Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS196. Diskusi empat bersaudara 2


__ADS_3

"Ya makanya jangan deket-deket perempuan." Ghifar kembali berbaur dengan mereka semua. Saat melihat mata Mikheyla seperti orang mabuk.


"Jadi enak mana, Far? Fira, Tika atau Yoka?" pertanyaan Givan, membuat Ghifar menjadi bahan lelucon.


Ghifar hanya tersenyum simpul, kemudian menundukkan kepalanya. Ia tak berniat menjawab gurauan tersebut.


"Enak kakak ipar ya, Bang?" Ghavi selalu membuat Ghifar merasa tidak enak pada kakak sulungnya.


Tarikan bibir Givan hilang seketika, tetapi ia bisa menyamarkannya kembali.


"Tapi, sejak di sini. Kau tak pernah grasak-grusuk sama dua gadis Bali itu, Far? Kau udah tak selera kah?" lanjut Givan mengguraui adiknya. Ia berharap tidak terpancing cemburu, dengan gurauan Ghavi barusan.


"Zina, haram." tegas Ghifar dengan kekehannya.


"Di A*eh kau tau haram, Far. Di sana, kau babat habis mereka." tawa mereka semakin seru, atas tambahan kalimat dari Givan kembali.


"Serius nih, serius. Gurau aja. Jadi kek mana, Bang? Kau ridho tak aku langkahi? Atau ada barang yang kau pinta dari aku, biar aku bisa nikah lebih dulu." ucap Ghava, membuka obrolan serius mereka.


Ghifar terlihat tengah berpikir, lalu ia mengusap kembali keringatnya di pelipis kirinya.


"Buat bujuk kau gitu, Far. Di kota C banyak kek gitu. Kalau dilangkahi, si adik ngasih sesuatu buat kakaknya." jelas Givan kemudian.


Ghifar menoleh pada Givan dan Ghava secara bergantian, "Aku tak butuh apa-apa sebetulnya. Aku mampu sendiri belinya." ujarnya mengundang tawa mereka kembali.


"Serius aku, Bang. Aku jadi tak enak, pas tau kau belum nikah." Ghava bangkit dari posisi tidurnya, kemudian ia duduk tegak dan meraih kaosnya yang tergeletak.

__ADS_1


"Bener, Abang tak butuh barang apa-apa. Abang cuma pengen, udah kau stop bikin ulahnya. Bukan berarti Abang pengen lanjutin ulah Abang, maksa kau buat stop berulah tuh. Abang juga lagi nyari solusi dari masalah Abang, Abang udahin ulah Abang yang Abang kacauin kemarin-kemarin. Kalau Abang udah ada usaha baru juga, Yoka bakal balik buat urus pendidikannya yang cuti. Kalau Tika, mungkin Abang bakal tahan dia sampai habis masa nifas. Kalau sama mamahnya Key kan, memang Abang tak terikat. Dia pun cuma pengen namanya bersih aja, dalam artian, Key tetep sama Abang." Ghifar sedikit menceritakan tentang kisahnya. Agar adik-adiknya tidak merasa bahwa dirinya dilarang membuat ulah, sedangkan kakaknya sendiri malah lebih jago berulah.


"Abang pengen orang tua kita tak kabur-kaburan macam ini. Papah mamah pergi dari kita tuh, karena masalah yang kita bawa ini. Mereka capek jadi orang tua kita, gitu kata abi Haris. Gavin sama Gibran sunat tuh, itu bukan alasan mereka buat pergi. Itu buat alibi mereka aja, biar bisa keluar dari rumah ini." lanjut Ghifar, membuat mereka semua tertunduk merasa bersalah.


"Jadi gimana, Bang? Aku tak berulah, demi Allah. Aku bener-bener lurus, semoga kek gitu macam perkiraan aku. Aku tak pacaran, aku tak main perempuan. Aku sibukan diri di kerjaan, karena Abang paham kan? Umur-umuran sekita ini, lagi kenceng-kencengnya main perasaan sama perempuan. Aku tuh pengen mereka merasa berkah, udah punya anak macam aku." Ghavi merasa bukan dirinya yang menyebab orang tuanya pamit dari rumah.


"Tapi kau terlalu ngejar dunia, Vi. Waktu kau buat mereka tak ada, mereka butuh ngobrol, butuh perhatian, butuh bercanda sama anaknya." ungkap Givan mengarah pada Ghavi.


Ghavi terdiam, ia mengingat kapan dirinya terakhir sarapan bersama. Benar kata kakaknya, ia terlalu sibuk mengejar dunianya.


"Aku bakal perbaiki ini, Bang. Aku bakal atur waktu aku." janjinya yang diharapkan benar ia lakukan.


"Terus jalan keluar buat aku gimana, Bang? Apa aku harus tetap di sini?" Ghava khawatir pada dirinya sendiri, ia merasa paling bersalah pada orang tuanya.


Ia sadar, ia terlalu cuek pada orang tuanya. Ia menyapa mereka, tatkala dirinya butuh saja.


"Tapi balik lagi ke orang tua, kita tak boleh ngelangkahin mereka. Kita harus minta pendapat mereka juga, tentang kau ini Va." tandas Ghifar yang diangguki oleh semua pihak.


"Terus Giska?" tanya Ghavi kemudian.


"Ada benernya juga sih, tentang nikahin Giska sama bang Adi. Biar dia tak terus-terusan terpuruk kek gini." Ghifar mengungkapkan pendapatnya lagi.


"Kalau memang kek gitu, kita harus bawa bang Adi diskusi juga. Mana tau kan, dia udah tak niat buat nikahin Giska lagi?" ujar Ghava dengan melirik kakaknya.


"Terus buat ngilangin jejak, Giska harus dikemanakan? Kalau bang Adi punya harta banyak, tak apa bawa kabur Giska juga. Masalahnya dia kerja kasaran, dia tak mungkin hidupin Giska kalau dia melarikan diri dari pekerjaannya." mereka semua menoleh pada Ghavi, ucapan Ghavi ada benarnya juga.

__ADS_1


"Kita harus cerita ke mamah, tentang Giska tersangkut kasus narkotika ini. Waktu masalah Abang aja, mamah bisa bersihinnya." ujar Givan kemudian.


"Heh, Bang. Masalahnya kau pemakai, bukan pengedar, ini lain porsinya. Pemakai disebut korban, sedangkan pengedar, bandar juga disebutnya pelaku." tutur Ghifar yang membuat pikiran mereka merumit. Fakta yang Ghifar berikan, menyudutkan Giska secara garis besar.


"Kita harus minta bantuan, ke orang yang ngerti tentang masalah ini. Setidaknya, asal nama Giska aman aja. Masalah tercoreng taknya, biar nanti kita atur media. Yang penting kan, Giska jangan sampek terseret, kalau suatu saat ada yang buka suara tentang Giska ini sebelumnya memang pengedar. Malah, baru tadi dia transaksi. Mana tau, memang udah lagi pengintaian kan bahaya nih. Kita belum ada persiapan apa-apa." Givan masih berusaha, karena dirinya merasa tak ahli dalam bidang ini.


"Orang tua kita lagi jauh, om Safar terlalu kaku buat ngadepin ini. Dia kan dikendalikan istrinya. Abi jauh, kita tak mungkin harus ke kota C dulu." Ghava berniat membawa orang tuanya dalam masalah Giska.


"Kita omongin sama ayah. Ayah tukang suap, tukang bujuk, tukang rayu, kawan calonya pun banyak. Inceran tanah yang papah mau, pasti ayah bisa dapatkan itu." mereka semua setuju, atas ide dari Ghavi barusan.


"Ok sip, jadi rencana kita bersihkan Giska dulu ya? Baru rencanain pernikahan Giska, biar tak bertapa terus itu anak betina." Givan memutuskan hal itu.


Mereka semua mengangguk, kemudian Ghifar bersuara kembali.


"Bang Adi waktu itu ada ngomong sama aku. Keknya dia masih peduli sama Giska, biar besok aku main ke rumahnya, aku mau ngobrol soal Giska sama dia." Ghifar turun tangan untuk mengurus adiknya.


"Ok, Far. Biar Abang yang ngobrol sama ayah. Kalian berdua, urus cuti pendidikan Giska dulu." Givan meminta pada kedua adik kembarnya tersebut.


"Ya, Bang. Uangnya aja siapin. Aku ada, memang tak banyak. Kalau uang udah kumpul, aku biasanya langsung kasih ke ma." mereka saling memandang, saat Ghavi meminta materi untuk mengurus pendidikan Giska.


"Kau kan tau, Abang lagi krisis ekonomi. Toko aja dimodali mamah, tanah sama bangunannya dari papah." ungkap Givan dengan lesu.


"Uang kau ke mana semua? Tambang kau kenapa?" tanya Ghifar, ia benar-benar tidak tahu dengan usaha kakaknya yang hancur.


Givan terdiam sejenak, kemudian ia memandang ke arah lain.

__ADS_1


"Awalnya sih lancar aja, setelah mamah bagi saham. Tapi setelah lewat dua tahun......


......................


__ADS_2