
...T A M A T...
Crazy up 😅
"Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk Saya, dengan mahar yang telah disebutkan."
"Pantes aja milihnya bahasa Indonesia, gampang betul diucapkan." ungkap Zuhdi, yang berkumpul dengan saudara-saudara Giska.
"He'em. Kemarin aku tengok bang Ghava, ngulang dia beberapa kali pakek bahasa kita." timpal Ghavi kemudian.
"Sah...."
Semua orang bersyukur, dengan tangis Kinasya yang semakin menjadi-jadi.
Ghifar hanya bisa memperhatikan istrinya yang tengah dipeluk oleh ibu kandung istrinya. Namun, sepertinya Kinasya benar-benar tidak bisa menerima semuanya. Padahal, sebelumnya dirinya mengetahui bahwa ia bukanlah anak Haris.
"Pertemuan pertama, maklum." lamat-lamat Ghifar mendengar Haris berbicara dengan anggota KUA.
Tiba-tiba Kinasya menoleh ke samping, "Kok kau diam aja, Yang?" make up Kinasya benar-benar kacau.
"Ya nanti, banyak orang." sahut Ghifar yang tak mengerti harus berbuat apa.
Semua orang menunjuk Ghifar, dengan menyuarakan gelak tawanya.
Ghifar terbingung-bingung, ia merasa tidak mengundang humor tadi.
"Butuh arahan? Abang siap arahin kau, Far." tandas Givan, membuat mereka semakin larut dalam tawa.
Ghifar baru memahami arah pemikiran mereka. Ia hanya bisa menyambungkan tawanya, agar suasana segera baik kembali.
__ADS_1
Satu jam kemudian, mereka segera melakukan foto keluarga. Pesta begitu sepi, hanya dihadiri keluarga inti saja. Para tetangga pun mengetahui hal itu, tapi tidak adanya undangan membuat mereka tidak bisa melihat langsung hiburan yang digelar di halaman belakang tersebut.
"Betulan dangdutan rupanya?" tanya Ghifar, ia geleng-geleng kepala melihat ayahnya dan dua ayah angkatnya tengah memberi saweran pada sang biduan.
"Pantesan pestanya di halaman belakang." tambah Kinasya yang duduk di sebelah Ghifar. Kinasya memahami bahwa pesta dangdutan seperti ini, dilarang di daerah ini. Apa lagi sang biduan, sengaja mempertontonkan rambutnya dan pakaian ketat. Meski tubuhnya terlapisi kain, tetapi begitu pas di badan sang biduan.
Adinda terkekeh geli, setiap kali melihat suaminya berjoget ria dengan Haris dan Jefri. Uang pecahan lima ribu, ikut memeriahkan hiburan tersebut.
"Marahin papah itu, Mah!" Kinasya ikut kesalnya saja, pada ayah mertuanya itu.
"Biarin aja. Sawer juga lima ribuan, bukan ratusan ribu." Adinda memahami suaminya butuh hiburan. Lagi pula, Adinda pun meyakini suaminya tak akan bertindak lebih dari itu.
"Lima ribu dikali sekian, Mah." tambah Kinasya kemudian.
"Iya biarin." Adinda tidak mau ambil pusing, apa lagi uang deposito mereka kemarin hari sudah cair.
Hingga beberapa jam kemudian. Pukul sebelas siang, acara itu sudah selesai. Mereka semua membersihkan diri untuk menunaikan ibadah sholat jum'at.
"Tak apa, Kin. Yang penting kan kau udah pernah ngerasain duduk pelaminan." ucap Adinda.
Para wanita berkumpul di ruang tengah, sedangkan para laki-laki pergi ke masjid.
"Yang penting sah." tambah ibu dari Kinasya, Shalwa Khoirunisa.
"Nah tuh, bener. Dari pada kan cari tempat terus. Sekarang sih bebas, yang penting di ruangan tertutup." ujar Adinda kemudian.
"Tapi tuh, Mah. Aku belum tau Ghifar lebih. Waktu aku subuh ke sini aja kan, itu Ghifar lagi video call sama perempuan." Kinasya masih bertanya-tanya tentang perempuan tersebut ternyata.
"Ya sambil kenal lebih lanjut, udah nikah pun tak apa." Adinda tak ingin pernikahan anaknya hanya untuk mainan.
__ADS_1
"Tapi aku takut cerai. Aku... Aku kalau udah cinta itu bodoh, Mah. Bisa gila aku, kalau Ghifar ceraikan aku." Kinasya seperti ragu-ragu saat mengatakan tentang dirinya.
Shalwa tertunduk, ia tersindir dengan ucapan anaknya. Rupanya Kinasya adalah tipe perempuan seperti dirinya. Yang dibutakan oleh cinta, jika sudah menyangkut perihal pasangannya.
"Papah Adi aja tak pernah ceraikan Mamah, insya Allah keturunannya pun tak kek gitu." Adinda mencoba memberi keyakinan penuh atas anaknya.
"Tapi papah Adi pernah poligami, pernah duakan Mamah, pernah nikah sembunyi-sembunyi, pernah ceraikan ibunya Icut, pernah mainin perasaan Mamah. Aku takut Ghifar kek papah Adi." Kinasya merengek dengan menggoyangkan lengan ibu mertuanya tersebut.
"Bukan cuma itu aja. Papah Adi pernah beli ladang sembunyi-sembunyi, gampang bosan, tak bisa nahan, tersinggungan, gampang emosi. Tapi... Itu kembali lagi ke diri kita masing-masing. Kek mana kita menyikapi hal itu? Rumah tangga itu, pasti ada aja ujiannya. Papah seolah diuji betul dengan sikap Mamah, ya Mamah pun sama. Macam abusyik Akbar, taunya papah Adi takut sama Mamah, kalah sama istri. Coba kau tanyakan versi masyik Handa, Mamah lebih terdzolimi dari papah kau. Itu tergantung bagaimana kitanya aja, Kin." Adinda memberi nasehat untuk pertama kalinya pada menantu barunya tersebut.
"Kek omah aja, dia pahamnya papah ngalah terus biar rumah tangganya langgeng. Tapi omah tak tau, papah kalau marahin Mamah sampek nunjuk-nunjuk di depan wajah Mamah. Tak tau omah, kalau anaknya banyak omong. Taunya anaknya pengertian aja, tapi beda sama yang Mamah rasain. Mamah dulu waktu hamil Ghifar, usahain cuci baju, masak sama berbenah. Nyapu-nyapu lah minimal, tak usah lap-lap lagi. Karena apa coba? Papah Adi bantuin, tapi mulutnya nyeletuk. Setidaknya, masak aja dek. Abang tak mau ada yang kena tipes lagi, karena makan beli sembarang." Adinda menirukan suara lembut suaminya.
"Jadi gimana pas hamil Ghifar dulu, Kak?" tanya Shalwa, yang memang dulu pernah begitu akrab dengan Adinda.
"Yaa... Mabok parah, tapi ada redanya. Kalau reda ya berbenah, masak, nyuci. Tapi tak pernah masak sarapan, karena kalau pagi morning sick. Jadi paling masak jam sepuluh, karena belum banyak anak kek gini, masak tuh cukup sekali itu aja." jawab Adinda. Kinasya malah membayangkan perutnya cembung, dengan Ghifar yang asik merokok tanpa membantunya membereskan rumah.
"Paling parah tuh hamil Ghifar, sampek masuk rumah sakit kalau udah muntah-muntah terus. Tapi cuma sampek trimester pertama aja, ke sananya malah sering sakit pinggang." tambah Adinda kemudian.
"Kin berdoalah, biar Ghifar kek yang Kin mau." ucap Shalwa dengan mengusap lengan Kinasya. Ia tak menyangka, anaknya tumbuh dengan tubuh bak model.
"Ada ragu-ragunya sama Ghifar tuh, Bu. Karena dia nampak alim di luarnya aja. Gimana coba kalau ternyata, Ghifar banyak mantannya." Kinasya sebenarnya hanya takut dengan rasa cemburunya saja.
"Yang penting Ghifar kek mana ke kau! Tante Shasha, ibunya Haikal. Itu mantan tunangannya papah. Ibunya Rashi, dulunya TTM-nya papah. Tapi Mamah bisa berteman sama mereka, mana akrab lagi. Karena papah udah begitu cuek sama mantan-mantannya, nampak di mata Mamah pun papah tak pernah curi pandang ke mantannya." Kinasya menganggap, pertemanan ibu mertuanya dengan para mantan kekasih ayah mertuanya begitu ekstrim. Jika dirinya, ia tak akan sanggup berbaur dengan para mantan pacar suaminya.
"Tuh dengerin nasehat Mamah mertua kau. Yang penting gimana Ghifarnya, jangan terlalu mojokin Ghifar dulu." tambah Shalwa kemudian.
"Assalamualaikum...."
......................
__ADS_1