
"Key anak aku. Aku mau besarin dia sama istri aku, Canda." Givan beralih untuk membingkai wajah istrinya.
Posisi Canda sedikit serong, untuk memenuhi tuntutan Givan.
Mata mereka bertemu, ibu jari tangan Givan berinisiatif untuk menghapus air mata yang terus mengalir itu.
"Mas minta maaf, Dek Canda. Mohon maaf atas segalanya. Tolong terima keadaan Mas, yang ternyata udah punya anak dengan perempuan lain. Mas pengen pertahankan pernikahan kita, besarin Key, besarin anak kita." ungkap Givan dari lubuk hatinya.
Lalu ia mengusap perut istrinya yang masih rata. Kembali mata mereka bertemu. Bersyukurnya Givan, karena Canda memberi anggukan mantap padanya.
"Janji sama aku, jangan pernah lagi Mas nuduh aku kek subuh tadi. Demi Allah, aku tak pernah main serong sama laki-laki lain." pinta Canda penuh haru. Tak ada yang lebih buruk menurutnya, dari pada dituduh selingkuh dengan adik ipar. Prasangka terburuk, yang pernah Givan lontarkan padanya.
"Mas janji, Dek." sanggup Givan.
Mereka berpelukan erat, mereka semua adalah saksi mata atas drama rumah tangga itu.
"Awwww.... Dididit." Mikheyla menangis kencang, dengan menunjuk telunjuknya yang berdarah.
Cepat-cepat Fira memeriksa luka anaknya. Kemudian jari anaknya ia masukkan ke mulut, untuk membersihkan darah itu.
Kembali ia memperhatikan luka gigit di jari anaknya sendiri. Luka kecil yang tak berarti menurutnya. Namun, membuat fokus mereka teralihkan.
"Kegigit, bukan dididit." jelas Fira dengan mengubah posisi anaknya. Ia berdiri dengan mendekap erat anaknya.
Tangis Mikheyla masih begitu nyaring terdengar. Anak yang jarang menangis, ketika sekali menangis langsung menggemparkan seluruh penjuru rumah.
__ADS_1
Fira membawa anak itu ke teras, mencoba menenangkan anaknya sendiri. Anak yang ia sayangi, meski ia membenci ayahnya yang melarikan diri dari tanggung jawab.
"Jadi... Gimana tentang Yoka sama Tika, Far?" Adi ingin segera mengurangi beban anaknya.
"Rencananya... Setelah bantu biaya nikah Ghava. Aku baru mikirin tentang kuliah Yoka. Soal Tika, aku pengen dia bertahan si rumah ini sampek persalinan." jawab Ghifar dengan menoleh pada kedua wanita itu.
"Terus... Maksudnya... Kau tak berniat nikahin salah satu di antara mereka?" pertanyaan Adi terjeda beberapa kali.
Ghifar menggeleng, "Nikah buat apa, Pah? Aku malah tersiksa nanti. Setelah mereka stabil, aku mau bagi bisnis travel aku sama mereka. Kalau Yoka selesai kuliah, kalau Tika udah bisa handle anaknya sendiri gitu. Kek mana Tik? Yok?" Ghifar mengajak Yoka dan Tika untuk berdiskusi kembali.
Tika menghela nafasnya, ia menatap perut buncitnya. Kemudian memberi usapan lembut di sana.
"Aku gak nyaman jadi minoritas di sini, Bli. Kak Yoka juga ada ngomong begitu. Kami lebih suka jadi mayoritas, ketimbang minoritas." dari awal pun, memang Tika lebih banyak Ghifar ajak ngobrol.
Yoka memiliki sifat pendiam, ia tak percaya diri dengan dirinya sendiri. Apa lagi, tubuh yang kurus kering, membuatnya enggan untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Karena ia pernah disangka mengidap penyakit parah yang menular.
"Aku tak suka kalian balik ke rumah. Anto usil, buat gituin kau, dia sampek kek maling. Pakek penutup wajah, ngerindik-rindik masuk rumah. Kalian nanti tinggalin rumah garasi aja. Bu Made, tinggal di situ juga buat ngurus rumah. Nanti aku pasang tembok beton, bikin jalan. Biar kalau mau ke luar rumah, bisa langsung tembus jalan, tanpa ngelewatin mobil yang berjejer itu. Biar kalian aman dari para supir juga. Soalnya... Kalau pagar biasa, itu bisa dinaikin. Kalau tembok beton tinggi, rasanya susah juga, kalau tak pakek tangga. Memang supir-supir aku bisa dipercaya, tapi yang namanya laki-laki. Apa lagi mereka yang dari perantauan, kan kita tak tau kek mana tuh." Yoka dan Tika mengangguk, saat mendapat keputusan dan arahan dari Ghifar.
"Terserah Bli aja." sahut Yoka kemudian.
"Aku mau secepatnya, Bli." tambah Tika kemudian.
"Kau takut anak kau diadzanin, lepas dia lahir kah?" rasanya Ghifar ingin mencomot mulut Kinasya saja. Kinasya tak mengetahui seberapa kuat agama mereka.
"Gak juga sih. Soalnya, kalau di sini gak ada pura. Aku di sana rutin ke pura. Gak enak juga, Papah tersinggung masalah mesaiban juga. Dikira aku bikin sesajen di depan rumah." ungkap Tika jujur. Ia langsung menunduk, saat menyeret nama Adi.
__ADS_1
"Adanya gereja, tapi agak jauh naik ke sana." tandas Ghavi menyahuti.
"Memang... Orang sini Islam semua?" tanya Tika kemudian.
"Di sini mayoritas Islam, syariat Islam berlaku di sini, hukum cambuk, berjalan di sini. Di mana-mana, minoritas itu pasti ada. Pengunjung bule, non Islam, banyak juga. Tapi kalau tempat beribadah mereka, aku kurang tau juga. Dari kecil sampek besar pun, aku baru jumpa gereja di dekat daerah sini, tapi memang agak naik. Maksudnya... Lurus lagi ke arah sana. Kalau tempat ibadah buat agama lain, aku kurang tau juga." ujar Ghavi dengan gerakan tangan, menunjuk ke arah jalan besar.
"Sejauh mata memandang, lebih banyak ladang kalau di daerah kita. Ini... RT satuz sampek RT tujuh. Ladang lagi, berapa puluh hektar. Baru nemu rumah warga lagi." timpal Ghava, yang diangguki mereka berdua.
"Keluarga kamu, penduduk asli sini Bli?" tanya Yoka, dengan mencolek lengan Ghifar sekilas.
Ghifar menggeleng, "Bukan asli sini. Nenek sama kakek buyut aku, asli dari pesisir, bukan asli dari daerah gunung. Penduduk asli dari Lh*kseumawe, merantau ke daerah tengah ini. Ya, Pah?" Ghifar melempar penjelasannya pada Adi.
Adi mengangguk mengiyakan, "Satu kampung ini tuh, dulunya satu kawan perantauan kakek nenek Papah dulu. Makanya... Bahasa sehari-harinya yang dipakek, bahasa A*eh, bukan bahasa G*yo." tambah Adi kemudian.
"Kok bisa nguasain ladang di daerah ini, Pah?" Kinasya ikut berbaur dengan obrolan mereka.
"Karena punya modal. Kalau bukan keturunan orang kaya, susah rasanya bisa jadi kek gini. Papah kau ini kan, kaya karena warisan dulunya." tawa renyah mereka berbaur. Suasana rileks dan damai menyelimuti mereka semua.
"Makanya Mamah Dinda sampek ngejer-ngejer." tukas Adi, membuat mereka semakin larut dalam tawa.
"Dulu sih Papah kalian tuh, cuma punya 14 hektare kalau tak salah. Awal-awal pengantin baru, ngeden betul mau nambah beberapa hektare aja. Ekonomi tuh kopat-kapet kalau tak pandai-pandai muter uang, bisa kejual keknya itu ladang. Baru naik sedikit, opah kalian kena kasus. Buka deposit lama, cair beberapa hari, kebagi ini itu lagi." ujar Adinda, dengan pandangan menerawang.
"Kebantu sama hasil ladang lama. Kan keluarga Papah itu, mereka perhitungan kek Papah gini. Perhitungan, bukan berarti pelit. Nah, mereka itu jatah Papah sebulan tanpa toleransi. Sekolah tak sekolah, libur panjang atau libur pitnes, tetep dikasih segitu. Sama biaya pendidikan itu terinci, SPP, lain-lain, LKS, buku paket gitu, dibayar per enam bulan sekali. Kakek Tandjung waktu itu yang selalu ngurus pendidikan Papah. Jadi tuh, deposit-deposit terdahulu, cair besar-besaran sejak punya istri. Bukan karena istri doyan duit, tapi punya istri itu resiko. Tak kebutuhan aja yang nambah. Kau ngerti, Va? Jadi... Abang kau bilang, kau mau meukawen ini. Kau udah siap kah? Siap dalam arti sebenarnya? Bukan masalah batin aja. Resikonya, kebutuhannya, agamanya, kau siap buat itu?" Obrolan kini mulai serius kembali.
Adi memerhatikan wajah anaknya, yang dikatakan ingin menikah itu.
__ADS_1
......................
Tuh dengerin gadis-gadis, bujang-bujang.. Nikah itu resikonya kompleks. Dengerin nasehat papah Adi ini.