
"Ada apa, Mas?" tanya Canda, dengan memberikan Ghifar cemilan yang ia minta.
"Carikan tukang pijet, capek kali badan." jawab Ghifar yang membuat Canda mengerutkan keningnya.
"Kirain ada hal serius apa. Eh, gak taunya carikan tukang pijet." sahut Canda yang membuat Ghifar terkekeh.
"Nanti kalau bang Ken pindah dinas, aku mau ikut Dek. Capek jadi OB, bikin kopi lagi, bikin teh lagi, ngisi air putih lagi, angkat galon, masak mie, belum lap-lap." ungkap Ghifar bercerita pada Canda.
"Memang bukan OB yang nyapu-nyapu rumah sakit gitu?" sahut Canda, dengan memperhatikan wajah Ghifar.
Ghifar menggeleng, "Bukan, aku di kantornya. Maksudnya ngurusin orang-orang dalam, yang ngelola rumah sakit itu." balas Ghifar kemudian.
"Terus kalau Mas pindah, aku gimana dong?" tanya Canda dengan bibir yang mengerucut.
"Kau balik lah ke kampung, katanya mau jadi peternak sapi." jawab Ghifar dengan menoleh ke arah Canda.
"Kuliah aku?" balas Canda dengan beradu pandang dengan Ghifar.
"Atur aja. Kalau kata aku, mending kuliah di daerah kau aja. Kau pulang pergi ke rumah keluarga besar kau, biar ada yang jagain. Kau udah besar, yang sekiranya kau jangan sampek ngerepotin mereka kek gitu. Karena aku yakin, kau tak perlu diurus macam anak-anak. Kau pasti tau waktunya makan dan waktunya mandi." ungkap Ghifar yang membuat Canda mengangguk.
"Ya udah, aku manut aja sama Mas. Asal dirabeni." ujar Canda yang membuat Ghifar tersedak keripik kentang.
"Minum, Mas. Minum." tutur Canda dengan menyodorkan teh buatannya.
Ghifar meniup-niup teh tersebut, lalu menyeruputnya sedikit.
"Keras betul airnya. Suruh minum, tapi panas kek gini." tukas Ghifar yang membuat Canda terbahak-bahak.
"Tapi nanti Mas anterin aku pulang ke keluarga aku ya? Biar tau Mas kalau lamar aku di situ tempatnya." ucap Canda kemudian, yang membuat Ghifar tersenyum kaku.
"Dirabeni, lamaran, nikah, gitu-gitu terus yang kau pikirin." sahut Ghifar dengan lirikan sinisnya.
__ADS_1
"Ya, Mas ya?" balas Canda dengan mengguncangkan lengan Ghifar.
"Iya, iya. Nanti dianterin." tegas Ghifar kemudian.
"Asik… ok, aku carikan tukang pijetnya. Nanti ya, aku nanya ke ibu kos dulu." ucap Canda dengan berlalu pergi.
Ghifar memperhatikan Canda, sampai tak terlihat lagi dari pandangannya.
"Dasar, perempuan gila!" ucapnya dengan tersenyum samar.
~
~
~
Tiga minggu berlalu, dengan kedekatan Ghifar dan Canda yang cukup membuat siapapun iri. Tak jarang, Canda datang ke rumah sakit tempat Ghifar bekerja. Hanya untuk mengantarkan makanan buatannya saja.
Namun, Ghifar merasa sedikit terganggu. Dengan kakaknya yang selalu pulang larut malam, dengan keadaan mabuk berat. Bukan tanpa alasan, karena itu cukup mengganggu jam tidurnya. Apa lagi, Ghifar dari pagi sampai sore harus bekerja.
"Ai ninggalin Abang, Far. Setiap hari capek bujuk mulut sampek berbusa, dia tak mau dengar semua ucapan Abang." ungkap Givan, yang membuat Ghifar mengerutkan keningnya.
Ghifar membantu Givan melepaskan sepatunya, "Yang udah pergi ya biarin, Bang. Ada masanya dia nyesel udah ninggalin kita. Kecuali, masalah yang buat dia pergi adalah diri kita sendiri. Itu lebih baik kita buka lembaran baru, ikhlaskan yang udah terlewat." sahut Ghifar kemudian.
"Kau gampang ngomong! Perhatian semua orang penuh buat kau! Kasih sayang mereka berlimpah buat kau! Kau pergi, pasti kau dicari mak bapak kau! Tak macam Abang, Abang kau yang harus apa-apa sendiri." ucap Givan dengan nada meninggi.
Ghifar menganggap ucapan Givan hanya bualan pengaruh alkohol, "Udah, kau tidur aja Bang!" pinta Ghifar dengan mengambil satu persatu sepatu Givan, yang berada di pinggir ranjang.
"Aku harus tetap kuat, aku harus tetap tangguh. Aku dituntut ngasih contoh yang baik, aku dituntut bersikap baik ke semua keluarga, ke semua orang. Tak macam kau, hidup semau kau, tapi kau tetap jadi perhatian mereka." balas Givan yang menghentikan aktivitas Ghifar.
"Karena kau panutan adik-adik kau, Bang. Kau terbaik di antara kita semua, kau sukses di usia muda. Hidup kau tak kekurangan apa pun, keluarga kau pun tak cuma mak dan bapak. Dari keluarga papah kandung Abang pun, Abang tak kekurangan kasih sayang. Kau iri sama semua yang ada di diri aku? Apa yang kau irikan?"
__ADS_1
"Buka mata kau lebih lebar!! Mak bapak kita adil ke kita semua? Apa yang luput dari perhatian mereka? Apa coba? Yang bikin hidup kau seolah runyam, ya diri kau sendiri. Berulah, bikin masalah, ngacauin kehidupan orang, bikin orang rugi, ya kau orangnya Bang. Kita sebenarnya baik-baik aja, kedudukan kita sama di mata mak bapak. Tapi masalah luar, masalah intern kau sendiri Bang. Yang bikin pikiran kau kacau, terus nganggap mak bapak ngebedain kau. Padahal tak macam itu, kau frustasi, terus nganggap semua orang jahat sama kau! Kau ini sakit, Bang. Hati kau yang sakit!!!"
Ungkap Ghifar dengan nafas tersengal-sengal, lalu ia keluar dari kamar tersebut dengan menaruh sepatu milik kakaknya di dekat pintu utama.
Ghifar meraih jaket dan ponselnya, lalu ia keluar dari rumah tersebut.
"Iri, dengki, tak pernah puas, mendarah daging. Anak yang diagung-agungkan, anak yang jadi panutan, malah minim akhlak betul." gerutu Ghifar dengan memesan ojek online, di malam hari ini.
"Jam setengah satu malam, dibukain pintu tak sama abi?" ucapnya seorang diri, dengan duduk di teras rumah tersebut.
Tak lama, ojek yang ia pesan. Sudah berada di depan rumahnya. Ghifar segera memastikan, apakah itu adalah ojek yang ia pesan. Kemudian, ia segera meminta tukang ojek tersebut untuk mengantarnya ke rumah orang tua angkatnya.
Hingga beberapa saat kemudian. Berulang kali Ghifar memencet bel, berulang kali ia memanggil nama keluarga Haris. Namun, tak kunjung mendapat sahutan.
Hingga, sebuah mobil yang ia kenali berhenti di depan rumah tersebut.
"Ngapain kau?" tanya Kenandra, yang keluar dari dalam mobil dengan kunci gembok di tangannya.
"Numpang tidur, Bang. Dari mana? Pantesan dipanggil-panggil tak nyahut-nyahut." jawab Ghifar, dengan memperhatikan Kenandra yang tengah membuka pintu gerbang tersebut.
"Dari ngapel ke Riska. Udah pada tidur kali jam segini. Sana masuk! Abang mau masukin mobil dulu." pinta Kenandra, setelah berhasil membuka pintu gerbang tersebut.
Ghifar mengangguk, lalu melangkahkan masuk. Sesaat kemudian, Ghifar sudah meluruskan pinggangnya di atas sofa yang terdapat di ruang keluarga Haris.
~
"Far… bangun. Sarapan." suara Haris yang mengusik tidur nyenyak Ghifar.
Lalu Ghifar meluruskan ototnya, dengan mengusap beberapa kali.
Tangannya bergerak, untuk mencari benda pipih yang selalu ia genggam tersebut.
__ADS_1
Matanya terbuka lebar, terlihat ia amat terkejut dengan notifikasi chat masuk yang begitu memenuhi layar ponselnya.
......................