
Cerita ini bakal panjang, bisa dibilang berbelit-belit juga 😆
Tapi kan, kalau berbelit-belit itu cuma bahas satu karakter. Nah ini, banyak karakter dan masalah yang kita pecahkan. Ambil pelajarannya ya dari setiap masalah yang ada 😊 kita ambil positifnya, negatifnya kita jadikan sebagai pengetahuan saja.
Mohon maafkan scene Ghifar dan Fira ya 😅 Kalau tak kek gini kan, nanti disangka cerita tanpa bukti 🤭
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ghifar memejamkan matanya, sapuan kecil ia rasakan di kepala intinya.
Ia membiarkan Fira beraktivitas di bawah sana. Ia membantu wanita yang tengah mengandung delapan bulan tersebut, dengan menyatukan rambut Fira, lalu tangannya berguna sebagai ikat rambut Fira.
Fira melepaskan itu sejenak, ia merasa begah di perutnya.
"Capek, tak bangun-bangun." Fira mengusap-usap perutnya, ia sesak menahan posisi tersebut terlalu lama.
Ghifar melongok ke arah Black Mamba miliknya, benda itu masih tertidur pulas.
"Coba bijinya." pinta Ghifar, dengan menarik wajah Fira untuk kembali ke tempat itu.
Fira menuruti Ghifar, Fira memahami Ghifar sudah dikepung syahwatnya sendiri.
Keahlian yang ia miliki, ia kerahkan untuk bisa membangunkan senjata mematikan milik mantan pacarnya tersebut. Sampai Black Mamba milik Ghifar berlumuran air liurnya, tetap saja tak mampu membangunkan pusaka turunan tersebut.
"Na*su tak sih, Bang?" Fira merasa kesal, ia menyeka mulutnya dari air liurnya sendiri.
"Na*su. Telinga aku udah merah betul keknya." ungkap Ghifar, dengan membingkai wajah Fira.
Na*su laki-laki, tak mesti ada cinta di dalamnya. Siapapun bisa bereaksi, meski tanpa hubungan dan status sekalipun.
Fira memperhatikan wajah Ghifar. Ia memperhatikan urat-urat Ghifar yang menonjol di area leher Ghifar. Cuping dan wajah Ghifar nampak seperti kepiting matang. Sorot mata Ghifar begitu buas dan penuh tuntutan. Ghifar tengah berada di puncak syahwatnya.
"Aku capek. Punya Abang tak bangun-bangun." Fira memukul paha Ghifar, ia lelah mempertahankan posisi itu, sedangkan kerja kerasnya tak menuai hasil.
"Coba lagi! Aku butuh, Fir." Ghifar malah berbalik memaksa wanita hamil tersebut.
Fira mencobanya kembali, atas permintaan Ghifar. Ia senang, Ghifar meresponnya. Namun, yang membuatnya kesal. Inti Ghifar tak bereaksi atas perlakuannya.
Tanpa jijik, Fira memancing pusaka turunan itu dengan penuh kasih. Bermenit-menit berlalu, Fira masih berusaha membangunkan Black Mamba milik Ghifar.
"Udah, biar aku di atas kau." Ghifar menarik kepala Fira, untuk melepaskan sesuatu yang keluar masuk dari mulutnya.
Ia membawa Fira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mengagumi keindahan sosok Fira, yang menjadi rebutan antara dirinya dan kakaknya.
__ADS_1
Fira gila, akan cumbuan amatir dari Ghifar. Tangan Ghifar pun tak tinggal diam, ia meraba untuk meran*sang intinya sendiri.
Lelah ia rasakan, peluh dan liur melekat di tubuh masing-masing. Harapan Fira dan harga diri Ghifar dipertaruhkan di atas ranjang.
Naas, hanya malu yang Ghifar emban.
Pusaka turunan dari ayahnya, tak bisa bereaksi sama sekali. Ghifar hanya bisa melarikan diri dari Fira, lalu merendam rasa malunya sendiri di dalam bathtub yang terisi penuh.
Pandangannya kosong, melamuni masa depannya kelak. Apa bisa ia memperoleh anak, dengan keadaannya yang seperti ini?
Sejak saat itu, ia menolak perempuan yang datang padanya untuk meminta hatinya. Ia menutup rapat-rapat hatinya, dari wanita yang silih berganti ia kenali.
Ghifar menahan tangan Kinasya, yang tengah duduk di tepian tempat tidur. Dengan posisi tubuh sedikit condong di atasnya.
"Mau ngapain kau, Kak?" tegur Ghifar dengan wajah panik.
Cukup Fira saja yang mengetahui hal ini. Ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri di hadapan wanita lain.
"Ngobatin kau lah." sahut Kinasya sembari mengunci pergerakan wajah Ghifar.
Tangan kirinya menahan rahang tegas Ghifar. Sedangkan tangan kanannya, ia gunakan untuk mengobati hidung besar Ghifar, yang masih mengucurkan darah pekat.
Ghifar bisa merasakan hembusan nafas segar Kinasya, wangi wanita itu menggugah seleranya.
Kinasya adalah wanita dengan bentuk sempurna. Tipe wanita yang masuk dalam wanita pujaan Ghifar. Apa lagi rupa dewasa Kinasya, begitu keibuan nampak di mata Ghifar. Dari awal, memang Ghifar mengagumi keindahan Kinasya. Lebih-lebih dengan keadaan Kinasya sekarang, badan proporsional bak model menjadi nilai lebih dari paras menariknya.
"Ngaceng kau? Lagi bi*ahi kau? Mimisan karena bi*ahi kah?" cerca Kinasya menghakimi Ghifar.
Ghifar pun tidak mengerti dengan dirinya. Ia selalu menghindari hal ini, tetapi jika dirinya tengah terjebak. Maka alarm tubuhnya, mengeluarkan darah yang mengaliri hidungnya.
"Tak! Lagi tak enak badan aja." elak Ghifar.
Tiba-tiba, ia mendapat serangan tiba-tiba. Remasan kuat, membuatnya tersentak hebat.
"Sialan kau!" Ghifar menepis tangan Kinasya, yang meremas intinya.
Kinasya tertawa geli, lalu bangkit dari duduknya.
"Aku kira kau lagi bi*ahi, terus tak kesampaian. Jadinya mimisan, kek di komik-komik. Ternyata tak. Padahal, wajah kau nampak kek lagi nahan bi*ahi." Ghifar hanya terdiam, saat mendengar ungkapan dari Kinasya.
Ia ingin membenarkan perihal sangkaan Kinasya. Namun, intinya yang tertidur pulas. Menjadi alasannya untuk tetap bungkam. Biar saja Kinasya menyimpulkan sendiri, Ghifar benar-benar tak ingin orang lain mengetahui hal ini.
"Ini hidung aku udah tak apa kah?" Ghifar mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Ya, tak apa insya Allah." Kinasya tak bisa memberi kesimpulan yang pasti.
"Ya udah, tolong jagain Key. Aku mau istirahat dulu, Kak." pinta Ghifar cepat, dengan tubuhnya yang menghadap untuk memunggungi Kinasya.
"Ok." sahutan Kinasya, dengan langkah kaki yang menjauh.
Tak lama kemudian, suara pintu tertutup. Menandakan Ghifar sendirian di kamar itu.
Ghifar meluruskan punggungnya, menatap langit-langit kamar itu. Helaan nafas panjangnya terdengar begitu berat, ia frustasi jika memikirkan masa depannya sendiri.
Ia tengah berusaha menurunkan syahwatnya sendiri. Menenangkan sesuatu yang ingin meledak dari dalam kepalanya, tetapi tak bisa keluar lewat jalan manapun.
Ghifar tengah tersiksa.
"Di dalam aja. Di dalam!" Ghifar terusik dengan suara-suara itu.
"Bang..." suara Giska yang menurun, terdengar mengundang rasa penasaran Ghifar.
"Penyakit kepo." Ghifar bangun, lalu mengusap wajahnya sendiri.
Ia berjalan ke arah pintu kamar, dengan bertelanjang dada. Karena kaosnya, ia serahkan pada Kinasya.
Saat ia membuka pintu kamar tamu tersebut, terlihat Giska tengah memeluk tubuh Zuhdi di salah satu sudut ruangan. Dengan para kakak laki-laki Giska, yang berbondong-bondong mengisi ruangan tersebut.
Ghifar melempar pandangan pada jendela ruangan tersebut, terlihat para wanita masih berada di teras rumah. Sedangkan Kinasya berlari-lari mengejar Mikheyla, dengan kain jarik menutupi kepalanya.
'Gadis kota.' tarikan kata, yang menggambarkan sosok Kinasya.
Ghifar kembali menatap Giska yang masih memeluk tubuh Zuhdi. Segila itukah Giska pada mantan tunangan tersebut? Pertanyaan yang terlintas di pikiran Ghifar.
Terlihat Zuhdi mengusap-usap punggung Giska. Laki-laki matang tersebut tengah mencoba menenangkan pujaannya. Ghifar meyakini, Zuhdi masih begitu memuja adiknya.
"Bikin kopi kah, Mas?" Canda masuk dan berjalan menghampiri suaminya. Givan duduk di sofa panjang, dengan memperhatikan adiknya tersebut.
"Teh aja, Dek. Teh tubruk." jawab Givan kemudian.
Ghifar membuang wajahnya ke arah jendela kembali.
Minuman itulah yang selalu Canda hidangkan pada Ghifar. Sampai dirinya kecanduan akan cita rasa teh tubruk buatan Canda dulu.
"Ya, Mas." Canda berlalu ke dapur.
"Duduk, Dek. Kita bicarakan dulu." suara berat Zuhdi, mengalihkan pandangan mereka.
__ADS_1
......................