
"Ya, ya bentar. Aku ambil obatnya dulu di kamar." ternyata Ghifar yang berlari dan menaiki tangga.
"Bantu itu, Kin. Asmanya parah katanya." pinta Adinda dengan menyikut lengan Kinasya.
Kinasya menghela nafasnya, tetapi ia tetap bangkit dan menuju ke kamar tamu.
"Kalau Yoka sama Tika siapanya Ghifar, Mah?" menantu di rumah tersebut baru bersuara.
"Peliharaannya juga. Lebih bodohnya lagi, mereka belum Islam. Udah dosa, nambah dosa lagi aja Ghifar ini." ucap Adinda dengan menggelengkan kepalanya berulang.
"Tapi... Kok aku tak yakin ya Mah. Maksudnya... Kek ada sesuatu yang Ghifar sembunyiin, ada sesuatu yang tak kita pahami juga." Canda mengungkapkan kekeliruan di hatinya. Meski ia tak pernah berbicara kembali dengan Ghifar, tetapi sang kakak ipar tersebut diam-diam sering memperhatikan adik iparnya.
"Ya iya, si Key sih. Disembunyikan dari dunia luar, tak diakui kehadirannya oleh keluarganya Fira. Tak diinginkan Fira, mungkin sama Ghifar juga tak diinginkan. Tapi Ghifar orangnya tak tegaan, apa lagi sama anak kecil." tandas Adi membuat Canda manggut-manggut.
Canda tak melanjutkan pembahasan tentang Ghifar. Ia takut suaminya mendengar pembahasannya, ia takut suaminya murka.
Pagi itu, sarapan bersama begitu senyap. Hanya ada dentingan sendok. Gavin dan Gibran pun, makan dalam diam. Ia sudah hafal, jika ia bersuara ketika sedang makan. Ibunya sudah akan memarahinya habis-habisan, itu tidak sopan menurut Adinda.
Ghava tengah mengantarkan adik-adiknya bersekolah, ia pun berjanji akan mengantarkan Giska juga.
Saat semua orang tengah duduk di teras rumah dengan aktivitas masing-masing. Kembali mereka terusik, karena aktivitas kebiasaan Yoka dan Tika.
Banyak hal coba Adi pahami, nyatanya tetap toleransi Adi cukup buruk terhadap agama lain. Adinda sudah menasehati suaminya, memberi pengertian bahwa itu bukanlah masalah untuk mereka.
Namun, Adi yang sudah berumur. Memang sulit untuk diberi pengertian dan pemahaman. Ia tetap kokoh pada pendapatnya sendiri.
"Far... Papah keberatan sama Yoka dan Tika." Adinda meremas tangan suaminya.
Wajah Yoka dan Tika tidak bisa menyembunyikan rasa kekecewaannya. Mereka saling beradu pandang, lalu melemparkan pandangannya pada Ghifar.
"Terus aku mesti gimana, Pah? Tika tanggung jawab aku, Yoka perlu perhatian aku." Ghifar pun terlihat sudah amat pasrah.
"Jangan dengerin Papah kau, Far." Adi mengerutkan keningnya, rupanya istrinya ingin berperang dengannya.
"Sini kau!" tekan Adi, dengan menarik tangan istrinya.
__ADS_1
Adi menyeret istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Wajah genting dari anak-anak mereka, terlihat begitu kentara.
Terlebih Canda, ia cukup takut melihat sikap kasar ayah mertuanya.
Bentakan nyaring terdengar sampai ke luar kamar pribadi mereka. Givan menunggu di depan pintu kamar tersebut, ia takut ibunya mendapat kekerasan dari ayah sambungnya.
"Bang... Hei... Tak macam itu caranya." suara Adinda terdengar lembut mengalun, mencoba menenangkan amarah suaminya yang memuncak.
"Apa? Abang nyerah, Dek? Ini itu, kenapa kok jadi anak-anak yang berkuasa atas diri masing-masing? Abang ini siapa? Kita ini siapa? Kita orang tua di sini, kenapa mereka ambil keputusan tanpa minta pendapat kita?" Givan memandang garis lurus lantai rumah tersebut. Ia adalah orang pertama, yang membuat orang tuanya menyerah menjadi orang tua.
Prang.....
"Kita pergi dari rumah ini. Abang tak mau, tinggal bareng mereka yang tidur tanpa tali pernikahan. Abang tak mau, surga Abang dikotori oleh sesajen itu." lanjut Adi, setelah sebuah benda terlempar dan hancur.
"Itu bukan sesajen. Itu tanda syukur mereka, atas makanan yang mereka dapat hari ini. Agama mereka mengajarkan macam itu caranya bersyukur, Bang. Coba pahami, bahwa semua agama itu baik selagi umatnya taat. Jangan terlalu kolot lah, Bang. Abang ngamuk-ngamuk kek gini, ngomong tak sopan ke tamu, itu biar apa? Mereka tamu, mereka tau waktunya buat kembali."
Deg...
Rasa amat tidak nyaman, menyelubungi hati Tika dan Yoka. Harusnya mereka percaya ucapan Ghifar, harusnya ia paham bahwa Ghifar tak akan lari dari tanggung jawab.
Ghifar terdiam, ia hanya bisa menunduk dan mendengarkan segala ucapan orang tuanya yang terdengar sampai ke luar kamarnya.
Blughhhh....
Tubuh Mikheyla sampai terpantul dari lantai, ia berlari cukup kencang dan tersandung ujung karpet.
Tangisnya pecah, ia terlihat meminta pertolongan pada Ghifar.
Givan yang paling dekat posisinya dengan Mikheyla, langsung reflek menolong makhluk kecil tersebut.
"Mana yang sakit, Nak?" Givan mengusap-usap punggung Mikheyla yang ia gendong.
Ia membawa Mikheyla berjalan ke pintu samping, agar amarah Adi tak sampai menjadi-jadi hanya karena suara tangis Mikheyla.
"Sebulan tak balik, biar kita yang pergi." putus Adi begitu lantang.
__ADS_1
Ghifar memejamkan matanya, ia merasa serba salah dengan semua pihak. Ia pulang bermaksud untuk membantu ibunya, untuk mengurus adik-adiknya.
'Aku harus ngomong berdua sama mamah. Mamah kasar, mulutnya sadis, tapi mamah tak sekolot papah.' keputusan terbaik dari hati Ghifar.
Ia mengangguk, kemudian menggiring Yoka dan Tika untuk masuk ke dalam kamar tamu. Ghifar ingin membicarakan tentang hal ini.
"Kalau kita pulang ikut bang Ken aja gimana, Bli?" tarikan nafas Yoka sudah begitu dalam.
Ghifar cepat-cepat mencari alat bantu nafas milik Yoka, kemudian segera memberikannya pada Yoka.
"Tenangin diri kau dulu." pinta Ghifar, saat Yoka tengah menghirup uap yang keluar dari alat tersebut.
"Biar aku cari jalan keluarnya. Aku tak tega sama keadaan kau. Sekali lagi aku minta maaf, aku waktu itu betul-betul tak sengaja." Ghifar begitu menyesali sesuatu.
Bekas jahitan yang melintang di pucuk kepalanya terlihat jelas, saat Ghifar menyibakkan rambutnya.
"Kau tenang aja, Bli. Kita udah ngerti kok, itu semua takdir." tandas Tika, dengan menggenggam tangan Ghifar.
Ghifar memeluk dua wanita berparas ayu tersebut. Ujung matanya basah, jika teringat akan kejadian itu. Ia amat menyesali keteledorannya, ia amat menyesali kecerobohannya.
"Aku mau antar bang Ken pulang dulu." Ghifar melepaskan pelukannya pada Yoka dan Tika.
"Bang Ken bawa mobil lagi kan?" tanya Tika yang diangguki oleh Ghifar.
"Jagain Yoka ya. Barangkali bang Ken butuh bekel atau apa, kan biar aku urusi dulu." jelas Ghifar, kemudian ia melangkah ke luar dari kamar tamu tersebut.
Ghifar langsung menoleh ke samping kanannya. Terlihat Kenandra tengah memanasi mobilnya, juga mengusap debu yang menutupi kaca depannya.
"A*eh ke kota C tiga harian kah, Far?" tanya Kenandra, saat melihat Ghifar melangkah ke arahnya.
"Ya tapi itu tak istirahat. Waktu kita kan sekalian wisata, dua minggu perjalanan kota C ke A*eh." jawab Ghifar kemudian.
Mereka melakukan perjalanan panjang dari Bali menuju provinsi A. Tapi mereka sempat singgah selama dua hari di kota C, di kediaman keluarga Haris. Saat Ghifar tengah bersantai di rumah keluarga Haris, Haris menceritakan garis besar permasalahan orang tuanya.
Ghifar amat terkejut, ia tidak menyangka orang tuanya sampai menyerah dan memutuskan meninggalkan anak-anaknya.
__ADS_1
Namun, Ghifar malah dirundung keraguan saat itu. Ia merasa...
......................