
"Jangankan menikah resmi. Awal aku rencanain pernikahan kita, dengan berat jeulame 27 mayam. Aku usahakan perhiasan yang wanitaku pakek harus emas murni, resepsi mewah yang mengesankan. Tapi segala-galanya kau musnahkan sendiri, Fir. Sekalipun aku mampu, sekalipun aku bisa, tapi aku tak bisa ngebantah mamah aku." tegas Givan, dengan mata sayunya.
"Hubungan tak mungkin berjalan, jika terlalu banyak yang mengemudikan di dalamnya."
"Aku tak mungkin saling berebut kau dengan adikku sendiri, Fir! Aku dididik untuk saling menyayangi adik-adikku, bukan bersaing macam ini. Tapi… kalau kau aku lepaskan, mungkin Ghifar bakal ambil kau untuk dinikahinya."
"Aku bukan anak kandung papah Adi, pasti papah lebih berat ke anak kandungnya. Sekalipun mamah larang kau sama Ghifar juga, tapi ada papah Adi yang kemungkinan besar tetap ada di pihak Ghifar."
"Sedari dulu, papah sering minta aku buat ngalah dari Ghifar. Ketimbang anak-anaknya yang lain, Ghifar dapat ruang lebih di hati papah aku. Karena dia adalah anak pertamanya papah Adi dan mamah aku. Bukan cuma itu aja, Ghifar selalu menang, atas segala sesuatu yang direbutkan saudara-saudaranya. Sekalipun aku yang menang, aku dimarahin habis-habisan karena adik-adikku aku buat nangis."
"Namanya anak-anak, Bang. Wajar kan berebut sesuatu?" timpal Fira setelah menyimak cerita kekasihnya.
"Kau kira aku milih kuliah ke luar kota tanpa alasan?"
"Aku dan Ghifar kena marah papah habis-habisan, sampek dia mutusin tinggal di rumah tante aku sebelum dia diizinkan tinggal sendiri di rumah ladang itu."
"Kau tau tak? Saat aku mutusin buat kuliah di luar kota. Beberapa hari setelahnya, mamah papah jemput Ghifar di rumah tante Zuhra."
"Papah tetap ingin anak kandungnya dekat dengannya, sekalipun dia sendiri yang ngusir Ghifar buat pergi dari rumah itu."
"Hari itu aku sadar, aku tetap akan kalah dengan Ghifar di hati papah Adi. Terlihat jelas, saat aku dan Ghifar mutusin pergi dari rumah. Sedangkan Ghifar mereka jemput balik, sedangkan aku dibiarkan sampek sekarang."
"Givan!!! Kau ajari adik kau yang masih SMP ini, buat nonton film beginian? Otak kau di mana?" seru Adi dengan melemparkan ponsel milik Givan ke lantai.
Givan terhenyak keget, ia memandang nanar ponselnya yang pecah tak beraturan di lantai.
"Aku tak ajak, Pah. Ghifar langsung masuk aja ke kamar aku." sahut Givan gugup.
"Sekalipun kau udah baligh, tapi papah tetap tak bagi izin kau kotori mata kau dengan tontonan macam ini." balas Adi dengan suara kerasnya. Bukan hal aneh di rumah itu, dengan kebiasaan Adi yang selalu berbicara dengan nada tinggi jika tengah dirundung emosi.
"Aku terus yang disalahkan, Ghifar yang salah, tetap aku yang disalahin." gerutu Givan dengan menundukkan kepalanya.
"Ghifar salah, kau pun salah!"
"Ghifar, lepas ini kau Papah pondokin selama 3 tahun. Sampek kau lulus SMA nanti, paham kau?!"
Ghifar langsung menggeleng cepat, "Aku… aku ikut tante Zuhra aja, Pah. Aku tak mau dipondokin." jawab Ghifar kemudian.
Mata Adi nyalang, saat anak-anaknya berani membantah setiap ucapannya.
"Ikutlah kau sana, ke tante kau! Jangan pernah pulang lagi ke rumah, sampek kau sadar, di mana letak kesalahan kau!" ucapan kasar Adi kian terdengar jelas, membuat Ghifar merasa ingin menangis seketika.
"Aku pun, mau kuliah di luar kota aja Pah." ungkap Givan terdengar ragu-ragu.
Ia mendapati ayahnya tengah memberikan pelototan tajam, "Mau pergi juga dari rumah? Heh? Papah urus sekarang!!" putus Adi yang membuat Givan terdiam kaku. Ia tak menyangka, bahwa ayahnya langsung mengurus untuk pendidikannya di luar kota.
__ADS_1
"Jadi, aku harap kau paham, Fir. Kalau kau tak terima kita menikah siri, aku juga tak bisa juga ngajak kau buat minta restu ke mamah terus kita menikah resmi!" ucap Givan terdengar begitu tak terbantahkan.
"Bang... Aku mohon maafin aku. Aku betul tak tau, kalau kalian kakak adik. Aku tak sengaja kenal Ghifar, saat aku sama keluarga aku mutusin menetap di kecamatan tempat Ghifar tinggal. Aku tak tau kalau papah Adi sama mamah Dinda itu orang tua Abang, aku tak tau pasti kalau asal Abang dari daerah itu." jelas Fira, berharap Givan mau mendengar penjelasannya.
"Nyatanya kau jalin hubungan sama dia! Lepas aku masuki kau, terus kau balik digilir Ghifar? Iya begitu kejadian dua tahun belakang ini?" tuduh Givan yang langsung digelengi oleh Fira.
"Harusnya kau bersyukur! Kau udah aku pertahankan selama ini! Kau cuma pel*cur yang dapat belas kasih dari aku, tapi balasan kau begini kah?" lanjut Givan membuat mata Fira berair seketika.
"Kalau waktu itu aku tak beli kau, mungkin keadaannya tak macam ini!" suara Givan yang masih terdengar begitu menyakiti hati Fira.
"Kau bilang, kau butuh uang buat lanjutin kuliah kau. Kau bilang, aku rela jual keper*wanan kau cuma sama aku. Nyatanya kau jual harga diri kau juga ke adik seibuku!"
"Bang... Aku serius." ucap seorang wanita bermata indah, dengan wajah cantik dan kulit putih.
Sejak kehadiran Givan di Universitas M***k****h pagi ini, wanita tersebut selalu membuntuti ke manapun Givan beranjak. Membuat Givan amat terganggu, dengan usikan wanita tersebut.
Givan melirik malas pada wanita yang duduk di hadapannya. Lalu ia beralih pada gelas es yang menyejukkan tenggorokannya, sesekali ia memperhatikan sekelilingnya.
"Kau tak punya malu betul! Rupanya urat malu kau udah putus keknya! Sana masuk kelas! Dari tadi kau recokin aku terus, risih betul rasanya." ketus Givan dengan memandang rendah wanita di hadapannya.
Fira mengeluarkan surat dari dalam tasnya, yang ia dapatkan pagi ini. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencari Givan ke sana ke mari.
Bukan rahasia lagi, jika Givan dikenal sebagai laki-laki yang cukup nakal. Ia dikelilingi wanita yang famous dan cantik, karena koleksi mobil modifikasinya juga ketampanannya yang menunjang rasa percaya dirinya.
"Terus?" tanya Givan yang seolah tak mengerti maksud wanita cantik tersebut.
"Kita tidur malam ini, tapi aku mohon lunasin tunggakan enam bulan ini. " jawab Fira dengan menggenggam tangan Givan secara tiba-tiba.
Givan menarik tangannya, dengan mengerutkan keningnya. Ia menatap mata wanita itu begitu dalam, ia berharap menemukan keterpaksaan atas ucapan wanita tersebut barusan.
Namun, sayangnya Givan malah terpikat mata yang indah tersebut.
"Virgin?" tanya Givan singkat yang langsung diangguki oleh Fira.
Givan mengangguk samar, lalu ia beranjak pergi menuju ke ibu penjaga kantin untuk membayar minumannya.
Fira melongo menatap Givan yang membuatnya bingung. Ia tak mengerti anggukan samar yang Givan berikan, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Dasar, ganteng-ganteng sukanya bikin bingung!" gerutu Fira dengan bangkit dari posisinya, lalu ia berjalan untuk pulang dari kampus tersebut.
Namun, Fira amat terkejut. Saat sebuah mobil berwarna hitam metalik, berhenti persis di hadapannya saat ia tengah menunggu ojek online yang sudah dipesannya.
Kaca jendela mobil tersebut terbuka, terlihat Givan dengan wajah datarnya menatap malas pada Fira.
"Cepat masuk! Aku mau sekarang, bukan nanti malam." suara ketus Givan, yang membuat Fira langsung dilanda ketakutan. Ia paham maksud dari ucapan laki-laki tersebut, ia pun menyadari sesuatu yang ia jaga akan hilang hari ini juga.
__ADS_1
"Cepat! Tunggu apa lagi?!" bentak Givan yang membuyarkan lamunan Fira.
Dengan terburu-buru Fira masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan dari dalam tersebut, akan tetapi ia malah dikejutkan dengan tangan yang mecekal rahangnya. Tak lama kemudian mendarat kecupan kecil di pipi kanan Fira, membuat otak Fira error seketika.
"Tutup pintunya, Sayang." pinta Givan saat Fira melongo dengan pikiran yang kosong.
"Oh… iya, iya." sahut Fira dengan mengangguk canggung, dengan tangannya terulur untuk menutup pintu mobil yang masih terbuka lebar tersebut.
"Punya tempat sendiri, atau mau ikut aku aja?" tanya Givan, sesaat setelah kendaraannya berjalan.
Fira meremas tangannya sendiri. Ini merupakan hal yang pertama kali ia lakukan, tentu ia merasa takut untuk melanjutkannya.
Givan menyadari kegugupan dari calon teman tidurnya, "Ok, di tempat aku aja." putus Givan, karena Fira hanya terdiam membisu.
Fira mengangguk samar, ia tak tau harus mengatakan apa untuk membuka obrolan kali ini. Namun, ia sudah terlanjur menawarkan dirinya pada Givan. Tentu ia tak akan bisa membatalkan, saat Givan sudah bersikap manis seperti ini.
"Jadi? Butuh berapa juta?" tanya Givan, sembari menoleh dengan senyum manisnya. Sikapnya berbanding terbalik, saat sudah tak ada lagi orang di sekitarnya.
"15,5 juta, Bang. Tunggakan satu semester kali ini." jawab Fira dengan perhatian yang fokus pada tangannya sendiri.
"Ya udah, aku genapin dua puluh. Tapi mainnya nanti sampek pagi ya? Bukan satu kali, macam biasanya aku beli perempuan." jelas Givan yang membuat Fira berpikir tentang kesehatan milik Givan. Terbesit di benaknya, Givan terjangkit penyakit seksual menular. Lalu ia akan tertular penyakit tersebut, dari laki-laki yang akan menidurinya hari ini.
"Aku… aku…" suara Fira yang menggantung, karena ia tak berani untuk mengemukakan apa yang ada di pikirannya.
"Aku bersih, setiap enam bulan sekali aku cek kesehatan. Juga aku tak pernah ngulangin kegiatan itu, sama perempuan yang udah pernah aku tiduri. Kecuali betina aku sendiri." ungkap Givan dengan senyum yang begitu menggoda iman Fira.
Fira menggangguk menanggapi ucapan Givan barusan, "Aku takut." pengakuan Fira yang keluar begitu saja dari mulutnya.
"Kenapa? Kau pernah dengar diperawanin itu sakit?" sahut Givan dengan tangan yang terulur, untuk mengusap paha Fira yang terbungkus celana panjang berwarna hijau tua.
Fira ingin menepis tangan nakal tersebut, tapi ia tak bisa menolak perlakuan dari Givan. Selain dirinya menyadari, bahwa ia tengah menjual dirinya sendiri. Ia juga menikmati usapan lembut, yang menghangatkan tersebut.
"Aku paham, kau tenang aja. Aku tak mungkin kasar, apa lagi sama orang baru macam kau." tukas Givan, meski dirinya tak mendapat jawaban dari Fira.
Tak lama kemudian, mobil hitam metalik tersebut berhenti di depan rumah sederhana yang berdiri di komplek perumahan yang baru dibangun beberapa rumah saja.
Givan keluar dari mobil tersebut, lalu ia berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Fira. Givan tersenyum manis, saat Fira keluar dari dalam mobil sembari memperhatikan rumah yang terlihat sepi tak terurus tersebut.
"Yuk, masuk." ajak Givan dengan mengulurkan tangannya, untuk menggandeng tangan Fira yang masih terdiam mematung.
......................
*Jeulame 27 mayam : Mahar 3,33 gram di kali 27 kali.
Ngerasa gak sih, Givan kok jadi aneh? Kek bukan dia gitu? 🙄
__ADS_1