
Adi tengah menikmati teh tubruknya, dengan Giska memandangnya penuh harap. Juga Zuhdi yang melihat Adi dan Giska bergantian. Terlihat dari ekspresinya, Zuhdi tengah bingung dengan ucapan Giska barusan.
"Pah..." Giska merengek, dengan duduk di pangkuan ayahnya.
Zuhdi melebarkan matanya tak percaya, melihat kekasihnya masih duduk di pangkuan ayahnya.
Zuhdi duduk di kursi sebelah, dengan memperhatikan jalanan di luar pagar. Yang terlihat sepi dan senyap.
"Sana duduk di pangkuan Adi, biar tau dia linunya." ucap Adi, yang kesal pada tingkah anaknya.
"Tak mau." sahut Giska dengan merangkul leher ayahnya.
"Tarik itu kursi yang itu, terus kau duduk di sana." pinta Adi, dengan menunjuk sebuah kursi plastik berwarna hijau yang berada di sisi tiang beton rumahnya.
Giska menuruti perintah ayahnya, kemudian ia duduk di depan meja teras tersebut. Ia bersedekap tangan, dengan melirik kedua laki-laki yang ada di hatinya tersebut.
"Udah kangen-kangenanya?" tanya Adi, dengan memperhatikan penampilan anak gadisnya.
"Belum. Tak Papah, mamah yang lewat. Tak mamah, Gibran sama Gavin yang pulang pergi bawa iqro-nya. Boro-boro aku dapat cium." jawab Zuhdi, dengan masih memandang jalanan.
Giska terkekeh kecil, dengan memberi tendangan mautnya pada tulang kering pujaannya.
"Ente isi pa ana, ana isi pe ente." Giska bersenandung dengan wajah mengejeknya.
"Abangnya banyak loh, Di." ujar Adi yang membuat Zuhdi terkekeh seorang diri.
"Gurau, Pah. Udah dapat tadi ciumnya." tutur Zuhdi, yang membuat Giska langsung menarik rambut dagu Zuhdi.
"Mandi junub kau nanti." sorot mata Adi terlihat begitu tajam, membuat Giska dan Zuhdi mantap mengangguk.
"Ehh, tunggu dulu. Aku tak zina, ngapain junub?" tanya Giska, dengan pandangan mendongak seperti ada lampu di atas kepalanya.
"Cium yang bukan muhrim, dihitungnya zina." jawab Adi menatap malas anaknya.
"Sama aja, makanya bulan depan aja nikahnya." ujar Zuhdi, membuat Adi seperti orang bodoh.
__ADS_1
"Memang ka siap?" tutur Adi, dengan menyandarkan punggungnya.
"Hasil kerja kemarin, dibelikan isi kamar. Abu udah pesen sama cek Hasan, meubel dari jati." tukas Zuhdi kemudian.
"Tuhhhh... Kan aku bilang, beli yang udah jadi aja. Aku mau itu loh, Bang. Yang ranjang kek macam selebgram punya itu, yang macam jaman kerajaan." ungkap Giska dengan menajamkan bibirnya.
"Mahal, itu aja Abang cuma sembilan juta. Kurangnya abu yang nambahin." ucap Zuhdi, yang merasa tak suka dengan sikap Giska.
"Ini kau di M*dan kemarin, berapa bulan sih?" sahut Adi, dengan bersedekap tangan dan menoleh ke arah Zuhdi. Adi merasa angin malam ini begitu menembus pakaiannya.
"Kemarin 3 bulan, terus pulang. Ini aku kan udah 3 hari di sini, besok berangkat lagi ke M*dan. Yang pertama kan ke L*okseumawe, terus ke B*nda." balas Zuhdi yang moodnya bertambah buruk, karena Giska masih mengerucutkan bibirnya saja. Zuhdi sudah berusaha untuk memenuhi tuntutan mereka. Tetapi dengan demikian, ia merasa hanya berjuang seorang diri. Giska tak bisa membantunya berjuang, atau hanya sekedar menyemangatinya saja. Setidaknya, jangan menuntut lebih dari yang dirinya mampu berikan.
"Udah hampir 2 tahun loh, Bang. Tinggal satu tahun lagi." ujar Giska, yang membuat Zuhdi bangkit dari duduknya kemudian membuang pandangannya.
"Abang udah useha loh, Dek. Kau kira Abang selama ini nyantai-nyantai aja? Balik merantau paling lebaran aja. Seminggu nganggur, Abang udah berangkat merantau lagi. Kalau tak karena ngejar target, malas betul Abang merantau. Mandi tak basah, tidur tak nyenyak. Badan rasanya kek remuk semua, tiap hari ambil lembur biar balik bawa uang banyak." ungkap Zuhdi sedikit meninggi, hingga Giska dan Adi sedikit terhenyak dari posisinya.
"Udah, kita break aja dulu. Kau tetap tunangan Abang, kau tetap Abang nikahin, tapi Abang tak mau ada gangguan dari kau. Abang mau fokus, Abang tak mau kau chat terus." lanjut Zuhdi. Giska berpikir, apakah ini yang membuat mata kirinya berkedut sedari tadi.
"Nitip Giska, Pah. Aku pamit." ujar Zuhdi, dengan berjalan ke arah Adi. Kemudian menundukkan punggungnya, untuk mencium tangan Adi.
"Tak usah nikahin aku sama dia. Aku ngerasa disepelekan. Balikin ini cincin ke orang tuanya." Giska menaruh cincin tunangannya di meja teras, kemudian ia mengusap air matanya dengan berjalan memasuki rumah.
Adi hanya bisa geleng-geleng kepala, ia tak habis pikir dengan masalah kecil yang membuat hubungan mereka merenggang hebat tersebut.
"Capek, abis perjalanan jauh. Ada aja masalah, bikin pening di kepala." gerutu Adi dengan melirik sekilas pada cincin anaknya, yang masih tergeletak di atas meja.
"Givan berantem sama istrinya, sampek bahasan tak habis-habisnya. Giska sama Zuhdi break. Belum lagi Icut yang lagi ngerengek modal. Pusingnya jadi orang tua yang menua." lanjut Adi dengan memijat pelipisnya.
"Abang..... Bang.... Bang Adi...." suara istrinya yang kian mendekat.
"Ini lagi. Haduh...." Adi menghela nafasnya untuk kesekian kalinya, kemudian menyandarkan punggungnya.
"Kenapa itu Giska ngeraung-raung? Dimarahin Abang kah?" tanya Adinda setelah dirinya bisa menemukan suaminya.
Adi melirik sekilas, pada wanita yang menunaikan ibadah haji bersamanya tersebut.
__ADS_1
"Tak. Diputusin sama Zuhdi." jawab Adi, yang mendapat reaksi berlebihan dari istrinya.
"Apa? Kok bisa? Abang terus diam aja?" mata kecil istrinya yang dipaksa terbuka lebar, dengan gerakan tangan Adinda yang langsung meremas lengan suaminya.
"Sini coba duduk." pinta Adi, dengan menunjuk kursi plastik berwarna hijau yang Giska duduki tadi.
Adinda menggeser kursi tersebut, agar ia bisa duduk berhadapan dengan suaminya.
Terlihat Adinda sangat gelisah, ia memainkan jemari tangannya sendiri. Dengan menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Anak Adek minta ranjang kisaran 30 jutaan. Adek kan tau, Zuhdi orangnya baperan. Langsung dia naik pitam, dibilangnya break aja dulu. Giska tetep tunangan dia, tetep bakal dinikahinya. Tapi Zuhdi tak mau Giska hubungi dia, dia tak mau ada gangguan dari Giska." ungkap Adi, dengan pandangan menerawang jauh. Adi lelah, ingin beristirahat. Namun, masalah yang datang tetap tak mengenal situasi dan kondisi sang empunya.
"Ranjangnya sendiri kan seharga 30 juta itu. Memang masih kurang aja kah? Memang nanti mau tidur misah-misah kah?" tutur Adinda, setelah menyicipi teh tubruk milik suaminya.
"Giska kan ranjang modern, dilapisi busa gitu kepala ranjangnya. Model-model elegan, kek di hotel. Yang dimaunya, ranjang bak jaman kerajaan. Yang selebgram pada pakek itu, entah apa materialnya, tapi macam ramai ukiran gitu nah Dek." tukas Adi, dengan Adinda manggut-manggut menyimak.
"Break bukan putus lah, Bang." ucap Adinda, kemudian menoleh ke arah pintu gerbang yang didorong seseorang.
Ternyata Ghavi, ia terlihat menjalankan motornya kembali untuk masuk ke dalam halaman rumah tersebut.
"Entahlah apa, kata Abang sih sama aja. Si Giska ngerasa disepelekan. Dia kata, aku tak mau nikah sama Zuhdi. Ditaruhnya cincin dia pakek itu." sahut Adi, dengan mengambil cincin milik Giska di meja teras.
Lalu ia memberikan cincin tersebut pada istrinya. Adinda memutar-mutar cincin milik Giska, ia ikut bimbingnya saja dengan permasalahan anaknya.
"Padahal pas awal, setengah mati pengen khitbah Giska. Udah kekhitbah, malah ngajak break. Abang pun sama, ngerasa disepelekan juga. Tapi Abang juga ngerasa tak enak hati sama Zuhdi. Dia udah ngusahain, Zuhdi juga tadi bilang kek mana dia di rantau orang. Tapi anak kitanya, yang tak paham bahwa Zuhdi lagi ngusahain segalanya." Adi menghela nafasnya sejenak.
Matanya bergulir pada anaknya, yang tengah membuka rolling door garasi.
"Giska nabung tak sih buat pernikahannya?" lanjut Adi kemudian.
"Nabung juga, udah aku ajarin. Terus jadi gimana nih, Bang? Kita ke rumah orang tuanya kah? Buat bilang bahwa Giska mundur dari pertunangan ini. Nanti sekalian, aku antar balik buku tabungan sama emas dari Zuhdi." perkataan Adinda, yang memberikan sensasi kaku di tengkuk leher Adi.
......................
*Ka : Sudah
__ADS_1
*Useha : Usaha