
"Kalau ayahnya anak kau dari kalangan biasa, mungkin dia ngerasa segan juga kek Zuhdi. Jangan-jangan, ayahnya anak kau keturunan yang derajatnya tinggi juga." celetuk Givan, saat dirinya selesai bercerita.
Icut bungkam, ia pun tak berani mengangguk atau menggeleng.
Givan membuang nafasnya kasar, "Ya udah, tak usah dibahas. Jangan punya sifat jelek lagi, Ok? Nanti kau nyesel, kek Abang. Jangan berpikir kau anak Maya atau anak Dinda lagi, mamah sayang kali sama kau. Cuma sedikit yang Abang tau tentang ibu kandung kau. Dia yang milih pergi ninggalin kau juga papah, sebagai gantinya, dia nuntut uang sebesar 4 miliyar. Abang tau, malah nganter ibu kau ke stasiun kereta, karena waktu itu Abang sekalian pergi ke dokter gigi. Saat itu kau tengah sakit, sakit kau tambah parah, terus kau dibawa ke rumah sakit sama mamah papah. Tapi yang balik lagi cuma mamah, karena mamah punya bayi kembar yang masih ASI. Papah lama tak balik, nemenin kau di rumah sakit. Pas papah balik bareng sama kau, permasalahan muncul lagi. Dengar-dengar sih, katanya omah mau nuntut ibu kau, tapi mamah tak mau. Mamah udah habis banyak uang, mana waktu itu mamah mau nikah sama papah. Mamah hari itu juga nerima kau dengan lapang dada, mamah kasian sama Icut kecil yang kurus kering dan pertumbuhannya telat betul. Satu tahun, kau baru bisa duduk tanpa pergerakan. Mamah yang telatenin kau pijat, terapi, biar kau bisa jalan. Karena umur tiga tahun, kau masih bisa rambatan aja. Cuma kau anak yang begitu nguras kesabaran mamah. Tapi mamah tak pernah ngeluh, karena buah kesabarannya secantik dan sepenurut gini ke orang tua." ungkap Givan, di akhir kalimat Icut memandang wajah kakaknya yang tersenyum manis.
"Aku bakal nurut terus ke orang tua." Icut memeluk tubuh kakaknya begitu erat, dengan rasa harunya akan ibu sambungnya.
"Harus, Dek. Tak ada lain yang bikin orang tua seneng, selain kita yang patuh sama mereka. Karena apa coba yang bisa kita balas? Kasih sayang mereka, pengorbanan mereka, waktu mereka, bahkan seberapa banyak uang pun tak mampu gantiin itu semua. Kau berat kan, tengah malam Hame bangun, nangis minta nyusu. Mamah pun sama, apa lagi kau susu formula terus. Yang mau tak mau, mamah harus bangun untuk ngebuatin kau susu." sahut Givan dengan mengusap-usap punggung Icut.
"Jangan pernah berpikir jelek ke mamah, ke papah. Mereka udah coba ngasih yang terbaik buat kita." lanjut Givan kemudian.
"Ya, Bang. Aku tak lagi-lagi kek gini." jawaban Icut, membuat senyum bahagia Givan terukir.
Setidaknya, ia telah berusaha membuat Icut memahami semuanya. Ia menyayangi Icut, ia tak mau adiknya mendapat nasib buruk sepertinya.
"Istirahat gih, nanti malam Hame ngerengek minta ASI." pinta Givan, dengan melepaskan pelukannya.
"Ya, Bang." sahut Icut, dengan menaikkan kedua kakinya untuk masuk ke dalam selimut.
Givan tersenyum samar, lalu ia berlalu menuju pintu kamar tersebut. Givan mengayunkan langkah kakinya, untuk mencari keberadaan istrinya.
"Andin udah selesai rupanya, udah pada ilang betina." ucap Givan, saat dirinya sampai di ruang keluarga.
"Canda Malam Kumencari... Di manakah dirimu?" panggil Givan, dengan menarik gagang pintu kamarnya.
Terlihat Canda tengah mengoleskan sesuatu di kulit wajahnya. Kemudian ia menyunggingkan senyum di cermin riasnya, karena melihat pantulan tubuh suaminya.
"Skincare-an, sampek nyamuk pun kepleset nempel di kulit kau." ucap Givan, yang masih berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Giliran disosor suaminya. Jangan cium-cium aku, Mas. Skincare aku mahal, pada hilang kena bibir Mas." lanjut Givan dengan menirukan suara centil Canda.
Canda terbahak-bahak, lalu memutar arah tubuhnya.
"Apa, Bos?" tanya Canda kemudian.
"Bikinin kopi, Dek. Yang gelasnya dibalik bisa tak? Kopi bubuk hasil ladang tuh, bisa tak kau buat?" pinta Givan dengan melangkah masuk, lalu mengambil sarungnya yang terlipat rapih di atas tempat tidur.
"Tak bisa aku, Mas. Lagian Mas tak boleh minum minuman yang ngandung caffein, Mas juga tak boleh begadang." sahut Canda, dengan menempatkan telunjuknya di dagunya dan pandangan yang menerawang.
"Ya udah, susu kambing sachet aja. Yang satu renceng 75 ribu itu nah." balas Givan yang membuat Canda berpikir kembali.
"Itu aku punya, kan buat program aku. Biar punya big *****." ujar Canda, saat Givan tengah mengalungkan sarungnya.
Helaan nafas gusarnya terdengar sampai ke telinga Canda. Membuat Canda merasa, bahwa sebentar lagi sang penguasa ranjang akan mengamuknya.
Givan memutar kepalanya, melihat badan Canda yang dua kali lipat dari ukuran sebelumnya.
"Masih aja punya target besarin *****. Segitu udah bagusnya juga. Ka lage... Ukulele." ucap Givan seorang diri, kemudian menyuarakan tawa gelinya.
Besar kecilnya berat badan, tak menjadi patokan untuk Givan. Istrinya dengan berat badan yang terbilang gemuk pun, tetapi memiliki bentuk yang sempurna. Namun, sayangnya Canda memiliki tinggi badan yang tidak seberapa. Membuat adik ipar yang paling kecil, menyematkan sebutan duck saat dirinya tengah berjalan. Dada yang terlihat membusung, dengan part belakang yang begitu menonjol, membuat anak kecil tersebut teringat akan bentuk kartun donald bebek.
Setelah mendapat seduhan susu hangat, Givan berjalan menuju ke tempat teman-temannya berkumpul.
Givan berbaur dengan mereka, dengan sesekali menyeruput susu seduh yang ia bawa. Perubahan pada diri Givan amat sangat membuat teman-temannya tak percaya.
Givan pun memiliki cover baru, dengan pipi yang sedikit berisi, dengan masa otot yang semakin membentuk amat sempurna.
~
__ADS_1
~
Satu minggu sudah, Icut tinggal di kediaman keluarganya. Ia sebenarnya ingin kembali ke rutinitas seperti biasa, tetapi ia masih bingung dengan anaknya.
"Pah... Mamah udah sembuh belum sih?" tanya Icut, dengan menaruh anaknya di pangkuan ayahnya.
Adi menghela nafasnya, kemudian menoleh ke arah Icut.
"Lagi nyantai juga, masih bae dititipin anak. Pegang sendiri coba, Cut. Megang Gibran aja Papah lagi males ini." ucap Adi sedikit ketus, pasalnya dirinya baru sampai di rumah setelah seharian penuh berada di ladang.
Icut memasang senyum kudanya, kemudian kembali mengangkat tubuh gempal Hamerra.
"Maaf-maaf, aku tak tau Papah capek." ujarnya kemudian.
"Kenapa nanya mamah sembuh belum?" tutur Adi, dengan nada suara yang kembali lembut.
"Aku mesti nyelesaiin skripsi aku, terus sidang, terus wisuda deh." tukasnya yang sebenarnya mengharapkan masa wisudanya semudah yang ia rencanakan.
"Terus nikah sama Ghava? Kek gitu?" tambah Adi yang membuat Icut menegang seketika.
"Aku sama Ghava tak ada hubungan lah, Pah. Papah ini!" elak Icut atas tuduhan ayahnya.
"Demi apa?" tegas Adi, yang membuat Icut menyelami kedekatannya dengan adiknya.
Ia mengedipkan matanya rapat, lalu menggeleng berulang kali.
"Demi Allah, Pah. Memang... Memang sebelumnya Ghava ada bilang, kita nikah aja. Soalnya kita tak....
......................
__ADS_1