Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS42. Bali penuh cerita


__ADS_3

"Akak bilangin mamah kau, Far." seru Kinasya, setelah dirinya masuk secara tiba-tiba ke dalam kamar Canda dan tak sengaja menyaksikan kejadian itu.


Ghifar langsung mengangkat kembali tubuhnya, yang sudah sempurna mengungkung tubuh Canda.


"Apa, Kak? Aku, aku…. Aku cuma…" Ghifar terlihat begitu canggung, saat mendapati Kinasya yang masih memperhatikannya dengan tersenyum miring.


"Aku apa, coba? Tak bisa kan alesannya?" tanya Kinasya, dengan melangkah masuk ke dalam kamar.


"Kan apa aku kata? Ghifar ini alimnya bohongan. Kau percaya aja, sama tampang cueknya." ucap Kinasya, dengan menghampiri Canda, yang tengah berusaha bangkit dari tempat tidur.


"Gimana tadi Ghifar bujuknya?" lanjut Kinasya, dengan duduk di tepian tempat tidur. Berbeda dengan Ghifar, yang langsung melarikan diri keluar dari kamar. Karena malu yang begitu menggerogoti kepercayaan dirinya.


"Memang mau ngapain mas Ghifar tadi? Tadi cuma bilang… diem, jangan berontak. Gitu aja, Mbak." jujur Canda, yang membuat Kinasya tertawa geli.


"Bodoh kau, mau diper*osa kau sama dia." balas Kinasya, yang masih dengan tawa renyahnya.


"Astaghfirullah! Masa iya?" tutur Canda dengan mata bulatnya, yang membuat Kinasya semakin tidak bisa berhenti tertawa.


Di tempat lain


Perasaan Ghifar campur aduk, saat kakak angkatnya mendapatinya tengah berbuat tak senonoh.


"Benarkah mau dibilangin ke mak? Bikin was-was aja." Ghifar bermonolog sendiri, sembari menunggu pesanan makanannya. Di restoran, yang paling dekat dengan pantai.


Ghifar masih memperhatikan hamparan pasir yang mempesona, karena terlihat beberapa bikini yang berjalan ke sana ke mari.


"A*eh juga tak kalah indahnya pantainya, cuma bedanya tak ada bikini berkeliaran di sana." lanjut Ghifar, dengan menghidupkan rokoknya untuk menemani rasa sepinya.


"Mana pacarnya, Bang?" tanya seseorang, yang tak membuat Ghifar terusik.


"Ada di kamar, tadi abis dibantuin bersih-bersih diri." jawab Ghifar, dengan pandangan yang masih tertuju pada hamparan di depan matanya.


"Ohh, udah jauh ya rupanya? Waktu sama aku, tak ada tuh main-main di kamar, apa lagi bantuin bersihin diri." ungkap orang tersebut, yang sekarang sudah menduduki tempat di sebelah Ghifar.


Ghifar baru terusik, dengan ia langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara.


"Hah!" Ghifar terlihat begitu terkejut, dengan kehadiran Fira di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Fira, dengan tersenyum manis pada Ghifar.

__ADS_1


"Tak." jawab Ghifar ringkas, dengan memalingkan kembali wajahnya.


"Kenapa sih, tak biasa aja? Kaget kek gitu, macam belum move on aja?" ujar Fira, dengan masih memperhatikan wajah Ghifar.


"Kalau aku belum move on. Ngapain tadi aku main-main di kamar sama perempuan yang aku bawa? Sama kau aja, aku tak begitu. Tandanya aku belum bener-bener serius sama kau, tak macam aku sama yang aku bawa barusan." ungkap Ghifar yang membuat senyum di wajah Fira sirna seketika.


"MAS….." pangilan yang membuat Ghifar menghela nafasnya kembali.


'Malu-maluin betul ini anak!' gumam Ghifar, saat melihat Canda berjalan ke arahnya.


'Untung pakaiannya modis, ngerti style.' lanjut Ghifar, saat Canda langsung menduduki bangku di hadapannya.


"Opo meneh?" tanya Ghifar, yang membuat Canda terkekeh dengan menepuk lengannya.


"Aih lapar, keluar sendiri aja. Aku ditinggal sama kak Kin." jawab Canda, dengan membolak-balikkan menu makanan di depannya.


"Kesel aku sama kau! Tak bilang belum kunci pintu tadi." ujar Ghifar, yang membuat Canda mengalihkan perhatiannya.


"Ihh, masih aja bahas. Aturannya, aku yang marah." balas Canda yang terlihat begitu santai saja, tanpa menyadari seseorang yang tengah memperhatikan mereka berdua.


"Kak…." seru Ghifar, dengan mengangkat satu tangannya. Pada pelayan yang mencatat pesanannya tadi.


"Ya, Gimana Kak?" tanya pelayan tersebut, dengan menghampiri meja Ghifar.


"Minta bill-nya." lanjut Ghifar, dengan mematikan ujung rokoknya.


"Ohh, langsung aja ke kasir Kak. Nanti makanannya di anter juga ke kasir." jelas pelayan tersebut, yang diiyakan oleh Ghifar.


"Ada beruang, Mas?" tanya Canda, dengan menggenggam tangan Ghifar.


"Tak ada, adanya lobang buaya. Ini aku mau jual dulu, biar beruang bayar makanannya." jawab Ghifar yang dimengerti oleh Canda. Karena sebelumnya, gurauan mereka masih seputar beruang dan kawan-kawannya.


Ghifar langsung mengangkat kembali tubuh mungil Canda. Percayalah, di tempat yang cukup bebas seperti itu. Mereka sama sekali tak menjadi perhatian semua orang. Namun, jelas menjadi perhatian seseorang yang masih duduk di sebelah Ghifar. Tetapi tak dihiraukan kehadirannya oleh Ghifar, maupun Canda.


"Mas… turunin aku! Aku mau dikemanakan ini?" ucap Canda, dengan tangan yang bergelayut di leher Ghifar.


"Mau aku jual, biar aku beruang." sahut Ghifar dengan tertawa renyah. Tat kala Canda pun menyuarakan tawanya, karena mendengar suara Ghifar yang membawa keceriaan tersebut.


"Bahagia betul mereka. Aku sama bang Givan, mana pernah bergurau romantis macam itu." Fira kembali bermonolog sendiri, saat Ghifar dan Canda tengah mengantri di depan kasir. Dengan masih saling berbicara, juga diselingi tawa yang semakin membuat Fira merasa iri.

__ADS_1


Fira tak mengetahui, ada seseorang yang tengah memperhatikannya dengan tersenyum miring.


"A… ayo pulang." ajak perempuan yang selalu memeluk lengannya.


"Ya, De. Kita pulang sekarang." sahutnya dengan berlalu pergi, keluar dari area pantai tersebut.


Yang dulu dirinya mempermainkan, kini berbalik dirinya sendiri yang dipermainkan. Hanya saja, dirinya belum menyadari. Bahwa kesendirian, kesunyian dan rasa penyesalan, mulai menghampirinya dengan perlahan.


~


~


"Tak, Mak. Kak Kin ngada-ngada itu." Ghifar terlihat begitu kacau, saat ibunya menelponnya. Sesaat setelah dirinya sampai di kamar hotel, tempatnya dirinya menginap selama beberapa hari tersebut.


"Mamah tanya, kau betul ada di Bali?" ucap Adinda, mengulangi kembali pertanyaan pertamanya.


"Ya, Mak. Tapi aku udah ijin sama bang A…" sahut Ghifar, yang kembali menjawab pertanyaan ibunya.


"Bang siapa? Kau tadi tak bilang, bahwa kau udah ijin?!" serang Adinda, yang tak puas dengan jawaban anaknya.


"Udah ijin, sama papah.. papah, bang Adi itu." balas Ghifar kemudian.


"ABANG…. ABANG TAK ADA BILANG KE AKU? KALAU ANAKNYA MEMANG UDAH IJIN KE ABANG?!" seru Adinda, membuat Ghifar menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"TUWOE, DEK." jawaban Adi, yang sampai terdengar ke ponsel Ghifar.


"Ngomong tuh tak ngehampiri dulu. Mesti aja teriak-teriakan." Ghifar bermonolog sendiri.


"Pue, Far?" tanya ibunya, yang mendengar ucapan Ghifar seorang diri tersebut.


"Tak, Mak. Lagi ngapain?" jawab Ghifar berbasa-basi.


"Lagi nungguin kau cerita. Tadi Mamah abis telponan sama bang Givan, sama calonnya juga. Dia udah ambil penerbangan, buat ke tempat omah kau. Nanti Mamah juga ke sana, sama papah kau, adik kau juga si Ghava. Ghava berantem hebat sama Ghavi. Adiknya sendiri dibuat bonyok, gara-gara hasil kedai disangka dimakan sendiri sama Ghavi. Rencananya, Mamah mau bukain Ghava usaha sendiri di kota J. Dipisahin aja mereka, biar tak berantem sama saudara sendiri." ungkap Adinda bercerita.


"Oh, jadi nanti ketemuan di sana?" tanya Ghifar, dengan membuka jendela kamar hotelnya.


"He'em, kau juga baliknya ke omah dulu ya. Mamah mau…..


......................

__ADS_1


Bahasa Jawa ya ini.


*Opo meneh : Apa lagi


__ADS_2