia dapat dari dalam laci mejanya.
"Bersyukur saya, bisa dapat copyan kartu keluarga Mbak dari staff TU." ungkapnya dengan tersenyum lebar dengan menunjukkan copyan kartu keluarga milik Icut.
Tiba-tiba ia berjalan ke arah Icut. Icut menegang, saat dosennya sedikit membungkukkan tubuhnya. Lalu memeluknya yang tengah terduduk tersebut.
"Ke mana aja, Nak? Naya, putri Ayah. Kamu gak kenal Ayah, Nak?" linangan air mata terlihat menghiasi wajah laki-laki setengah abad tersebut, saat dirinya membingkai wajah Icut.
"Kenapa Bapak bilang aku anak Bapak?" pertanyaan bingung Icut, yang dari awal ia tahan-tahan. Ia mengerti arah pembicaraan dosen tersebut, saat dirinya menyebutkan bahwa anaknya bernama Cut Naya Maulida.
"Di sini tertera, kamu anak dari Maya Renawati. Kamu bukan anak kandung dari Adinda." ujarnya dengan menghapus air matanya.
"Ya memang, Adinda ibu sambung aku." pernyataan Icut terdengar santai saja. Karena ia masih tidak memahami, maksud dari dosennya.
Mereka beradu pandang, Icut menyiratkan tatapan anehnya.
"Maksudnya bagaimana ya, Pak?" tanya Icut kemudian.
"Maya Renawati... Mantan pacar Ayah dulu, Nak. Dia dulu hamil, tapi... Dia malah nikah sama Adi. Dia ngelak, dia gak mau ngakuin bahwa itu anak Ayah. Dia minta maaf, terus dia bilang juga, dia punya hubungan sama Adi. Ibu kamu bilang, kamu anak Adi, bukan anak Ayah." ia menghela nafasnya, lalu menarik kursi putarnya.
Ia menduduki kursi tersebut, "Kita putus saat itu, karena Adi nikahin ibu kamu. Sampai beberapa bulan, kita losh kontak. Ayah minta penjelasan ibu kamu, saat ibu kamu pamer bayi Naya di sosial medianya. Siapapun yang liat, udah pasti dia tau kalau Adi bukan ayah biologisnya. Kau Chinese, keturunan Chinese. Sedangkan Adi, dia pribumi berkulit sawo matang. Mulai dari itu, Ayah kejer lagi ibu kamu. Terus, Ayah jalin hubungan lagi saat ibu kamu masih punya status istri orang. Sampai di suatu kejadian, Ayah lagi antar ibu kamu pulang. Tiba-tiba.....
......................
Sesuai harapan gak? 🤔 Atau terlalu mengejutkan kembali? 😌
__ADS_1