Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS57. Digembok


__ADS_3

"Kok bisa begitu? Padahal kan…" ucap Canda, seperti mengingat sesuatu.


"Kan banyak orang di rumah. Rokok aja nyetok sampek 10 slop, kadang kurang, mak belikan lagi satu atau dua slop. Kalau kurang lagi, kita suruh beli sendiri. Baru rokok aja, belum beras. Untungnya beras dari sawah sendiri, jadi tak usah beli. Masak nasi tuh dua kali, pagi buat sarapan satu kilo setengah, sama nanti jam duaan, lepas orang-orang selesai makan siang. Satu kilo setengah lagi masak nasinya, itu pun kadang ada yang belum makan tapi udah abis. Masak tuh sampek dua kali, kadang yang tak kebagian lauk ya ceplok telor. Makanya mak di sana cuma ngurusin makanan aja, kadang minta libur masak. Karena ya itu, banyak anak, banyak bahan makanan yang harus di masak. Capek tenaga, meski cuma buat masak-masak aja. Kalau udah menunya kangkung, tetangga sampek ikut motongin. Kalau menunya ayam kampung, sampek tujuh atau sepuluh ayam yang kita potong. Lebaran aja, udah macam hajatan. Tetangga pada bantuin masak, saudara kumpul semua bantuin masak. Karena kumpul keluarganya di rumah mak, soalnya rumah abusyik lama kosong. Tak ada yang mau nempatin." ungkap Ghifar bercerita, membuat Canda geleng-geleng kepala.


"Udah kaya dipesantren ya? Itu belum cucian piring, pakaian kotor juga ya?" sahut Canda, setelah menyimak cerita Ghifar.


"Kalau nyuci biasanya bapak aku, dia abis subuh udah sibuk sama mesin cuci. Mesin cuci pun sampek punya dua, dua-duanya beroperasi semua. Kalau piring kotor, kita punya kewajiban abis makan langsung cuci piring. Sisa masak, biasanya sama asisten rumah tangga paruh waktu. Lipet baju, nyetrika, terus kerjaan yang lain, biasanya asisten rumah tangga yang ngerjain. Tapi kalau bapak aku, tak mau cuci piring. Bekas adik-adik yang kecil juga, kadang sampek numpuk. Nanti baru mak nyuruh kak Icut apa Giska buat cuci piring. Kalau Gibran ngompol di celana, kadang minta Giska atau kak Icut buat ngepel." balas Ghifar kemudian.


"Ternyata gitu ya keluarga besar? Pasti rumah gak pernah sepi?" ujar Canda dengan memperhatikan Ghifar yang tengah bercerita tersebut.


"Aku misah, udah tiga tahun aku tinggal di rumah panggung. Tapi kalau makan, sarapan, aku pulang juga ke rumah. Soalnya mak tak mau kasih aku jatah, buat makan sendiri. Yang ramai lantai atas, kadang ada kawan-kawan pada main di kamar juga. Kalau yang kecil lagi pada tidur, dimarahin kalau ribut aja. Jadi kita udah tau, jam-jamnya mereka tidur." tutur Ghifar yang kembali memperhatikan arah jalanan mobil tersebut.


"Oh begitu…. Ih, gak kebayang. Berapa puluh juta habisnya, kalau belanja bulanan." tukas Canda dengan geleng-geleng kepala.


"banyak, itu udah termasuk sembako, sama kebutuhan lainnya." timpal Ghifar lalu menunjukkan rumah milik ibunya, pada sang supir taksi online tersebut.


"Ayo, Pak. Bantuin saya." ucap Ghifar ramah, dengan mengeluarkan belanjaan mereka.


Supir taksi online tersebut keluar dari kendaraannya, lalu membantu Ghifar memindahkan barang belanjaannya.


Canda tersenyum bahagia, saat melihat Ghifar memberikan selembar uang berwarna hijau untuk tips supir taksi online tersebut. Canda berpura-pura tak melihatnya, saat Ghifar memutar pandangannya ke arahnya. Ia tak mau, Ghifar mengetahui bahwa sedari tadi ia memperhatikan laki-laki tersebut.


"Nih, sini pisahin barang-barang kau punya." ujar Ghifar, dengan menghampiri Canda yang masih berdiri di teras rumah.


Canda mengangguk, kemudian langsung memasuki rumah minimalis model lama tersebut.

__ADS_1


Canda memperhatikan rumah minimalis, dengan barang-barang yang terawat juga bersih tersebut. Ia meyakini bahwa Ghifar terlahir dari keluarga kaya, dari apa yang ia lihat saat dirinya berkunjung ke rumah ibu Meutia. Tetapi dari sikap Ghifar, juga sepengamatannya. Ghifar tak menunjukkan bahwa dirinya, memang seorang yang kaya raya.


"Mas… Mas lagi ngapain?" panggil Canda dengan mulai membongkar belanjaan mereka.


"Kencing." jawab Ghifar sedikit berseru. Canda cekikikan sendiri, mendapat jawaban Ghifar barusan.


'Kenapa gak kencing di swalayan tadi?' gumamnya dalam hati.


Ghifar muncul dengan air mineral kemasan gelas, sebanyak tiga buah.


"Cuma ada ini. Kalau mau bikin makanan, sana bikin sendiri. Gasnya baru dibeliin abi, pas minggu-minggu kemarin pada melekan di sini." ucap Ghifar, dengan menusuk penutup gelas air mineral tersebut.


"Ada berapa kamar, Mas?" tanya Canda, dengan memperhatikan salah satu pintu ruangan yang tertutup.


Canda hanya mengangguk, kemudian langsung membantu Ghifar memilah belanjaan milik mereka berdua.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Canda memainkan ponselnya, untuk menghubungi teman satu tempat kosnya.


"Mas… Mas…" panggil Canda, pada Ghifar yang tengah merokok di teras rumah.


"Hmmm, apa?" sahut Ghifar dengan menoleh ke arah Canda, yang tengah duduk di sofa yang paling dekat dengan pintu rumah.


"Tempat kos aku udah tutup, udah digembok. Gimana dong, Mas?" tanya Canda dengan raut wajah cemas.


"Kok bisa digembok? Memang kau tak punya kuncinya?" jawab Ghifar yang malah melemparkan pertanyaan kembali.

__ADS_1


"Maksudnya… gerbangnya udah digembok. Kan aturan di sana, kunjungan atau pulang larut cuma sampai jam sepuluh malam aja. Aku malam ini tidur di mana, Mas?" jelas Canda kemudian.


Ghifar berjalan menghampiri Canda, "Kenapa kau tak balik dari tadi, kalau tau kosan kau cuma sampek jam sepuluh aja?" ujar Ghifar dengan raut wajah kesalnya, nada bicaranya pun sudah naik satu oktaf. Tak selembut, juga sehalus tadi.


"Aku gak tau, kalau sekarang udah larut. Tadi enak bantuin Mas beres-beres dapur aja." tutur Canda dengan memainkan jemarinya.


"Jadi kau tidur di sini kek gitu? Aku tak mau ikutan macam cerita mak bapak aku, yang berduaan di rumah terus digrebek, langsung dikawinkan. Kau nginep kek di rumah siapa, atau siapa?" tukas Ghifar dengan berjalan mondar-mandir di depan Canda.


Canda menghela nafasnya, "Aku gak punya teman, selain tetangga kontrakan. Teman kuliah aku, yang kemarin ajakin aku ke club. Udah aku jauhin, udah gak akrab lagi. Mas juga tau, kalau aku ini dari pesantren. Ya, aku gak punya temen lain Mas. Selain orang-orang yang ada di pesantren itu." terang Canda dengan wajah memelasnya.


"Ya udah, ya udah! Sana masuk kamar! Terus kunci pintu kamarnya! Jangan dibuka, kalau aku coba buka paksa pintunya!" pinta Ghifar dengan menunjuk kamar satu-satunya di rumah itu.


"Terus… nanti Mas tidur di mana? Kenapa Mas buka paksa pintunya? Kalau ketok-ketok pelan aja, pasti aku bukain?" tanya Canda yang membuat rahang Ghifar terjatuh.


"Aku PERJAKA! Kau jangan mancing-mancing!"


"Dengan kau ngomong kek gitu, kau seolah menghidangkan diri kau sendiri. Ucapan kau seolah mengatakan… dari pada diper*osa, lebih baik minta secara terang-terangan."


Ungkap Ghifar, dengan beberapa kali menjeda ucapannya. Matanya mengunci pandangan mata Canda, dengan telunjuk yang mengacung tepat di depan wajah Canda. Emosinya meluap, tetapi suaranya ia tekan agar tak menjadi perhatin para tetangga.


......................


Mohon dukungannya ya, Kak 😁


vote, like, hadiah, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, tap favorit ❤️ dan komentar terbaiknya juga 🙏

__ADS_1


__ADS_2