
"Apa?" Givan amat bingung, ia tidak mengerti apapun.
"Ada chat dari nomor tak dikenal, fotonya perempuan." ungkap Canda dengan menunjuk layar ponsel suaminya.
Givan mengambil alih ponsel miliknya, cepat-cepat ia melihat isi chat tersebut.
[Bang, kita perlu ngobrol. Susulin aku di rumah orang tua aku. Aku tak mau Ghifar, ataupun istri kau tau.]
Givan beralih untuk melihat foto kontak tanpa nama tersebut, ia melebarkan matanya melihat foto wanita yang ia kenali.
"Fira?" satu nama yang lolos dari mulut Givan.
"Itu... Istrinya Ghifar kan? Eh, maksudnya si ibunya Key itu." Canda tidak ingin menuduh Fira sebagai istri Ghifar, karena ia sendiri tak meyakini itu.
"Ada hubungan apa sama Mas?" Givan seperti mendapat serangan jantung, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Hmm... Dia itu. Perempuan yang pernah Mas ceritain, waktu kau masih sama Ghifar. Itu... Perempuan yang duain Mas sama Ghifar." sejurus kemudian, Givan memutuskan untuk menjawab dengan benar.
Canda memejamkan matanya, ia tengah menggali ingatannya.
Jentikan jari, mengeluarkan suara yang cukup menarik perhatian Givan.
"Aku pernah tengok itu perempuan, waktu liburan di Bali sama Ghifar. Dia ini... Ada di resto yang di Bali. Orang Bali kah dia?"
Givan hendak menjawab pertanyaan dari istrinya kembali, tetapi lanjutan kalimat Canda malah membuat Givan menyimpulkan sesuatu.
"Jangan-jangan, Ghifar waktu janjiin aku nikah, dia janjiin itu perempuan juga. Makanya... Pas gagal sama aku, dia larinya ke Bali."
"Kau masih berharap sama adik ipar kau, Canda?" lontaran kalimat dari Givan, membuat Canda tersadar atas perkataannya barusan.
"Tak macam itu, Mas." Canda meraih tangan suaminya dan menggenggamnya.
"Terus?" Givan begitu sabar, ia ingin mendapat kejelasan dari istrinya, tanpa cemburu buta pada adiknya.
Ia merasa hubungannya dengan Ghifar sudah baik-baik saja, Ghifar masih seperti sosok adiknya sebelum kejadian perebutan Canda kala itu. Ia tak mau, rasa cemburu dan iri hati menggerogoti pikirannya kembali.
Canda terdiam, ia seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Mas jangan cemburu ya? Aku kok ngerasa hitungan waktunya pas gitu. Ini sih pikiran aku aja, bukannya peduli sama Ghifar. Tapi... Keknya Ghifar waktu itu, bukan laki-laki yang bener-bener baik deh. Maksudnya... Gimana ya?" seperti biasa, Canda kesulitan untuk menjelaskan yang ada di hati dan pikirannya. Di satu sisi, ia takut suaminya marah. Di sisi lain, ia merasa menuduh Ghifar terlalu jauh.
"Udah, tinggal jelasin aja. Kek mana?" Givan selalu kesal, saat kalimat berbelit-belit keluar dari mulut istrinya.
Canda terdiam kembali, tetapi tangannya seolah tengah mengijir sesuatu.
"Kek gini, Mas." Canda menyentuh tangan suaminya kembali.
"Aku kan... Aku kan pas di Bali, dapat sedikit pelecehan dari Ghifar. Lepas hari itu, Ghifar tak pernah ikut jalan-jalan sama aku lagi. Harusnya aku kan yang marah di situ?" Givan mengangguk, merespon cerita dari istrinya.
"Nah, tapi malah Ghifar yang marah sama aku. Dia kata, aku ini masang lah. Pokoknya gitu-gitu lah." Canda kembali menjeda ceritanya.
"Terus?" tanya Givan, berharap Canda melanjutkan ceritanya.
"Terus... Ghifar ngurung diri beberapa hari di kamar. Sebelum akhirnya aku mutusin ambil tiket penerbangan balik." kembali Canda mengambil oksigen lebih banyak.
"Di hari dia ngurung di kamar, keknya dia ada main sama Fira itu. Hamil kan sembilan bulan? Terus sekarang Mikheyla hampir dua tahun. Kurang lebih tiga tahun kan, sama ditambah waktu mengandung itu? Nyampek ke tahun sekarang, berarti kejadian Ghifar hamili ibunya Key, kurang lebih tiga tahun yang lalu. Tepatnya di bulan aku liburan di Bali sama Ghifar dan rombongan anak om Haris." Givan mengangguk, ia sependapat dengan penuturan istrinya.
Namun, fakta mengejutkan lainnya berasal dari rahasia di hati Givan. Ia malah teringat akan pesannya pada Fira, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tidak menemui Fira kembali.
Givan melirik sekilas pada istrinya, yang masih menerawang jauh tersebut.
Pikirannya amat kacau, ia teringat akan kota persinggahannya dengan Ai Diah sebelum dirinya memutuskan untuk mengenalkan Ai pada keluarganya. Saat itu juga, beberapa hari setelah dirinya berada di kota J. Ghifar datang membawa Canda, beserta kedua anak Haris. Tak luput, Riska menjadi saksi keberadaan mereka semua di kediaman ibu Meutia.
Namun, Givan kembali memikirkan penyakitnya. Rasanya hal itu tak mungkin bisa terjadi pada Fira, karena istrinya sampai saat ini tak kunjung hamil. Yang berarti, dirinya masih belum sembuh dari penyakit yang ia derita.
Givan mengusap punggung Canda, menyadarkan Canda dari lamunannya.
Ia tersenyum lebar, saat Canda memandang wajahnya.
"Mas tak akan nemuin Fira. Adek tenang aja, Mas tipe orang yang setia kok. Jangan pikirin hal itu. Gih lanjutin aktivitasnya. Mas mau ada kesibukan sedikit. Toko, mungkin Ituk dulu yang jaga. Udah chat kan?" Canda langsung menggeleng, saat suaminya menanyakan hal itu.
"Lah... Ya udah Mas aja yang chat. Lanjutin gih." Canda mengangguk, kemudian bangkit untuk meninggalkan suaminya di kamar adik iparnya tersebut.
Givan menggulirkan layar ponselnya, ia mencari foto-foto Mikheyla saat ia bawa ke tokonya. Givan memperbesar hasil jepretannya tersebut. Memandang dengan jeli wajah putri dari mantan kekasihnya.
"Key tak mirip Ghifar, ataupun keluarga papah Adi." Givan merasa kaku di hatinya, benarkah hal yang istrinya sampaikan itu?
__ADS_1
Bukannya berpikir akan Ghifar yang menggauli Fira saat di Bali, Givan merasa hal itu tak mungkin dilakukan adiknya. Tetapi hal lain yang ia pikirkan, yaitu kala dirinya meninggalkan Ai Diah di kamar hotel, sedangkan dirinya memutuskan untuk berkunjung ke rumah miliknya yang Fira tempati. Malam yang panjang antara dirinya dan Fira terjadi. Malam terakhirnya, untuk menggeluti Fira dari rutinitas haramnya bersama Fira.
Givan mengingat kembali wajah saudara satu ibunya. Adik-adiknya begitu mirip dengan ayahnya, tak terkecuali Gibran. Anak itu mirip ayahnya, hanya warna kulitnya saja yang seperti ibunya.
Givan menghidupkan kembali layar ponselnya, foto Mikheyla masih terpampang jelas. Namun, ia tiba-tiba mendapat klise sebuah wajah dari gambaran wajah Mikheyla.
Cepat-cepat Givan menggeleng berulang, dengan melafalkan Tuhannya dalam hati. Ia dirundung kegaduhan di hatinya. Ia bisa menemukan jawabannya, tetapi ia ingin menyangkalnya.
Drttttt....
Ponsel Givan terlepas dari tangan, untungnya terjatuh di atas kasur milik Giska.
"Ghifar?"
"Kenapa dia? Mau lapor ada yang main di kebun pisang lagi kah?"
Givan tertawa seorang diri, kala mengingat kejadian konyolnya bersama Ghifar tempo hari. Ia membayangkan wajah tersiksanya Ghava saat itu.
"Apa, Far?" ucap Givan dengan menerima panggilan telepon dari adiknya.
"Ngooookkkkk... Yap nyap." Givan tau suara siapa itu.
"Tap, yap nyap." lanjut celotehan bermakna rahasia itu.
"Iya, iya. Bak nyang gatai, sinan tagaro. Bek gatai bak jaroe, tagaro bak gaki." Givan menanggapi asal ucapan anak tersebut.
Gelak tawa terdengar dari ponsel itu, rupanya adiknya mendengar ucapan Givan.
"Pue kah peugah?" tanya Ghifar dengan tawanya.
"Dimana yang gatal, disitu digaruk. Jangan gatal tangan, yang digaruk kaki. Understand?" jelas Givan, ia beranggapan adiknya lupa dengan bahasa daerahnya.
"Ayah... Key mau ngasih tau. Ngomong coba Key, biar Ayah tak ngaco ngomongnya." hati Givan menghangat, saat adiknya mengajarkan Mikheyla memanggilnya dengan sebutan ayah.
......................
*Pue kah peugah : Apa kau bilang
__ADS_1