
"Ghifar, sifatnya kloningan bang Adi. Warisan diturunkan ke cicitnya, masalah cucunya aja begitu. Tak beda jauhlah, sama bang Adi si Ghifar ini. Kalau mamahnya udah nada tinggi, langsung diem. Dari kecil aja, kalau denger bentakan aku, udah menciut nyalinya. Nyari perlindungan terus ke papahnya, nyariin bang Dih terus bawaannya." jawab Adinda, membuat Haris mengingat kembali setiap pertemuannya dengan Ghifar.
"Adi nurutnya ke uminya. Pengen bela kau, tapi takut nyakitin ibunya. Sampek rela dia ngumpet-ngumpetin kau sama anak-anak kau, mana cukup lama lagi umi taunya. Kalau mulut kasar kau udah nyaring terdengar, udah diam Adi. Ghifar pun sama, Dek. Waktu lebaran kemarin aja, dia kau larang buat ikut sama Ken. Langsung ngangguk tanpa pikir panjang, meski egonya tetep pengen ikut Ken jalan-jalan ke luar kota. Kau udah ngenalin sifatnya, kau pun udah tau cara ngendalikannya. Yang jadi kekhawatiran kau nanti, perempuan yang nyandang jadi pujaan hati Ghifar. Dia jelas bakal nurutin kau, tapi di sisi lain ego pengen miliki perempuan itu lebih besar dari rasa patuhnya ke ibunya. Takut-takutnya, malah kejadian nikah siri ala-ala Adi dan Adinda selanjutnya kekloning di pilihan yang terlintas di pikiran Ghifar. Saat pujaannya tak bisa dimiliki, karena larangan dari kau." ungkap Haris, mengenai apa yang ada dibenaknya. Setelah mengetahui, bahwa Adinda cukup kesulitan mengurus putra pertama suaminya. Ditambah lagi, tanggung jawab Ghifar yang tidak main-main. Membuat Adinda semakin pusing memikirkan, agar Ghifar tak goyah saat mulai memegang usahanya sendiri.
"Udah pusing aku kalau masalah perempuan. Sekarang aja, dia deket sama pendatang baru yang ngontrak di tempat aku. Katanya orang dari kota Lh*ksemawe, ayahnya kemarin keseret kasus dana pemerintah. Terus kena pasal, kena masa hukuman. Tak tau macam mana ceritanya, tiba-tiba mereka sekeluarga udah pindah ke daerah aku aja. Padahal kasusnya baru tutup bulan-bulan kemarin." sahut Adinda, yang merasa begitu kesusahan mengurus Ghifar. Anak itu sudah tak jelas bersekolah, ditambah dirinya yang mulai tertarik pada perempuan. Membuat Adinda khawatir, jika anaknya meminta dinikahkan terlalu dini.
"Peran Adi harus jalan di sini. Ghifar udah mau lulus sekolah, rasanya aman aja dia dikasih paham masalah reproduksi. Biar aman-aman aja, kalau suatu saat dihadapkan perempuan. Karena dia udah tak penasaran lagi, karena dengar cerita dari orang terdekatnya bahwa hubungan seksual hanya seperti itu rasanya. Minuman keras, sedikit tak apa kau ajari. Biar suatu saat dia terpuruk, dia tak lari ke minuman keras. Karena di masa dia tak punya masalah, belum tau cara menikmati miras, terekam di otaknya, bahwa miras tak malah bikin enak di tubuhnya." balas Haris, yang mencoba menyarankan hal gila tersebut. Karena ia memiliki pengalaman sendiri, saat semuanya sudah terlambat. Anak sulungnya tak terkontrol, saat sudah memiliki masalah, maka Kenandra akan menjadikan miras sebagai pelariannya.
"Tapi enak kok, Bang." ujar Adinda yang langsung mendapat senggolan dari suaminya.
Ia menahan tawanya, melihat wajah kesal suaminya. Sembari menunggu jawaban dari dokter yang mengemban pendidikan kembali tersebut, untuk memiliki gelar sebagai dokter spesialis.
"Enak, karena kau bisa nikmatinnya. Coba Adi suruh minum, pusing tak karu-karuan dia rasa. Sebotol dibagi empat orang aja, dia udah muntah-muntah hebat, tidur dari kelelahan muntah sampek ke hilang kadar alkohol di badannya." tutur Haris, yang membuat urat wajah Adi semakin kesal. Berbeda dengan Adinda yang malah puas mentertawakan suaminya tersebut.
"Macam kau tak aja!!!" tukas Adi begitu ketus.
"Bukan aku tak pernah macam kau. Tapi aku tau diri. Aku kuatnya berapa gelas nih? Ya udah, aku stop kalau udah rasa pengar di kepala. Tak macam kau, hajar sampek habis. Lepas itu, kau nyusahin kawan-kawan kau. Untung Dinda dulu tak ilfeel ngurusin muntahan kau." balas Haris, yang malah meladeni perdebatan kecil yang ia mulai tersebut.
"Kalau malah larinya ke gele, macam mana Bang?" tanya Adinda, yang memiliki rasa khawatir anaknya malah mengikuti jejak ayahnya.
__ADS_1
"Tak, asal kau sama Adi bisa jadi tempat keluh kesahnya. Anak bisa lari ke mainan perempuan, bisa lari ke minuman keras, ke obat-obatan, atau gele. Karena mereka kurang kasih sayang dari rumah mereka, juga mereka tak punya tempat ternyaman, dalam menumpahkan segala keluh kesahnya. Kau paham kan author hebat?" jelas Haris yang diiyakan oleh Adinda.
"Jaga kandungan kau, udah tua masih hamil aja! Awas, rawan komplikasi." Haris mengingatkan, karena tak mendengar ucapan Adinda lagi. Ia tengah menebak-nebak, bahwa Adinda di seberang telepon tengah termenung memikirkan anak pertama dari suaminya tersebut.
"Jeut, Bang. Doain lahiran nanti lancar." ucap Adinda kemudian.
"Ya, Dek. Periksa berkala, nurut nasehat dokter. Biar tak kejadian waktu lahiran kembar. Karena nyawa kau jadi taruhannya." sahut Haris sebelum dirinya mematikan sambungan teleponnya.
"Jangan berani minum lagi, Far. Inget mak kau galak di sana! Bisa cabik-cabik kau, kalau dia tau kau berani macam ini tanpa ijinnya. Jangan mainan perempuan dulu, Far. Yakinlah, perempuan bakal ngejar kau sendiri. Karena kau orang hebat, kau orang kuat. Dengar cerita mak sama bapak kau, tentang bapak kau yang dikejar mak kau dulu. Yang paham dari situ, bahwa perempuan pasti ngejar laki-laki yang memiliki kharisman sendiri. Sekalipun mak kau tak tau, siapa Adi Riyana dan punya apa dia." Haris sengaja menasehati Ghifar yang terlelap tersebut. Agar terekam jelas, di alam bawah sadarnya.
Kemudian Haris melonggarkan pakaian Ghifar, beserta melepas dua kancing kemeja atasnya. Lalu Haris mengecek beberapa urat besar Ghifar, agar ia mengetahui seberapa besar Ghifar dalam pengaruh alkohol.
Lalu Haris berinisiatif mengambil selimut, yang selalu dikenakan oleh ibunya dan kakaknya tatkala mereka tengah menginap di rumahnya dulu.
"Kalau papah kau tak tiba-tiba muncul di kota ini. Mungkin peran utama di cerita ini tuh Abi. Janda anak satu, nikah sama duda anak dua. Terus punya tambahan anak tujuh lagi. Hmmm, senangnya dalam hati. Punya cucu nanti dua puluh tujuh, cicitnya 79 orang. Udah deh, jadi kita keluarga besar." Haris yang masih bermonolog sendiri.
Ia tak mengetahui, ada seseorang di belakangnya yang tengah berkacak pinggang. Terlihat wanita tersebut amat kesal, mendengar penuturan Haris barusan.
"Iyya siya menasakku mattonra jaritokki lete dimanipii. Bukan harapan Dinda!" ucap Alvi, yang membuat Haris amat terkejut, sampai dirinya bergeser dari posisinya. Lalu ia dengan segera, memutar tubuhnya untuk melihat seseorang yang membuatnya terkejut tersebut.
__ADS_1
"Ininnawa sabbara-E, lolongeng gare deceng tau sabbara-E." lanjut Alvi, dengan menyentuh dadanya dengan raut wajah sedihnya. Lalu ia menggeleng cepat, kemudian berbalik dan kembali menuju kamarnya.
Haris mengusap-usap dadanya, karena rasa terkejutnya yang belum mereda.
"Fix, ini bahasa paling susah. Udah berapa tahun ya aku nikah sama Alvi? Delapan belas, apa sembilan belas tahun? Masih aja tak fasih, ngomong pakek bahasa daerahnya." gerutunya seorang diri.
"KAU MASIH NGELAMUNIN DINDA DI SITU, BANG???!!! KAU MAU MASUK TAK? APA KAU AKU KUNCIKAN INI PINTUNYA???!!!" teriakan Alvi, yang kembali membuat Haris yang tengah menghitung tahun pernikahannya. Langsung buyar kembali, karena seruan Alvi yang begitu melengking.
"Masuk, Sayang. Ya, ini Abang lagi jalan." sahut Haris, dengan berjalan terburu-buru ke arah kamarnya.
......................
*Iyya siya menasakku mattonra jaritokki lete dimanipii : Harapanku ingin hidup semati denganmu
*Ininnawa sabbara-E, lolongeng gare deceng tau sabbara-E : Orang yang sabar, senantiasa mendapat kebajikan yang diidamkan
Kurang lebih seperti itu yah, sekian dan terima kasih translatenya 🙏😅
Maaf kalau ada salah-salah penulisan, karena Author bukan asli daerah yang dimaksud. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Telat up, dikarenakan baru ada kuota 🤭