
"Nanti dibicarakan lagi sama Aira, sama Cut juga. Aku ke dalam dulu ya Mah, Pah. Mau bersih-bersih, terus mau makan." ucap Ghavi, dengan mematikan rokoknya. Kemudian menarik tas ranselnya, dengan berlalu masuk ke dalam rumah.
"Minat anak kita beda-beda ya? Ghava mantap sama sawit, kedainya yang di sana gulung tikar. Karena Adek pasti paham kan? Sesuatu yang tak digeluti dengan serius, ya hasilnya tak memuaskan juga. Sampingan dia sembari nunggu pendidikan rampung, Ghava jadi fotografer sewaan." ujar Adi sembari menggenggam tangan istrinya.
"PAPAAAAAHHHHH.... PAHHHHHHHH." tangis Giska yang semakin menggelegar, sontak membuat Adi dan Adinda bergegas masuk ke dalam kamar.
Saat mereka sampai di ambang pintu kamar Giska. Terlihat sudah ada Ghavi, Givan dan juga Canda yang berada di dalam kamar Giska. Mereka semua tentu terusik, dengan Giska yang meraung-raung sejak tadi.
"Giska kenapa, Mah?" tanya Ghavi yang terlihat bingung, melihat isi bantal yang mengotori kamar Giska.
"Break sama Zuhdi." jawab Adinda. Ia melenggang masuk ke dalam kamar, kemudian mengambil alih Giska yang berada di pelukan Givan.
"Tadi mesra, tiba-tiba break?" sahut Givan melepaskan pelukannya dari Giska.
"Itulah. Papah sama Mamah ke sana dulu ya, ngasihin cincin kau." ujar Adi, dengan duduk di tepian tempat tidur. Giska langsung menarik tangannya, kemudian memeluk ayahnya begitu erat.
"Kau udah diapain sama Adi-Adi itu? Kau nangis sampek segitu hebatnya. Biar Abang yang maju, bilang kau udah diapain?" mereka semua menoleh ke arah pintu, Ghava tengah berkacak pinggang sembari menunggu jawaban dari Giska.
"Tak mau jawab kau? Abang seret juga dia ke tengah lapangan malam ini." Ghava membentak cukup kuat, membuat tangis Giska tak terdengar lagi.
Adi menceritakan ulang, titik permasalahan Giska dan Zuhdi. Mereka semua menyimak dengan baik, sesekali menanyakan kembali pada Giska.
"Lagian, Pah. Giska ini... Apa ya? Masih bocah dia, masih goyah. Segala dikhitbah, entah jadi atau gagalnya, masalahnya Giskanya memang belum siap. Yang nyata dewasa, dengan usia yang matang aja, tetep aja cekcok terus. Harusnya Papah tak ambil keputusan, tak usah turutin mau Giska buat tunangan." ucap Ghavi dengan menunjuk ke arah Giska.
Adi merasa semut-semut berjalan lambat menuju ke bagian belakang kepalanya.
"Ayo, Dek. Balikin cincin dulu, besoknya Zuhdi berangkat lagi soalnya." putus Adi, dengan mengunci pergelangan tangan istrinya.
Kaki Adinda melangkah cepat, mengikuti tarikan tangan suaminya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara anak gadisnya.
"Pah... Aku cinta sama bang Adi." pengakuan Giska membuat Adi langsung memegangi tengkuknya.
Adi merasa tengkuknya begitu berat dan kaku, lehernya seolah terkunci dengan bebatuan yang terselip di antara tulang lehernya.
__ADS_1
"Sakit kepala Abang, Dek." Adi memejamkan matanya, dengan mengeratkan pegangannya pada tangan istrinya.
"Abang... Abang... Jangan drop. Ayo-ayo duduk dulu, sini aku pijitin." ajak Adinda dengan menuntun suaminya, untuk duduk di sofa ruang keluarga.
Anak-anak mereka langsung bergegas mengerubungi ayahandanya. Pikiran jelek mereka, terbayang akan ibunya yang akan menjadi janda.
"Telpon ayah, Van. Minta tolong tensiin Papah, sama bawakan obatnya. Biar tau dosis yang pantas buat Papah kau berapa-berapanya." pinta Adinda, saat Givan berada di sisi lain dari tempatnya.
"Jangan pada mijitin, jangan pada ngerubungin. Papah risih betul, nafasnya kek rebutan." ujar Adi, dengan menepis tangan-tangan anaknya yang memijat bagian tubuhnya.
"Rebusin daun seledri, Canda. Potong-potong daunnya, air dua gelas belimbing, jadi satu gelas. Kalau tak ada, daun salam aja. Sana ambil di halaman belakang, airnya sama. Salamnya juga dipotong-potong juga." Adinda menoleh ke arah menantunya, yang berdiri dengan memperhatikan dirinya.
Canda mengangguk, kemudian langsung berlalu pergi.
"Papah kenapa, Mah?" Icut bergegas menghampiri orang tuanya, dengan memasang kembali kancing daster yang ia kenakan.
"Kumat darah tingginya. Ambilkan handuk kecil di kamar Mamah, Cut. Papah keringat dinginnya keluar semua." pinta Adinda kembali, menyuruh anak gadis tertuanya.
"Pijat tipis-tipis ini, Dek." Adi mengarahkan tangan istrinya, kebagian kepala belakangnya.
Kemudian tangannya terulur, untuk memberi rasa nyaman pada kepala suaminya.
"Terus aja Giska, kek gitu terus kau!" ujar Ghava dengan berjalan meninggalkan mereka semua.
"Perasaan aku tak enak." ungkap Adinda, dengan mengusap keringat suaminya dengan handuk kecil yang Icut berikan.
"Abang pun tak enak, takut Adek jadi janda lagi." tutur Adi lirih, kontan saja Adinda langsung memeluknya erat. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya.
"Mah... Pah..." panggil Gavin dan Gibran, dengan iqro di pelukan masing-masing.
"Main yuk sama Akak." ajak Icut, agar para anak-anak kecil itu tak mengganggu ayahnya yang tengah butuh ketenangan.
"Tapi jajan dulu, beli jajan di sana Kak." tawar Gavin, dengan menarik ujung daster yang Icut kenakan.
__ADS_1
Icut mengangguk, "Akak ganti baju dulu ya." sahut Icut dengan menggandeng kedua anak-anak itu.
Selepas Icut pergi dengan menggandeng tangan adik-adiknya, Jefri datang dengan tergesa-gesa.
"Van.... Cari adik kau. Ayah khawatir, tadi papasan dia bawa motor laju kali." bisik Jefri lirih, dengan menepuk pundak Givan.
Givan mengangguk, kemudian berjalan ke luar rumah.
"Merangkap jadi dokter keluarga juga kan?" ucap Jefri dengan berjalan ke arah Adi.
"Aduh, Abang. Sehat-sehat dong, aku tak bisa mubazirin Dek Dinda soalnya." lanjut Jefri, dengan mulai mengikat lengan atas Adi dengan alat yang ia miliki.
"Ya aku pun tak mau mubazirin Dek Dinda. Cepet kasih aku obat, biar enakan ini kepala." sahut Adi, saat merasa tangannya diremas oleh kain yang membelit lengannya.
"160, Di."
"Sebetulnya... Menurut aku sih. Kau ini, sakit darah tinggi karena stress atau syok. Kalau punya penyakit jantung bawaan, mungkin bisa kau kena serangan jantung macam itu Di. Tapi penyakit penyerta kau hipertensi, garis keturunan lagi. Makanya kau kambuh-kambuhan begini, tak melulu tiap hari tapi tiap bulan pasti ada aja." ungkap Jefri, dengan mentensi ulang.
"Tanpa kau jelasin juga, aku paham diri aku sendiri Jef. Aku tau dan aku bisa nanganinya. Kalau bisa... Tolong lah buat hipertensi keturunan ini, hilang dari aku. Kau tau kan, Dinda gampang hamil. Tak menutup kemungkinan, kalau Gibran bakal punya adik lagi. Tapi kau bayangkan aja, kalau aku masih punya hipertensi keturunan ini. Sedangkan aku punya bayi lagi, ditambah ngurus anak-anak yang lain. Itu buruk kali, Jef." Adi mengoceh layaknya anak-anak, yang dihiraukan oleh Adinda.
Adinda masih tidak mengerti tentang Jefri dan Adi jika bertemu. Kenapa obrolan mereka terkadang tidak penting? Juga sering kali membahas hal-hal yang tidak terjadi. Hanya buang-buang waktu, membicarakan tentang omong kosong belaka.
Adinda menghela nafasnya, lalu meraih remote TV. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dan pandangannya, dari kedua manusia sebaya yang berada di dekatnya.
Adinda mulai menikmati tontonanya, mencoba menghiraukan perkataan manusia yang tengah bercakap-cakap tersebut.
Di tempat lain, Ghava tengah dicekal oleh beberapa orang. Karena kedatangannya yang membuat gaduh seisi rumah.
Ia menunjuk biang kerok, dari permasalahan di rumahnya. Bercak darah tercetak di sudut bibir Zuhdi, dengan penampilan masing-masing yang tidak terlihat baik.
Perasaan tidak enak yang Adinda dan Adi rasakan. Berbuntut nyata dengan kejadian Ghava yang mencari masalah tersebut.
Anak laki-laki yang memiliki watak keras juga temperamen, begitu banyak memiliki cerita tersendiri dengan hasil pukulannya. Hingga teman satu rahimnya pun, pernah merasakan hantaman tulang jari Ghava.
__ADS_1
......................