Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS29. Rahasia tentang Ghifar 2


__ADS_3

"Hmm, anak Adi. Macam mana tak jadi cicit emas? Rupa, perawakan, melongo bodoh, sampek ke tidurnya pun sama macam ayahnya. Aku tau, Adi pasti adil ke Givan. Karena Givan semangatnya, mana dia kan takut pulak sama Dinda. Tapi beda urusan, kalau udah masalah keturunan. Mau dibohongin kek gimana juga, nyatanya Givan bukan darah daging Adi. Adi bisa nerima, beda lagi kalau udah masalah hak waris keluarga besar."


"Nah… kau yang dijaga sepenuh hati, melebihi biji kedelai hitam juga biji kopi. Yang bisa jaga diri! Yang bisa jaga nama baik keluarga! Bukan taunya… Mak, long lakee rukok mantong!" Haris bermonolog sendiri, berakhir ia menyentil pelan dahi Ghifar.


"Karena kau yang punya segalanya sekarang. Wasiat terakhir kakek buyut kau, jatuhin semuanya buat kau." lanjut Haris dengan menghapus keringat Ghifar yang masih membasahi dahinya.


"Bang… aneh tak sih? Masa tak ke anaknya pak wa? Kenapa malah turun ke cucu laki-laki pertamanya abi Ali?" tanya Adinda pada Haris, setelah dirinya mendengar penjelasan dari pak Akbar.


Ia dan suaminya, amat terkejut saat diminta untuk berkunjung ke rumah pak ceknya. Yang ternyata, semua keluarga besar sudah berkumpul untuk membicarakan tentang warisan.


"Ya aneh sih. Mana kan abinya Adi, anak kedua. Kalau beliau anak pertama, mungkin turunnya ke Adi, karena Adi kan anaknya abi Ali." sahut Haris, setelah mendengar penjelasan dari sahabatnya. Bahwa anak pertamanya dengan Adi, menjadi ahli waris aset keluarga besar.


"Katanya karena abusyik berjuang dari nol, sama abi Ali. Kan kau tau sendiri, Bang. Bahwa cek Akbar, lebih suka ke tambak. Pak wa, lebih condong ke usaha kuliner. Sampek ke kak Ayu, anaknya pak wa juga buka pondok makan. Sedangkan abusyik tau, bahwa bang Adi ini dari jamannya kecil udah badung. Main petasan di ladang, kebakaran hebat 12 hektar kebun kopi siap panen. Terus katanya ngerokok itu, bang Adi udah lakuin dari jamannya SD kelas 6. Kelas 3 SMP udah punya kasus, remas dada murid perempuan di sekolahnya. Mana tanpa ijin, main comot dada orang. Udah dikiranya kentaki buatan pak wanya. Jadi tuh abusyik udah feeling, Adi bakal sering bikin masalah sampek dewasa. Tapi nyata tebakan abusyik, Bang. Terakhir bang Adi digrebek mau mer*osa aku, mana waktu itu pakaian aku sampek koyak semua ditarik paksa. Gila betul memang aku punya suami, dosa apa ya aku Bang? Sampek dapet suami badung macam Adi Riyana ini?" ungkap Adinda, yang membuat Haris beberapa kali tertawa renyah.

__ADS_1


"Setau Abang, kan abusyik wafat pas Adi lulus SMP itu. Terus dia cerita kan, bahwa pindah ke Lh*ksemawe karena tak ada yang urus. Makanya dia dari SMA, sampek jadi sarjana hidup di sana." timpal Haris, yang merupakan sahabat yang cukup pandai jika diajak bertukar pikiran.


"Iya, kan terakhir bang Adi bikin kasus comot dada. Terus tak lama, abusyik sakit-sakitan. Sakit tua macam itulah, Bang. Terus wafat. Bang Adi disuruh ikut pak wa, karena dulu pak cek masih tinggal di gubuk dekat tambaknya. Belum mampu urus anak orang, karena ekonominya belum sebagus sekarang. Macam itu cerita yang aku dapat." balas Adinda, yang membuat Haris kembali menghitung timing masa ia pertama kali mengenal teman sejak masa menengah atasnya tersebut.


"Iya, iya. Terus, karena Adi udah badung dari kecil. Warisan jatuh ke Ghifar semua?" tutur Haris memastikan kembali.


"Tak disebutkan Ghifar, tapi cicit laki-laki kandung tetua. Dari cucu yang bernama Adi Riyana. Aku paham, Givan bukan anak kandung bang Adi. Meski dia anak tertua dari keluarga kami. Nah, kita ada pikiran ke Icut. Tapi kita paham kan Bang? Tentang kasus Icut. Mana rontgen, juga serangkaian tes yang tak menyinggung perasaan Icut dicoba juga. Benar aja, hasilnya kan Icut memang bukan bagian dari kami." tukas Adinda, yang membuat Haris reflek mengangguk meski dalam panggilan telepon.


"Ya sekalipun Icut, kan dia anak perempuan. Bukan anak laki-laki. Ternyata tak sia-sia juga kau, Dek. Ngasih keturunan Adi laki-laki semua. Cuma nyempil Giska satu. Kalau waktu kau nikahan itu, kau ngeflek terus keguguran. Udah genap enam anak laki-laki kau. Tak punya kau anak perempuan." ucap Haris, yang membuat Adinda teringat kembali akan kenangan tersebut.


"Terus apa aja yang Ghifar dapat? Reaksi Adi macam mana? Pas denger putusan itu?" tanya Haris yang.


Adi yang penasaran, langsung mendekati istrinya. Kemudian meloudspeaker panggilan telepon istrinya.

__ADS_1


"Dapat rumah abusyik, dari halaman depan sampek ke belakang itu. Pabrik pengolah biji kopi, sama tanah yang dibangun pabriknya juga. Sama ladang kopi 50 hektar, berikut hasil panen sejak dibacakan surat wasiatnya ini Bang. Bang Adi kan macam biasa, melongo aja. Lagian dia udah kaya sendiri, kalau ditotal semua ladangnya kan banyak juga. Aku dua puluh lima hektar, dirinya sendiri punya sepuluh hektar ladang acak. Ada kopi, ada jahe, ada porang. Dari Givan, sampek ke yang lagi aku kandung ini. Udah dapat bagian lima hektar lahan kopi semua, tapi hasil panennya masih punya kita untuk sekarang. Karena kita mau anak-anak nih, nanem bibit dari nol, dari garap tanahnya. Jadi mereka baligh, mereka paham, mereka siap buat ngolah ladangnya. Tanaman kopi yang udah ada diladangnya, dibabat habis. Ulangi dari awal, dari ngolah tanah, nyiapin pupuk sama benihnya. Tapi awal-awal itu memang biayanya nanti dari kita, sampek ke mereka berhasil ketemu ke panen besar pertamanya." jelas Adinda yang hanya didengarkan oleh Adi, dengan Haris yang beberapa kali bergumam menyimak cerita Adinda.


"Nah, yang jadi masalah. Cicitnya abusyik ini sekolahnya macam mainan. Berangkat setengah delapan, jam sembilan dia balik. Tawuran beberapa kali, capek nebus ke polisi. Ditanya lanjut kuliah tak? Jawabnya, tak mak. Aku pusing, otak aku tak mampu. Padahal, Bang. Aku tak kurang-kurang vitamin, waktu ngandung dia. Olahraga rutin, yoga, senam hamil dibabat habis sama aku. Tapi bayi yang aku lahirin, tetap kapasitas otaknya biasa aja." lanjut Adinda terdengar begitu frustasi.


"Tanggung jawabnya besar, sedangkan dia tak punya basic apa-apa tentang usaha ini. Harus gimana lagi aku didik dia???" lanjutnya yang langsung mendapat usapan ringan dari suaminya, di perut buncitnya.


"Suruh ikut aku. Biar di sini aku arahkan ambil kedokteran. Setidaknya, orang hebat harus punya pendidikan yang sepadan." saran Haris yang membuat Adi dan Adinda saling melempar pandangan.


"Dia nurut tak anaknya, Dek? Maksud Abang… dia macam Givan tak? Givan kan macam itu, keras kepala, pendiriannya kuat, susah diatur, susah dikasih paham, tau-tau balik dia ke ayahnya." jelas Haris, karena tak kunjung mendapat jawaban dari squad broken heart-nya.


"Ya Ghifar mau balik ke mana? Ayahnya aku, aku di sini sama emaknya." seru Adi yang malah mendapat suara Haris yang terkejut.


"Heh, sialan kau! Tiba-tiba nyahutin aja. Bikin ngelag otak aja kau!" maki Haris yang malah mendapat tawa renyah Adi.

__ADS_1


"Ghifar sifatnya….


......................


__ADS_2