
"Jangan nangis coba, Dek. Nangisin apa?" Zuhdi membingkai wajah manis Giska, kemudian mengusap air mata Giska dengan ibu jari tangannya.
"Abang kenapa lama tak datang?" kalimat Giska terpenggal-penggal, tangisannya cukup membuat kacau dirinya.
"Abang pengen memantaskan diri. Datang dengan nilai yang sesuai. Karena di tahun ketiga pertunangan kita ini, Abang belum bisa nyukupin target yang diminta." Zuhdi baru menjelaskan semuanya di depan Giska.
Saat tempo hari Ghifar menanyakannya pun, Zuhdi lebih memilih bungkam dari pada menjelaskan tentang semuanya.
"Sini duduk, Di." Givan menepuk tempat di sebelahnya.
Zuhdi merangkul Giska, membawanya untuk duduk di sofa panjang yang Givan duduki.
"Yok... Ambilin baju, Yok. Yang dijemuran aja." pinta Ghifar, saat melihat Yoka melintas dengan membawa mangkuk bekas makan Mikheyla.
"Istri kau juga itu?" tanya Zuhdi, pada Ghifar yang duduk di sofa double yang Ghavi duduki.
"Bukan lah." Ghifar mengelak cepat atas tuduhan itu.
"Yang mana istri kau?" ujar Zuhdi kemudian.
"Yang hamil." Ghifar teringat akan ucapan ibunya. Yang ayahnya katakan kepada ketua kampung setempat, bahwa Tika adalah istri sirinya. Sedangkan Yoka adalah kakak dari Tika, yang ikut berkunjung ke rumahnya.
"Yang itu anak kau? Yang lari ke Givan tadi?" Zuhdi seperti tengah mewawancarai Ghifar.
"Iya." ia bingung akan menjelaskan apa. Ia pun berharap semoga masalah yang membebani hidupnya ini cepat terselesaikan.
Zuhdi manggut-manggut, kemudian pandangannya teralihkan pada Yoka yang datang dengan membawa kaos milik Ghifar.
"Thank you." jawab Ghifar dengan menerima kaos tersebut.
"Your welcome." sahutnya dengan berjalan kembali ke luar.
Cepat-cepat Ghifar mengenakan pakaiannya. Ia merasa tidak sopan bertelanjang dada di depan tamu. Meski tamunya laki-laki sekalipun.
"Ini silahkan diminum tehnya. Ini kue-kuenya." Canda datang dengan nampannya.
Ia menghidangkan teko berisi teh tubruk dan beberapa gelas kosong. Kemudian ia membuka tutup toples, yang sudah berada di atas meja sejak tadi.
"Jadi gimana?" Givan membuka obrolan, dengan menarik tubuh Giska untuk sedikit berjarak dengan Zuhdi.
Zuhdi menoleh, ketika tangan Giska menariknya. Karena Giska masih bergandulan pada lengan Zuhdi.
__ADS_1
"Ghifar tempo hari datang, minta aku jadi buat minang Giska secepatnya." Giska tidak percaya, dengan ucapan Zuhdi. Ia merasa bahwa kakak-kakaknya yang memaksa Zuhdi untuk datang, bukan karena kemauan Zuhdi sendiri.
"Terus?" Ghavi bersuara, ia ingin ikut menyelesaikan permasalah adik perempuannya.
"Ya hari ini aku datang. Sejak dibatalkan pun, aku memang masih punya niat buat nikahin. Aku pengen datang nanti, pas emas sama uang udah pas. Biar papah seneng, bisa lupain bentakan aku sama Giska hari itu." ungkap Zuhdi menjadi pusat perhatian.
"Ya yah... Atuh..." Gadis kecil itu membuyarkan pembahasan mereka.
"Mana? Mana? Aduh berdarah banyak kali." Givan langsung mendekati Mikheyla yang mengadu padanya.
Lutut Mikheyla terluka, tetapi darahnya hanya membasahi lukanya saja. Ucapan Givan terlalu berlebihan.
"Ya yah, atit." Mikheyla malah baru menyuarakan tangisnya.
Sebelum Givan mengatakan hal itu, Mikheyla tak menangis. Ghifar tak menyukai akan cara kakaknya menyikapi sesuatu tersebut.
"Biyung... Obatin Key nih." Givan menggendong Mikheyla, membawanya pada Canda yang duduk di teras rumah.
"Apa?" Canda menyahuti dan menerima Mikheyla yang pindah tangan padanya.
"Atit, I yung. Atuh." anak itu mengadu pada Canda.
"Awas ya, Mas lagi ngobrol serius di dalam." Canda mengangguk, ia mengerti suaminya tak ingin diganggu.
"Jadi gini, Bang...." Ghava menjelaskan perihal masalah yang membelit Giska.
Reaksi wajah Zuhdi berubah-ubah. Sesekali ia mengangguk, menyimak dan mengerti akan cerita dari orang yang pernah memukulinya tersebut.
"Ke mana aku bawa pergi dia?" Zuhdi terlihat panik, pancaran khawatir pun terlihat dari ekspresinya.
"Resikonya nama dia juga keseret loh." tambah Ghifar dengan memperhatikan wajah-wajah serius tersebut.
"Aku tak masalah." Zuhdi begitu gampangnya mengambil resiko.
Givan menjelaskan tentang rencana mereka. Zuhdi langsung menyanggupi tanpa pikir panjang.
"Kalau di pedalaman sih, uang juga tak kepakek. Ridho tak Giska dikasih makan singkong?" celetuk Zuhdi, setelah mendengar rencana dari Givan.
"Ada ayah." suara Kinasya yang mendekat ke arah teras rumah itu.
"Wah, kebetulan." Ghavi berdiri dan berjalan ke luar dari rumah.
__ADS_1
"Sini, Yah. Lagi ngobrol nih." seru Ghavi, karena Jefri malah bermain dengan Mikheyla yang berlarian kembali. Anak itu kelewat aktif, seperti salah satu anak koleksi Adinda.
Jefri mengangguk, kemudian ia berjalan menghampiri Ghavi yang masih berdiri di teras rumah.
"Ngobrol apa?" tanya Jefri kemudian.
Namun, Ghavi langsung mengajak Jefri masuk. Ia merangkul pundak ayah angkatnya, salah satu orang yang selalu menyelamatkannya dari amukan Ghifar dan Ghava.
"Ehh..." Jefri sedikit kaget, melihat Zuhdi duduk bersama mereka.
"Ada kabar terbaru, Yah?" tanya Givan tiba-tiba.
"Udah kena nama Giska. Hafis ada bilang, diakan kerjanya di kantor polres." ungkap Jefri, membuat Giska gemetaran.
"Jadi gimana, Yah?" tanya Ghifar kemudian.
"Ya kalau dia ngilang, malah jadi inceran. Dikira nanti Giska yang bandar besar. Hidup macam biasa aja, kalau keseret yang penting tak ada bukti." jawab Jefri dengan duduk di sofa single yang Ghavi duduki. Sedangkan Ghavi mengambil kursi plastik, yang terdapat di sudut teras rumah.
"Giska tak ada bukti. Tapi kalau pemakai yang keciduk, apa lagi dia ada chat transaksi sama Giska. Bisa aja Giska kena hukuman." kemungkinan yang Ghifar berikan, memang tidak salah.
"Ayah udah lagi beresin, tunggu beberapa hari lagi. Yang penting, bikin Giska seolah lagi sibuk sama sesuatu. Biar pihak yang lagi ngintai dia, tak berpikir bahwa Giska masih ngelakoni itu." Jefri menatap satu persatu anak dari bosnya tersebut.
"Atur pernikahan kau Giska, Bang Adi. Bungkus yang ada, sisanya biar aku bantu dana atau barang." keputusan Ghifar cukup mengejutkan mereka berdua.
"Betul itu. Papah cuma mau kesungguhan kau, Di. Kalau semua sesuai, tapi hasil utang. Malah Papah lebih murka sama kau." tandas Givan, ia setuju dengan keputusan adiknya.
"Jadi???" Zuhdi penuh tanya dan dirundung kebingungan.
Rundingan terus dilakukan, untuk mendapatkan kesepakatan yang sesuai. Zuhdi mencermati dan menyanggupi, semua yang saudara Giska rencanakan. Giska pun mengangguk setuju, ia percaya pada saudara-saudaranya.
Tiba-tiba, di tengah obrolan serius itu ada hal yang tidak terduga. Salah satu wanita yang berada di teras memasuki ruang yang penuh ketegangan itu.
Dari sorot pandangannya, ia sudah tidak bisa berbicara baik-baik. Ia marah mendengar pernikahan yang tiba-tiba direncanakan tersebut.
"Tak bisa kek gitu dong, Bang. Hari itu kan kita udah bicarakan. Aku bakal tinggalin Ikram perlahan, terus kita bakal balik." tanpa rasa malu, ia mengacaukan rencana yang mereka harapkan berjalan baik.
Tatapan tak percaya, membuat rasa kecewa Giska semakin menjadi. Ia menangkap klise, tentang pujaannya yang menjalin kasih selepas gagalnya pertunangan mereka.
"Bang...." Giska menggenggam tangan Zuhdi.
Zuhdi menoleh pada Giska, ia merasa amat bersalah melihat mata tajam itu berkaca-kaca. Zuhdi tidak bermaksud menyakiti hati Giska.
__ADS_1
......................