Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS86. Obrolan mertua dan menantu


__ADS_3

"Ka lage pue?" tanya Adinda dengan wajah mengintimidasi.


Adi tersenyum kuda, "Hana, Dek. Mana uangnya?" jawab Adi dengan menengadahkan tangannya.


Adinda memberikan dua lembar uang berwarna hijau, kemudian ia segera mengantongi dompet sakunya.


Adi memperhatikan uang yang istrinya berikan. Tentunya Canda merasa malu, dengan drama kecil mertuanya tersebut.


"50 ribu, Dek. Kalau ini, kurang sepuluh ribu. Yang biru aja, ada tak?" ucap Adi, dengan memepetkan tubuhnya pada istrinya.


"Ada 100 ribu, tak ada 50 ribu." sahut Adinda dengan kembali mengulek bumbu masakannya.


"Ya, tak apa. Nanti kembali." balas Adi kemudian.


"Uang aku tinggal 140 ribu. Abang dari kemarin suruh ambil uang iya he'emnya aja. Giliran minta uang, ketimbang kurang 10 ribu aja heboh." ujar Adinda dengan sedikit menyerongkan posisinya, agar bisa melihat wajah suaminya.


Canda berinisiatif untuk membersihkan meja makan, karena ia merasa malu jika terus memperhatikan drama ibu dan ayah mertuanya tersebut.


Adi menghela nafasnya, "Adek boros kali! Sebelum berangkat Abang cairin berapa puluh juta, udah tinggal 140 ribu aja. Kek mana itu makeknya?" pertanyaan Adi, yang langsung membuat nafas Adinda memburu.


"Heh!!! Kau kira, selama kita numpang di rumah bang Haris. Kau makan gratis? Aku belanjakan di sana, aku penuhi konsumsi semua orang. Heran deh, pengen betul ngungkit-ngungkit uang yang udah jadi kotoran. Giska, Ghava, Ghavi, Givan, Gibran sama Icut, memang mereka jajan minta ke siapa? Mah seratus, mah 50 lagi. Gitu terus tiap mau keluar." jelas Adinda yang membuat Adi terhenyak keget, karena suara yang nyaring tersebut.


Adi hanya mengangguk pasrah, ia merasa salah ucap hingga membuat istrinya bersuara nyaring tersebut.

__ADS_1


"Canda aja yang masak. Adek ikut Abang dulu. Yuk… biar tak stress." ungkap Adi kemudian.


Adinda mengingat-ingat kembali, saat terakhir suaminya meminta jatah. Karena strategi suaminya kali ini, ia mencium bau keinginan yang menggebu. Kurang lebih satu minggu yang lalu, suaminya mendapat jatahnya.


Tapi kali ini Adinda ingin suaminya sedikit memohon, ia berinisiatif untuk jual mahal pada suaminya.


"Tak mau aku! Udah sana! Aku kesel sama Abang." ucap Adinda kemudian.


Adi menghela nafasnya, "Ya udah deh. Abang ke ladang dulu, bawa Gibran." sahut Adi dengan berlalu pergi.


Adinda memperhatikan punggung suaminya yang semakin menjauh. Ia ingin suaminya memohon, tetapi Adi malah benar menghiraukan penolakan Adinda.


"Jadi masak apa, Mah?" tanya Canda, dengan membawa beberapa tempat makanan yang sudah tak dipergunakan lagi di meja makan.


"Hmmm… chicken geprek aja. Ambilkan tepungnya, di tempat penyimpanan sana. Tanya Gavin yang ada di depan TV, kalau kau tak tau." jawab Adinda yang diangguki oleh Canda.


"Ini kan Mah?" ucap Canda dengan memberikan tepung serba guna tersebut, kepada ibu mertuanya.


Adinda mengangguk, "Ini biarkan, sengaja tak lembut. Pindahkan ke wadah, biar nanti tinggal siram di atas chicken yang udah digepreknya." sahut Adinda kemudian.


Canda langsung menunaikan perintah ibu mertuanya, "Mah… memang aku kurus banget ya?" pertanyaan Canda tiba-tiba.


Adinda menoleh, dengan tetap mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


"Tak juga, tapi badan kau tak berbentuk. Macam gak pernah olahraga gitu, jadi kek lurus aja. Giska keknya lebih kurus dari kau, tapi dia makanannya Mamah jaga. Jadi part belakangnya terbentuk, meski tak terlalu besar kek orang-orang di toktok. Olahraga juga Giska rutin, ya kadang seminggu dua atau tiga kali. Olahraganya juga tak semuanya dibabat habis, yang buat ngebentuk part belakang aja, sama senam jantung sehat. Karena Giska kan masih gadis, dada, perut, belum kendur. Jadi ya gitu… gerakan squat aja yang dia rutinin. Icut juga dulu sama, sebelum dia hamil ya rajin squat. Dadanya pada kecil-kecil, tapi part belakang pasti enak buat ngadem." jelas Adinda dengan Canda yang manggut-manggut menyimak.


"Aku pernah liat Mamah olahraga kemarin di sana." sahut Canda, dengan menunjuk ruangan yang menyimpan alat-alat olahraga.


Adinda mengarahkan pandangannya ke tempat yang Canda tunjuk, "Memang itu tempat olahraga, banyak alat di sana. Kau tuh, abis subuh sana olahraga. Kalau Giska sih tak tentu, soalnya doyan tidur. Jadi sendirian aja, atau nimbrung bareng Mamah. Biar nanti diajarin squat-nya. Kau kan punya suami nih. Jadi nanti ikut aja, kalau ada instruktur senam Mamah, kau ikut gabung aja. Dia ngasih gerakan yang memang ditunjukkan buat yang udah berumah tangga. Sebetulnya Mamah bisa sendiri, tapi tak enak kalau tak ada kawan. Jadi sengaja ngundang instruktur senam setiap minggunya, biar senamnya ada kawan." balas Adinda yang diangguki dengan semangat oleh Canda.


"Hobi Mamah olahraga ya?" ujar Canda yang digelengi Adinda.


"Hobinya rebahan juga. Tapi olahraga itu kebutuhan, biar ayah mertua kau tak nikah lagi. Dia… satu dua sama Givan, keknya. Papah kan pernah nikah lagi, si Icut itu kan bukan anak kandung Mamah. Icut anak dari istri keduanya Papah, Mamah cuma ibu sambungnya." tutur Adinda. Ia sengaja menceritakan hal itu, agar Canda giat berolahraga. Juga mengenal tentang keluarga dari suaminya tersebut.


Terlihat Canda begitu kaget, mendengar ucapan ibu mertuanya. Tentu, karena ia baru mengetahui fakta itu.


"Pantes Mamah marah banget, pas ada perempuan muda yang papah bawa masuk. Waktu di rumah omah itu." tukas Canda yang membuat Adinda terkekeh kecil.


"Mamah paling tak bisa, kalau liat laki-laki Mamah sama perempuan lain. Kasarnya… mending janda lagi ditinggal mati, dari pada ditinggal nikah lagi." ucap Adinda kemudian.


"Aku sebenernya belum siap buat nikah, Mah. Soalnya aku takut, buat bener-bener nyerahin diri aku ke suami. Ngabdi, patuh sih aku pasti bisa. Maksudnya… ngebayangin tidur bareng, terus ngelakuin gitu. Aku masih takut, apa lagi punya pengalaman kejadian kemarin itu." ungkap Canda, yang membuat Adinda berhenti sejenak dari aktivitasnya.


Lalu Adinda menoleh ke arah Canda, "Aslinya kau takut sama Givan, bukan takut sama ngelakuinnya. Mamah tau loh, seagresif apa kau sama Ghifar. Untungnya Ghifar punya iman, jadi sejauh apa pun Ghifar masih aman aja. Tak seburuk yang kau bayangin. Namanya juga pemerkosaan, pasti kasar dan menyakitkan. Kalau memang atas dasar sama-sama ingin, kau tak bakal kesakitan. Bukan ngomong jorok, hal kek gitu tuh buat perempuan kebutuhan juga. Banyak cerita di luar sana, perempuan selingkuh, karena suaminya udah tua, batinnya tak terpenuhi. Kek berita baru-baru ini. Yang istri bunuh suami, karena istrinya punya selingkuhan orang Afganistan itu. Kau belum tau enaknya, jadi bayangan rasa sakit itu masih terngiang-ngiang di pikiran kau. Trauma wajar, karena namanya juga diperkosa. Tapi pelan-pelan kau hilangin rasa takut itu, dengan cara kau nyerahin diri ke suami kau. Laki-laki waras, kalau perempuannya gak berontak, pasti lembut juga. Jangan takut ngelayanin suami, jangan ragu juga buat minta hal itu ke suami kau. Masalahnya untuk suami istri, hubungan kek gitu tuh harus dilakukan. Ya buat dapat keturunan, ya buat mempererat hubungan." jelas Adinda panjang lebar, membuat Canda teringat kembali saat Givan menarik pergelangan tangannya. Saat dirinya baru mengetahui, ternyata orang yang ia bangunkan bukanlah pujaan hatinya.


"Hah…. Mas Ghifar mana, Mas?" tanya Canda dengan wajah terkejutnya.


"Tak ada, adanya Mas Givan. Sini dulu…

__ADS_1


......................


Ini loh kilas balik, scene perampasan mahkota Canda.


__ADS_2