Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS94. Membaca chatting


__ADS_3

Saat dirinya sampai di kediamannya, Adi belum terpikir akan istrinya yang marah padanya.


Namun, salah seorang tetangganya yang keluar dari dalam rumahnya. Mengundang kecurigaan Adi, saat Adinda ikut keluar dengan pandangan tidak sukanya.


Adinda berjalan mendekati suaminya, yang masih berdiri di halaman rumah tersebut. Tiba-tiba ia mendengus bau suaminya, yang membuat Adi bingung.


"Kenapa sih, Dek?" tanya Adi kemudian.


"Aku tak mau Abang nikah lagi!" jawab Adinda dengan garis bibir yang tertarik ke bawah.


"Tak, Dek. Kan udah pernah poligami, masa ngulangin lagi. Bosen nanti pembaca cerita kita." sahut Adi yang malah mendapat pelukan dari istrinya.


"Aku kurang sholehah ya? Sampek cari yang bercadar? Aku… aku…." balas Adinda yang ternyata sudah sesenggukan dalam pelukan suaminya.


"Kenapa Adek?" tanya Adi dengan merangkul istrinya untuk masuk ke dalam rumah mereka.


Saat tiba di dalam rumah, Adi kembali dibuat bingung dengan istrinya yang menangisinya tanpa sebab.


Adi hanya bisa mengusap lembut punggung istrinya, sesekali ia pun menghapus air mata istrinya.


"Aku udah mau dihamili Abang, ngelahirin anak Abang. Tapi Abang masih tega aja sama aku." ucap Adinda yang membuat Adi bingung, dengan arah pembicaraan istrinya.


"Abang tak ada maen perempuan, Adekkkk. Abang tak punya kesempatan, buat deketin perempuan lain kalau Adek nemplok terus setiap saat. Tak digandeng maknya, digandeng anak-anaknya. Ya Abang tak mungkin bisa, buat ngajak perempuan lain manut sama Abang kalau keadaannya begini." balas Adi dengan melonggarkan pelukannya, kemudian bersandar pada kursi ruang keluarga.


Adinda menatap wajah suaminya, "Berarti Abang ada pengen mainan perempuan lain?" tanyanya setelah mengusap kasar air matanya.


Adi mengangguk, "Ada pengen buat mainan sih, Dek. Tapi takut, soalnya punya anak perempuan. Kasian juga sama Adek, Adek kan cinta kali sama Abang." jawab Adi yang langsung mendapat cubitan pada bibirnya.


"Aku tak cinta sama Abang." ketus Adinda dengan memalingkan wajahnya.


"He'em, tak cinta tapi pasrah." balas Adi dengan kekehan kecil.


"Muti kenapa Abang bonceng-bonceng? Mau biasain dia ngangkang lebar-lebar? Biar pas Abang kasih ganjalan, dia tak kesakitan?" ucap Adinda, yang membuat Adi memahami inti drama kali ini.


"Ganjalan apa memang yang besar? Coba Adek pegang dulu, memang besar kah segini?" sahut Adi dengan membawa tangan istrinya, untuk merogoh yang berada di dalam resleting celananya.

__ADS_1


Adinda marah meremas barang yang setengah menegang tersebut, membuat Adi meringis dengan menatap mesum istrinya.


"Jangan rese, Sayang. Aset kau ini! Kepuasan kau bergantung di sini." balas Adi lembut, dengan menatap mesum istrinya.


Adinda memajukan dagunya, ia terlihat tengah menantang suaminya.


"Kalau Abang main-main sama aku, Abang cari perempuan lain. Aku tak tanggung-tanggung bakal buat perhitungan sama Abang!" tegas Adinda yang membuat tegangan Adi di intinya semakin sempurna.


"Main-main yang macam semalam aja, pakek dua jari. Ok? Kalau tak dikasih, Abang main-main nanti sama Muti." ancam Adi yang Adinda langsung menarik telinga suaminya.


Adi meringis, "Aduh, aduh... Ayolah, Dek. Abang lagi gemes, pengen mainan itu pakek jari." mohon Adi, dengan Adinda yang langsung melepaskan tarikan di telinga suaminya.


"Ya udah sana! Obok-obok Muti aja. Dikira tak tersiksa kah? Dicolok-colok tak jelas macam itu!" gerutu Adinda yang malah beranjak pergi menuju ke kamarnya.


Adi terkekeh geli, dengan menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Tak jelas dikata? Kl*mask-kl*mask juga." sahut Adi dengan menekan tombol power pada televisi.


Tentu Adi tak menceritakan segalanya pada Sukma. Ia hanya menceritakan garis besarnya saja, tentang gosip yang pernah menyebar di masyarakat. Gara-gara dirinya memberi tumpangan pada janda muda tersebut, saat ia bertemu di jalanan yang terik.


"Buat Adi aja sini, Mak cek. Adi pulang, keknya Dinda udah tidur." sahut Adi yang menerima wadah tersebut.


"Kau mau, ambil di dalam. Kalau Dinda udah tidur, ya tinggal simpan di kulkas aja." balas ibu Handa, yang membuat Adi tersenyum kuda.


"Ambilin lah Mak cek." pinta Adi yang mendapat sorakan dari Sukma.


"Ada undangan reuni, Di. Kau datang tak? Di L*t T*war tempatnya." tutur Sukma, dengan menunjukkan kartu undangan kecil dari bawah meja teras tersebut.


Adi menerima undangan tersebut, kemudian membaca isinya.


"Siapa ini yang bikin acara? Gila betul, masa tak boleh bawa pasangan? Bisa-bisa dipelintir aku sama Dinda." tukas Adi yang membuat Sukma terkekeh.


"Tinggal bawa-bawa aja, pasti di sana banyak yang bawa pasangan juga. Revi sama Farah yang buat acara." ucap Sukma, yang tengah memainkan ponselnya.


"Tak lah, tak ikut aku. Lagian udah pada tua gini, reuni-reuni buat apa? Mengenang masa lalu? Masa lalu aku kelam betul." sahut Adi kemudian.

__ADS_1


"Aku juga tak ikut. Datang ke kondangan aja aku malas dandan, apa lagi datang ke reuni." balas Sukma dengan menyampirkan ujung hijabnya ke bahunya.


"Dinda apa lagi, cuma lipstikan aja dia ke mana-mana." ujar Adi, dengan mengingat koleksi warna lipstik yang istrinya miliki.


"Tapi Dinda kan kinclong, bening terus dia. Dinda cuma lipstikan aja kau mabok sampek sekarang, apa lagi dia dandan." tutur Sukma yang membuat Adi terkekeh.


"Ikut malunya aja aku, kalau Dinda ikut nimbrung. Abang.... Abang... Bang Adi...." lanjut Sukma dengan menirukan suara centil Adinda.


Tawa renyah Adi terdengar, "Malenya aku lebih-lebih. Tapi ya sudahlah, karena aku butuh juga diabang-abang." balas Adi yang membuat Sukma geleng-geleng kepala.


"Udah ah, mau masuk dulu aku. Banyak nyamuk di sini." pamit Sukma, yang hanya diangguki oleh Adi.


Adi melanjutkan aktivitasnya mengutak-atik ponsel anaknya. Ia mengetahui beberapa kode rahasia, yang ia dapatkan dari google. Untuk mengecek aplikasi yang anaknya rahasiakan. Ia pun tengah menyimak pesan chat antara anaknya dan Zuhdi, yang sebelumnya diarsipkan oleh Giska.


"Secinta itu Giska ke Zuhdi? Padahal laki-lakinya kek wajar aja ke dia." ucap Adi, yang masih fokus membaca percakapan dalam pesan tersebut.


"Dasar anak Dinda, warisan sifatnya nurun ke Giska ternyata." ujarnya sembari membaca teks yang bertuliskan.


[Aku tak dijajanin, Abang abis gajian juga. Pelit betul Abang ini!] Tulis Giska, yang baru Adi baca ulang.


[Tiap minggu terus minta jajan. Abang gajian, Adek ikut gajian aja. Lagian baru dua hari yang lalu juga, Adek Abang kasih 30 ribu." Balas Zuhdi, yang membuat Adi geleng-geleng kepala. Ia tak percaya dengan sikap Giska yang terang-terangan meminta uang pada laki-lakinya tersebut.


[Dicium tak pernah mau, mintain uang lancar terus. Seminggu 200 ribu, udah macam bayar utang bak keude.] lanjut Zuhdi, yang membuat Adi merasa heran.


[Dikira aku jualan. Aku minta uang, Abang dapat cium. Tak mau ngasih tak apa, jangan pernah minta aku lewat lagi. Biar pening kau tak nampak-nampak wajah aku." balas Giska, yang membuat Adi terkekeh kecil.


[Abang mau halalin Adek. Butuh dana buat uang hangus, uang pelaminan, buat jeulame juga. Bukan Abang pelit, tapi Abang udah kepengen miliki Adek. Ngumpulin sehari 120 ribu, belum kepotong buat makan, buat ngasih ma. Yang ngerti coba, Dek.] ungkap Zuhdi dalam pesan chat yang cukup panjang tersebut.


[Kita aja masih backstreet, Bang. Halalin gimana? Aku masih kuliah.] tulis Giska kembali, yang membuat Adi merasa bahwa anaknya hanya ingin main-main pada laki-laki tersebut. Sedangkan laki-lakinya, ternyata begitu menginginkan Giska untuk menjadi istrinya.


[Perlahan pasti teungku haji Adi juga bakal tau, Dek. Meski kita tak pernah jalan berdua, tak pernah mojok. Tapi lambat laun, mereka pasti denger tentang kita.]


[Rencananya, kalau uang Abang udah cukup buat beli cincin. Abang sekeluarga mau ke rumah, mau nandain Adek dulu.] tulis balasan dari laki-laki tersebut, yang membuat Adi ikut merasa pusing.


"Sesabar itu Zuhdi nungguin Giska? Seserius itu dia pengen milikin Giska? Kok bisa, ada laki-laki yang mau pacaran dari chat aja begini?" tanya Adi seorang diri. Dengan menatap kosong langit gelap malam ini.

__ADS_1


......................


__ADS_2