
Ghifar tengah bersedekap tangan, sembari memperhatikan kamar yang sudah rapih tersebut.
"Apa ya? Perasaan bau minyak wangi Canda juga, udah tak kecium. Lagian… masa iya video call, bisa nyium bau minyak wangi juga?" ucapnya kemudian.
Ghifar merogoh ponselnya. Lalu perlahan ia menggerakkan ponselnya, dengan mengaktifkan kamera video.
Kemudian, ia duduk di tepian ranjang dan mengirim video tersebut pada Canda.
[Barang apa yang ketinggalan di kamar?] Tulis Ghifar dalam pesan chatnya.
Tak lama, bunyi notifikasi chat masuk terdengar bersahutan.
[Iket rambut, Mas. Hehehe…]
[Tadi aku cari-cari gak ada, jadi aku pakai yang ada di tas aku.]
[Tuh, iker rambutnya ada di rak TV. Yang warna oranye, mix warna putih itu.]
[Buang aja, Mas. Barangkali jijik.]
[Murah, cuma seribuan.]
Balas Canda yang membuat Ghifar langsung menoleh ke arah rak TV, yang terdapat di kamar tersebut.
Ghifar mengulurkan tangannya, untuk meraih benda kecil tersebut.
"Barangnya segini? Tapi nampak di mata mak long. Pantes aja langsung ngomong tinggal bareng siapa. Tak taunya, ada iket rambut sialan ini." ucapnya dengan mengajak bicara iket rambut yang ia genggam tersebut.
Ghifar menaruh asal, ikat rambut tersebut. Lalu ia bersiap-siap, karena sebentar lagi sudah waktunya Haris menjemputnya. Untuk berangkat menuju rumah sakit, tempat mereka bekerja.
Haris memaklumi Ghifar, yang masih membutuhkan peran dirinya. Apa lagi, untuk masalah pulang pergi bekerja. Tentu Ghifar belum tahu persis, tentang trayek angkot yang mengantarnya ke tempatnya bekerja.
~
Di tempat lain
__ADS_1
Pagi ini, Givan tengah mengerahkan seluruh kemampuannya. Untuk menggagahi wanita, yang meneriakinya berkali-kali tersebut.
"A, aku capek. Belum lagi sebentar lagi kita ada rapat." ucap Ai, yang melengos saat Givan mengajaknya beradu lidah.
"Biar Ina yang urus." sahut Givan, dengan membingkai wajah Ai yang terlihat semakin cubbi tersebut.
"Aa kan udah janji, gak bakal minta beginian lagi sebelum kita resmi." balas Ai, yang membuat Givan menghentakkan pinggulnya semakin kuat.
"Sakit, A. Aduh… A, Aa…" rintih Ai, dengan menahan dada bidang Givan.
"Berisik!!! Kau tak bisa diam kah?!! Biarkan aku nikmati, apa yang udah jadi milik aku." tegas Givan, dengan menancapkan intinya secara menyeluruh.
"Sakiiiiitttt, A…." ungkap Ai, dengan memandang wajah Givan.
"Cukup, A! Kita udahin aja hubungi kita. Aku gak mau terus-terusan nambah dosa, setiap kali Aa ingin. Aku perempuan baik-baik, A. Ai perempuan baik-baik yang Aa rusak, juga Aa anggap murahan. Kalau cinta, kalau sayang, Aa gak mungkin ingin, kalau Ai di akhirat nanti ditusuk dari ******** sampai tembus ubun-ubun. Cinta Aa cuma pelarian, dari pacar Aa sebelum Ai. Juga mungkin Aa bosan dari dia. Terus jadikan Ai mainan baru yang kapan pun Aa bosan, Aa bisa ninggalin Ai, kaya Aa ninggalin dia. Ai capek jadi budak se*s Aa, Ai capek mesti jadi kaya yang Aa mau, kaya yang keluarga Aa mau. Mesti berhijab lah, mesti berbaur lah." lanjut Ai dengan mendorong tubuh Givan, yang berada di atas tubuhnya tersebut.
Givan mengerutkan keningnya, lalu ia menyugar rambutnya ke belakang. Saat penyatuan mereka sudah terlepas, kemudian Ai segera bangkit dan memunguti pakaiannya.
"Segampang itu kau mutusin hubungan? Padahal… baru kali ini, aku ngajak perempuan buat nikah dari hati. Kita udah jauh, kau pun udah habis, kau udah tak virgin lagi. Terus kau masih mau kita putus? Kau pikir di luar sana ada yang mau nerima mereka yang udah tak perawan? Kau pikirkan itu lagi!!!" ungkap Givan, dengan meraih pakaiannya. Lalu ia berlalu menuju kamar mandi, yang berada di ruangan pribadinya di kantor miliknya tersebut.
Saat Givan keluar dari kamar mandi, dengan penampilan yang sudah terlihat segar. Ia sudah tak mendapati Ai di dalam ruangan pribadinya tersebut
"Ke mana itu perempuan?" Givan bermonolog sendiri, dengan menyemprotkan parfum miliknya ke bagian belakang telinganya.
Givan bergegas keluar dari ruangan pribadinya, untuk memulai rapat koordinasi dengan instansi terkait izin tempat usaha barunya. Hingga ia melupakan permasalahannya, dengan calon pengantinnya tersebut.
~
Setelah beberapa hari berlalu, kini Givan sudah berada di kantor miliknya lagi. Ia tengah menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. Lalu menaikkan kedua kakinya ke atas meja, untuk merilekskan otot kakinya.
Givan menghela nafasnya beberapa kali, kemudian melonggarkan dasi yang harus ia kenakan jika tengah rapat dengan para petinggi perusahaan lain. Ia merasa membuka usaha baru, cukup menguras tenaga dan pikirannya.
Hingga, secarik kertas yang terlipat rapih di atas mejanya. Cukup menarik perhatian sang pemilik perusahaan tersebut.
"Surat pengunduran diri?" suaranya terdengar heran saat membuka surat tersebut.
__ADS_1
"Ai Diah mengundurkan diri?" pandangan matanya terlihat panik, setelah mengetahui isi surat tersebut.
Givan langsung mengangkat gagang teleponnya, lalu ia menekan satu angka yang menghubungkan ke jaringan telepon asisten pribadinya.
"Ina… tolong siapkan penerbangan ke kota J, hari ini ya. Secepatnya!" pinta Givan, saat mendengar suara Ina.
Kemudian Givan segera menaruh kembali gagang telepon tersebut, lalu ia mencari barang-barang yang ia butuhkan untuk kepergiannya kali ini.
Ia dirundung kebingungan. Apa yang harus ia katakan pada ibunya, saat Ai memilih benar-benar meninggalkannya seperti ini.
Tangannya gemetaran, saat pikirannya mendadak kacau seperti ini. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan setelah semuanya terlanjur hilang seperti ini.
Ia menemukan berkas yang ia cari, lamaran pekerjaan Ai. Lalu ia membaca sekilas, alamat lengkap Ai yang tertera pada surat permohonan kerja tersebut.
Setelahnya, ia langsung mengambil surat tersebut. Lalu mengantonginya.
Dengan terburu-buru, ia keluar dari ruangan kebesarannya. Kemudian segera bergegas menuju bandara terdekat, untuk memproses tiket pesawat online yang sudah Ina kirimkan ke emailnya.
~
Beberapa jam kemudian, kini Givan sudah berada kediaman ibu Meutia. Icut menatap kehadiran kakaknya dengan bingung, karena sebelumnya belum ada kabar apapun tentang kedatangan kakaknya.
"Masuk, Bang. Mau dibuatkan teh manis kah?" sambutan kecil Icut, setelah mencium punggung tangan kakaknya.
"Udah tambah besar aja perut kau, Cut." sahut Givan dengan melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
Givan langsung menduduki sofa ruang tamu, dengan menyandarkan punggungnya dan mendongakkan kepalanya dengan pandangan kosong menatap plafon ruangan tersebut.
"Ya Bang, udah tujuh bulan. Bentar ya, Bang. Aku panggilkan omah dulu." balas Icut dengan melangkah ke ruangan lain.
Givan merogoh ponselnya, foto keluarga besarnya yang menjadi screen saver membuat senyum tipisnya mengembang. Hanya keluarganya, yang tak pernah meninggalkannya. Kata-kata itu yang terlintas di pikirannya.
"Lah, Van… tumben tak ngasih kabar dulu, kalau mau main ke sini. Biasanya ngabarin dulu, request makanan kesukaan kau dulu." ucap ibu Meutia, dengan tersenyum dan berjalan perlahan menuju ke arah cucunya.
"Yah, Omah. Aku buru-buru, soalnya….
__ADS_1
......................