
"Nanti jangan sampek teriak, Far. Abang beberapa kali nyoblos, tak sampek bikin perempuan teriak." ungkap Givan lirih.
"Aku pun kemarin tak sampek bikin Giska teriak, berkat saran dari kau." tambah Zuhdi, yang memang berada di lingkaran mereka.
"Tapi Giska berisik, Di." Zuhdi merasa malu, atas teguran kakak sulung Giska tersebut.
"He'em, tak tau aku pun. Suaranya merdu kali, untungnya udah ada peredam." aku Zuhdi dengan terkekeh kecil.
"Nih, Far." Givan membisniskan sesuatu pada Ghifar.
Ghifar mengernyitkan dahinya, ia sedikit tidak paham jika diberi arahan seperti ini.
"Memang sakit kali kah? Sampek perempuan pada teriak. Terus masa lagi masukin, kepala kita sejajar? Aku kan penasaran kek mana proses masuknya, Bang." Ghifar memang begitu amatiran.
"Ya... Kau bayangkan aja. Ibarat kata itu daging, terus kau tusuk pakek benda tumpul. Pastilah sakit, Kakak ipar." jelas Zuhdi dengan menurunkan nada suaranya.
"Coba aja, kalau kau tak percaya sama saran Abang kau sendiri ini. Kau fokus tengok bawah, kau tak bakal tau kek mana kesakitannya wanita kau. Ekspresi itu ngumpulnya di wajah, bukan di itunya." Givan menepuk pundak adiknya.
"Tapi aku penasaran, Bang. Pengen tengok kek mana terbelahnya. Apa muat gitu kan? Kan kek garis aja." Ghifar mengutarakan rasa penasarannya.
"Ya terserah kau, Far. Kalau kau tak percaya sih." Givan bangkit, karena anaknya merengek tidak jelas.
"Biyungnya mana, Key?" Givan berjalan mengikuti tarikan anaknya.
"Heh, Di." Ghifar menggeser tempatnya, untuk lebih dekat dengan Zuhdi.
"Hm, apa?" tanya Zuhdi kemudian.
"Giska betul perawan kah?" Zuhdi sampai menaikan alisnya, para kakak iparnya memiliki rasa penasaran yang sama. Ini adalah kali keduanya pertanyaan yang sama, yang ia dapatkan dari saudara Giska.
"Perawan lah. Ada-ada aja kau nanya!" Zuhdi sedikit ketus menjawabnya.
"Kau kan amatiran nih, Di. Tak gugup kah?" Ghifar hanya menggali informasi, karena dirinya pun akan melakukannya bersama Kinasya.
__ADS_1
"Gugup juga. Tapi aku kan lama pacaran sama Giska, jadi mesum kek gitu udah jadi khayalan nakal aku dari dulu. Pas praktek di kamar, ya aku semangat betul lah. Pertama kali kan megang-megang, ciumin dia secara bebas. Giska itu diam-diam agresif, kalau sepi orang. Dulu pacaran aja suka nyiumin." Giska seperti dirinya menurut Ghifar. Dirinya pun merasa ia seperti itu, jika tengah tidak ada orang.
"Tapi kau tunda-tunda terus kan malam pertama kalian?" tanya Ghifar kembali.
"He'em, liat keadaan aja. Waktu itu kan Giska kena tangkap polisi, terus aku masih lemes juga. Terus ada juga Giskanya capek, jadi diundur lagi. Aku tak tega, kalau Giskanya udah tidur duluan. Terus aku gangguin." aku Zuhdi kemudian.
"Nih, Yang. Aku mau skincare-an dulu." Kinasya memberikan es yang Ghifar inginkan. Lalu dirinya berlalu pergi ke kamar yang penuh hiasan.
"Tak bisa ya abang adekan? Lebih tua dia sih ya?" Ghifar langsung mengangguk mengiyakan.
Ia terbiasa memanggil Kinasya dengan sebutan kakak. Jika panggilan sayang mereka seperti pada umumnya di daerahnya, Ghifar begitu merasa canggung. Karena Kinasya lebih tua darinya.
"Ayo, Di." Haris sudah rapih dengan celana jeansnya.
"Mau ngajakin ke mana?" Adinda yang muncul dan menghampiri Haris.
Haris berjalan melewati Ghifar dan Zuhdi, yang duduk di dekat pintu. Ia berdiri di depan teras, sembari menoleh memperhatikan Adinda yang menghampirinya.
Lalu Adinda menoleh ke arah suaminya yang berjalan menuju ke arah mereka. Adi begitu berwibawa dan gagah di usianya sekarang. Kentara sekali bahwa Adi begitu terawat dan terurus.
"Abang mau ke mana?" Adinda merengek menanyakan hal itu.
"Ke luar ya, bentar kok." ini adalah pertama kalinya Adi meminta izin untuk pergi nongkrong setelah sekian lama.
"Aku tak diajak?" ia menarik ujung kemeja suaminya.
"Tak, malem deh sama Adek. Kita makan di luar ya?" semata-mata itu adalah suap, agar Adi mendapat izin dari istrinya.
"Bawa anak-anak tuh, Bang." Adinda tak ingin suaminya macam-macam.
Adi mengangguk, "Iya, sama Ghavi. Jefri juga ikut." ia hanya berencana untuk makan durian di tempatnya, bersama dengan teman-temannya. Ia mengajak Ghavi pun, karena tahu anaknya begitu lahap memakan durian. Ia sampai tak mengajak istrinya, karena Adi tahu bahwa istrinya memiliki pantangan untuk memakan durian karena penyakitnya.
Sejak muda, Adinda memiliki masalah dengan saluran berkemihnya. Sakitnya bisa kambuh, jika ia memakan daging kambing, durian, makanan yang terlampau pedas, atau lada yang terlalu banyak. Adinda pun diminta rutin meminum air putih, ia hanya mendapat sedikit jatah untuk minum air yang berwarna.
__ADS_1
Jika Adinda mengetahui, bahwa suaminya menikmati durian dengan teman-temannya. Adinda akan mengatakan, bahwa suaminya hanya ingin senang-senang sendiri dengan makanan yang dipantang untuknya. Adi merasa serba salah, tetapi ia merasa tidak enak dengan teman-temannya yang sudah mengajaknya.
"Ya udah deh, ati-ati." akhirnya izin diturunkan dari Adinda.
"Ok, gih istirahat. Biarin suruh Zuhdi sama Ghifar aja, buat beresin ruang tamu sama halaman." Adi mengalihkan pandangannya pada Ghifar dan Zuhdi.
"Ehh, aku mau lurusin pinggang dulu. Kau aja yang beres-beres Adik ipar." Ghifar bangkit, ia segera melarikan diri ke kamar pengantinnya.
"Hmmmm..." Zuhdi geleng-geleng kepala, melihat Ghifar yang tak ingin diminati bantuan oleh ayahnya tersebut.
"Ya udah, Pah. Biar aku nanti sama Givan atau yang lain. Givan lagi ngelonin Key dulu tadi sih." lanjut Zuhdi menoleh ke arah ayah mertuanya.
"Ya udah. Nitip perempuan yang ada di rumah." ujar Adi, kemudian dirinya berlalu pergi ke dalam mobilnya.
Tak lama, Ghavi muncul dengan terburu-buru masuk ke mobil ayahnya. Mobil itu perlahan pergi meninggalkan halaman rumah itu.
"Larang Gavin sama Gibran kalau mau pada main, Di. Mamah mau istirahat dulu." Zuhdi mengangguk, mendapat pesan dari ibu mertuanya tersebut. Ia pun sudah mendengar seruan Adinda untuk anak-anak yang kecilnya, agar tak pergi untuk main.
Tak lama, Givan muncul dengan segelas susu seduhnya.
"Giska mana?" basa-basi Givan, karena hanya melihat Zuhdi seorang diri.
"Di atas tadi sih. Sama Ghava, sama istrinya. Cuti kuliah tuh, dia kek kurang kegiatan. Ada bisnis kecil apa gitu, sama istrinya Ghava." Zuhdi hanya membuka obrolan saja.
"Ohh.... Iya pernah denger. Katanya jual kerajinan apa gitu, Winda suka mainan lem tembak. Kek bros hijab, yang dari sovenir nikahan gitu nah." Givan pun mendengar tentang usaha Winda, agar tidak bergantung pada jatah dari mertuanya saja.
Zuhdi dan Givan asik dalam obrolan mereka. Sesekali pembahasan menyerempet pada profesi mereka, yang kini tidak memiliki job. Akhirnya mereka menganggur dalam waktu lama. Mereka sadar, mereka menjadi beban orang tuanya. Tapi, mereka tidak memahami langkah apa untuk mengubah perekonomian mereka.
......................
Ini aslinya udah tamat, sekian dan terima kasih. Sampai jumpa lagi 😁
Tapi, aku kasih ekstra part deh.. mana tau pada penasaran dengan Ghifar dan Kinasya yang lagi berduaan di dalam kamar 😆
__ADS_1