
"Memang Ibu ke mana aja? Sampek-sampek tak ingat sama aku?" ucap Icut, saat ibunya berpindah ke sampingnya. Kemudian memeluknya, yang tengah menyusui Hamerra.
"Mommy minta maaf, Nay. Cut, maksud Mommy. Mommy bukan gak ingat sama kamu, tapi Mommy kerja jadi baby sitter karena pengen banget ngurus kamu kecil. Mommy gak nemuin seneng, lepas beberapa tahun nyerahin kamu ke bang Adi. Mommy nikah lagi, sama anggota lembaga negara. Awalnya semuanya baik-baik aja, sampe Mommy lahirin adik kamu......
"Secantik ini ibunya anaknya? Pantes aja suami saya memohon ambil cara ini." ungkap tamu yang baru datang ke kamar inap Maya.
Maya melahirkan anak keduanya secara bedah sesar kembali. Karena riwayat bedah sesar yang pertama, hanya berjarak empat tahun.
"Tapi ngomong-ngomong... Terima kasih ya? Terima kasih udah ngasih dia keturunan secantik ini." lanjutnya dengan menggendong bayi Maya, yang dilahirkan kemarin hari.
"Empat kali aku program bayi tabung. Empat kali juga, kami gagal memiliki keturunan. Aku enggan diceraikannya, karena dia begitu sayang sama aku. Meski dia tau kekurangan aku selama ini." Ia berbalik menatap Maya, kemudian dirinya menganggukkan kepalanya.
"Ya... Aku sulit mendapat keturunan. Tapi, bagi aku itu bukan hal yang penting. Yang terpenting, adalah keturunan darah daging suami aku. Bukan keturunan dari aku." ungkapnya kemudian.
Tiba-tiba masuk seorang laki-laki, yang begitu Maya kenal.
"Mas...." panggil Maya, karena laki-laki itu merangkul mesra wanita yang tidak Maya kenal.
"Kamu bilang... Kamu duda, Mas. Tapi perempuan ini malah bilang, kamu suaminya." ucap Maya, dengan rasa sesak yang memuncak di pelupuk matanya.
"Aku sebenarnya belum duda, aku suaminya." sahutnya dengan mengusap-usap lengan perempuan yang menggendong anak perempuan Maya.
"Ini...." Dori Fauzan menyerahkan berkas yang ia sembunyikan di punggungnya.
"Kita udah selesai. Ini berkas formalitas, buat bikin surat janda kamu." lanjut Dori, yang membuat Maya tersedu-sedu hebat.
"Kami permisi." ujar wanita tersebut yang membawa anaknya pergi, ia melangkah beriringan keluar bersama Dori.
"Mas.... Mas...." panggil Maya berulang, berharap Dori dapat memenuhi panggilannya.
Namun, sayangnya Maya yang masih lemah karena luka operasinya. Tak bisa berbuat apa-apa, selain menangisi nasibnya sendiri.
"Kenapa kok macam serial drama rumah tangga, Bu? Aneh gitu, mana laki-lakinya kejam betul." celetuk Icut, yang tidak sedikitpun merasa penderitaan ibunya dulu.
"Kan Mommy ambil garis besarnya aja. Tak cerita dari awal." sahut Maya, yang tidak habis pikir dengan keturunan mantan pacarnya tersebut.
__ADS_1
"Kenapa tak cerita aja dari awal? Kan biar aku paham." balas Icut, yang membuat Yoseph terkekeh kecil.
"Kan Mommy peran pelengkap di sini, bukan tokoh utamanya. Kalau mesti cerita dari awal, ya bikin novel sendiri." ujar Maya yang membuat mereka bertiga tertawa bersama.
"Aku tak bisa manggil mommy, ganti Ibu aja. Aku dari kampung soalnya, anak aja aku ajarkan manggil ma." tutur Icut, yang terdengar sudah santai. Tak seperti saat awal-awal mereka membuka obrolan.
"Terus kamu sibuk apa aja selama ini, May?" tanya Yoseph, dengan tersenyum samar pada Maya.
Icut mengerti dengan pancaran netra ayah kandungnya. Ia seperti tengah melihat seseorang yang tengah amat ia rindukan.
"Aku 5 tahun kerja di Hongkong, jadi TKW ngasuh bayi. Terus ikut pelatihan di sana, jadi pas balik punya sertifikat pendukung buat jadi pengasuh bayi yang bayarannya besar. Tapi nama aku jadi jelek, karena Adi kemarin. Udahlah, paling jualan otak-otak aja pas pulang ke kampung nanti." jawab Maya, dengan suara pasrahnya.
"Nikah aja sama aku. Kamu yang ngasuh Hame, biar aku yang bayarnya." ajakan Yoseph, yang mendapat dekheman dari Icut.
Icut bangkit dari duduknya, kemudian tersenyum lebar dengan menatap mereka berdua.
"Aku pamit dulu ya? Om Edi udah chat aku." ucap Icut yang merasa tidak nyaman dengan kehadirannya di sini.
"Sini dulu, Cut. Ibu kamu masih mau ngobrol-ngobrol sama kamu." ucap Yoseph, dengan menepuk kembali tempat yang Icut tempati tadi.
"Memang kamu gak malu, kalau netep di sana?" tanya Maya, yang cukup membuat anaknya tersinggung.
Icut menoleh dengan tatapan sinisnya, "Tak! Tak ada yang berani hujat keluarga mamah Dinda sama papah Adi, di depan keluarga aku. Lagi pula... Cut Putroe Hamerra diaku anak sama mamah Dinda, papah Adi. Mereka tak mau Hame manggil mereka nenek kakek, diminta buat ajarin manggil mamah papah." jawab Icut tanpa ragu.
"Nanti besar nanti malah Hame berat ke mereka, dari pada ke ibu kandungnya nanti." sahut Maya, yang membuat Icut tersenyum miring.
"Pengalaman ya?" balas Icut yang membuat Yoseph tertawa geli.
"Udah ah, aku balik dulu. Aku tak mau terlalu akrab sama Ibu, sewajarnya aja." ujar Icut dengan mencium tangan mereka berdua, lalu dirinya berlalu pergi dengan anaknya di dekapannya.
Icut tak mau membuat suasana bertambah rumit. Ia ingin tetap dianggap anak, oleh orang tua yang mengasuh dan mengasihinya sejak kecil. Ia tak ingin mencari masalah, dengan lebih mendekatkan diri pada keluarga kandungnya. Karena mau bagaimana pun juga, bukannya ibu kandungnya yang dulu memutuskan untuk meninggalkan dirinya.
~
"Yang sering-sering aja berulah! Kesel betul aku sama Mamah, sama Papah. Malu aku, pas nganterin buku nikah kalian." Ghavi terus menggerutu, setelah kejadian tiga hari silam.
__ADS_1
Adinda cekikikan, ia merasa malu dan juga panik saat mengalami kejadian tersebut.
Tok, tok, tok...
Tok, tok, tok...
"Buka pintunya dulu Pak, Bu." grasak-grusuk beberapa orang di luar pintu kamar hotel pun, terdengar sampai ke telinga Adi dan Adinda yang tengah beraktivitas.
"Tak diganggu anak, diganggu orang. Nyesel betul bayar kamar hotel mahal-mahal." Adi memunguti pakaiannya, dengan gerutuan hebat.
Adinda pun begitu panik, dengan suara penuh tuntutan dari orang-orang di luar kamar. Ia dengan cepat mengenakan pakaiannya kembali, tanpa membersihkan inti mereka terlebih dahulu. Apa lagi kalau bukan karena memang terburu-buru.
"Udah siap, Dek? Abang buka pintu dulu ya." ucap Adi, dengan memperhatikan istrinya yang tengah menghela nafas berat.
Adinda hanya mengangguk, untuk menanggapi ucapan suaminya tersebut.
Ceklek...
Adi menyunggingkan senyum ramahnya, pada beberapa petugas berpakaian dinas berwarna hijau.
"Boleh kami masuk, Pak? Ada siapa di dalam?" tanya seorang wanita, yang merupakan anggota polisi syariat di daerah tersebut.
Adi hanya mengangguk, Adi sedikit gemetar melihat beberapa orang yang berbondong-bondong masuk ke kamar yang telah ia sewa.
"Dengan Ibu siapa? Boleh kami cek KTP-nya?" ucap seorang wanita yang menanyai Adi tadi.
Adi langsung bergegas menuju ke istrinya, ia khawatir Adinda akan menangis karena hal ini.
"Dia istri saya, Bu." suara tegas Adi, dengan berjalan menghampiri istrinya yang duduk di tepian tempat tidur.
"Kacau betul ini tempat tidur." salah seorang dari mereka mengatakan hal demikian.
......................
Pasti hotelnya bukan hotel berbintang, makannya digrebek. 😅
__ADS_1